NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Tertunda

Keesokan harinya Arka benar-benar datang membawa buah dan obat-obatan. Laras yang sudah bisa berjalan sedikit lebih baik menyambutnya dengan senyum yang lebar. Mereka duduk di teras rumah sambil berbincang tentang banyak hal dari pelajaran sekolah, hobi, hingga impian masa depan.

Semakin lama mereka mengobrol, semakin Laras menyadari betapa dalam dan menariknya sosok Arka di balik sifat dingin yang sering ia tunjukkan di depan orang lain. Arka ternyata suka melukis, sesuatu yang tidak pernah dibanggakannya kepada siapa pun.

Dia juga sangat menyayangi hewan, terutama kucing liar yang sering dia beri makan di depan gerbang sekolah. Hal-hal kecil yang membuat Laras merasa semakin beruntung bisa mengenal sisi lain dari cowok ini.

Saat mereka sedang tertawa membicarakan kebiasaan lucu Dika yang selalu lupa membawa pulpen sendiri, tiba-tiba ponsel Arka berdering berkali-kali. Wajahnya yang tadinya ceria perlahan berubah serius.

Dia meminta izin sebentar untuk mengangkat telepon itu di ujung teras yang agak jauh. Laras melihat bahu Arka perlahan turun naik, seakan sedang mendengar sesuatu yang sangat berat.

Dia tidak mendengar apa yang dibicarakan, tapi dari ekspresi wajah Arka, dia tahu kabar itu bukan kabar baik. Saat Arka kembali duduk di hadapannya, sorot matanya terlihat berbeda lebih jauh, lebih sedih, dan lebih rapuh dari biasanya.

"Ada yang terjadi, Ka? Lu boleh cerita kalau ada yang mau lu bagi ke gue. Gue nggak akan ke mana-mana kok," ucap Laras pelan, suaranya lembut namun tegas.

Arka menatapnya lama, lalu menghela napas panjang seakan beban berat baru saja diletakkan di pundaknya. "Gue... sebenarnya pindah ke kota ini nggak lama lagi. Ayah gue dipindah tugas ke luar negeri. Semester ini mungkin yang terakhir gue di sini. Bulan depan, tepat setelah ujian akhir, gue harus ikut orang tua gue ke sana."

Laras merasa seakan ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras. Napasnya terasa tercekat sejenak. Dia berusaha tersenyum walau hatinya terasa perih dan sesak. "Lu... lu sudah tahu sejak kapan?"

"Sejak awal kita masuk satu kelas. Sejak hari pertama kita berdebat di koridor sekolah itu sebenarnya. Gue sengaja nggak cerita ke siapa pun, terutama ke lu. Gue takut kalau lu tahu dari awal, lu bakal menjauh. Gue takut waktu yang kita punya terasa seperti dihitung mundur. Gue cuma ingin diperlakukan biasa, seperti teman biasa, tanpa rasa kasihan atau rasa sedih sebelum waktunya," jawab Arka dengan suara yang bergetar, matanya menatap lurus ke mata Laras seakan memohon pengertian.

Laras menunduk dalam. Air matanya menahan jatuh di pelupuk mata. Dia tidak marah, sama sekali tidak marah. Dia hanya merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dia miliki sepenuhnya.

Semua momen indah belakangan ini tiba-tiba terasa seperti akan menjadi kenangan yang menyakitkan. Tapi di saat yang sama, dia juga sadar bahwa menyalahkan Arka tidak akan memperbaiki apa pun.

"Terima kasih sudah cerita sekarang, Ka. Gue hargai kejujuran lu. Kita nggak tahu berapa lama waktu yang tersisa, tapi gue janji... selama lu masih di sini, gue akan buat setiap harinya berharga. Bukan sebagai persiapan perpisahan, tapi sebagai kenangan indah yang akan selalu gue simpan di hati gue, di mana pun lu berada nanti," ucap Laras akhirnya, dengan kekuatan yang dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya.

Arka menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangannya, dan Laras menyambutnya. Genggaman itu hangat, erat, dan penuh dengan perasaan yang tak terucap. Sore itu mereka tidak banyak bicara lagi. Hanya duduk berdampingan, menikmati sisa waktu yang mereka miliki, karena mereka sama-sama tahu jika waktu tidak akan berhenti menunggu siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!