NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Seribu Pedang

​Kota Seribu Pedang berdiri megah di persimpangan jalur perdagangan perbatasan. Dinding kotanya menjulang tinggi, terbentuk dari susunan batu granit hitam yang dipahat dengan array pelindung kuno.

​Di pusat kota, berdiri menara raksasa berbentuk pedang yang menembus awan—simbol kebebasan sekaligus ketertiban yang dijaga ketat oleh Serikat Dagang Perbatasan.

​Kota ini adalah kuali peleburan berbagai kalangan dari seluruh penjuru benua: kultivator independen, pedagang ramuan spiritual, pemburu hadiah berdarah dingin, hingga mata-mata sekte besar yang lalu-lalang di atas jalanan pualam. Aromanya dipenuhi perpaduan unik antara wewangian obat langka, bau besi yang terbakar dari tempaan senjata, dan uap masakan kedai-kedai mewah.

​Di antara kerumunan pasar yang riuh, melangkah seorang pemuda berjubah abu-abu sederhana. Topi jerami menutupi separuh parasnya, sementara sebilah pedang hitam berbalut kain lusuh tersandang di punggung.

​Hu Jin menyamar sebagai pengembara biasa. Ia sadar betul, tampil mencolok di kota asing sama saja dengan mengundang masalah yang tak perlu.

​Langkah Hu Jin terhenti di depan Paviliun Angin Hijau, rumah lelang dan pusat pertukaran sumber daya terbesar di kota tersebut. Ia melangkah tenang ke aula pertukaran barang, menghampiri pengurus paviliun.

​"Paman, aku ingin menjual beberapa bahan buruan," ucap Hu Jin dengan suara tenang yang agak diperberat.

​Pengurus paviliun—pria paruh baya bertubuh agak gemuk—menatap Hu Jin sekilas dengan pandangan meremehkan. "Bocah, kalau cuma kulit serigala biasa, kami tidak—"

​KLANG

​Hu Jin mengeluarkan sepuluh Inti Monster tingkat Pemuliaan Tubuh puncak dan dua Inti Monster tingkat Pembentukan Qi dari cincin penyimpanannya, lalu menatanya di atas meja kayu.

​Mata pengurus paviliun membelalak lebar. Inti Monster tingkat Pembentukan Qi sangat sulit didapatkan dan biasanya butuh perburuan kelompok tentara bayaran berpengalaman. Siapa sangka pemuda di hadapannya membawa batu-batu kristal langka itu dengan begitu santai?

​"A-ah! Maafkan kesalahanku, Pendekar Muda!" Sikap pria itu berubah drastis, diiringi senyum ramah yang dibuat-buat. "Semua bahan ini sangat murni dan berkualitas tinggi. Totalnya lima ratus batu spiritual tingkat rendah!"

​Setelah transaksi selesai, Hu Jin langsung menggunakan batu spiritual tersebut untuk membeli sepuluh botol Cairan Pemurni Meridian dan beberapa Rumput Es Salju tingkat menengah demi menyokong kultivasinya.

​Saat melangkah keluar dari paviliun sambil membenahi letak topinya, derap kaki kuda spiritual dipacu kencang dari arah jalan utama tanpa peduli kerumunan warga.

​"Buka jalan! Buka jalan untuk Tuan Muda Klan Lei!" teriak beberapa pengawal berzirah merah seraya mengayunkan cambuk, membubarkan para pedagang dan pejalan kaki secara kasar.

​Warga berserabutan menepi dengan wajah cemas. Klan Lei adalah salah satu dari tiga klan penguasa lokal di Kota Seribu Pedang—dikenal arogan, tamak, dan tak segan menindas kultivator tanpa latar belakang.

​Hu Jin melangkah santai menuju tepi jalan. Ia tak berniat mencari masalah di tempat terbuka.

​Tuan Muda Klan Lei—pemuda berwajah pucat dengan pakaian sutra mewah—melewati Hu Jin dengan pandangan meremehkan. Kuda spiritualnya hampir menyenggol bahu Hu Jin, namun dengan geseran langkah yang sangat presisi, Hu Jin menghindarinya tanpa gesekan sedikit pun.

​Seorang pengawal sempat menoleh heran, merasa aneh dengan ketenangan pengembara bertopi jerami itu. Namun karena Hu Jin tidak memancarkan aura perlawanan, rombongan itu melaju pergi tanpa keributan.

​Hu Jin menghela napas pelan di balik topinya. Bertahan hidup di dunia luar memang membutuhkan kesabaran. Menundukkan kepala bukan berarti takut, melainkan menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan taring.

​Guna menenangkan diri dan mencari informasi terbaru, Hu Jin masuk ke kedai teh dua tingkat yang ramai di sudut kota. Ia duduk di pojok lantai dua, memesan teko teh hangat seraya memasang telinganya tajam-tajam.

​Di meja tengah, beberapa kultivator paruh baya yang tampaknya pedagang lintas wilayah sedang minum bersama sambil berbisik-bisik.

​"Hei, kau dengar kabar terbaru dari Kerajaan Timur di wilayah tengah?" tanya salah seorang kultivator berkumis tipis.

​"Kerajaan Timur? Kerajaan besar di bawah kekuasaan Raja Hu Yan itu?" sahut rekannya penasaran. "Ada apa di sana?"

​"Kabar buruk! Raja Hu Yan dikabarkan terpuruk dalam depresi berat selama bertahun-tahun sejak kematian istrinya dan hilangnya putra tunggal mereka. Kini, Sang Raja mengasingkan diri sepenuhnya di dalam ruang meditasi terlarang dan tak lagi memedulikan urusan negara."

​Hu Jin yang sedang menyesap tehnya mendadak menghentikan gerakannya seketika.

​"Lalu siapa yang memimpin kerajaan sekarang?" tanya kultivator lainnya.

​"Tentu saja Zhao Feng—adik dari Permaisuri Pertama! Pria itu secara de facto mengambil alih seluruh kekuasaan istana. Dia mengganti para jenderal setia dengan orang-orangnya sendiri dan memungut pajak yang mencekik rakyat. Kerajaan Timur kini berada di ambang kehancuran!"

​DEG

​Dada Hu Jin mendadak terasa sesak luar biasa. Rasa sakit yang tak terjelaskan menyengat hingga ke dalam jantungnya. Tangan yang memegang cangkir tanah liat bergetar tipis hingga air teh memercik basah.

​Darahnya mendidih secara alami, membawa gelombang duka, amarah, dan benci yang asing sekaligus teramat familiar di dalam jiwanya.

​Hu Jin memegang dadanya yang bergejolak hebat.

​Ada apa denganku? Kenapa mendengar kabar tentang Raja Kerajaan Timur membuat hatiku begitu sakit? Kenapa rasanya... jiwaku menolak keras mendengar kehancuran tempat itu?

​Hu Jin tidak pernah ingat siapa orang tua kandungnya. Baginya, ia hanyalah anak buangan yang dibesarkan Qian Renxue di Sekte Teratai. Namun reaksi tubuh dan darahnya yang secara insting menolak pengkhianatan Zhao Feng membuat pikirannya dipenuhi tanda tanya besar.

​Tanpa menghabiskan tehnya, Hu Jin meletakkan beberapa keping uang di atas meja lalu melangkah pergi terburu-buru.

​Hu Jin menyewa kamar penginapan terpencil di pinggiran kota yang dilengkapi array pertahanan sederhana.

​Di dalam kamar yang tertutup rapat, Hu Jin melupakan sejenak rasa ganjil di dadanya. Ia mengeluarkan botol Cairan Pemurni Meridian dan Rumput Es Salju yang dibelinya tadi. Ia duduk bersila di atas ranjang, memejamkan mata, dan mulai mengalirkan teknik kultivasi dari Seni Pedang Sembilan Es Kuno.

​WUUUUUSH

​Batu spiritual dan obat-obatan alami di sekitarnya meledak menjadi kabut energi murni yang langsung diserap deras melalui pori-pori kulitnya. Energi es murni bertemu dengan aura keemasan Tulang Kaisar di dalam Dantian-nya, berputar bagaikan pusaran angin tornado yang dahsyat.

​Rasa sesak dan amarah yang ia rasakan di kedai teh tadi tidak memadamkan fokusnya, melainkan bertindak sebagai pemicu yang membakar dan merobek batas kultivasinya!

​Satu jam... tiga jam... lima jam...

​BUMMM

​Derakan keras bergema di dalam jaringan meridian Hu Jin. Gelombang energi berwarna biru-emas merebak dahsyat di dalam ruangan, meretakkan lantai kayu di bawahnya.

​Mata Hu Jin terbuka lebar, maniknya berkilat terang memotong kegelapan malam.

​Tekanan Qi-nya melesat pesat, menembus batasan awal dan berhasil naik ke Ranah Pembentukan Qi Tahap Menengah (Mid-Stage Qi Foundation) di usianya yang baru menginjak tiga belas tahun!

​Hu Jin melihat telapak tangannya sendiri yang kini memancarkan aura Qi yang jauh lebih padat, murni, dan berbahaya.

​"Ranah Menengah..." gumam Hu Jin pelan, lalu pandangannya menatap tajam ke arah jendela yang mengarah ke wilayah timur. "Perasaan sesak tadi bukan tanpa alasan. Suatu hari nanti, aku akan mencari tahu kaitan antara diriku dan Kerajaan Timur itu."

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!