NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

🍂🍂🍂🍂

Malam kian merambat pekat di atas langit Desa Lemah Wungu. Pesta syukuran akbar yang berlangsung meriah secara perlahan mulai surut. Sorak-sorai warga desa di halaman luar berganti menjadi bisik-bisik ramah para pekerja dan kerabat dekat yang masih sigap bergotong-royong merapikan sisa-sisa piring keramik serta nampan di dapur belakang dan selasar rumah joglo megah itu.

Di dalam kamar peraduan utama, suasana begitu sunyi, pribadi, dan sarat akan aura sakral. Pintu kayu jati berukir tebal telah terkunci rapat dari dalam. Udara kamar berembus sejuk, membawa semerbak wangi ronce bunga melati segar yang menggantung anggun di sekeliling ranjang kayu jati. Pendar temaram lampu minyak kelapa membiaskan warna keemasan yang hangat, menyoroti dinding-dinding kayu dan tumpukan kain mori putih bersih di atas tempat tidur.

Bagas berdiri mematung di samping ranjang jati. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Lemah Wungu itu melepas blangkon di kepalanya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja ukir. Napas tegapnya berembus teratur, memandangi sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya.

Di tepi ranjang, Candra Kirana duduk bersimpuh anggun. Gaun pengantin hijau zamrud yang melekat di tubuhnya memancarkan keagungan murni. Riasan di dahinya serta ronce melati yang menjuntai di bahunya membuat paras jelitanya begitu memikat. Kirana menundukkan wajahnya, meremas lembut jemari tangannya sendiri di atas pangkuan, menahan getaran keharuan dan kebahagiaan yang melimpah di dadanya.

Bagas melangkah amat pelan, mendekati Candra Kirana. Pria itu berlutut di hadapan istrinya, mengulurkan kedua tangan besarnya untuk menangkup lembut jemari Kirana yang terasa dingin.

"Dinda... Candra Kirana..." tutur Bagas dengan suara berat rendah yang amat halus, sarat akan rasa menghargai dan pemujaan murni.

Kirana perlahan mendongak, membuka matanya yang bulat bening. Iris matanya yang dulu berkilat gaib kini sepenuhnya memancarkan pendar kelembutan seorang wanita manusia biasa seutuhnya.

"Mas Bagas..." bisik Kirana merdu, bibir meronahnya menyunggingkan senyuman bening.

Dengan ketelatenan dan kelembutan tiada tara, Bagas menyibak perlahan selendang sutra yang menutupi bahu Kirana. Jemari tegap Bagas bergerak membuka simpul-simpul kancing kebaya beludru hijau zamrud milik istrinya satu per satu. Setiap helai kain yang terurai meluruhkan sisa-sisa busana pengantin tersebut, hingga akhirnya tubuh Kirana terpapar polos tanpa selembar benang pun di atas tempat tidur.

Bagas tertegun sejenak. Di bawah pendar temaram lampu minyak, tubuh Kirana tampak begitu halus, mulus, dan ranum bagaikan ukiran pualam murni. Tak ada lagi pendar sisik atau hawa dingin aura siluman; tubuh itu kini hangat, bernapas pelan, dan memancarkan keibuan murni manusia biasa.

Bagas melucuti seluruh busana pengantin dan kain jariknya sendiri, membiarkan tubuhnya bertelanjang bulat seutuhnya di hadapan Kirana. Dada tegap Bagas yang membidang kini berhadapan langsung dengan kelembutan tubuh istrinya.

"Kamu siap, Kirana...?" bisik Bagas serak di dekat telinga Kirana, mengusap lembut pipi merona istrinya.

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan hangat.

"Saya siap, Mas Bagas... Kirana sepenuhnya milik Mas Bagas lahir dan batin," sahut Kirana pasrah nan lembut.

Bagas membimbing Kirana untuk berbaring telentang di atas tumpukan kain mori tebal dan bantal empuk. Bagas bersimpuh di antara kedua paha mulus Kirana yang terentang lapang. Pria tegap itu membungkukkan badannya, mendaratkan ciuman yang teramat dalam, hangat, dan puitis di atas bibir manis Kirana.

Kirana merespons ciuman tersebut dengan meremas tegap bahu Bagas, menyerahkan seluruh raga dan jiwanya dalam kehangatan pernikahan mereka.

Bagas membimbing penyatuan intim mereka dari atas. Dengan penuh kehati-hatian, Bagas perlahan masuk, menyatukan raga manusia biasanya ke dalam kehangatan jalan lahir Kirana untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri yang sah.

"Ahhh... Masss...!" jerit Kirana melengking halus, matanya terpejam pasrah, tubuhnya melengkung anggun di atas peraduan saat merasakan kerapatan utuh yang meresap hingga ke dasar rahimnya.

"Ahhh... Kirana .. kamu masih sangat sempit..." desah Bagas menggeram panjang tertahan, dadanya naik turun cepat saat kehangatan tubuh istrinya membungkus dirinya secara rapat dan utuh.

"Sakit sedikit, Mas... tapi rasanya teramat hangat dan penuh..." rintih Kirana manis, meneteskan air mata kebahagiaan di sudut matanya. "Kirana bahagia sekali... bisa merasakan kehangatan tubuh Mas Bagas sebagai manusia murni..."

Bagas mengusap air mata di pipi Kirana, lalu mengayunkan pinggul tegapnya dengan tempo yang sangat lembut, teratur, dan mendalam. Setiap dorongan intimnya disambut oleh kehangatan rahim Kirana yang melar elastis dan rapat.

Di saat penyatuan intim itu berlangsung secara syahdu di atas peraduan, sebuah fenomena ajaib terjadi. Rajah Pusaka Sisik Emas yang terukir di dada tegap Bagas mendadak berdenyut hangat. Pendar keemasan dari rajah tersebut perlahan memudar, tidak lagi membakar atau memancarkan hawa gaib, melainkan membiaskan pendar cahaya keemasan yang teramat sejuk dan menentramkan jiwa.

Pendar cahaya dari rajah di dada Bagas menyusup perlahan, mengalir masuk ke dalam rahim biasa Candra Kirana. Di dalam kebatinannya yang dalam, Kirana mendapatkan gambaran gaib yang begitu bening: sebuah penglihatan tentang masa depan keluarga kecil mereka yang dipenuhi keberkahan, kedamaian di tanah Lemah Wungu, serta kehadiran anak-anak dan keturunan yang berbakti dan berbudi pekerti luhur.

"Mas Bagas... Rajah pusakamu... mengalirkan rasa hangat yang luar biasa di dalam rahim Dinda..." desah Kirana melengking merdu di sela-sela hembusan napasnya.

"Pusaka itu telah menunaikan tugasnya, Kirana... Sekarang yang tersisa hanya cinta sejati kita..." tutur Bagas tegar, memperdalam dorongan pinggulnya dari atas.

Sementara itu, di selasar luar dan bagian dapur belakang rumah joglo, beberapa pekerja tua yang masih merapikan perabotan mendengar alunan rintihan dan desahan merdu dari balik dinding kayu kamar utama.

"Aduh... Den Bagas sama Non Kirana masih terus berlanjut..." bisik Mbok Yu salah satu pekerja sambil tersenyum-tersenyum gembira bersama temannya.

"Santai saja, Mbok... Namanya juga pengantin baru, acara syukuran besar baru selesai. Semoga cepat dapat momongan yang tampan dan cantik!" sahut pekerja lainnya pelan diiringi tawa terkulum gembira.

Di dalam kamar, penyatuan intim itu berlanjut dengan berbagai variasi gerak yang sarat akan pemujaan dan kehangatan asmara.

Bagas membimbing Kirana untuk berbalik, mengambil posisi miring dari belakang. Bagas merapatkan dada bidangnya pada punggung mulus Kirana, merangkul pinggul berisi istrinya seraya masuk kembali dari belakang.

"Emmgh... AHHH... Mas Bagas... dari belakang terasa meresap sekali..." desah Kirana melengking manis, jemari tangannya meremas sprei putih saat dorongan lembut Bagas menyentuh kedalaman rahimnya.

"Nikmat, Kiranaa...?" bisik Bagas serak di dekat leher mulus Kirana, memberikan ciuman-ciuman hangat di ceruk bahu istrinya. "Tubuhmu teramat indah dan hangat..."

"Nikmat sekali, Mas... Kirana pasrah sepenuhnya pada Mas Bagas..." jawab Kirana tersengal-sengal nikmat.

Tak berhenti di situ, Bagas secara perlahan berbaring telentang di atas tempat tidur, mendudukkan Kirana di atas pangkuan tegapnya. Kirana mengangkang lebar, menyangga tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di dada tegap Bagas. Kirana mengayunkan pinggulnya dari atas secara mandiri, lembut, dan meresap dalam.

Rambut hitam panjang Kirana terurai indah menaungi wajah tegap Bagas. Pendar temaram lampu minyak memperlihatkan keringat halus yang berkilat di kulit mulus keduanya.

"Ahhh... hhh... Mas Bagas... lihat Kirana, Mas..." desah Kirana makin melengking merdu, memainkan tempo ayunan pinggulnya dari atas dengan kepasrahan utuh.

"Emmgh... Kirana... Permaisuriku... indah sekali gerakmu, Sayang..." erang Bagas serak, kedua tangan besarnya meremas hangat pinggul mulus Kirana, membantu menjaga ritme istrinya.

Penyatuan yang berlangsung lama dan mendalam itu akhirnya mencapai puncaknya. Gelombang pelepasan rasa cinta dan kepuasan murni membakar saraf raga mereka berdua.

"Mas Bagas... Kirana mau sampai... AHHH!" jerit Kirana melengking manis yang amat halus, tubuhnya bergetar pasrah di atas dada Bagas.

"Bersama, Permaisuriku... Bersama!" geram Bagas dahsyat dari bawah, memperdalam dorongan terakhir secara mantap sebelum akhirnya menumpahkan seluruh benih kehangatan dan cinta murninya di dalam rahim Candra Kirana.

"EMMMGH! KIRANA!"

"AHHHHH! MAS BAGAS!"

Jeritan nikmat puncak keduanya berpadu sempurna dalam keheningan peraduan. Kirana terkulai lemas, merebahkan tubuh cantiknya tepat di atas dada bidang Bagas. Bagas merengkuh tubuh istrinya rapat-rapat dalam satu dekapan hangat yang teramat erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka menyatu bukan sebagai manusia dan penguasa gaib, melainkan sebagai sepasang suami istri biasa seutuhnya di atas tempat tidur kayu jati. Kirana meneteskan air mata bahagia di dada Bagas, merasai detak jantung manusia murni yang penuh dengan rasa cinta mendalam.

Di bawah naungan rumah joglo megah dan pendar temaram lampu minyak kelapa, kehangatan, cinta sejati, dan kedamaian abadi merajut masa depan Bagas dan Candra Kirana dalam kebahagiaan yang murni selamanya.

Bersambung....

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!