NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Jejak Darah di Hujan Deras dan Amarah yang Hilang Kendali

Hujan deras mengguyur Jakarta sejak siang, mengubah langit sore menjadi kelam dan mencekam. Petir sesekali menyambar, membiaskan kilatan cahaya putih yang tajam melalui jendela-jendela tinggi Kediaman Ardiansyah. Di dalam kamar utama yang terkunci, Naya terduduk lemas di tepi ranjang. Suasana rumah terasa sepi bagaikan kuburan pasca-pertengkaran hebat antara Gavin dan ibunya tadi pagi. Eleanor telah pergi dengan kemarahan dan kekecewaan mendalam, meninggalkan ancaman bahwa ia akan menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya disembunyikan oleh anak dan menantunya.

Naya memeluk kedua lututnya, menatap kosong pada titik-titik air hujan yang mengalir di kaca. Jiwanya lelah. Setiap helaan napasnya terasa kian berat. Ia tahu, dinding kepalsuan yang dibangunnya selama tiga tahun ini telah runtuh total.

Tiba-tiba, pendar cahaya lampu kamar berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam sepenuhnya.

Ctek.

Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan pekat. Sistem listrik utama rumah mendadak mati. Suara sirine alarm keamanan yang seharusnya melengking ketika terjadi kegagalan daya justru membisu—menandakan adanya sabotase pada jalur kabel utama di luar.

Naya tersentak bangkit dari ranjang, jantungnya berdegup kencang secara maraton. "Gavin...?" bisiknya ketakutan dalam kegelapan.

Di luar kamar, hening yang tidak wajar menyelimuti koridor. Tak ada suara pelayan, tak ada suara penjaga. Hanya ada derak halus daun pintu kayu yang perlahan terdorong terbuka dari luar.

Garis cahaya temaram dari koridor memperlihatkan sosok tinggi besar berdiri di ambang pintu. Namun itu bukan Gavin.

Sosok itu melangkah masuk dengan napas tersengal dan langkah yang tidak stabil. Bau alkohol tajam beradu dengan aroma minyak tanah menyengat dari pakaiannya. Saat kilatan petir menyambar di luar jendela, cahaya kilat itu menerangi separuh wajah pria tersebut.

Rian.

Wajah pria itu tampak berantakan, matanya merah menyala penuh kegilaan, dan terdapat bekas luka lebam di pipinya—sisa-sisa pelarian sengitnya dari kejaran polisi dan tim hukum Ardiansyah Group sepanjang hari ini. Di tangan kanannya, Rian menggenggam erat sebuah pisau lipat berburu yang mengilap kusam.

"R-Rian...?!" jerit Naya histeris, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Ketakutan murni menjalar cepat membasahi punggungnya dengan keringat dingin. "Bagaimana bisa kamu... bagaimana kamu bisa masuk ke sini?!"

"Gavin Ardiansyah... bajingan itu benar-benar ingin menghancurkan hidupku!" raung Rian dengan suara parau yang sarat akan dendam. Pria itu tertawa sumbang, langkahnya kian mendekati Naya bagaikan iblis yang kehilangan akal sehatnya. "Polisi memblokir seluruh rekeningku! Perusahaanku disita! Rumahku disegel! Dia pikir dia bisa membusukkan aku di penjara?!"

Rian maju menerjang dengan cepat. Naya mencoba menjerit dan menghindar, namun Rian lebih cepat mencengkeram lengan atas Naya dengan tenaga gila. Pisau di tangannya menempel ketat di leher halus Naya, membuat wanita muda itu membeku seketika dengan napas terengah-engah.

"Jangan bergerak atau aku gorok lehermu sekarang juga!" ancam Rian penuh bisikan beracun di telinga Naya. "Kalau aku harus hancur dan masuk penjara malam ini, aku tidak akan membiarkan Gavin tertawa menang! Kamu ikut denganku, Naya!"

"Rian, tolong... lepaskan aku! Jangan lakukan ini!" tangis Naya pecah, air matanya membanjiri pipinya yang pucat. "Kamu sudah gila, Rian!"

"Ya! Aku gila karena kalian berdua!" seru Rian kasar. Ia menyeret Naya keluar dari kamar, memaksa wanita itu melangkah menuruni anak tangga dalam kegelapan. Para penjaga dan pelayan di lantai bawah tampak tergeletak tak sadarkan diri di dekat pintu belakang—korban bius dan serangan mendadak Rian yang telah mematikan seluruh sistem keamanan rumah.

Rian mendorong Naya keluar melalui pintu samping menuju halaman belakang yang diguyur hujan deras. Tubuh Naya seketika basah kuyup, gaunnya berat terendam air, namun Rian terus menyeretnya tanpa ampun menuju sebuah mobil minibus hitam tanpa plat nomor yang terparkir di balik pagar belakang yang telah dirusak.

Sementara itu, hanya berjarak lima ratus meter dari rumah, sedan hitam milik Gavin melaju membelah hujan deras dengan kecepatan tinggi. Gavin mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Firasat buruk terus menggerogoti dadanya sejak asistennya memberi tahu bahwa sinyal kamera pengawas di rumah utama mendadak terputus seratus persen sepuluh menit lalu.

Saat sedan Gavin membelok masuk ke halaman depan Kediaman Ardiansyah, mata Gavin membelalak melihat seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan total.

"Naya!" geram Gavin, melompat keluar dari mobil tanpa peduli pada hujan deras yang menyapu tubuhnya.

Gavin mendobrak pintu depan. Pria itu menyusuri koridor gelap dengan penerangan dari ponselnya, menemukan para penjaganya tergeletak di lantai. Kemarahan yang tak terbayangkan mulai membakar habis seluruh kesadaran dan akal sehatnya. Gavin berlari cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama.

Pintu kamar terbuka lebar. Kosong.

Yang tersisa di dalam kamar hanyalah jendela yang terbuka melambai-lambai diterpa angin malam, serta sebuah gelang tasbih kayu kokka milik Naya yang tergeletak pasrah di atas lantai marmer yang basah oleh tampias air hujan.

Gavin berlutut, memungut tasbih itu dengan tangan yang bergetar hebat. Matanya yang pekat seketika menyala oleh gabungan rasa sakit, ketakutan, dan kegilaan obsesi yang amat dahsyat.

"RIAN...!" jerit Gavin, suara baritonnya menggema dahsyat membelah gemuruh petir di luar rumah.

Pria yang biasanya selalu tampil tenang, terukur, dan elegan itu kini runtuh sepenuhnya menjadi sesosok predator yang kehilangan kendali. Gavin berlari turun menuju halaman belakang. Di atas tanah lumpur yang basah, matanya yang tajam menangkap bekas jejak seretan kaki Naya dan deretan ban mobil yang baru saja melaju kencang meninggalkan area pagar belakang.

Gavin merogoh ponselnya dengan jemari yang gemetaran oleh amarah gila. Ia menelepon Evan, asisten pribadinya.

"Bawa seluruh personel keamanan Ardiansyah Group! Blokir seluruh jalan keluar dari Jakarta malam ini juga!" raung Gavin ke dalam telepon, suaranya dingin, parau, dan dipenuhi ancaman pembunuhan yang nyata. "Cari mobil minibus hitam yang baru keluar dari lingkungan rumahku! Jika Rian menyentuh sehelai rambut Naya... aku swear demi Tuhanku, aku akan mencincang pria itu dengan tanganku sendiri!"

Gavin melempar ponselnya ke jok penumpang, melompat kembali ke dalam sedannya, lalu menderukan mesin mobilnya hingga raungan knalpot memecah keheningan malam. Sedan hitam itu melesat bagaikan peluru di atas jalanan yang licin, mengejar bayang-bayang penculik istrinya di tengah badai yang kian mengganas.

Di dalam minibus yang melaju kencang, Naya meringkuk di sudut jok belakang dengan tangan terikat kabel platik. Tubuhnya menggigil hebat oleh dinginnya air hujan dan ketakutan yang meremas jiwanya. Dari kaca spion depan, ia melihat mata Rian yang liar menatap jalanan di depannya. Namun jauh di belakang mereka, di tengah selimut hujan pekat, sepasang lampu depan mobil sedan melaju gila-gilaan dengan kecepatan mematikan—sebuah bayangan obsesi kegelapan yang siap menerjang siapa pun yang berani merebut miliknya.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!