Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Rangga berdiri di luar kamar rawat dengan pikiran kacau. Dari balik pintu, ia tahu ibunya belum ingin melihatnya dan selalu memilih menjauh. Semua terjadi setelah Jingga memperlihatkan video yang selama ini ingin ia sembunyikan.
Ia mengeluarkan ponsel dan membaca pesan Dira lagi. Beberapa panggilan tak terjawab muncul di layar. Rangga mengetik singkat bahwa ibunya sedang dirawat, lalu berhenti sebelum mengirim pesan berikutnya.
Pintu kamar rawat terbuka.
Jingga keluar setelah memastikan Bu Farah sudah nyaman, Rangga langsung menghampirinya.
“Apa yang Mama katakan kepadamu?” tanyanya.
“Tidak banyak, Tante masih lemah.”
“Dia menyalahkanku?”
“Kamu benar-benar masih memikirkan itu?”
“Aku hanya ingin tahu.”
“Kalau begitu, tanyakan sendiri saat Tante siap bicara. Aku bukan perantara di antara kalian.”
Rangga mengatupkan rahang. “Kenapa kamu tega memperlihatkan video itu?”
“Jadi aku harus membiarkan Tante terus menganggapku pembohong? Dia datang ke tempat kerjaku agar aku tak bercerai darimu, dan juga menyalahkanku atas kematian anakku?!"
“Kamu tahu Mama punya riwayat masalah jantung.”
“Tidak, aku tidak tahu.” Jingga terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Kalaupun aku tahu, aku tidak mungkin berharap Tante jatuh sakit. Aku meminta bantuan begitu kondisinya memburuk. Jangan jadikan keadaan ini alasan baru untuk menyalahkanku.”
Rangga melihat wajah Jingga yang lelah, tetapi tidak lagi menunjukkan keraguan seperti dulu. Perempuan itu tidak sedang menunggu permintaan maafnya. Ia hanya ingin menyelesaikan semuanya.
“Aku akan bicara dengan Mama,” katanya akhirnya.
“Semoga kamu mengatakan yang sebenarnya kali ini.”
Jingga berjalan menuju ruang perawat. Rangga tidak mengejarnya. Ia mulai memahami bahwa setiap kali ia mencoba menarik Jingga kembali ke dalam masalahnya, perempuan itu justru semakin jauh.
Di dalam kamar, Bu Farah menatap langit-langit. Adegan dalam video itu terus berputar di kepalanya. Ia masih sulit menerima bahwa Rangga dan Dira telah melakukan hal tersebut, terlebih setelah Tara meninggal. Selama ini ia menganggap Dira sebagai menantu yang harus dilindungi dan Rangga sebagai anak yang hanya sedang berduka. Ia tak pernah membayangkan keduanya akan mengkhianati kepercayaan keluarga.
Rangga masuk lagi setelah mengetuk pintu. “Mama, boleh aku duduk?”
Bu Farah tidak menjawab, tetapi juga tidak menyuruhnya pergi. Rangga duduk di kursi samping ranjang, menjaga jarak.
“Mama, aku bisa jelaskan.”
“Apa yang bisa kamu jelaskan?” tanya Bu Farah lirih. “Bahwa video itu palsu? Mama melihat wajah kalian. Mama melihat kamu mencium Dira.”
Rangga menunduk. “Itu kesalahan.”
“Kesalahan?” Bu Farah memalingkan wajah kepada putranya itu. “Kamu mengkhianati Jingga, perempuan yang sudah kamu sakiti berkali-kali. Dira adalah istri Tara. Apa kamu tidak memikirkan almarhum kakakmu?”
“Aku tidak merencanakannya, Ma.”
“Tapi kamu memilih melakukannya.” Suara Bu Farah bergetar. “Jangan gunakan kesedihan sebagai alasan. Kalian kehilangan Tara, tetapi itu tidak memberi kalian hak untuk melukai orang lain.”
Rangga ingin mengatakan bahwa Dira juga membalas ciumannya, bahwa perasaan yang dipendamnya sejak lama membuatnya kehilangan kendali. Namun, semua alasan itu terdengar hina di hadapan ibunya.
“Mama sudah tahu sejak kapan?” tanyanya pelan.
“Jingga bilang dia tidak tahu kapan hubungan itu dimulai. Mama juga tidak tahu.” Bu Farah menarik napas hati-hati. “Yang Mama tahu, kamu membiarkan Jingga menghadapi kesedihan seorang diri, lalu sekarang kamu meminta semua orang memaklumi perbuatanmu.”
Rangga meremas kedua tangannya. “Aku menyesal, Ma.”
“Penyesalanmu tidak akan mengembalikan apa yang sudah kamu rusak.” Bu Farah menutup mata, kelelahan setelah percakapan tersebut. “Sekarang Mama ingin istirahat. Tolong jangan paksa Mama bicara lagi.”
Rangga berdiri. Sebelum keluar, ia menoleh, berharap ibunya akan memanggilnya. Namun, Bu Farah tetap memejamkan mata.
Di lorong, ponselnya kembali bergetar. Dira menelepon, dan kali ini Rangga mengangkatnya dan menjauh dari kamar.
“Bagaimana keadaan Mama?” suara Dira terdengar cemas.
“Kondisinya stabil, tapi dia sudah melihat video itu.”
Dira terdiam beberapa detik. “Apa yang Mama katakan?”
“Mama nggak mau melihatku, Mama menyalahkan kita.”
“Kita memang salah, Rangga.”
“Kamu menyesal karena kita melakukannya, atau karena kita tertangkap basah?”
“Aku tidak tahu.” Jawab Dira.
Rangga tertawa hambar. “Kamu selalu begitu. Kamu mendekatiku, membuatku berharap, lalu ketika semuanya terbongkar, kamu bilang tidak tahu.”
“Aku tidak pernah berjanji akan menjadi pasanganmu.”
“Aku tahu.” Rangga memejamkan mata. “Aku yang terus membohongi diriku sendiri.”
Dira meminta maaf, tetapi Rangga mengakhiri panggilan sebelum ia melanjutkan. Ia tak ingin mendengar alasan lain. Ia juga belum siap mengakui bahwa Dira bukanlah perempuan yang selama ini ia bayangkan.
Sementara itu, Jingga menyelesaikan pekerjaannya dan menemui Samudera di ruang dokter untuk menyerahkan laporan pasien. Samudera memperhatikan wajahnya yang pucat.
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
“Belum sempat.”
“Setelah ini, ambil waktu sebentar. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Jingga mengangguk kecil. Ia tidak menceritakan seluruh pertengkarannya, tetapi perhatian sederhana itu membuatnya merasa lebih tenang. Ia berjanji akan makan sebelum pulang.
Sore itu, Jingga meninggalkan rumah sakit tanpa menemui Rangga lagi. Ia sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk Bu Farah. Selebihnya, keluarga itu harus menghadapi kebenaran mereka sendiri.
Malam mulai turun ketika Rangga keluar dari rumah sakit. Ia duduk di dalam mobil cukup lama, tak sanggup menyalakan mesin. Pesan Jingga tentang sidang masih tersimpan, begitu pula salinan bukti yang kini tak mungkin ia hapus dari ingatan ibunya.
Pria itu sadar, perkara perceraian bukan lagi satu-satunya hal yang harus dihadapinya. Kepercayaan keluarganya telah retak, dan tak ada ancaman yang bisa memaksa mereka kembali mempercayainya. Kini, Rangga pulang tanpa tahu siapa yang masih bersedia membelanya... bahkan dirinya sendiri.
Di kamar rawat, Bu Farah membuka mata dan memandang ponselnya yang tergeletak di meja. Ia ingin meminta Jingga kembali, tetapi sadar bahwa keinginannya tidak lagi berhak menentukan hidup perempuan itu. Ia harus menerima bahwa selama ini dirinya ikut memperpanjang penderitaan Jingga.
Saat ini, bahkan Bu Farah bertanya kepada dirinya sendiri... berapa banyak luka Jingga yang telah ia abaikan hanya demi membela putranya?
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita