NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. Lupa Menghitung

Kabut pegunungan menyelimuti Kuil Qingyun ketika fajar perlahan merekah di balik puncak-puncak gunung. Udara dingin merayap melalui celah-celah jendela kayu, membawa aroma tanah basah, dedaunan pinus, dan dupa yang dibakar di aula utama. Lonceng kuil berdentang tiga kali, suaranya menggema di antara tebing, seolah mengabarkan kepada dunia bahwa seorang perempuan yang pernah mengenakan mahkota kini telah meninggalkan segala kemegahan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang biksuni.

Namun, tidak ada seorang pun di Kuil Qingyun yang mengetahui bahwa perempuan berjubah abu-abu itu pernah menjadi Ratu Weiyang.

Wang Laoyin duduk di tepi ranjang kayu sederhana di kamarnya, memandangi jubah kasar yang kini membalut tubuhnya. Rambut hitamnya yang dahulu ditata dengan tusuk konde giok dan hiasan emas kini hanya diikat sederhana. Wajahnya masih menyimpan kecantikan yang sulit disembunyikan, bahkan setelah bermalam-malam diliputi kesedihan. Kulitnya seputih salju pertama, alisnya melengkung bagai goresan tinta, dan sepasang matanya yang jernih masih menyimpan wibawa seorang perempuan yang pernah membuat para pejabat menundukkan kepala.

Akan tetapi, di balik ketegaran itu, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan.

Sejak perjalanan meninggalkan istana, ia sering merasakan pusing. Kadang-kadang, perutnya terasa tidak nyaman, terutama ketika mencium aroma makanan berminyak. Ia mengira semua itu akibat kelelahan, kurang tidur, dan tekanan batin setelah kehilangan kedudukan, kehormatan, serta kepercayaan Raja Han Quan—lelaki yang dahulu bersumpah akan melindunginya seumur hidup.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa tubuhnya sedang menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada penderitaan yang telah menimpanya.

Pagi itu, ketika ia berusaha berdiri untuk mengambil kendi air di atas meja kecil, pandangannya mendadak berputar.

“Ah…”

Tangannya mencengkeram sisi meja. Kendi tanah liat itu terjatuh, menghantam lantai, lalu pecah menjadi beberapa keping.

Wang Laoyin mencoba menegakkan tubuh, tetapi kedua lututnya kehilangan kekuatan. Dalam sekejap, dunia di hadapannya menjadi gelap. Tubuhnya terkulai di lantai kayu yang dingin.

Suara benda pecah terdengar hingga ke lorong.

“Shitai Wang!”

Seorang biksuni muda yang kebetulan melintas segera berlari masuk. Melihat Wang Laoyin terbaring pucat di lantai, ia berteriak memanggil pertolongan.

“Cepat panggil Biksuni Jingyuan! Shitai pingsan!”

Tidak lama kemudian, beberapa biksuni datang bergegas. Mereka mengangkat Wang Laoyin ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Wajah perempuan itu begitu pucat hingga bibir merah mudanya kehilangan warna. Napasnya masih teratur, tetapi keringat dingin membasahi pelipisnya.

Biksuni Jingyuan datang dengan langkah tergesa. Perempuan itu telah berusia lanjut, dengan rambut yang seluruhnya tertutup kain putih dan wajah penuh keriput yang menyimpan ketenangan puluhan tahun kehidupan di kuil. Ia memeriksa denyut nadi Wang Laoyin, menyentuh dahinya, lalu memerintahkan seorang biksuni muda untuk mengambil air hangat.

“Jangan kerumuni dia,” ujarnya tenang. “Biarkan udara mengalir. Kalian semua, kembali ke pekerjaan masing-masing. Aku akan menjaganya.”

Para biksuni muda saling pandang sebelum membungkuk dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Jingyuan duduk di sisi ranjang. Ia kembali memeriksa denyut nadi Wang Laoyin dengan lebih saksama. Jemarinya yang kurus berpindah dari pergelangan tangan ke titik nadi lainnya, sementara matanya mengamati wajah pucat perempuan itu.

Alisnya perlahan berkerut. Sepertinya keraguan tadi kembali menjadi sebuah keyakinan.

Ia telah merawat banyak perempuan selama hidupnya. Ia mengenal perbedaan antara tubuh yang melemah karena kesedihan, tubuh yang terserang penyakit, dan tubuh yang sedang mengalami perubahan alami.

Denyut nadi Wang Laoyin terasa berbeda.

Biksuni Jingyuan tidak segera berbicara. Ia menunggu sampai napas perempuan itu menjadi lebih stabil, kemudian mengambil selimut dan merapikannya hingga menutupi tubuh Wang Laoyin dengan baik.

Ketika Wang Laoyin akhirnya membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang perempuan tua yang duduk diam di samping ranjang.

“Di mana aku?” bisiknya.

“Di kamarmu, di Kuil Qingyun.” jawab biksuni Jingyuan sambil tersenyum

Wang Laoyin mencoba bangkit, tetapi Biksuni Jingyuan segera menahan bahunya.

“Jangan terburu-buru. Tubuhmu masih lemah" Dia memberi peringatan

“Aku hanya pusing.” Wang Laoyin menunduk, tampak malu atas kejadian itu. “Maaf telah merepotkan para biksuni.”

Biksuni Jingyuan menggeleng perlahan.

“Tubuh manusia bukan batu yang tidak bisa retak. Bahkan pohon pinus yang tumbuh di puncak gunung pun membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah diterpa badai.” Ucapnya sembari tersenyum hangat.

Wang Laoyin tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang ketika rasa mual kembali menyerangnya. Ia menutup mulut dengan tangan dan memalingkan wajah.

Jingyuan mengambil mangkuk kecil berisi air hangat, membantunya minum sedikit demi sedikit, kemudian kembali memeriksa denyut nadinya.

Kali ini, ia tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang berubah, sekarang denyut nadi itu benar-benar membuat dia yakin sepenuhnya.

“Sudah berapa lama kau mengalami pusing dan mual seperti ini?” tanyanya.

Wang Laoyin berpikir sejenak.

“Sejak beberapa waktu sebelum aku tiba di sini. Aku mengira itu hanya karena perjalanan yang melelahkan.”

“Apakah kau sering merasa tidak nyaman ketika mencium bau makanan?”

Wang Laoyin terdiam, kemudian mengangguk. Dia sedikit heran bagaaimana Biksuni ini tau dengan kondisinya akhir-akhir ini.

“Ya. Beberapa hari terakhir, bahkan aroma minyak dari dapur membuat perutku bergejolak.” Jawab Wang Laoyin, dia sekarang tak perlu menyembunyikannya.

“Bagaimana dengan siklus bulananmu?”

Pertanyaan itu membuat Wang Laoyin tertegun.

Ia memandang biksuni tua tersebut seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya.

Sejak malam berdarah di Paviliun Fengyi, hidupnya berubah menjadi rangkaian kejadian yang begitu cepat dan menyakitkan. Ia diadili tanpa keadilan, kehilangan mahkota, menyaksikan perempuan lain mengambil kedudukannya, lalu diusir dari istana dengan kehormatan yang telah dihancurkan. Dalam perjalanan panjang menuju Qingyun, pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan: mengapa Raja Han Quan memilih mempercayai kebohongan daripada perempuan yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun?

Ia tidak lagi menghitung hari dan tak pernah lagi terlalu fokus dengan keadaan dirinya sendiri. Dari makan dan minumnya saja sudah kacau balau tak teratur, tubuhnya tak bisa membedakan lapar dengan tidak, capek atau lelah. Otak dan fisiknya selalu dipaksa untuk berfikir terus menerus karena keadaan yang menimpanya.

Ia bahkan hampir tidak mengingat kapan terakhir kali tubuhnya mengalami siklus bulanan.

Jari-jarinya perlahan mencengkeram selimut. Berfikir dan keras, menghitung waktu mundur dengan kecermatan yang bisa dilakukannya dan kemudian dia terkesima sendiri menyadari kondisinya.

"Aku...aku..." Wang Laoyin menelan ludahnya, saat kemudian menyadari ada satu kemungkinan yang mungkin sedang dialaminya dalam kondisinya yang aneh ini.

Wajahnya terangkat, sekali lagi dia menelan ludahnya yang terasa tersumbat di kerongkongannya.

“Sudah terlambat,” jawabnya lirih. “Aku tidak tahu berapa lama.”

(Bersambung ya, readers kesayangankuuuu semua, lap yuuuuu.....)

1
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
Rara
lanjut marathon
🌼EmeLBy🌼
lahir sudah putriku🤣🤣🤣
Suesant SW: iyaaaaa🤭
total 1 replies
Salsa
ratu yang di makzulkan
Salsa
panjang lagi tor💪
Li Ce
real banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!