NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

PLAK!

Tamparan itu begitu keras hingga telinga Hana berdenging hebat. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, tetapi ia tidak beranjak dari sofa, membiarkan rasa sakit itu berlalu dengan sendirinya.

“Dasar anak tidak tahu diuntung!”

“Pa!”

Teriakan seorang wanita paruh baya berhasil menahan tangan pria yang hendak kembali menampar Hana.

“Pa, apa yang kamu lakukan?” tegurnya, sebelum segera duduk di samping putrinya. “Hana, kamu tidak apa-apa, Sayang? Lihat Mama.”

Mengusap sudut matanya yang sempat berair, Hana membenarkan posisi duduknya dengan tenang. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Perlakuan seperti ini bukan lagi hal baru baginya.

“Aduh, wajah cantikmu memar, Sayang. Ambilkan obat!” seru wanita itu.

Para pelayan yang menunggu di luar ruangan segera bergegas memenuhi perintahnya.

Wanita itu kemudian mengangkat kepala dan menatap sang suami, yang wajahnya masih terlihat sangar dan gusar, meski dibawah cahaya terang.

“Pa, kenapa kamu menampar Hana? Apa dengan menyakitinya pernikahan mereka akan berlangsung lebih cepat? Justru kamu seharusnya malu kalau calon mertuanya melihat wajah Hana seperti ini.”

Namun, pria yang sedang gusar itu tidak menghiraukannya.

“Diam kau, Josephine! Aku sudah cukup dipermalukan media. Putra mereka yang terus mengulur-ulur waktu pernikahanlah yang sebenarnya membuatku malu.”

Josephine segera berdiri, menanggapi ucapan suaminya.

“Itulah masalahnya. Putra mereka yang mengulur waktu, bukan putri kita. Lalu kenapa Hana yang harus kamu pukuli?”

“Bodoh! Itu artinya putrimu tidak mampu membuat calon suaminya bergerak cepat. Dia tidak cukup mampu membuat Alexander tergila-gila padanya.”

“Pa! Mereka sudah bersama selama dua tahun. Sebentar lagi juga pernikahan itu akan terlaksana. Kenapa kamu begitu tidak sabar? Sudah ada perjanjian antara keluarga kita dan keluarga mereka. Semuanya sudah pasti. Jadi berhentilah mengacau!”

BRANG!

Suara vas yang menghantam lantai membuat Josephine terdiam.

“Aaa!”

Baik Josephine maupun Hana sama-sama menutup telinga akibat suara benturan yang memekakkan itu.

“Dasar wanita-wanita bodoh. Pantas saja putrimu sebodoh ini. Persis sepertimu.”

“Akh!”

Josephine berteriak kecil ketika lehernya diremas dari belakang.

Sementara itu, Hana hanya bisa diam menyaksikan kekasaran ayahnya. Conrad menyalakan televisi, lalu menarik kepala istrinya agar menghadap ke layar.

“Apa kau tidak melihat survei itu, hah? Apa kau buta?” bentaknya. “Lihat baik-baik! Namaku, Conrad, berada di urutan terakhir. Elektabilitasku begitu rendah. Satu-satunya hal yang bisa menaikkannya adalah pernikahan Hana dengan Alexander sebelum waktu pemilihan!”

“Mama...” Suara Hana tercekat ketika melihat ibunya didorong ke arah meja dan hampir membentur sudutnya.

“Diam kau!”

Conrad menunjuk Hana dengan jari yang nyaris menyentuh wajahnya.

“Kau anak yang tidak pernah berusaha untuk ayahmu. Aku membesarkanmu dengan susah payah, tetapi kau bahkan tidak mampu melakukan hal kecil untukku?”

Rasa dingin merayapi punggung Hana ketika wajah ayahnya berada begitu dekat. Pada akhirnya, setiap rumah memiliki ceritanya masing-masing. Dari luar, kehidupannya mungkin tampak sempurna. Namun, di balik pintu rumah ini, ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.

“Dengarkan baik-baik. Setelah Alexander kembali, kita akan langsung mendatangi keluarganya. Tidak boleh ada alasan lagi untuk menunda pernikahan kalian. Tidak boleh! Kau mengerti?”

Hana hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun.

Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini, lalu memasang wajah baik-baik saja ketika berada di luar rumah. Kehidupan keluarga politikus memang selalu dipenuhi kepura-puraan.

Ayahnya adalah pria buruk yang mampu melakukan apa saja demi kepentingannya. Namun, semua keburukan pada akhirnya akan menemukan jalan untuk terungkap. Perlahan, kebobrokan Ayahnya mulai terbongkar dan membuat elektabilitas politiknya merosot di mata masyarakat.

Hal itu berbanding terbalik dengan keluarga besar Alexander. Mereka dikenal memiliki nilai-nilai keluarga serta latar belakang leluhur yang baik. Keluarga Kim juga memiliki bisnis ekspor-impor yang kuat dan semakin dikenal berkat Patricia Kim, adik satu-satunya Alexander, yang kini menjadi salah satu selebritas papan atas di negara mereka.

Patricia juga merupakan sahabat Hana.

Dengan semua citra positif yang dimiliki keluarga tersebut, Hana tahu bahwa dirinya bisa membantu menyelamatkan elektabilitas ayahnya sebagai calon besan keluarga Kim.

Namun, semakin lama, ia justru semakin tidak yakin.

Dulu, dia memang pernah begitu menyukai Alexander, bahkan jauh sebelum mereka memulai hubungan. Semuanya berawal dari perasaan khas seorang gadis yang jatuh hati kepada kakak sahabatnya.

Bertahun-tahun menyukai pria itu hingga akhirnya berhasil menjalin hubungan dan bertunangan dengannya, ternyata tidak seindah yang ia bayangkan.

Hana mulai lelah.

Hubungan itu tidak pernah benar-benar terasa seperti miliknya sendiri karena orang tuanya selalu ikut campur. Belum lagi Alexander yang semakin kaku seiring bertambahnya usia membuatnya perlahan kehilangan kesabaran.

“Sini, biarkan Mama obati.”

“Tidak, Ma. Ada yang harus kulakukan. Aku harus pergi.”

Hana berdiri tanpa menatap ibunya maupun para pelayan yang masih berada di dalam ruangan. Selama ayahnya sudah keluar, ia pun bisa pergi.

“Hana, tunggu! Mama mau bicara—”

“Bicaranya nanti saja.”

Ia tetap berjalan meninggalkan ruangan.

Sebenarnya, bukan hanya ayahnya yang membuat Hana merasa tidak nyaman. Ia juga tidak cukup leluasa menceritakan keluh kesahnya kepada sang ibu. Meskipun Josephine masih berusaha membelanya, wanita itu memiliki sisi lain yang membuat Hana menjaga jarak.

Josephine selalu menuntutnya untuk terlihat cantik setiap saat.

•

•

“Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu sakit?”

Hana terkejut ketika melihat Jethro membukakan pintu mobil untuknya.

Ia ingat bodyguard-nya itu meminta izin selama tiga hari. Namun, baru hari kedua, pria itu sudah kembali.

Jethro hanya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih dan lesung pipinya yang manis. Tatapannya sempat menangkap memar di wajah Hana, tetapi ia memilih tidak mengatakan apa-apa.

“Memang tadinya sakit. Namun, setelah memikirkan majikanku akan pergi ke mana-mana sendirian, aku merasa perlu cepat sembuh.”

Hana yang sejak tadi tegang akhirnya terkekeh kecil. Ia tahu pria yang lebih muda darinya itu hanya membual, tetapi kalimat sederhana tersebut cukup menghiburnya.

Setelah pintu ditutup dan Jethro masuk ke dalam mobil, ia mengulurkan sebatang cokelat yang sama seperti yang diberikannya kemarin.

Hana langsung mengambilnya tanpa berkata apa-apa. Seolah benar-benar membutuhkannya, ia segera membuka bungkus cokelat itu dan memakannya bahkan sebelum mobil berjalan.

“Mau ke mana kita hari ini?”

Hana menatap keluar jendela. Mobil mereka masih berada di parkiran sempit yang dipenuhi kendaraan lain.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Matanya masih berkaca-kaca.

“Terserah kamu. Tapi kalau bisa, aku ingin pergi ke tempat yang damai. Dan mungkin sedikit minuman untuk menghilangkan sakit kepala.”

Mendengar itu, kedua alis Jethro bertaut.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung menginjak pedal gas.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!