NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak RT yang Kehilangan Ayam

​Uang dua lembar seratus ribuan yang agak lecek itu tergeletak di atas tikar pandan, tepat di antara wadah kuningan berasap dan bilah keris bengkok Mamat. Mamat menatap lembaran kertas berwarna merah itu dengan ekor matanya. Ada dorongan kuat di dadanya untuk langsung menyambar uang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku sarung, tetapi naluri penipunya menahan jemarinya agar tidak bergerak terlalu cepat. Seorang dukun sakti tidak boleh terlihat lapar uang.

​"Simpan dulu uang itu di atas kain hitam, Pak RT," panggil Mamat dengan suara bernada rendah dan berat, seolah-olah ia sedang menahan beban gaib dari tujuh dimensi.

​Pak RT Sugino yang masih terbatuk-batuk kecil akibat kepekatan asap obat nyamuk bakar bercampur dupa cina, tergesa-gesa menggeser uang kertas itu ke ujung kain sarung kusam Mamat. Matanya yang berair karena perih tak berhenti melirik ke sekeliling kamar belakang Mamat yang remang-remang.

​"P-Pusaka kerisnya... kok menyala sedikit merah ya, Ki?" bisik Pak RT tiba-tiba dengan nada panik.

​Mamat sempat tersentak. Menyala? Ia melirik cepat ke arah keris bengkoknya. Rupanya pantulan cahaya lilin kecil yang dipasang di sudut ruangan menimpa lapisan karat dan sisa minyak melati murah di permukaan besi, menciptakan kilatan kemerahan yang samar.

​"Itu adalah tanda bahwa Mustika Brajamukti sedang menyerap aura negatif dari niat jahat orang yang menyembunyikan Si Jalak," dusta Mamat cepat tanpa berkedip. Tangannya diangkat ke udara, memberi isyarat agar Pak RT diam. "Tutup matamu, Pak RT! Jangan sekali-kali membuka mata sebelum saya menyiramkan Air Doa Penyucian, atau penglihatanmu akan kabur dihantam bayangan gaib!"

​Pak RT Sugino langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Pria tua itu bahkan menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sambil komat-kamit membaca doa seadanya, mulai dari doa makan hingga doa masuk kamar mandi karena saking paniknya.

​Melihat Pak RT terpejam penuh ketakutan, Mamat tersenyum lebar tanpa suara. Ia meraih mangkuk seng berisi air sumur yang telah dicampur garam dapur dan sisa kelopak bunga mawar layu. Mamat mencelupkan jemari tangannya yang mengenakan batu akik merah besar ke dalam air tersebut, lalu merapalkan mantra asal-asalan dengan gaya bahasa Jawa ngawur yang diplesetkan.

​"Niat ingsun memanggil Si Jalak, ayam jago aduan Pak RT Sugino... Jancuk raimu patek gondhong, kurungan buka ayam mencolot balik... Sang Hyang Keris Bengkok, tumpahkan bensin, bakarkan kemenyan, wujudkake ayam iki sekarang juga!"

​Ciprat!

​Mamat memercikkan air mawar bercampur garam itu tepat ke wajah Pak RT Sugino.

​"Aduh! Pedes, Mat! Eh... Ki!" jerit Pak RT kaget, sambil mengusap matanya yang makin perih kena cipratan air garam.

​"Buka matamu sekarang, Pak RT!" seru Mamat dengan nada memerintah yang sangat kuat.

​Pak RT mengedipkan matanya yang memerah dan berair, lalu menatap Mamat yang kini sedang berdiri tegak sambil menunjuk ke arah pintu belakang rumah.

​"Proses pemanggilan gaib telah selesai," kata Mamat sambil mengelus dada dengan gaya sok bijaksana. "Aura penarik pusaka keris bengkok ini telah memecah benteng astral yang mengurung Si Jalak. Sekarang, berjalanlah ke pekarangan belakang rumah saya. Di bawah pohon jambu air, Si Jalak sudah dikembalikan oleh utusan gaib!"

​Pak RT melongo, setengah percaya dan setengah ragu. "Beneran, Ki? Sudah ada di pekarangan belakang?"

​"Apakah kamu meragukan tuah dari Keris Bengkok Brajamukti?" ancam Mamat, matanya difokuskan juling ke arah Pak RT, membuat penampilannya terlihat cukup menyeramkan di tengah sisa kepulan asap putih.

​"Ndak, ndak meragukan, Ki! Saya percaya!" Pak RT langsung bangkit dari duduknya. Karena terlalu terburu-buru dan matanya masih perih kena air garam, kakinya sempat tersangkut ujung tikar pandan hingga ia hampir tersungkur mencium lantai semen.

​Dengan napas memburu, Pak RT berlari keluar dari kamar belakang, melintasi lorong dapur, dan mendobrak pintu belakang rumah Mamat menuju pekarangan.

​Mamat menyunggingkan senyum licik. Ia tidak menyia-nyiakan waktu. Begitu Pak RT keluar, Mamat dengan sigap meraih dua lembar uang seratus ribu di atas kain sarung dan menyelipkannya ke dalam saku celana pendek di balik sarungnya. Dua ratus ribu tunai! Utang pinjolnya memang belum lunas sepenuhnya, tetapi setidaknya perutnya tidak akan kelaparan hari ini.

​Mamat melangkah pelan mengekor di belakang Pak RT.

​Di pekarangan belakang rumah Mamat yang dipenuhi semak belukar dan pohon jambu air yang rimbun, Pak RT Sugino berdiri terpaku. Matanya melotot menatap sebuah kurungan bambu yang tergeletak di antara rumput liar. Dari dalam kurungan itu, Si Jalak—ayam jago aduan kesayangannya—sedang berdiri gagah sambil mengepakkan sayapnya dan berkokok nyaring.

​Kukuruyuuuk!

​"Gusti Allah... Si Jalak! Beneran balik!" jerit Pak RT histeris gembira.

​Pria tambun itu langsung berlutut di tanah, membuka pintu kurungan bambu, dan memeluk ayam jagunya erat-erat seolah-olah memeluk anak kandungnya sendiri yang baru pulang dari perantauan. Si Jalak yang agak bingung hanya berkokok pelan sambil mematuk-matuk kancing kemeja Pak RT.

​Pak RT menengok ke arah Mamat yang sedang berdiri bersedekap dada di ambang pintu belakang, lengkap dengan jubah sarung hitam kusam dan keris bengkok terselip di pinggangnya. Di mata Pak RT saat ini, Mamat bukan lagi pemuda pengangguran mesum yang suka mengintip janda dan mencuri jambu, melainkan sosok wali gaib penolong warga yang sakti mandraguna.

​"Ki Mamat! Luar biasa! Panjenengan betul-betul sakti!" seru Pak RT sambil berlari mendekat, masih memeluk ayam jagonya erat-erat. "Tadi pagi saya cari di seluruh kebun ndak ada, sekarang tiba-tiba muncul di dalam kurungan di belakang rumah Ki Mamat! Ini benar-benar keajaiban pusaka keris bengkok!"

​Mamat menanggapi pujian itu dengan menganggukkan kepalanya perlahan dan angkuh. "Sudah saya katakan, Pak RT. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika pusaka Brajamukti sudah bekerja. Tapi ingat, jangan ceritakan detail ritual ini kepada orang awam. Cukup katakan bahwa Ki Mamat telah mengembalikan apa yang hilang."

​"Siap, Ki! Siap!" Pak RT mengangguk-angguk penuh rasa hormat. "Warga Kalisari harus tahu kalau kita punya dukun hebat di kampung ini! Biar orang-orang yang suka kehilangan barang atau kena penyakit aneh ndak perlu jauh-jauh berobat ke gunung!"

​"Bagus. Sekarang bawalah Si Jalak pulang, dan mandikan dia dengan air bekas remasan daun pandan agar aura gaibnya hilang," kata Mamat memberi petunjuk ngawur tambahan agar terkesan makin meyakinkan.

​"Baik, Ki Mamat! Terima kasih banyak! Nanti malam kalau ada rejeki lebih, saya bawakan kopi dan rokok buat Ki Mamat!" Pak RT pamit dengan wajah berseri-seri, melangkah cepat membawa ayamnya kembali ke rumahnya melalui jalan gang.

​Mamat memperhatikan kepergian Pak RT sampai benar-benar menghilang di belokan gang. Begitu situasi sunyi kembali, Mamat melepaskan ikatan kain hitam di kepalanya, menepuk-nepuk dadanya yang sesak, lalu tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar.

​"Hahaha! Jancuk! Sukses besar!" Mamat tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang kram. "Cuma modal kurungan bambu bekas Darto sama air garam, Pak RT sampai berlutut-lutut begitu! Dua ratus ribu melayang masuk kantong dengan mulus!"

​Saat Mamat sedang menikmati euforia kelulusannya sebagai dukun gadungan, sosok Darto dan Bowo tiba-tiba muncul dari balik semak pisang di samping rumah. Keduanya berjalan mengendap-endap dengan wajah dipenuhi rasa takjub bercampur cengiran konyol.

​"Mat! Asli, kamu gila!" bisik Darto sambil menepuk punggung Mamat kencang. "Aku tadi ngintip dari balik pohon jambu. Pak RT sampai nangis meluk ayamnya! Aku sama Bowo sampai mau meledak nahan tawa!"

​"Mana bagian kita, Mat?" sahut Bowo sambil mengadahkan telapak tangannya dengan cengiran lebar. "Tadi aku yang naruh kurungan bambunya di bawah pohon jambu pas kamu lagi pura-pura mantra di dalam kamar."

​Mamat menarik napas panjang, kembali bersikap sok tenang. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang seratus ribu rupiah, lalu membaginya menjadi dua lembar lima puluh ribuan kepada Darto dan Bowo.

​"Ini lima puluh ribu buat kamu, To, dan lima puluh ribu buat kamu, Wo," kata Mamat membagi uang hasil tipuannya. "Ingat ya, mulut kalian berdua harus dikunci rapat-rapat. Kalau sampai warga tahu Si Jalak itu sebenarnya dicuri kalian lalu tak beli balik pakai taktik dukun, kita bertiga bisa digebuki warga satu kampung!"

​"Aman, Ki Mamat!" Darto menerima uang itu dengan mata berbinar. "Kalau cara nyari uangnya semudah ini, besok-besok kita curi saja kambingnya Pak Harjo, terus kamu 'tarik gaib' lagi!"

​"Jangan jancuk! Kambing itu berat, susah disembunyikan!" potong Mamat cepat. "Kita main cantik saja. Target kita berikutnya bukan cuma barang hilang, tapi urusan pelet, pengasihan, dan masalah rumah tangga warga."

​Mamat melirik ke arah rumah Mbak Wiwin yang terlihat dari kejauhan di seberang kebun pisang. Pikiran mesumnya yang sempat terhenti gara-gara kejaran depkolektor kini mulai bergelora kembali.

​Dengan reputasi barunya sebagai "Ki Mamat Sastrogati" yang telah terbukti berhasil menyembuhkan kepanikan Pak RT, Mamat tahu tidak lama lagi gosip tentang kesaktiannya akan menyebar ke seluruh penjuru Kampung Kalisari melalui mulut Bu Siami dan Pak RT sendiri. Dan ketika gosip itu sampai ke telinga Mbak Wiwin—janda cantik yang sering mengeluh ketakutan diganggu suara-suara aneh di malam hari—maka pintu rumah ritual Mamat akan terbuka lebar untuk target utamanya.

​"Kalian berdua menyebarlah sekarang," perintah Mamat kepada Darto dan Bowo. "Bantu kompori warga kalau ada yang punya masalah. Bilang sama mereka, Ki Mamat Sastrogati siap menolong dengan sarana Keris Bengkok Brajamukti!"

​"Siap, Mbah Dukun!" Darto dan Bowo memberi hormat konyol, lalu menghilang kembali ke balik rimbun kebun pisang sambil tertawa terbahak-bahak.

​Mamat memegangi gagang keris bengkoknya di pinggang. Ia berjalan kembali ke dalam rumahnya yang kini dipenuhi aroma uang dan sisa racun asap obat nyamuk bakar. Langkah pertamanya telah berhasil melampaui ekspektasi. Mamat sang pengangguran mesum kini telah resmi menancapkan kakinya sebagai paranormal nomor satu di Kampung Kalisari, Semarang—sebuah awal dari kekacauan komedis yang akan makin membesar di hari-hari mendatang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!