Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 24
Suara hantaman ponsel di atas nakas yang cukup nyaring itu langsung memecah keheningan kamar.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat mengepul keluar, menyusul sosok Misya yang melangkah keluar dengan handuk kecil yang melilit di rambutnya. Ia mengenakan pakaian ganti yang lebih bersih, meski sisa-sisa kesedihan masih membekas di wajah cantiknya.
"Mas...?" panggil Misya heran, mendapati suaminya berdiri kaku di samping nakas dengan dada naik-turun menahan amarah yang luar biasa.
Reyden tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya. Sorot matanya yang tajam dan memerah membuat Misya mengernyitkan kening, bingung sekaligus cemas.
"Ada apa, Mas? Kenapa muka kamu tegang begitu?" tanya Misya sambil melangkah mendekat.
Reyden menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gemuruh di dadanya agar tidak meledak di depan istrinya. Ia merentangkan tangan, meraih ponsel yang baru saja ia banting, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Misya.
"Sudah berapa lama mereka buat grup ini, Misya?" tanya Reyden dengan nada bariton yang rendah namun sarat akan ketegangan yang amat pekat. Urat-urat di tangannya yang memegang ponsel menegang keras saat menahan amarah yang kian memuncak.
Misya menggeleng perlahan dengan bibir yang sedikit bergetar. Ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan sayu dan lelah.
"Aku... aku nggak tahu, Mas," jawab Misya lirih, suaranya parau dan terbata-bata.
"Grup itu baru kayaknya, aku belum buka hp lagi kan... Tadi aku cuma sempat kaget saja, Tiba-tiba saja nomor Sherly memasukkan aku ke sana, dan setelah foto kamu sama Aurelia beredar, mereka mulai mengirimkan pesan-pesan itu bertubi-tubi."
Mendengar pengakuan jujur dari istrinya, dada Reyden terasa bagaikan dihantam ombak besar. Kemarahannya yang tadinya meletup-letup kini berubah menjadi api dingin yang begitu mematikan. Jadi, selama ia sibuk di kantor berusaha bersikap profesional, para sepupunya justru secara sengaja dan terencana membentuk wadah khusus hanya untuk memojokkan, menghina, dan merobek-robek harga diri Misya.
"Grup baru yang di sengaja untuk membuat kamu overthinking padaku..." desis Reyden dengan rahang yang mengeras rapat hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat.
"Selama ini saya terlalu lunak pada mereka. Saya mengira teguran di kantor tadi sudah cukup membuat Merlyn jera. Tapi ternyata, di belakang saya, mereka masih berani menginjak-injak harga diri kamu seperti ini."
DRRRTTTT
DRRRTTTT
Sebuah pesan baru masuk, kali ini dari Merlyn.
Merlyn:
“Kenapa diam aja, Misya? Takut kalau kedok kamu sebagai istri numpang hidup ketahuan sama Mas Rey? Dasar perempuan lemah! Sadar diri, selain kamu tak selevel sam Mas Rey, kamu juga bukan wanita yang di cintai Mas Rey!”
Dan disusul pesan dari Aurelia:
“Misya? Kamu membaca pesan saya kan? Tolong jangan diam saja. Sikap diammu ini justru menunjukkan kalau kamu kekanak-kanakan dan tidak siap mendampingi pria seperti Reyden.”
Melihat rentetan pesan itu, Matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang terus menyala.
"Mas... mau kamu apakan ponselnya?" tanya Misya cemas, menahan lengan suaminya.
"Sudah cukup, Misya. Cukup mereka menguji kesabaran saya," jawab Reyden dingin, suaranya bagaikan es yang membeku. Ia menyambar ponsel itu kembali.
Tanpa ragu sedikit pun, jemari kekar Reyden langsung bergerak cepat di atas layar ponsel Misya. Ia membuka ruang obrolan grup keluarga baru yang dinamai secara provokatif oleh para sepupunya itu.
Di hadapan Misya yang terpaku menatap gerak-gerik suaminya, Reyden mengetikkan balasan dengan nada ancaman telak yang tak terbantahkan:
Reyden Pratama:
“Dengar baik-baik, kalian semua, Merlyn, Sherly, Natasha, dan siapa pun yang ada di grup sampah ini. Ulah kalian membikin grup khusus hanya untuk mengintimidasi dan merendahkan istri saya adalah tindakan paling picik yang pernah saya lihat dari keluarga ini. Merlyn jangan membuat saya semakin marah dan saya tak segan-segan akan memecat kamu!. Jika ada satu orang lagi dari kalian yang berani mengirim pesan atau menyentuh Misya, saya pastikan seluruh fasilitas perusahaan keluarga kalian saya cabut detik ini juga, dan nama kalian saya seret keluar dari silsilah keluarga besar!”
Setelah mengirimkan pesan gertakan mematikan tersebut, Reyden langsung mengeluarkan nomor Misya dari grup (Exit Group) dan menghapus obrolan itu secara permanen.
Selanjutnya, mata Reyden mengunci notifikasi dari Aurelia, pesan penuh pura-pura manis yang dilampiri kolase foto masa lalu mereka. Reyden mengepalkan tangannya sejenak sebelum menari-narikan jarinya di atas layar:
Reyden Pratama:
“Aurelia. Cukup manipulasi murahan ini. Foto masa lalu yang kamu kirimkan sama sekali tidak bernilai apa-apa bagi saya. Ingat batasanmu: kita hanya rekan kerja profesional. Jika kamu masih berani melampaui batas dan mengusik istri saya, detik ini juga kontrak kerja sama perusahaan kita saya batalkan secara sepihak. Jangan pernah hubungi nomor ini lagi!”
Kirim.
Tanpa memberi celah sedikit pun bagi Aurelia untuk membalas, Reyden menekan tombol Block dan menghapus kontak mantan kekasihnya itu hingga bersih tak bersisa.
Setelahnya, Reyden menghembuskan napas panjang yang amat berat. Ia meletakkan benda pipih itu ke atas ranjang, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Misya.
Setelah meletakkan ponsel itu di atas ranjang, Reyden langsung merengkuh tubuh Misya yang masih sedikit gemetar. Pria itu menarik pinggang istrinya rapat-rapat ke dalam dekapan hangatnya, membenamkan wajah Misya ke dada bidangnya.
"Sudah..." bisik Reyden lembut di dekat telinga Misya, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah badai emosi yang baru saja mereda.
"Semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi grup sampah itu, tidak ada lagi nomor-nomor beracun yang bisa mengganggu ketenangan kamu."
Misya memejamkan matanya, meresapi deru detak jantung suaminya yang berpacu stabil. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Reyden, mengeratkan pelukannya seolah mencari perlindungan mutlak dari dunia luar yang kejam.
"Terima kasih, Mas..." gumam Misya lirih, suaranya terdengar amat lelah namun jauh lebih lega dibanding beberapa jam lalu.
"Aku bener-bener capek... Rasanya kepalaku mau pecah karena terus-terusan mikirin semua ini."
Reyden mengecup puncak kepala istrinya penuh sayang, lalu melonggarkan pelukannya sejenak untuk menatap wajah wanita itu. Ia mengangkat dagu Misya dengan lembut, memaksa mata mereka untuk saling bertemu.
Reyden mengecup puncak kepala istrinya penuh sayang, lalu melonggarkan pelukannya sejenak untuk menatap wajah wanita itu. Ia mengangkat dagu Misya dengan lembut, memaksa mata mereka untuk saling bertemu.
"Saya tahu..." ucap Reyden penuh penyesalan.
"Maafkan saya karena membiarkan kamu menanggung semua beban ini sendirian. Harusnya sejak awal saya bertindak tegas pada mereka, jauh sebelum mereka berani menyentuh dan melukai perasaan istri saya."
"Nah," kata Reyden sambil tersenyum hangat, mengubah suasana agar kembali cair.
"Tadi perut saya dengar sendiri sudah keroncongan. Kamu juga dari pagi belum makan apa-apa selain air mata. Mau makan apa sekarang? Biar saya suruh Mbak Atin siapkan, atau kita makan di luar?"
Mendengar kata makan, perut Misya seketika mengeluarkan suara keroncongan yang cukup jelas di antara keheningan kamar. Semburat merah muda langsung merayap di pipi pucatnya karena merasa malu.
Reyden terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang sangat langka keluar dari bibir pria itu, membuat wajahnya tampak jauh lebih lembut dan tampan.
"Tuh kan, perutnya saja jujur," goda Reyden sambil mencolek hidung mancung istrinya dengan gemas.
"Ih, Mas Rey nyebelin!" protes Misya sambil memukul pelan dada suaminya, meski ia sendiri ikut tersenyum lebar.
"Mana ada orang diketawain pas lagi lapar!"
"Iya, iya, maaf," balas Reyden merangkul bahu Misya erat-erat.
"Bagaimana kalau kita minta Mbak Atin hangatkan masakan rumah yang kamu buat semalam? Saya kangen masakan istri saya."
Manik mata Misya berbinar mendengar permintaan itu. Ada kehangatan luar biasa yang merayap di dadanya.
"Mau?" tanya Reyden memastikan.
"Mau..." jawab Misya mengangguk antusias.
"Biar aku yang ke dapur ya, Mas. Aku pengin ambilkan makanan buat kamu."
"Eits, tidak boleh," cegah Reyden langsung menahan tangan Misya saat istrinya hendak beranjak dari ranjang.
"Kamu baru saja melewati hari yang melelahkan. Duduk manis saja, biar Mbak Atin yang menghangatkan makanan..."