“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Setelah meninggalkan ruang makan penuh ketegangan, Arunika menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya sebelum melangkah kembali ke kamar utama.
"Benar-benar keluarga yang unik dan penuh drama," gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala.
Ia menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu mulai merapikan tempat tidur yang tadi belum sempat disentuhnya. Selimut ia lipat rapi, bantal ditata pada posisinya, sementara koper kecilnya dibuka untuk menyusun beberapa helai pakaian ke dalam lemari.
Sesekali, matanya melirik pada sebuah tas belanjaan yang ia letakkan di atas meja rias. Di dalamnya terdapat sebuah kotak mainan robot kecil yang sengaja ia minta belikan pada anak buah Arjuna.
"Hm, besok pagi saja aku menemui Nakula. Anak kecil seusianya biasanya lebih mudah diajak berteman kalau dibawakan hadiah. Aku harus memberi kesan pertama yang baik sebagai seorang ibu sambung," senyum tipis menghiasi bibir Arunika.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Arunika mengusap tengkuknya yang terasa pegal.
"Aduh... haus banget."
Ia baru teringat kalau dirinya belum sempat mengambil sebotol pun air mineral sejak masuk ke kamar. Dengan langkah santai, Arunika membuka pintu lalu menuruni anak tangga melingkar menuju lantai bawah.
Namun, ketika melewati lorong pelayan di bagian belakang rumah, langkah kaki Arunika mendadak terhenti. Sebuah isakan tertahan menguar dari kegelapan sudut lorong.
Arunika mengernyit. "Suara tangisan siapa itu?"
Rasa penasarannya mendesak untuk mencari tahu. Ia mengikuti arah suara tersebut dengan langkah tanpa suara. Semakin ia mendekat, isakan itu terdengar semakin jelas dan menyayat hati.
Arunika mengintip hati-hati dari balik dinding pembatas. Seketika itu juga, rahangnya mengeras dan darahnya mendidih.
Di sana, berdiri Wina dengan ekspresi wajah penuh kebencian. Di hadapannya, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun, yang diyakini sebagai Nakula tengah berlutut di lantai dengan kepala tertunduk dalam-dalam.
Pipi bocah kecil itu basah oleh air mata yang mengalir deras.
"Ingat baik-baik, Nakula," desis Wina tajam, mengancam. "Jangan pernah berani mengadukan kejadian malam ini kepada siapa pun, apalagi pada ayahmu!"
Wanita itu mengangkat telunjuknya tepat di depan hidung Nakula.
"Kalau kau berani membuka mulut, aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada neraka."
Tubuh kecil Nakula langsung bergetar hebat. "I-iya, Bibi... Aku janji..."
Di samping Wina, bocah laki-laki seusia Nakula yang merupakan putra kesayangan Wina, Damar, mendengus kesal.
"Ma, hukumannya kurang berat buat dia."
Wina menoleh menatap putranya. "Maksudmu, Damar?"
"Dia tadi berani membantahku, Ma," adu Damar dengan nada manja menyebalkan. "Aku menyuruhnya mengerjakan PR-ku, tapi dia menolak. Anak pembawa sial ini harus diberi pelajaran ekstra."
Wina tersenyum puas penuh kemenangan. "Lalu menurutmu, hukuman apa yang pas untuknya?"
Damar menunjuk Nakula tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Suruh dia tidur di gudang luar malam ini! Biar dia tahu akibatnya kalau berani melawan aku."
Mata Wina berbinar jahat. "Ide yang bagus, sayangku."
Tanpa aba-aba, wanita keji itu langsung mencengkeram pergelangan tangan Nakula dengan kasar.
"Ayo, berdiri!"
Nakula langsung menangis semakin histeris. "Jangan... Bibi... Kumohon... Aku takut gelap... Tolong jangan hukum aku di sana..."
Tangisan memilukan bocah enam tahun itu membuat dada Arunika terasa sesak. Namun Wina sama sekali tidak menunjukkan secuil pun belas kasihan.
"Salah sendiri berani membantah sepupumu! Malam ini nikmati tidurmu di gudang tikus itu!" maki Wina.
"Tidak! Tolong jangan..." isak Nakula mati-matian, berusaha meronta melepaskan cengkeraman tangan bibinya.
Sayangnya, tenaga bocah kecil yang kekurangan gizi itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan Wina. Tubuh mungil Nakula nyaris terseret di lantai marmer yang dingin.
Cukup! Arunika tidak bisa lagi menahan diri. Batas kesabarannya telah habis.
"Tunggu!" Suara lantang Arunika menggema tegas memenuhi lorong sepi itu, menghentikan gerakan Wina seketika.
Wina dan Damar langsung membeku di tempat. Wina menoleh dengan wajah memucat. "Sial... Kenapa perempuan gendut itu mendadak muncul di sini?" batinnya geram.
Damar menoleh kebingungan. "Ma, siapa wanita gendut ini? Kenapa dia ikut campur urusan kita?"
Alih-alih menjawab, Arunika melangkah mendekat dengan tatapan mata yang dingin menusuk. Setiap langkah kakinya terdengar mantap menghantam lantai. Ia berhenti tepat di hadapan Wina, memancarkan aura yang membuat Wina tanpa sadar mundur satu langkah.
"Kakak ipar, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan pada keponakanmu sendiri?" tanya Arunika.
Wina segera memasang topeng pura-pura tidak bersalah, meski keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
"Bukan urusanmu. Aku sedang mendidik keponakanku supaya jadi anak yang disiplin. Jangan ikut campur urusan keluarga kami!"
Arunika justru tersenyum tipis, sebuah senyuman sarkasme yang mematikan. "Oh ya? Cara mendidikmu itu mirip penyiksa psikopat."
Tanpa menghiraukan Wina, Arunika langsung berjongkok di hadapan Nakula. Tangannya yang hangat mengusap pelan pipi bocah itu yang dipenuhi air mata. Lalu dengan sangat lembut, ia mengangkat dagu Nakula agar menatapnya.
"Nakula, benarkah bibimu tadi sedang mengajarimu disiplin?"
Nakula terdiam ketakutan. Manik matanya melirik sekilas ke arah Wina. Wanita itu langsung melotot tajam, menatapnya dengan ancaman pembunuhan terselubung, seolah memperingatkan agar bocah itu tidak berani membuka suara.
Tubuh Nakula kembali gemetar hebat.
Arunika menangkap perubahan gestur itu dengan cepat. Ia mengembuskan napas perlahan untuk meredam emosinya, lalu tersenyum menenangkan.
"Katakan saja yang sebenarnya. Jangan takut. Ada aku di sini sekarang," ucap Arunika begitu lembut, kontras seratus persen dengan bentakan keji yang sejak tadi diterima Nakula.
Bocah kecil itu menatap lurus ke dalam manik mata Arunika. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kehangatan tulus dari seorang figur ibu yang selama ini dirindukannya.
Arunika mengusap pelan rambut kusut Nakula.
"Percayalah padaku. Kau tidak sendirian lagi di rumah ini." Lalu, tanpa melepaskan tatapannya yang penuh kasih dari sang anak, Arunika berbisik lirih, "Katakan pada Mama, Nakula."
"Mama?" gumam Nakula.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget