NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Gurun di Bintan

Pasir di Busung putih seperti garam, dan di siang hari panasnya memantul ke wajah seperti dari cermin.

Damar berdiri di tepi bukit pasir itu untuk hari ketiga. Di belakangnya, dua mobil berpenggerak empat roda diparkir di bawah satu-satunya pohon cemara laut yang ada di sekitar situ. Di depannya, danau biru kehijauan bekas galian pasir, airnya tenang dan tidak wajar, seperti kolam di dalam mimpi.

Orang-orang menyebut tempat ini gurun. Padahal ini bukan gurun. Ini bekas tambang pasir yang ditinggalkan, luka di tanah Bintan yang terlalu besar untuk ditutup.

Tempat yang cocok untuk menunggu seseorang yang tidak pernah datang.

"Mar." Reza berjalan mendekat, kemejanya basah oleh keringat, topi pet ditarik rendah. "Udah tiga hari. Mereka nggak akan datang."

"Mereka bilang aku harus datang sendiri."

"Kamu udah datang sendiri. Tiga hari berturut-turut. Mereka masih nggak muncul."

Damar tidak menjawab.

Bayang. Begitu orang-orang di Batam menyebutnya, dengan suara pelan, kalau mereka berani menyebutnya sama sekali. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya. Ada yang bilang dia orang Singapura. Ada yang bilang dia pensiunan pejabat dari Jakarta. Ada yang bilang dia sudah mati sepuluh tahun lalu dan yang tersisa hanya namanya. Tapi semua orang yang bermain di wilayah abu-abu pulau ini sepakat soal satu hal: barang yang melewati jalur Bayang tidak pernah tertahan di Bea Cukai, dan orang yang mengkhianati Bayang tidak pernah ditemukan lagi.

Sejak dua tahun lalu, Bayang menjadi pemasok untuk jalur Damar. Barang elektronik mahal, jam tangan, tas-tas mewah yang masuk lewat zona perdagangan bebas Batam tanpa melewati pintu yang seharusnya. Bisnis yang dimulai Damar lima tahun lalu atas restu diam-diam Eyang, dan yang sekarang sudah terlalu besar untuk dihentikan.

Dua tahun, dan dia belum pernah sekali pun mendengar suara Bayang sendiri. Selalu lewat perantara. Selalu lewat telepon dari nomor yang berganti-ganti.

Lalu kali ini, tiba-tiba, Bayang meminta Damar datang sendiri.

Ponselnya bergetar. Tagih.

"Bos." Napas Tagih terdengar berat. "Gudang. Semalam. Barang yang tiga minggu lalu masuk, semuanya dipindahin. Kontainer kosong."

Damar menatap danau biru itu.

"Siapa?"

"Lagi saya cari, Bos."

"Cari sampai dapat."

***

Ruang kantor gudang Damar Samudra di Batam berbau besi berkarat dan kopi sachet.

Laki-laki itu duduk di kursi plastik di tengah ruangan dengan kedua tangan di atas lutut. Kemejanya kusut. Umurnya sekitar empat puluh lima, rambutnya menipis, ada cincin batu akik besar di jari manisnya. Namanya Yogi. Kepala gudang sejak awal tahun ini.

Tagih berdiri di belakangnya. Dua orang lagi berjaga di pintu.

"Barangnya ke mana, Gi?" tanya Damar. Dia tidak duduk.

"Saya sudah bilang, Pak." Suara Yogi gemetar tapi keras kepala. "Kapalnya kena badai. Tenggelam di perairan Tanjung Uban. Saya juga rugi, Pak, saya juga..."

"Kapal mana?"

"Kapal yang biasa, Pak."

"Kapal yang biasa sedang bersandar di dermaga Sekupang sejak kemarin pagi. Aku lihat sendiri."

Yogi terdiam.

Damar berbalik dan menatap Tagih. Laki-laki pincang itu tidak menunduk seperti biasanya.

"Dia kepala gudangmu," kata Damar. "Kamu yang merekomendasikan dia."

"Iya, Bos."

Damar mendorong dada Tagih dengan satu tangan. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat laki-laki itu mundur selangkah dan kaki kirinya yang pincang tergelincir di lantai semen.

"Terakhir kali," kata Damar. "Sekali lagi orang yang kamu bawa ke sini berkhianat, kamu yang keluar dari pulau ini."

Tagih menegakkan badan. "Siap, Bos."

"Mar." Reza melangkah di antara mereka. Suaranya rendah. "Udah. Tahun lalu kalau bukan Tagih yang lihat rem mobil kita dirusak orang, kita berdua udah jadi bangkai di jurang Nongsa. Kamu lupa?"

Damar tidak lupa. Oktober tahun lalu. Tagih yang sudah bekerja beberapa bulan untuknya waktu itu memeriksa mobil mereka sebelum berangkat, menemukan selang rem yang sudah diiris tipis, dan menolak membiarkan mereka naik. Sejak hari itu, laki-laki pincang ini berdiri di belakangnya ke mana pun dia pergi.

Damar menarik napas. Dia kembali menatap Yogi.

"Gilang berapa bayar kamu?"

Wajah Yogi memucat.

"Rekening atas nama istrimu. Tiga kali transfer bulan lalu, masing-masing lima puluh juta. Pengirimnya perusahaan cangkang di Jakarta yang direkturnya sopir Gilang." Damar meletakkan sebuah map di atas meja. "Tagih sudah dapat semuanya kemarin malam. Termasuk buku catatanmu. Yang kamu sembunyikan di balik tangki toilet."

Yogi menatap map itu. Lalu dia menatap Damar. Lalu, tiba-tiba, dia meledak.

"Kamu! Kamu nggak tahu apa-apa! Anakku masih kuliah! Istriku sakit! Kalau aku nggak ambil uang itu, keluargaku hancur! Sekarang juga hancur gara-gara kamu!"

Damar menunggu sampai laki-laki itu selesai berteriak.

Lalu dia berkata dengan suara yang sangat tenang, "Serahkan ke polisi."

Ruangan itu sunyi. Bahkan dua orang yang berjaga di pintu saling melirik.

"Laporan penggelapan," lanjut Damar, menoleh ke Reza. "Buktinya lengkap. Polresta Barelang. Biar pengacara kita yang urus."

"Polisi?" Yogi tertawa histeris. "Kamu mau lapor polisi? Kamu? Dengan barang yang kamu jual?"

"Yang hilang dari gudangku adalah barang-barang yang tercatat di dokumen perusahaan," kata Damar. "Yang kamu curi tercatat. Yang kamu jual ke Gilang tercatat. Itu urusan polisi." Dia mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Urusan lain, bukan urusanmu lagi."

Dia keluar. Di belakangnya, Yogi masih berteriak, lalu suaranya pecah menjadi tangis.

***

Malam itu, di kamar hotel di Nagoya, Reza menuang air mineral ke dua gelas dan menyodorkan satu kepada Damar.

"Kamu tumben," katanya. "Biasanya orang kayak Yogi, kamu bikin dia nggak bisa kerja di mana pun sampai sepuluh tahun."

"Dia akan masuk penjara. Itu lebih lama."

"Bukan itu maksudku." Reza duduk di pinggir ranjang. "Kamu nggak marah. Kamu cuma capek."

Damar menatap jendela. Di luar, lampu-lampu Nagoya menyala di bawah langit yang mendung. Di seberang selat, tidak terlihat, ada Singapura.

"Gilang tidak cukup pintar untuk ini," katanya.

Reza berhenti minum.

"Menyuap kepala gudang, oke. Itu Gilang. Tapi tahu persis kapan barang masuk, tahu jadwal kapal, tahu aku sedang menunggu di Busung tiga hari supaya gudang tidak dijaga ketat?" Damar menggeleng pelan. "Bukan Gilang. Ada orang lain. Orang yang menyuruh Bayang memanggilku ke Bintan, supaya aku jauh dari gudang."

"Atau Bayang sendiri."

"Atau Bayang sendiri."

Mereka diam. Di luar, mulai turun gerimis.

Damar memejamkan mata. Dan sesuatu yang lain menyelinap masuk, begitu saja, tanpa izin. Bukan Bayang. Bukan Gilang.

Lereng di Puncak. Jari-jari di rambutnya. Sepasang bibir hangat di kelopak matanya.

Dia membuka mata. Reza menatapnya dengan alis terangkat.

"Apa?"

"Kamu senyum," kata Reza. "Barusan. Kamu mikirin apa?"

"Tidak ada."

***

Kamis malam, delapan belas September. Ponsel di meja kantor gudang berdering ketika Damar sedang menandatangani laporan kerugian.

Nomor tidak dikenal. Seperti biasa.

"Pak Damar." Suara laki-laki, datar, tanpa logat apa pun. Suara yang terlalu rapi, seperti dibaca dari kertas. "Maaf atas ketidaknyamanan di Busung. Ada gangguan teknis."

"Gangguan teknis tiga hari."

"Bayang menyampaikan penyesalannya." Jeda sebentar. "Barangnya sudah sampai. Bapak ambil sendiri, Sabtu sore, jam enam. Jalan lintas timur, kilometer tiga puluh dua. Tidak boleh membawa banyak orang."

"Kenapa harus aku?"

"Bayang ingin bertemu Bapak secara langsung. Akhirnya."

Sambungan terputus.

Damar menatap ponsel itu lama. Di seberang ruangan, Tagih yang berdiri di dekat pintu tidak bergerak sama sekali. Tapi tangan laki-laki itu, yang tergantung di sisi tubuhnya, sudah mengepal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!