Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Dirga
"Dirga, kamu jangan terus menemui Monica dulu. Bagaimana jika Vara curiga?"
Langkah Vara seketika terhenti saat hendak memasuki kamar mertuanya. Ia mengenali suara mertuanya dari dalam kamar.
Vara mundur selangkah, tetapi ia tidak pergi. Telinganya masih menangkap jelas setiap percakapan yang terjadi di dalam.
"Mau bagaimana lagi? Monica sudah kembali, dan aku sudah pisah lama dengannya," jawab Dirga santai, tanpa menyadari bahwa setiap kata-katanya bagaikan pisau yang menggorek luka di hati istrinya.
Diana, sang ibu, menatap sinis putranya. Kesal terlihat jelas di raut wajahnya. "Iya, Mama tahu. Tapi kita belum mendapatkan aset apa pun dari Vara, Dirga."
Deg.
Tubuh Vara terasa akan roboh. Apa? Mereka... Mereka merencanakan sesuatu?"
"Mama tenang saja," ucap Dirga dengan percaya diri yang membuat Vara ingin berteriak. "Aku akan berusaha memindahkan semua aset Vara menjadi milikku. Soal Monica kali ini, dia adalah prioritasku, Mah. Mama tahu kan dia adalah cinta pertamaku?"
Diana menghela napas pelan, lalu mengangguk. Putranya memang sudah memiliki wanita lain sebelum menikah dengan Vara. Namun, karena suatu alasan, Dirga akhirnya memilih Vara sebagai istrinya.
Vara mengepalkan tangannya.
Jadi selama ini, sikap manis suami dan mertuanya hanyalah kepura-puraan?
Suaminya ternyata memiliki wanita lain di belakangnya. Lebih parah lagi, mertuanya sendiri mengetahui semuanya.
Sial.
Bagaimana bisa dirinya tertipu oleh rayuan manis mereka selama ini?
Vara menarik napas dalam-dalam. Ia ingin masuk dan melabrak mereka saat ini juga, tetapi pikirannya segera mencegahnya. Ia tidak boleh gegabah.
Jika mereka memang menginginkan hartanya, Vara tidak akan memberi mereka kesempatan untuk mengetahui bahwa dirinya sudah mengetahui semuanya.
Ia harus bermain lebih cerdik.
"Sudah lah, Mah. Nggak usah dipikirkan. Tenang saja." Dirga terdengar berusaha menenangkan ibunya. "Apa Mama nggak ingin punya cucu?"
"Ya, pengenlah, Dirga!"
"Aku akan produksi bersama Monica," ucap Dirga santai.
Deg!
Tangan Vara mengepal erat sampai kukunya meninggalkan bekas di telapak tangan. Ternyata suaminya sudah sejauh itu dalam kebusukan ini.
"Mulutmu, Yah. Lemas banget," Diana tertawa kecil, menganggap ucapan putranya hanya lelucon biasa. "Buatlah yang rajin agar Mama bisa dapat cucu. Nunggu Vara, kan nggak mungkin. Dia mandul."
Deg!
Vara membeku.
Kenyataan apa lagi yang harus didengarnya?
Ucapan mertunya terasa lebih tajam daripada pisau.
Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan air mata yang mulai menggenang. Namun, ia tidak akan menangis di hadapan mereka.
"Sekarang aku ke Vara dulu. Dia pasti sudah menungguku," pamit Dirga.
Mendengar itu, Vara segera bergegas pergi menuju kamarnya. Perasaan bercampur aduk, marah, kesal, terluka, sekaligus jijik.
Namun, satu hal yang ia tahu.
Ia harus kuat.
Mereka tidak boleh melihatnya lemah dan mengetahui bahwa dia telah mendengar segalanya.
Krek!
Pintu kamar terbuka, dan Dirga masuk dengan senyum hangat yang bersinar di wajahnya. Senyum yang kini terasa seperti topeng. Vara yang sedang pura-pura merapikan bajunya langsung menoleh, berusaha bersikap tenang agar suaminya tidak curiga.
Namun, melihat senyum Dirga, Vara ingin muntah. Jika dia belum mengetahui kebusukan di balik senyum itu, mungkin hangat yang terpancarkan masih akan menyentuh hatinya. Tapi kali ini semuanya berbeda.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Dirga sambil menghampiri istrinya, memeluknya dengan erat, pelukan yang kini terasa seperti rantai.
Ingin sekali Vara menghindar, tetapi dia menahan diri. Sebuah rencana perlahan mulai tersusun rapi di kepalanya. Dengan enggan, ia membalas pelukan itu sambil berbisik dalam hati, semua akan berubah.
"Aku cuma membereskan baju yang berantakan, Sayang," jawab Vara. Dalam hati, ia ingin sekali mengganti panggilan itu dengan kalimat yang lebih tajam.
Dirga melonggarkan pelukannya, lalu menatap Vara dengan lembut. Tangannya bahkan sempat merapikan rambut istrinya.
"Kan ada Bibi. Kenapa harus kamu yang melakukannya?"
"Hanya pengen saja. Lagi pula, nggak banyak, kok," balas Vara dengan senyum yang dipaksakan. "Oh, ya. Tumben kamu cepat pulang?"
"Aku lagi ingin makan siang sama kamu."
"Baiklah, ayo kita makan," ajak Vara sambil menggenggam tangan suaminya, membiarkan dia percaya semuanya baik-baik saja.
Di meja makan, Diana sudah menunggu mereka. Senyumnya terlihat hangat, namun kini Vara tahu bahwa itu juga hanya topeng.
"Dirga, kamu pulang, Nak?" tanya Diana dengan akting yang natural, padahal ia sudah tahu kepulangan Dirga.
"Iya, Mah. Aku ingin makan siang dengan istriku," jawab Dirga sambil tersenyum pada Vara, sebuah senyum yang membuat Vara ingin menonjok wajahnya.
Vara yang menyiapkan makanan untuk suaminya membalas dengan senyum malu-malu, padahal dalam hatinya ada api yang membara. Dia melayani dengan sempurna, istri yang ideal, istri yang bodoh, istri yang tidak tahu apa-apa.
"Gitu dong, Dirga! Kalau bisa pulang untuk makan siang, pulanglah," goda Diana dengan nada yang penuh kasih. "Menantuku ini sangat suka memasakkan makanan untukmu."
"Mama bisa aja," ucap Vara dengan senyum sambil dalam hati mengumpat, Dasar pembohong.
Makan siang pun terlaksana dengan lancar. Vara tidak menunjukkan perubahan apa pun setelah mengetahui semua kebenaran. Dia bermain peran dengan sempurna, istri yang penurut, istri yang setia, dan istri yang tidak tahu apa-apa.
Di sela-sela makan, Vara melirik suaminya dan mertuanya. Mereka tampak biasa-biasa saja, seolah-olah tidak ada yang salah. Tangannya mengepal erat di bawah meja makan, berusaha menahan kemarahan yang menggelora.
Dasar manusia biadab! Awas kalian semua. Aku akan kembalikan kalian ke tempat semula!
Dirga tak sengaja melirik Vara, wajahnya terlihat memerah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dirga dengan nada yang penuh kekhawatiran palsu.
Vara tersentak, lalu buru-buru tersenyum dengan canggung. "Aku tidak apa-apa, kok."
"Lalu kenapa wajah kamu merah?"
"Kamu sakit, Nak?" lanjut Diana dengan nada khawatir yang membuat Vara ingin berteriak.
Vara menggeleng cepat. "Tidak, Mah. Aku baik-baik saja. Lanjut makan, Sayang. Kamu mau balik ke kantor lagi, kan?" Vara mengalihkan topik cepat, menunjukkan keterampilan berbohong yang dia pelajari dari dua orang ini.
Dirga mengangguk. "Serius kamu tidak apa-apa, Sayang?"
"Aku tidak apa-apa, Sayang."
Setelah makan siang selesai, Dirga kembali ke kantor. Vara mengantarnya sampai ke mobil dengan langkah yang terasa ringan, pikiran mereka sudah pindah ke tempat lain, sementara rencana Vara semakin jelas terbentuk.
"Malam ini kamu mau dimasakan apa, Sayang?" tanya Vara.
"Mmm..." Dirga terlihat berpikir. "Sayang?"
"Iya?"
"Malam ini kayaknya aku dinas ke luar kota," ucap Dirga.
Vara terdiam sejenak. "Dinas? Kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang?"
"Maaf, Sayang. Hari ini aku baru mendapatkan informasinya dari asistenku."
Vara menatap suaminya dengan lekat, mencoba membaca kebenaran di balik kata-katanya.
"Berapa hari?"
"Hanya tiga hari, Sayang. Setelah aku balik kita liburan, ya? Sudah lama kita tidak liburan," ucap Dirga dengan nada yang terasa tulus, namun Vara tahu sekarang bahwa semua itu adalah kepalsuan.
Vara tersenyum lebar, senyum yang berbeda dari sebelumnya. "Kamu serius? Tidak ada drama meeting-meeting lagi?"
"Iya, Sayang. Aku janji, kali ini aku akan minta pada asistenku untuk mengatur jadwalku. Aku ingin berdua saja bersama istriku," ucap Dirga dengan penuh penghayatan.
Vara mengatakan sesuatu yang sangat berbeda dalam hatinya, tetapi dari bibirnya keluar.
"Baiklah. Aku akan menunggu, ya, Sayang."
Dirga tersenyum senang mendengarnya.
"Lalu, apa kamu sudah menyiapkan keperluanmu?" tanya Vara.
"Sudah, Sayang. Kamu tenang saja."
"Kamu sama siapa saja?" tanya Vara dengan rasa ingin tahu.
Dirga mengerutkan keningnya dengan senyum lembut. "Tumben sekali hari ini kamu cerewet? Kenapa?" tanyanya sambil terkekeh.
Vara langsung cemberut. "Emang tidak boleh?"
"Yah, boleh dong, Sayang," jawab Dirga sambil memegang tangan istrinya, menyentuh pipi halusnya dengan lembut. "Aku kali ini tidak pergi sendiri, Sayang. Ada asistenku, dua staf dan sekretarisku yang akan menemaniku."
"Siapa saja mereka?"
"Monica, Galang, Bunga, dan Reno," jawab Dirga tanpa menyadari betapa dalam luka yang dia tanamkan dengan sebutir nama pertama itu.
Mendengar nama Monica, hati terasa panas. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya di sana.
Namun, wajahnya tetap dihiasi senyum. Tidak sedikit pun ia akan membiarkan Dirga mengetahui rencananya mulai berubah.
Dirga akhirnya pamit dan mobil SUV hitamnya meninggalkan rumah. Vara berdiri di depan pintu, melambaikan tangan dengan senyum yang perlahan luntur, digantikan dengan raut wajah yang datar dan mata yang berkilauan dengan dendam.
"Selamat bersenang-senang, Dirga," bisiknya pada mobil yang sudah menghilang di kejauhan. "Sebelum aku menghancurkan semua kesenanganmu!"