NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sebelas

Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, Azka dan Reatha berjalan menuju lobi hotel.

Reatha masih menggenggam tas kecilnya. Ia berjalan santai di samping Azka tanpa banyak bicara. Pikirannya sebenarnya masih dipenuhi satu hal. Bulan madu. Sesuatu yang terdengar sangat tidak masuk akal untuk pernikahan mereka.

Namun, Reatha tidak berniat memperdebatkannya. Selama Azka memenuhi isi kontrak dan dirinya mendapatkan uang yang dijanjikan orang tuanya, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan pria itu.

Sesampainya di depan hotel, Reatha melihat sebuah mobil sudah terparkir tidak jauh dari pintu masuk. Azka langsung berjalan ke arahnya. Gadis itu mengikuti dari belakang.

Namun, baru saja tangannya hendak membuka pintu depan, suara Azka menghentikan langkahnya.

"Kamu duduk di belakang," ucap Azka.

Reatha menoleh. Azka menunjuk ke arah kursi belakang.

"Depan ada Vania," ucap Azka.

Dahi Reatha langsung berkerut. Vania?

Jadi sejak tadi perempuan itu memang sudah menunggu mereka?

Reatha melirik ke kursi depan. Benar saja. Vania duduk dengan tenang sambil tersenyum ke arahnya. Tidak ada keterkejutan di wajah Reatha. Tidak ada kemarahan. Ia hanya mengangkat bahu.

"Oh," ucap Reatha singkat.

Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi, Reatha membuka pintu belakang dan masuk. Ia duduk dengan santai, menyandarkan punggung ke jok. Vania menoleh ke belakang.

"Maaf, Raisa. Kamu harus duduk di belakang," ucap Vania.

Reatha mengeluarkan ponselnya. "Santai aja." Hanya itu jawabannya. Ia langsung membuka sebuah game di ponselnya.

Suara permainan terdengar kecil dari speaker. Vania terdiam. Azka juga sempat melirik ke belakang melalui kaca spion. Ia seolah sedang menunggu Reatha bertanya sesuatu. Namun, perempuan itu benar-benar tidak peduli.

Jarinya sibuk menekan layar. Sesekali ia bahkan tersenyum sendiri ketika berhasil melewati satu level. Azka mengernyit. Aneh pikirnya. Biasanya seorang istri yang mengetahui suaminya pergi bersama perempuan lain pasti akan marah. Setidaknya bertanya.

Tapi Reatha? Perempuan itu seperti tidak punya rasa penasaran sedikit pun.

"Raisa," panggil Azka.

"Ya," jawab Reatha singkat.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Azka.

Reatha bahkan tidak mengangkat wajahnya. "Memangnya aku kenapa?" Ia balik bertanya.

Azka terdiam. "Enggak ada," jawabnya.

"Kalau enggak, ya sudah." Reatha kembali fokus pada ponselnya.

Vania melirik Azka dari samping.."Sudahlah, Azka. Mungkin dia memang tidak keberatan."

Azka tidak menjawab. Mobil kembali melaju. Sepanjang perjalanan, suasana terasa aneh.

Azka beberapa kali melihat kaca spion. Reatha tetap sama. Santai. Tidak marah atau cemburu. Tidak juga menunjukkan wajah kecewa.

Justru semakin lama, sikap itu membuat Azka merasa terganggu. Entah kenapa, ia malah berharap Reatha menunjukkan sedikit saja rasa tidak suka.

Sementara Reatha sebenarnya hanya berpikir satu hal. Untuk apa aku marah? Toh, aku bukan perempuan yang benar-benar dicintainya. Pernikahan ini hanya sementara. Kalau Azka mau membawa Vania ke mana pun, itu bukan urusannya.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan mewah. Azka turun lebih dulu.

Begitu Vania ingin membuka pintu, Azka langsung menghampirinya dan membukakan pintu mobil. "Hati-hati," ucapnya.

Vania tersenyum manis. "Terima kasih, Azka."

Reatha yang melihat dari dalam mobil hanya menghela napas kecil. Ia membuka pintu belakang sendiri. Baru saja kakinya menyentuh lantai, Vania menoleh.

"Azka, seharusnya kamu juga bukakan pintu buat Raisa," ucap Vania.

Reatha langsung menjawab sebelum Azka sempat berkata apa-apa. "Tak perlu."

Ia menutup pintu mobil. "Aku bisa lakukan sendiri. Aku gadis normal, bukan cacat," ucap Reatha.

Wajah Vania langsung berubah. "Apa kamu mau bilang aku cacat?"

Reatha mengerutkan kening. "Hah?"

Azka langsung menatap Reatha tajam. "Jaga ucapanmu, Raisa," ujarnya dengan ketus.

Reatha menatap suaminya dengan bingung. "Aku tak ada mengatakan Vania."

"Jangan beralasan."

"Apa kamu tadi mendengar aku menyebut namanya?" tanya Reatha.

Azka terdiam. Reatha melanjutkan dengan santai. "Aku bilang aku bukan gadis cacat. Memangnya aku menyebut Vania?" tanyanya lagi.

Vania tampak semakin kesal. "Azka, kamu dengar sendiri bagaimana dia bicara kepadaku," ucapnya.

Reatha mengangkat alis. "Kalau kamu merasa tersindir, itu bukan salahku."

"Raisa!" seru Azka. Pria itu memperingatkan.

Reatha menghela napas. "Ya sudah. Aku tidak mau berdebat."

Azka menatapnya beberapa detik. "Cukup! Aku harap kamu menjaga ucapanmu."

Reatha tersenyum tipis dan menjawab, "Baik."

Vania tampak menggerutu. Tanpa menunggu lagi, ia langsung meraih lengan Azka dan memeluknya.

"Ayo, kita masuk," ajak Vania.

Azka membiarkan Vania menggandeng lengannya. Reatha hanya berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Mereka akhirnya masuk ke sebuah butik. Begitu berada di dalam, Vania langsung bersemangat.

"Azka, lihat yang ini," ucap Vania. Ia mengambil sebuah gaun. "Bagus?" tanyanya.

"Bagus!" Azka mengangguk.

"Kalau yang ini?" tanya Vania lagi.

"Ambil saja kalau kamu suka," jawab Azka.

Vania tersenyum puas. Seorang karyawan datang dan menerima beberapa pakaian pilihan Vania.

Azka kemudian menoleh kepada Reatha. "Kamu juga pilih," ucapnya.

Reatha menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Iya," jawab Azka.

"Aku tidak perlu."

"Kamu butuh baju untuk perjalanan besok," balas Azka.

Reatha hendak menolak lagi, tetapi ia tiba-tiba teringat percakapan Azka dengan Mama dan Papanya tadi. Kalau ia tidak memilih pakaian, bukankah justru akan membuat mereka curiga?

Reatha mengembuskan napas. Baiklah. Kapan lagi dibelanjakan? Lagi pula, tadi Azka sendiri mengatakan kepada Mama dan Papanya bahwa ia akan membelikannya pakaian. Kalau sekarang dirinya menolak, justru akan terlihat aneh.

"Ya sudah," ucap Reatha akhirnya.

Reatha mulai berjalan menyusuri rak pakaian. Ia mengambil beberapa pakaian sederhana. Kemudian matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna pink lembut.

Tangannya baru saja hendak meraih gaun itu ketika Vania tiba-tiba berdiri di sampingnya.

"Kamu tak pantas pakai baju ini," ucap Vania.

Reatha berhenti. Ia menoleh kepada Vania. Bukannya marah, ia justru tersenyum.

"Oh." Hanya itu ucapannya.

Ia kembali hendak mengambil pakaian lain. Namun, Azka tiba-tiba datang. Di tangannya ada beberapa pakaian yang sebelumnya dipilih Vania. Ia menyerahkannya kepada karyawan butik.

Vania langsung mendekatinya. "Azka."

"Ada apa?" tanya Azka.

"Aku suka baju yang dipegang Raisa." Vania menunjuk gaun pink itu. "Tapi dia bilang aku tak pantas," ucap gadis itu.

Reatha langsung menoleh. "Aku bilang begitu?" tanyanya.

Vania mengangguk. "Iya."

Azka tampak marah. "Kamu yang tak pantas pakai baju itu. Berikan pada Vania!" serunya.

Reatha menatap Azka selama beberapa detik. Kemudian ia mengambil gaun tersebut. Tanpa protes, ia menyerahkannya kepada Vania.

"Ambil saja!" seru Reatha.

Vania tersenyum kecil. "Terima kasih."

Reatha mengangguk. "Tapi jangan memfitnah kalau memang mau baju ini juga."

Senyum Vania langsung menghilang. "Aku tidak memfitnah."

"Aku tidak ada mengatakan kamu tidak pantas," ucap Reatha. Ia menunjuk ke arah kamera kecil yang terpasang di sudut butik. "Kalau ingin bukti, bisa lihat CCTV."

Azka langsung menghela napas. "Cukup! Aku percaya Vania," ucapnya.

Reatha menatapnya. Kemudian ia tersenyum kecil. "Ya udah." Ia mengangkat kedua tangannya. "Nih."

Gaun itu sepenuhnya berada di tangan Vania.

"Aku juga tidak suka barang yang sudah disukai orang lain." Setelah mengatakan itu, Reatha berbalik.

Ia meninggalkan Azka dan Vania. Reatha kemudian memilih beberapa pakaian lain.

Tidak ada satu pun yang mahal. Tidak ada pula yang terlalu mencolok. Sementara di belakangnya, Vania tampak tersenyum puas. Ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.

Namun, entah kenapa Azka justru tidak terlihat senang. Matanya beberapa kali mengikuti Reatha. Perempuan itu benar-benar tidak peduli.

Setelah selesai berbelanja, mereka keluar dari butik dengan beberapa kantong pakaian. Azka membawa sebagian belanjaan. Vania menggandeng lengannya. Sedangkan Reatha berjalan beberapa langkah di belakang.

Mereka kemudian menuju restoran di dalam mal. Begitu sampai, Reatha langsung memilih meja yang cukup jauh dari Azka dan Vania.

Azka menatapnya dan bertanya, "Kamu mau duduk di sana?"

"Iya," jawab Reatha singkat.

"Kenapa?" tanya Azka.

Reatha menarik kursi. "Biar kalian lebih leluasa."

Vania tersenyum. "Terserah kamu."

Reatha tidak menjawab. Ia duduk dan mulai memesan makanan. Tidak lama kemudian, makanannya datang.

Reatha memasang headset di kedua telinganya. Musik langsung mengalun. Ia makan dengan santai. Seolah dunia di sekitarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya. Sementara itu, Azka dan Vania duduk berdua di meja lain.

Vania beberapa kali melirik Reatha. Perempuan itu benar-benar tenang. Bahkan tidak melihat ke arah mereka.

Vania akhirnya mendekatkan wajahnya kepada Azka. "Azka," panggilnya.

"Ya," jawab Azka.

"Apakah Raisa tidak akan mengadu pada Mama dan Papamu?" tanya Vania.

Azka melirik Reatha dari kejauhan. Perempuan itu sedang menikmati makanannya sambil sesekali mengetukkan jarinya mengikuti irama musik.

Azka menghela napas. "Tidak akan," jawabnya.

"Bagaimana kalau dia mengadu?" tanya Vania.

Azka menatap Vania. "Aku akan ancam dia!" serunya. Vania jadi tersenyum kecil.

1
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
Sugiharti Rusli
dan sejatinya hati nurani si Azka masih jalan sih, dan cinta yang selama ini dia rasa buat Vania, bisa jadi bukan cinta sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi keberadaan Raisa/Reatha di sisi Azka selama beberapa bulan ini bisa mendekatkan mereka, meski tidak ada sentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
terkadang manusia yah terlalu percaya pada dirinya sendiri sih, padahal yang menggenggam hati manusia tuh Sang Pencipta,,,
Ass Yfa
ada yak..adil buat istri dan pacar
...nikahin tuh si Vania lepasin Raisa /Reatha
Ass Yfa
kok aku pingin alurnya dicepetin..setahun kemudian🤭...ini bahkan belum sebulan....
falea sezi
nunggu lu nangis darah aska🤣🤣 pas Reta pergi🤣🤣 duh cpet ini donk thor
falea sezi
cpet donk setahun🤣 g sabar liat muka aska pas menyesal🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!