Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, udara di lorong lantai dua SMA Nusa Bangsa terasa mencekam. Seperti dugaan Maya, Lexa bersama Hani, Aurel, dan Lana sudah berdiri berjejer di depan pintu kelas. Wajah Lexa tampak sangat buruk lingkaran hitam tipis bersanding dengan raut dendam yang sudah mencapai puncaknya setelah pertengkaran dengan mamanya semalam. Begitu sosok Maya yang menunduk tertekan muncul di ujung lorong, mata Lexa langsung menyalang bagaikan pemangsa yang melihat mangsanya.
Dengan langkah cepat, Lexa maju dan mencengkeram bahu Maya, hendak menyeret gadis itu ke sudut koridor yang sepi. Amarah yang memuncak di dada Lexa membuat jemarinya menancap kuat pada kain seragam kusam Maya. Namun, tepat ketika tangan Lexa terangkat untuk melayangkan dorongan pertama, langkah kaki yang berat bergema di sepanjang koridor.
Ibu Heni, guru wali kelas mereka yang terkenal tegas, berjalan mendekat sambil membawa tumpukan buku tebal.
"Kalian sedang apa berdiri di depan pintu? Cepat masuk, bel sudah berbunyi!" tegur Ibu Heni dengan suara nyaring.Cengkeraman Lexa di bahu Maya seketika terlepas. Maya menahan napasnya yang tertahan, mendadak merasa seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Pagi itu, kehadiran sang guru berhasil menyelamatkannya secara ajaib dari amukan pertama Lexa. Maya buru-buru menunduk dan melangkah melewati Lexa untuk masuk ke dalam kelas.Namun, saat Maya melintas tepat di sampingnya, Lexa mencondongkan tubuh dan berbisik dengan nada dingin yang menusuk di samping telinga Maya, "Pagi ini lu bisa selamat, Maya. Tapi lihat nanti..."
Bisikan itu membuat bulu kuduk Maya meremang. Ia berjalan cepat menuju mejanya di barisan paling depan dengan jantung yang terus berdegup kencang.
Setelah seluruh siswa duduk rapi, Ibu Heni meletakkan berkas-berkasnya di atas meja guru. Beliau menatap seluruh isi kelas dengan senyum cerah, membawa sebuah pengumuman penting."Anak-anak, minggu depan sekolah kita akan mewakili distrik dalam Perlombaan Olimpiade Sains tingkat Kota," ujar Ibu Heni tegas. "Mengingat rekam jejak akademis dan konsistensinya di pelajaran Biologi dan IPA, Ibu menunjuk Maya sebagai perwakilan resmi dari kelas kita."
Mendengar namanya dipanggil untuk ajang bergengsi tersebut, rasa haru dan bangga yang luar biasa seketika membuncah di dalam dada Maya. Segala penderitaan, rasa lelah akibat harus berjualan sayur, dan derita perundungan seolah terbayar dalam sekejap. Tanpa ragu, Maya berdiri sebentar dari kursinya dan mengangguk mantap. "Saya siap, Bu. Terima kasih atas kepercayaannya."
Namun, suasana hangat itu hancur dalam hitungan detik. Dari barisan belakang, rasa cemburu dan gengsi meluap tanpa terkendali di dalam kepala Lexa. Ia tidak sanggup membayangkan wajah Maya kembali terpampang di papan pengumuman sekolah sebagai pahlawan, apalagi diingat kembali pujian mamanya semalam tentang gadis itu. Tanpa berpikir panjang dan hanya didorong oleh obsesinya untuk tidak mau kalah dari Maya, Lexa mengacungkan tangannya tinggi-tinggi ke udara.
"Bu! Saya juga mau mengajukan diri untuk ikut olimpiade itu!" seru Lexa lantang, membuat seluruh isi kelas mendadak hening.Ibu Heni mengerutkan dahi, terkejut dengan keberanian Lexa. "Kamu yakin, Lexa? Olimpiade ini membutuhkan persiapan materi yang sangat berat dan waktu belajar ekstra". "Saya sangat yakin, Bu. Saya mau membuktikan kalau saya juga bisa",jawab Lexa dengan penuh penekanan, matanya menyipit menatap tajam ke arah punggung Maya di depan.
Melihat tekad dan antusiasme yang tak biasa dari muridnya, Ibu Heni akhirnya mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Setiap kelas memang diperbolehkan mengirim dua perwakilan. Ibu harap kalian berdua bisa bekerja keras membawa nama baik kelas ini."
Di barisan belakang, Hani, Aurel, dan Lana saling pandang dengan mata terbelalak lebar. Muka mereka menunjukkan kebingungan yang teramat sangat. Mereka bertiga tahu betul kapasitas kemampuan otak Lexa yang sebenarnya seorang gadis yang bahkan untuk ujian harian saja harus mengandalkan contekan atau memaksa Maya mengerjakan tugasnya. Bagi mereka, keputusan Lexa mengajukan diri ke ajang olimpiade adalah sebuah tindakan nekat yang sangat gila.
Waktu berlalu cepat hingga bel istirahat berdering nyaring. Begitu Ibu Heni melangkah keluar dari ruangan, atmosfer hangat di dalam kelas langsung berubah menjadi sangat beracun.
Sebelum Maya sempat merapikan alat tulisnya, Lexa sudah berdiri di samping mejanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lexa menarik paksa kerah seragam Maya dan menyeretnya keluar kelas. Hani, Aurel, dan Lana mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk.
Mereka membawa Maya ke kamar mandi perempuan di ujung koridor yang relatif sepi pada jam istirahat. Begitu tubuh Maya terdorong masuk, Lana dengan cepat mengunci pintu dari dalam.
*BUK!*
Lexa menghempaskan tubuh Maya ke dinding keramik kamar mandi yang dingin. "Lu pikir lu keren, huh?! Lu pikir dengan ikut olimpiade itu lu bisa jadi pahlawan di sekolah ini?!" bentak Lexa, suara lengkingannya memantul di dinding kamar mandi.
Lexa menyambar gayung berisi air kotor di dekat bak, lalu tanpa rasa iba menyiramkannya tepat ke kepala Maya. Air dingin berserta noda kotor membasahi kacamata tebal, rambut, dan seragam Maya. Maya hanya bisa memeluk lututnya erat-erat, menunduk pasrah membiarkan air mata keputusasaannya menyatu dengan siraman air di wajahnya.
Hani dan Aurel yang menyaksikan aksi penindasan itu berbisik-bisik di dekat pintu, masih diliputi rasa heran yang mendalam atas kejadian di kelas tadi.
"Lex, lu seriusan mau ikut olimpiade itu?" bisik Aurel ragu-ragu sambil mendekati Lexa yang masih bernapas memburu. "Maksud gue... lu tahu sendiri kan materi olimpiade itu susah banget? Lu yakin bisa?"
"Iya, Lex," timpal Hani dengan raut cemas. "Kita kan tahu kapasitas lu gimana kalau urusan Biologi. Nanti kalau nilai lu hancur di depan sekolah, gengsi lu bisa runtuh total."
Mendengar keraguan dari teman-temannya sendiri, rahang Lexa mengencang. Rasa tersinggung yang makin menebal membuat matanya berkilat marah. Ia menoleh kasar ke arah ketiga temannya.
"Diem kalian!" bentak Lexa ketus. "Gue nggak peduli sesusah apa materinya! Gue nggak bakal biarkan si anak penjual sayur ini kelihatan paling hebat dan bikin gue makin dihina sama mama gue! Kalau dia bisa, gue juga pasti bisa bikin dia bertekuk lutut!"
Lexa kembali berpaling pada Maya yang sedang mengigil di lantai keramik. Ia mencengkeram dagu Maya dengan kasar, memaksa gadis itu menatap matanya yang dipenuhi kobaran kebencian. "Dengar ya, Maya. Di perlombaan itu nanti, gue bakal pastikan lu hancur. Gue bakal bikin lu sadar kalau tempat lu cuma ada di bawah telapak kaki gue!"
Lexa melepaskan cengkeramannya dengan menghentakkan kepala Maya ke dinding, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar mandi, diikuti oleh ketiga temannya yang masih dipenuhi keraguan mendalam atas kegilaan yang baru saja dimulai oleh ketua geng mereka.