Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Berbeda
Arga masih berdiri di dekat ranjang ketika Alya menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Perempuan itu tidak lagi menatapnya. Sejak mengetahui bahwa suaminya sudah memiliki istri, Alya seperti kehilangan keinginan untuk mendengar penjelasan apa pun.
“Mas tidur di sofa saja malam ini,” ucap Alya tanpa menoleh.
Arga terdiam. Ia melirik sofa panjang di dekat jendela, kemudian kembali memandang istrinya.
“Alya, kita bisa membicarakan ini baik-baik.”
“Aku sudah mendengar penjelasan Mas.” Alya merapikan selimut di dekat dadanya. “Tapi aku belum sanggup tidur berdekatan dengan Mas. Tolong mengerti.”
Arga mengembuskan napas pelan. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berniat membuat Alya menangis pada malam pertama mereka. Namun, bukankah semua ini terjadi karena ia sendiri yang memilih menyembunyikan kebenaran?
“Baiklah. Aku tidur di sofa.”
Arga membuka lemari, mengambil bantal dan selimut tambahan, lalu meletakkannya di sofa. Ia mencoba merebahkan tubuh, tetapi sofa itu ternyata tidak cukup panjang untuk membuatnya nyaman. Kakinya hampir menyentuh ujung sofa, sementara pikirannya terus kembali pada percakapan mereka.
Di sisi lain kamar, Alya masih terjaga. Ia memandangi langit-langit sambil menahan tangis. Piyama satin putih yang dikenakannya terasa begitu berbeda dari kebaya pengantin yang ia pakai beberapa jam sebelumnya. Malam tadi, ia sempat membayangkan akan memulai kehidupan baru bersama Arga. Ia bahkan merasa sedikit gugup membayangkan kedekatan mereka sebagai suami istri.
Namun, kini ia justru merasa asing berada di kamar sendiri bersama laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya. Alya tidak tahu harus berbuat apa. Ia dibesarkan untuk menghormati pernikahan dan berusaha menjaga rumah tangga sebaik mungkin. Ia tidak ingin menjadi istri yang mudah menyerah hanya karena menghadapi masalah pada awal pernikahan.
Tetapi, ia juga seorang perempuan yang memiliki perasaan. Bagaimana ia bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa setelah mengetahui bahwa Arga telah menyembunyikan seorang istri darinya?
Alya memejamkan mata. Air matanya kembali mengalir, membasahi bantal yang dipeluknya. Ia tidak ingin Arga mendengar tangisnya.
Sementara itu, Arga masih terjaga di sofa. Beberapa kali ia mengubah posisi, tetapi tidak satu pun terasa nyaman. Ia akhirnya duduk dan memandang Alya yang membelakanginya.
“Alya,” panggilnya pelan. Namun, tidak ada jawaban. “Aku minta maaf.”
Alya mendengar ucapan itu dengan jelas. Namun, ia memilih diam karena tidak tahu harus menjawab apa.
Arga menunggu beberapa saat sebelum kembali berbaring. Malam itu, mereka berada di kamar yang sama, tetapi terasa seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi ruangan.
Suara azan Subuh terdengar dari masjid di sekitar rumah keluarga Wiratama. Alya yang belum benar-benar terlelap membuka matanya, lalu melirik jam di meja kecil.
Ia segera bangkit dari ranjang dan merapikan selimutnya. Setelah itu, ia menoleh ke arah sofa tempat Arga tidur.
“Mas Arga,” panggilnya pelan sambil mendekat. “Sudah Subuh. Ayo, kita salat.”
Arga membuka mata dan duduk sambil mengusap wajahnya. Punggungnya terasa pegal setelah tidur di sofa semalaman, tetapi ia tidak mengeluh. “Iya. Aku bangun dulu.”
Alya mengangguk, lalu mengambil mukena dari lemari. Mereka bergantian menggunakan kamar mandi untuk berwudu. Setelah semuanya siap, Arga menggelar sajadah dan berdiri di depan, sementara Alya mengambil posisi di belakangnya.
Arga menjadi imam. Alya mengikuti gerakan suaminya dengan tertib, berusaha memusatkan pikiran pada salat yang mereka tunaikan bersama.
Selesai berdoa, Alya melipat mukenanya dan menyimpannya kembali. Arga masih duduk di atas sajadah.
“Kita harus bersiap, setelah itu kita sarapan,” ucap Alya dengan nada biasa.
Arga mendongak. Ia sempat mengira Alya akan bersikap dingin setelah kejadian semalam, tetapi perempuan itu tetap memperlakukannya dengan baik.
Arga mengangguk, lalu beranjak dari atas sajadah.
Tidak ada pertengkaran pagi itu. Alya tidak membentak, tidak menyindir, dan tidak mengungkit nama Nadira. Ia tetap menjalankan apa yang menurutnya menjadi tanggung jawab seorang istri.
Namun, kebaikannya bukan berarti luka di hatinya telah sembuh. Ketika mengingat bahwa Arga pernah berbagi keintiman dengan perempuan lain, Alya masih merasa sesak. Ia belum sanggup membayangkan dirinya berada dalam pelukan laki-laki itu, apalagi menjalani hubungan suami istri seolah tidak ada apa-apa.
Karena itulah, untuk sementara, ia hanya mampu memberikan apa yang sanggup diberikannya dengan tulus. Ia tetap menjadi istri Arga dalam keseharian, tetapi belum siap membuka dirinya di ranjang.
Dan Arga, yang telah memilih menyembunyikan kebenaran sebelum pernikahan mereka, harus belajar menghormati batas yang kini ditetapkan istrinya.
Ketika waktu sarapan tiba, Alya dan Arga keluar kamar bersama. Keduanya sudah berganti pakaian, meskipun wajah mereka masih terlihat lelah.
Maya yang sedang membantu asisten rumah menyiapkan sarapan, langsung menoleh begitu melihat putri dan menantunya datang. Senyum jahil muncul di wajahnya.
“Wah, pengantin baru akhirnya keluar juga!” serunya sambil menutup mulut, menahan tawa kecil. “Kalian sudah bekerja keras, ya? Wajah kalian berdua pucat tuh. Mata Alya juga sembap.”
Alya langsung menunduk. Tangannya yang hendak menarik kursi mendadak berhenti.
Arga pun terdiam sesaat sebelum menarik kursi untuk istrinya.
Maya tertawa kecil, sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi keduanya. “Sudah, sudah. Ibu tidak akan mengganggu kalian. Namanya juga pengantin baru.” Ia mengedipkan mata kepada Alya. “Tapi jangan sampai lupa makan. Nanti kalau sakit, siapa yang repot?”
Alya memaksakan senyum. “Ibu, jangan begitu, dong,” jawabnya lirih.
“Lho, memangnya kenapa?” Maya kembali tertawa. “Ibu cuma menggoda. Dulu waktu baru menikah dengan Ayahmu, Ibu juga begitu.”
Adrian yang baru datang ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. “Sudah, jangan terus menggoda Alya. Biarkan mereka menikmati hari-hari pertama sebagai suami istri.”
Maya mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Iya, iya. Ibu diam.”
Alya mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk dirinya sendiri. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin sulit dikendalikan.
Ibunya mengira mata sembap itu muncul karena ia kelelahan setelah melewati malam pertama bersama Arga. Padahal, Alya menangis karena mengetahui bahwa suaminya telah memiliki perempuan lain jauh sebelum akad mereka berlangsung.
Arga mengetahui kebenarannya. Ia duduk di samping Alya, mendengar setiap gurauan Maya, tetapi tidak berani menatap istrinya terlalu lama. Ia tidak bisa menyalahkan Maya karena tidak mengetahui apa pun. Ibu mertuanya itu hanya sedang bahagia melihat putrinya menikah dengan laki-laki yang dipercaya mampu menjaganya.
Justru karena itulah Arga merasa semakin bersalah. Di hadapan keluarga Alya, ia harus berpura-pura menjadi suami yang bahagia. Sementara perempuan yang duduk di sampingnya sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang ia ciptakan sendiri.
Alya menyendok sedikit nasi ke piringnya. Ia tetap menjawab ketika diajak bicara dan sesekali tersenyum agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tidak seorang pun di meja makan itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam.
Setelah sarapan, Adrian mengajak Arga berbincang sebentar mengenai pekerjaan dan rencana perjalanan mereka. Alya membantu ibunya membereskan meja makan.
Arga berusaha mengikuti percakapan ayah mertuanya, tetapi pikirannya beberapa kali kembali kepada Alya. Perempuan itu tetap bersikap baik kepadanya meski jelas masih terluka. Sikap tersebut justru membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Ketika Alya kembali ke ruang keluarga, Arga sedang berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinga laki-laki itu.
Alya berhenti melangkah.
Arga tidak menyadari kehadirannya dan terus melanjutkan pembicaraan dengan seseorang melalui ponsel.
“Maaf, Sayang.”
Suara Arga terdengar lembut. Nada bicara itu sama seperti yang didengar Alya semalam, ketika ia tidak sengaja mengetahui rahasia suaminya.
Alya berbalik tanpa suara dan melangkah menuju kamar. Ia tidak ingin membuat keributan, apalagi sampai kedua orang tuanya mengetahui masalah rumah tangganya. Ia akan tetap memperlakukan Arga dengan baik. Namun, untuk saat ini, Alya belum sanggup menerima Arga sebagai suami seutuhnya. Bayangan bahwa ada perempuan lain yang pernah berbagi keintiman dengan laki-laki itu masih terasa menyakitkan baginya.