Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Pria berjaket kulit itu meludah ke tanah lalu tertawa bahak-bahak, diikuti gelak tawa mengejek dari lima anak buahnya.
"Putrimu? Hahaha! Bocah, kau ini kesurupan atau gimana?!" gertak pria tambun itu seraya menunjuk wajah Mahardika menggunakan kayu bisbolnya.
"Tanah ini sudah dijual sama wanita bernama Siska! Sertifikatnya sudah diproses, dan Bos kami yang punya hak penuh atas lahan ini! Kalau kau tidak mau mati konyol, bawa bocahmu itu pergi sekarang juga!" katanya dengan angkuh.
Mahardika melangkah maju satu tapak. Brak! Langkah kakinya yang dihinggapi energi murni membuat tanah retak halus, memancarkan gelombang tekanan yang membuat para preman itu tersentak kaget.
"Siska tidak punya hak atas rumah ini. Dan kau..." Mata Mahardika melihat dengan mata tembus pandangnya melihat aliran darah dan persendian tubuhnya pria tersebut. "...hanya anjing suruhan yang tidak tahu diri."
"Sialan! Hajar dia sampai cacat!" teriak pria tambun itu murka.
Dua preman bertato di barisan depan langsung menerjang maju.
Pria pertama mengayunkan balok kayu tebal ke arah kepala Mahardika, sementara preman kedua mencoba menendang dadanya dengan keras.
Wusss!
Gerakan mereka terasa sangat lambat di mata Mahardika.
Tanpa bergeser dari posisinya, Mahardika menggerakkan tangan kanannya secepat kilat.
Brak! Bles!
Dua jarinya menotok titik meridian di leher dan dada kedua preman itu dengan cepat.
Seketika, aliran darah kedua orang itu tersumbat total.
Tubuh mereka mendadak kaku seperti patung, dan akhirnya roboh terhempas ke tanah tanpa sempat berteriak.
Mereka kejang-kejang lalu lumpuh seketika.
"A-apa yang kau lakukan pada mereka?!" jerit pria itu panik, mundur dua langkah melihat dua anak buahnya tumbang tanpa sempat menyentuh pakaian Mahardika.
"Kalian merusak ketenangan rumahku dan menakuti putriku. Siapa bos besar di balik kalian dan Siska?" desis Mahardika dingin.
Dua preman lainnya yang ketakutan mencoba mencabut pisau lipat dari saku mereka, namun Mahardika mengibaskan tangannya.
Gelombang energi yang tak terlihat menyapu membanting kedua preman itu hingga melayang lima meter dan menghantam mobil jip mereka hingga kacanya hancur berantakan.
Kringgg! Kringgg!
Tiba-tiba saja ponsel milik pria yang ketakutan setengah mati berdering.
Dengan tangan gemetar, pria itu mengangkat panggilan tersebut dan menyalakan mode speaker.
"Woy! Sudah kau ratakan rumah tua itu?! Kenapa lama sekali?!" suara wanita yang terdengar dari seberang telepon dengan sombong.
Itu suara Siska.
Mahardika menyipitkan matanya. Ia melangkah santai mendekati pria tambun yang sudah bersimpuh ketakutan, lalu merebut ponsel itu dari tangannya.
"Siska..." ucap Mahardika dengan nada suara rendah, dingin, dan penuh ancaman.
Dari seberang telpon tersebut mendadak sepi.
"M-Mahardika?! Kamu... kamu masih hidup?!" jerit Siska dari balik telepon, suaranya berubah panik.
"Masih hidup. Dan aku sudah menampung kembali Amel, anak yang kau dan kakak mu buang ke panti asuhan," jawab Mahardika dingin.
"K-kalau kamu masih hidup, lalu kenapa?! Kamu itu cuma beban! Kamu menghilang dua tahun tanpa kabar, ditinggal mati juga pantas! Mbakku sudah bahagia sama suaminya yang baru, suami kaya raya! Tanah tua itu sudah dijual secara sah buat ganti rugi biaya yang dikeluarkan keluarga kami selama ini!" teriak Siska melengking dari balik telepon.
Mahardika terkekeh dingin.
"Dijual secara sah?" desis Mahardika.
"Rumah dan tanah ini berdiri di atas nama almarhumah ibuku, dan aku adalah ahli waris tunggal yang sah. Sertifikat aslinya ada padaku. Pemalsuan dokumen, penelantaran anak, hingga intimidasi... kalian sudah mengumpulkan banyak dosa, Siska," kata Mahardika tersenyum sinis.