Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Sekadar Kontrak
Kata-kata Raka malam itu terngiang terus di benak Alya selama berhari-hari setelahnya. "Kesepakatan ini sudah tidak terasa seperti kesepakatan lagi bagiku." Kalimat sederhana itu membawa gejolak yang tidak pernah dia duga akan dia rasakan lagi setelah semua yang terjadi dengan Bimo perasaan hangat yang menjalar setiap kali dia mengingat cara Raka menatapnya malam itu.
Kasus audit ulang terhadap pemecatan Alya bergerak cepat berkat dukungan penuh tim hukum Wirawan Group. Dalam waktu kurang dari dua minggu, komite etik independen berhasil menemukan bukti kuat manipulasi data rekam medis yang dilakukan Vania untuk menutupi kesalahannya sendiri dalam penanganan pasien ICU kesalahan yang selama ini dituduhkan secara tidak adil kepada Alya.
Berita klarifikasi itu menyebar hampir secepat fitnah yang sebelumnya menyerang Alya. Rumah Sakit Harapan Bunda mengeluarkan permintaan maaf resmi, mencabut catatan pemecatan Alya, dan bahkan menawarkan kompensasi atas kerugian nama baik yang dialaminya. Sementara itu, izin praktik Vania mulai diselidiki oleh dewan kehormatan kedokteran wilayah, sebuah proses yang bisa berujung pada pencabutan izin praktiknya secara permanen.
Alya menerima kabar itu di ruang kerja pribadi yang baru saja Raka siapkan untuknya di sayap timur rumah sebuah ruangan kecil namun nyaman, lengkap dengan rak buku kedokteran dan meja kerja, hadiah yang diberikan Raka tanpa banyak kata beberapa hari sebelumnya, seolah dia sudah tahu bahwa cepat atau lambat Alya akan kembali menekuni dunia yang paling dia cintai.
"Nama baikmu sudah sepenuhnya pulih," kata Raka sore itu, berdiri di ambang pintu ruang kerja itu, menyaksikan Alya membaca surat resmi dari komite etik dengan mata berkaca-kaca. "Kau bisa kembali praktik kapan pun kau siap. Bahkan membuka klinik sendiri, jika itu yang kau inginkan."
Alya menatapnya, campuran rasa syukur dan haru membuat suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini, Raka. Kau sudah memberikan kembali segalanya yang direbut dariku."
"Kau tidak perlu membalasnya," jawab Raka, melangkah masuk mendekat, berdiri tepat di hadapannya. "Kau sudah memberikan lebih dari cukup nyawa Oma, keberanian menghadapi masa lalumu, dan..." dia berhenti sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Dan?" Alya mendongak menatapnya, jantungnya berdebar kencang menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Dan kau mengajariku sesuatu yang sudah lama aku lupakan," lanjut Raka pelan, matanya menatap dalam ke mata Alya, tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya dengan lembut. "Bahwa masih ada orang yang tulus di dunia ini, yang tidak menginginkan apa pun dariku selain menjadi diriku sendiri."
Jarak di antara mereka semakin menipis. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak mereka dimulai, Alya tidak merasakan kecanggungan atau keraguan sedikit pun — hanya ketulusan yang mengalir begitu saja, seiring detak jantungnya yang berpacu cepat.
"Raka," bisiknya pelan, "kontrak kita masih menyisakan sepuluh bulan lagi."
"Aku tahu," jawab Raka, dahinya kini hampir menempel dengan dahi Alya. "Tapi aku tidak lagi peduli soal kontrak itu. Aku hanya peduli, apakah kau juga merasakan hal yang sama denganku."
Alya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menutup jarak yang tersisa, membiarkan momen itu berbicara lebih jelas daripada kalimat apa pun yang bisa dia ucapkan.
Namun kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh itu tidak berlangsung lama tanpa gangguan. Keesokan paginya, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang kediaman Wirawan, mengeluarkan seorang wanita paruh baya berpakaian formal mahal, wajahnya memancarkan aura otoritas yang tidak bisa disembunyikan.
Salah satu staf bergegas masuk ke ruang makan, wajahnya pucat pasi. "Pak Raka, Bu Wirawan maksud saya, ibu kandung Anda baru saja tiba. Beliau bilang ingin bertemu dengan 'istri baru' Anda. Sekarang juga."
Wajah Raka seketika berubah tegang, rahangnya mengeras mendengar kabar itu. Sejak awal pernikahan kontrak ini direncanakan, hanya Oma Ratna dan segelintir orang kepercayaan yang dilibatkan ibu kandung Raka, yang selama bertahun-tahun tinggal terpisah karena perselisihan lama dengan keluarga besar Wirawan, sama sekali tidak diberi tahu.
"Ibu tidak seharusnya tahu secepat ini," gumam Raka, lebih kepada dirinya sendiri, nada suaranya berubah drastis dari kelembutan beberapa saat lalu menjadi kewaspadaan penuh.
Alya menatapnya bingung. "Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu khawatir?"
Raka menghela napas panjang, menatap Alya dengan sorot mata yang campur aduk antara khawatir dan pasrah. "Karena ibuku," katanya pelan, "tidak akan pernah menerima pernikahan ini semudah Oma. Dan dia punya kekuatan yang cukup besar untuk membatalkannya, jika dia benar-benar menginginkannya."
Dari kejauhan, suara langkah kaki tegas mulai mendekat ke arah ruang makan, diiringi aura dingin yang membuat seisi rumah seketika hening mencekam.