NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10: KABAR DUKA DARI KUALA PEMBUANG

Jam 04.30 subuh. Kos pink pudar masih gelap.

Aku tidak tidur semalaman. Flashdisk merah itu masih di bawah bantal, dingin. CCTV kancing kedua masih nempel di tali tanktop hitam ku, lampu merah kecilnya kedip-kedip tiap 5 detik, tandanya masih ngerekam suara.

Di lantai, Mami Asih sudah bangun. Dia lagi lipat seragam putih abu-abu ku yang kemarin basah keringat di parkiran Hotel Melati. Seragam itu sudah kering, tapi masih bau debu gang bakso.

"Alia, bangun. Kita harus berangkat sekarang. Travel ke Kuala Pembuang jam 5 cuma ada satu," bisik Mami.

Aku bangun. Kepala berat. Semalam aku mimpi ibu. Ibu pakai mukena putih robek yang biasa dia pakai ngaji di surau kayu belakang rumah kami di Kuala Pembuang. Di mimpi itu, ibu manggil nama ku, "Laila... Laila..." tapi suaranya habis, kayak orang tenggelam.

Jam 04.45. Mami manasin motor Mio merah. Aku ganti cepat. Hari ini aku pakai lagi seragam putih abu-abu itu. Bukan tanktop. Mami yang suruh.

"Pakai seragam putih ini, Nak. Biar ibu kamu lihat kamu bukan LC. Kamu masih santriwati nya dia. Hafalan 15 juz kamu masih ada," kata Mami sambil ikat kerudung putih ku yang sudah tidak kupakai. Kerudung itu agak kuning di ujungnya.

Flashdisk merah ku selipin di saku dalam rok panjang. Bukan di saku luar. Di dalam, dekat paha, biar tidak jatuh.

CCTV kancing kedua Mami pindahin dari tanktop hitam ke kancing paling atas kerudung putih ku. Tidak kelihatan. Sama kayak dulu waktu aku masih di pondok.

Jam 05.00. Kami keluar kos. Jalanan Seruyan masih sepi, cuma ada suara ayam dan azan subuh samar dari masjid jauh.

Di pangkalan travel, mobil L300 putih sudah nunggu. Sopirnya manggil, "Kuala Pembuang, Kuala Pembuang, satu lagi!"

Aku dan Mami naik di jok belakang. Di dalam L300 sudah ada 5 orang, semua ibu-ibu bawa karung beras.

Mobil jalan jam 05.10. Jalanan berlubang. Aku sandaran di kaca, mata ngantuk tapi tidak bisa tidur. Di kepala ku cuma ada voice note 9 detik Kyai Abdullah semalam: "Ibu kamu di Kuala Pembuang Kyai bisa bantu berobat"

Kenapa dia tahu ibu ku sakit? Siapa yang kasih tahu?

Jam 07.30. L300 masuk Kuala Pembuang. Kabut masih tebal. Bau asap kayu bakar.

HP retak Mami getar. Bukan dari Kyai Abdullah yang sudah diblokir. Tapi dari nomor baru, foto profilnya ibu-ibu pakai kerudung coklat. Tetangga depan rumah ku, Bu Siti.

Mami angkat, pakai speaker pelan biar aku dengar, karena suara mesin L300 keras.

Halo, Asih ya? Ini Bu Siti... Asih, Laila ada sama kamu kah?

Iya Bu, Laila sama saya. Kenapa Bu?

Suara Bu Siti di seberang nangis. Bukan nangis pelan. Nangis pecah.

Asih ibu Laila.. ibu laila tadi subuh jam 4 meninggal.. di surau lagi wudhu mau subuhan jatuh!

Dunia berhenti.

L300 itu masih jalan, masih goyang kena lubang, ibu-ibu di depan masih ngobrol soal harga beras naik, tapi di telinga ku suara Bu Siti itu kayak petir nyambar kubah masjid.

Ibu Laila... meninggal, tadi subuh jam 4.

Jam 4 subuh. Jam yang sama aku mimpi ibu manggil "Laila Laila " suaranya habis.

Jam 4 subuh yang sama Kyai Abdullah kirim voice note bilang "Ibu kamu di Kuala Pembuang Kyai bisa bantu berobat"

Flashdisk merah di saku rok ku tiba-tiba panas. Sepanas bara.

Aku tidak teriak. Tidak nangis. Air mata ku tidak keluar.

Yang keluar cuma satu kalimat, pelan, dari mulut ku yang pakai kerudung putih kuning itu

"Ibu bohong... tadi malam mimpi... ibu masih pakai mukena putih..."

Mami Asih langsung peluk aku kencang di jok L300. Mami yang biasanya tegar, yang bakar kerudung hijau ku tanpa nangis, yang ketawa lihat H. Suryadi kabur pakai handuk putih, sekarang matanya merah.

Mami rebut HP, matiin telepon Bu Siti.

"Pak sopir! Berhenti di depan gang surau kayu Kuala Pembuang! Cepat, Pak!" teriak Mami.

L300 berhenti mendadak jam 07.45. Di depan gang kecil yang becek, ada rumah papan warna coklat pudar. Rumah ku. Rumah ibu ku.

Di depan rumah sudah ramai. Banyak sandal jepit di halaman. Ada tikar digelar. Ada suara orang ngaji pelan dari dalam. Yasin.

Bau kematian. Bau yang aku kenal. Bau minyak kayu putih dan kapur barus.

Aku turun dari L300 pakai seragam putih abu-abu, rok panjang, kerudung putih kuning. Flashdisk merah di saku dalam rok ku ikut goyang.

Orang-orang di halaman lihat aku. Diam.

Bapak ku lari dari dalam rumah, langsung peluk aku.

"Laila... Laila... ibu kamu dari kemarin nungguin kamu... dia bilang Laila mau pulang pakai seragam putih dari pondok.

Aku masuk rumah papan itu. Langkah ku berat.

Di ruang tengah, di atas tikar pandan, ada jenazah ditutup kain batik hijau. Mukanya kelihatan. Ibu ku.

Mukena putih robek yang di mimpi ku tadi malam, sekarang dipakai beneran buat nutup muka ibu.

Di samping jenazah, ada satu set gamis warna putih yang sudah disetrika rapi. Bukan seragam ku yang aku pakai sekarang. Tapi gamis putih ku yang lama, yang 2 tahun lalu aku tinggal di lemari.

Ibu setrika itu semalam. Jam 3 subuh, sebelum dia meninggal jam 4 subuh.

Di atas gamis putih setrikaan itu, ada secarik kertas tulis tangan ibu, tulisan nya gemetar:

Laila, kalau kamu pulang, pakai ini .Ibu kangen sama kamu.

Air mata ku baru pecah di situ.

Bukan di Hotel Melati. Bukan di kamar 303. Bukan waktu H. Suryadi pucat.

Tapi di sini. Di depan jenazah ibu ku yang nungguin aku pulang. sementara aku diam diam jadi LC pakai tanktop hitam di Hotel Melati.

CCTV kancing di kerudung putih ku masih ngerekam. Lampu merah kecilnya masih kedip-kedip. Merekam suara tangis ku, suara ngaji Yasin, dan suara Bu Siti bilang "Ibu kamu nungguin kamu, Laila..."

Dan di saku rok ku, flashdisk merah berisi 23 foto korban Kyai Rahman, plus video pengakuan Kyai Abdullah "TAHAN DIA DI KAMAR 303!" masih ada.

Tadi Mami bilang flashdisk itu buat yang lebih besar.

Sekarang aku tahu buat apa.

Bukan buat pemerasan.

Bukan buat bikin H. Suryadi ketar-ketir.

Tapi buat bikin orang yang bilang aku gila, datang ke pemakaman ibu ku, dan minta maaf di depan jenazah ibu ku.

Jam 08.00 pagi. Jam yang Kyai Abdullah suruh aku datang ke pondok untuk "selesaikan kekeluargaan".

Tapi hari ini, jam 8 pagi, Laila tidak ke pondok.

Laila pulang ke rumah. Pakai gamis putih yang ibu setrika.

Dan Kyai Abdullah akan datang sendiri ke sini. Karena Bu Siti sudah telepon semua kyai di Kuala Pembuang, termasuk pondok, bilang Bu Lastri meninggal, anaknya Laila pulang.

Di dinding kos pink pudar, 4 nama lipstik merah menunggu.

Tapi di rumah papan Kuala Pembuang ini, ada satu nama lagi yang harus ditambah.

Nama yang bikin ibu ku meninggal..

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!