NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 32 — Gerbang Zaman Awal

Serpihan kain jubah itu tergeletak di telapak tangan Lyra, bercahaya redup seakan bernapas sendiri. Benang-benangnya bukan ditenun dari serat apa pun yang dikenal — ia berkilauan dengan warna yang tak bisa dinamai, berubah perlahan seiring berjalannya waktu, seakan terbuat dari detik-detik yang terhenti.

"Ini bukan kain biasa," bisik Lyra, jemarinya menyentuh permukaan halus itu. "Setiap helai dijalin dari jejak masa lalu. Barang siapa memakainya, dapat melangkah ke tempat yang sudah tiada, atau yang belum terjadi."

Kai menatap serpihan itu lekat-lekat. "Lalu ke mana arahnya?"

"Ke tempat sebelum batas waktu terbentuk," jawab Seraphina pelan, suaranya terdengar berat. "Kaum Penempa Bara menyebutnya Zaman Awal — masa di mana langit dan bumi belum terpisah, di mana sungai-sungai belum punya aliran, di mana setiap hal bisa menjadi apa saja. Dikatakan siapa pun yang masuk tanpa dipanggil… bisa lenyap sepenuhnya. Tidak ada yang kembali dari sana."

"Tapi ada yang pergi," kata Kaelan tajam. "Sosok bertopeng itu masuk. Dan ia bukan sendirian."

Aurelia duduk di samping mereka, menatap tanda tiga titik yang kini terlihat lebih jelas di telapak tangannya — berdenyut selaras dengan detak jantungnya. "Ia tidak lari. Ia pulang. Tempat itu adalah asalnya."

Malam itu mereka tidak tidur. Mereka menyusun peta kuno yang tersimpan di dalam gulungan kulit yang dibawa Seraphina — gambarnya tidak menyerupai peta biasa, melainkan rangkaian lingkaran yang saling bersinggungan, jalur yang melengkung kembali ke dirinya sendiri, gerbang yang muncul hanya jika dilihat dari sudut yang tepat.

"Jalan masuknya tidak tetap," kata Seraphina sambil menunjuk titik yang berubah-ubah posisinya. "Ia terbuka di tempat di mana tiga bayangan jatuh berimpit, tepat saat cahaya bulan menyentuh puncak menara tertua di kota kami. Waktunya tinggal hitungan jam."

Mereka bergerak dalam keheningan, menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah. Di belakang mereka, penduduk Aetheria berdiri diam, menatap tanpa suara — mereka tahu siapa yang pergi, dan tahu pula betapa berbahayanya tempat yang dituju.

Puncak menara itu berdiri sendirian di tengah padang rumput yang berkilauan. Batu-batanya hitam pekat, dingin, seakan menyerap cahaya yang menyentuhnya. Saat bulan mencapai titik tertinggi, tiga bayangan dari menara itu jatuh menyatu ke tanah — dan di titik pertemuannya, udara terbelah perlahan, menampakkan celah yang berwarna putih keperakan, berputar pelahan seperti air yang tersedot ke dalam lubang tak terlihat.

"Ini dia," gumam Kai. Ia menggenggam tangan Aurelia di sebelah kanan, tangan Kaelan di sebelah kiri. "Jangan lepaskan. Apa pun yang terjadi, tetap bersama."

Mereka melangkah masuk.

Sensasi yang menyapa bukan seperti melintasi gerbang dunia lain. Tidak ada getaran, tidak ada suara. Yang ada hanyalah perubahan — perlahan, tak terelakkan, seakan setiap bagian dari diri mereka diurai lalu disusun kembali dengan cara yang sama sekali berbeda. Saat pandangan kembali jernih, mereka berdiri di tempat yang tidak memiliki cakrawala. Langit dan tanah menyatu menjadi hamparan cahaya yang berdenyut lembut, tanpa matahari, tanpa bintang, tanpa kegelapan — hanya cahaya murni yang berubah warna perlahan, seakan napas dari sesuatu yang hidup.

Di kejauhan, berdiri sebuah bangunan yang tidak menjulang ke atas, melainkan menyebar ke segala arah — bentuknya terus berubah, dindingnya melebur menjadi lantai, lantai menjadi lorong, lorong kembali menjadi dinding, seakan tempat itu sendiri bernapas dan bergerak.

"Ini bukan tempat," bisik Elowen, matanya membelalak tak percaya. "Ini… ingatan yang hidup."

Suara terdengar dari segala arah, lembut namun menggetarkan keberadaan mereka — bukan suara satu orang, melainkan paduan ribuan bisikan yang berbicara serentak.

"Kalian datang mencari yang terlebih dahulu ada."

Kai melangkah maju, tidak mundur walau sekujur tubuhnya terasa berat. "Kami mencari kebenaran. Mengapa gadis kecil ini dicari? Apa yang tersembunyi di dalamnya?"

Keheningan sejenak menyelimuti hamparan cahaya itu. Kemudian suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat.

"Bukan di dalamnya. Ia adalah wadah yang dipilih sebelum dunia ini lahir. Saat keseimbangan pertama kali retak, sebagian dari yang terkuat terpisah dan jatuh ke tempat yang baru terbentuk — tertanam, menunggu tubuh yang mampu memikulnya. Ia lahir untuk membawa pulang apa yang hilang."

Aurelia melangkah maju, suaranya lantang meski kecil. "Membawa pulang ke mana?"

Cahaya di sekitar mereka berubah — menjadi lebih hangat, lebih lembut. Dari hamparan cahaya itu muncul sosok — bukan raksasa, bukan juga dewa, melainkan sesosok yang bercahaya begitu terang hingga tak bisa dilihat sepenuhnya.

"Ke tempat asalnya. Ke pusat segala sesuatu. Dan mereka yang menginginkannya… tidak ingin menyatukan. Mereka ingin memisahkan — mengambil kekuatan itu dan membiarkan yang lain hancur sendirian."

Tiba-tiba cahaya itu terbelah. Celah gelap melesat cepat, menabrak tanah tepat di depan kaki mereka — dan dari debu yang naik, muncul sosok bertopeng yang mereka cari. Ia berdiri tegak, jubahnya berkibar, dan di belakangnya, terbuka pintu menuju ruangan yang jauh lebih tua dan lebih sunyi.

"Kalian mendengarnya," suaranya dingin dan tajam. "Gadis ini bukan milikmu, Kai. Ia bukan milik siapa pun. Ia harta yang telah lama ditunggu."

Kai berdiri di depan Aurelia, kedua tangannya terbuka lebar. "Siapa yang menugaskanmu?"

Sosok bertopeng itu tertawa pelan, lalu perlahan melepaskan topengnya. Wajahnya terlihat — dan semua orang terdiam. Bukan wajah musuh yang dibayangkan. Bukan wajah orang asing. Itu adalah wajah seseorang yang mereka kenal sejak awal — seseorang yang diyakini telah lenyap, seseorang yang dikira telah berpulang ke tempat damai.

"Kau…" gumam Kaelan, mundur selangkah tak percaya.

Wajah itu tenang, tanpa penyesalan. "Aku melakukan apa yang harus dilakukan. Dunia ini terlalu rapuh untuk membiarkan kekuatan seperti itu jatuh ke tangan yang salah."

Ia melangkah mundur menuju pintu di belakangnya. "Ikutlah jika berani. Tapi ketahuilah — di balik pintu itu tidak ada yang kalian cari. Hanya kebenaran yang akan menghancurkan apa yang kalian percaya."

Dengan itu, ia melangkah masuk dan pintu itu mulai menutup perlahan.

"Kita kejar!" bentak Kai, melesat maju tanpa ragu.

Mereka berlari menembus celah yang semakin sempit, masuk ke ruangan yang hening sepi — tempat di mana tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya deretan benda-benda yang terbungkus kain cahaya, tersusun rapi seakan dijaga sejak keabadian. Dan di tengah ruangan itu, berdiri sebuah peti kosong — terbuka, menampakkan ruang yang seharusnya berisi sesuatu yang sangat besar.

Di pinggir peti itu tertulis satu kalimat dalam huruf yang bersinar pudar:

Yang ditunggu telah lahir. Yang ditakutkan telah bangkit.

...****************...

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!