Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu Pacarnya Ayara?
Malam semakin larut, dan Althaf pun akhirnya berpamitan untuk pulang. Setelah mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan gang sempit perkampungan Ayara, suasana di dalam rumah kembali tenang.
Ibu Yati merapikan cangkir-cangkir bekas teh yang tadi diminum Althaf, sementara Ayara membantu membereskan meja kecil di ruang tamu.
"Nak Althaf itu pemuda yang sangat sopan ya, Mbak," puji Ibu Yati tulus sembari melangkah ke dapur membawa nampan.
Ayara yang mendengarnya hanya bisa tersenyum simpul, berusaha menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba merayap di pipinya. "Iya, Bu... Mas Althaf juga baik orangnya," jawab Ayara pelan.
"Udah, kalian berdua istirahat sana. Besok kamu harus kerja pagi, kan?" suruh Ibu Yati lembut.
Keduanya pun beranjak menuju kamar masing-masing untuk melepas penat setelah hari yang begitu melelahkan dan penuh kejutan.
Disisi lain, Althaf pun memutuskan pulang. Sesampainya di rumah ternyata Mama Hasna dan Papa Aditya sudah menunggunya di ruang tamu. Begitu Papa Aditya melihat Althaf, ia langsung berdiri dan menghampiri sang putra.
"Kata Mama kamu, kamu punya pacar. Beneran?" tanya Papa Aditya.
"Nggak juga sih, Pa," jawab Althaf ragu.
"Maksudnya?" tanya Papa Aditya.
"Duduk dulu, kamu jelasin semuanya," ucap Mama Hasna.
Althaf dan Papa Aditya pun duduk, lalu Althaf akhirnya menceritakan bagaimana hubungannya dnegan Ayara. "Jadi, kamu belum pacaran sama dia. Tapi, kamu suka sama dia."
"Iya, Pa. Rencananya Althaf mau nembak Ayara dalam waktu dekat ini, tapi Althaf nggak percaya diri, soalnya Ayara kelihatan menghindar dari Althaf," ucap Althaf.
"Hahaha! Akhirnya ada yang nggak suka sama kamu. Kalau kamu serius sama dia, kamu harus berjuang," ucap Papa Aditya.
"Dia kerja apa?" tanya Mama Hasna.
"Althaf juga nggak tahu, Ma. Tapi, kalau nggak salah dia kerja di pabrik," jawab Althaf.
"Pabrik?" gumam Mama Althaf.
"Kapan-kapan Althaf bakal ajak dia kesini, itu kalau Althaf udah berhasil pacaran sama dia. Althaf yakin, Mama pasti suka deh sama dia," ucap Althaf.
.
Keesokan harinya, matahari pagi menyapa kawasan permukiman padat penduduk dengan hangat. Seperti biasa, pukul setengah enam pagi, Ibu Yati sudah bersiap-siap mengenakan daster rumahan dan kerudung kain sederhana untuk berbelanja kebutuhan dapur harian di warung kelontong milik Bu Nur, yang terletak di ujung gang tidak jauh dari rumah mereka.
Warung Bu Nur pagi itu tampak cukup ramai oleh beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayuran segar sambil sesekali mengobrol.
"Eh, Bu Yati! Pagi-pagi tumben belanjanya agak siangan," sapa Bu Nur ramah begitu melihat Ibu Yati.
"Iya, Bu Nur. Tadi bersih-bersih rumah dulu sebentar," jawab Ibu Yati sambil mengambil sebungkus tahu putih dan seikat sayur bayam.
Ibu Yati mencoba bersikap biasa saja, namun ia bisa menangkap gelagat dari para ibu-ibu tetangga yang langsung berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya begitu ia datang.
"Ngomong-ngomong, Bu. Kemarin sore kampung kita heboh banget lho, Bu Yati," celetuk Bu Ina, tetangga sebelah rumah Bu Marni, dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar menarik perhatian.
"Ada apa, Bu?" tanya Ibu Yati.
"Katanya Bu Yati ada tamu dia pakai mobil bagus," ucap Bu Ina.
Ibu Yati tersenyum tipis, meletakkan belanjaannya di atas meja timbangan warung. "Oh, itu... iya."
"Siapa, Bu Yati? Ganteng banget kelihatannya, pakai jas rapi kayak orang kantoran elit," timpal Bu Sri ikut penasaran.
"Itu pacarnya Ayara? Wah, gercep juga Ayara diem-diem bawa pulang cowok kaya raya ke rumah," tambah Bu Nur.
Mendengar pertanyaan itu, Ibu Yati langsung menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum ramah, "Bukan pacarnya Ayara, Bu. Dia itu cuma temannya Ayara," jawab Ibu Yati.
Meskipun Ibu Yati menjawab dengan jujur, raut wajah para ibu-ibu di warung itu justru tampak tidak langsung percaya dan saling melempar pandang penuh arti.
Bu Nur lantas meletakkan gayung plastik yang dipegangnya, lalu mendekati Ibu Yati dengan gestur sok akrab, ia menepuk pelan lengan Ibu Yati.
"Duh, Bu Yati... Kalau ngomong jangan begitu. Masa iya cuma teman, dia di rumah Bu Yati sampe malem loh, terus kalau datang pasti bawa banyak makanan, dan kalau nggak salah dia udah dua kali kan datangnya. Sebagai sesama orang tua, saya cuma mau mengingatkan demi kebaikan keluarga Bu Yati," ujar Bu Nur dengan nada menasihati yang agak menggurui.
Ibu Yati mengernyitkan dahi, merasa heran dengan arah pembicaraan tetangganya itu. "Maksudnya bagaimana ya, Bu Nur?"
"Begini loh, Bu. Zaman sekarang ini anak gadis harus dijaga baik-baik tata kramanya. Kalau bukan siapa-siapanya, jangan sering-sering dibiarkan laki-laki datang ke rumah, apalagi sampai malam-malam. Dilihatnya nggak baik soalnya, nanti nama Ayara juga bisa jelek di mata warga," ucap Bu Ina dengan suara prihatin yang dibuat-buat.
"Iya benar kata Bu Ina! Kalau sekadar teman, ya cukup ketemu di luar saja. Jangan dibawa masuk ke rumah mentang-mentang orangnya kelihatan kaya, takutnya nanti malah jadi bahan gunjingan orang-orang yang suka usil," sahut Bu Sri menimpali.
"Tapi, di dalam juga ada Arlan dan saya kok. Insyaallah, mereka nggak melakukan hal yang nggak-nggak," balas Ibu Yati.
"Tetap saja, Bu. Atau lebih baik, Ayara suruh nikah aja sama dia. Lagipula perempuan diatas 25 tahun di desa ini yang belum nikah cuma Ayara, kasihan udah jadi perawan tua, Ayara. Bu Yati nggak mau punya cucu? Di sini yang belum punya cucu cuma Bu Yati," ucap Bu Nur.
"Bener, yang saya takutin nanti Ayara hamil di luar nikah," sahut Bu Ina.
Hati Ibu Yati mendadak terasa tertusuk mendengar ucapan yang bernada menyudutkan itu. Ibu Yati tahu persis bagaimana didikan yang ia berikan pada Ayara, putrinya adalah anak yang baik, berbakti dan tidak pernah berbuat macam-macam.
Ibu Yati menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam rasa sesak di dadanya, lalu tersenyum tenang menatap satu persatu ibu-ibu di warung tersebut.
"Terima kasih atas perhatian dan nasihatnya ya, Bu Nur, Bu Ina, Bu Sri. Tapi insyaallah saya tahu betul bagaimana sifat anak saya, Ayara. Saya percaya anak saya, dan saya harap untuk kedepannya Ibu-ibu jangan bergosip yang macam-macam, takutnya apa yang Ibu-ibu bicarakan semuanya fitnah terhadap anak saya," ucap Ibu Yati dengan nada suara yang tetap santun namun tegas.
Suasana di warung Bu Nur mendadak hening sejenak, Ibu-ibu yang tadinya bersemangat memojokkan kini tampak salah tingkah dan saling berpandangan karena tidak menyangka Ibu Yati akan menjawab dengan kepala tegak seperti itu.
Ibu Yati kemudian membayar belanjaannya secara pas di atas meja, lalu mengambil kantong sayurnya. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya, mau lanjut masak di rumah."
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita