NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - PENGALIHAN SUARA

Hawa dingin berdebu menyapu wajah Luna dan Steve saat mereka menapakkan kaki di bordes teratas tangga servis teknisi lantai dua. Di belakang mereka, pintu besi bawah telah dijaga oleh Rian, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan lorong lantai dua yang mencekam. Bau spora jamur di lantai ini jauh lebih pekat, menyerupai kombinasi tanah basah busuk dan bangkai yang dibiarkan berhari-hari di ruang tertutup.

Luna berjongkok di balik celah pintu servis teknisi yang sedikit terbuka. Dari celah sempit itu, matanya memindai lorong penyimpanan barang yang remang-remang. Beberapa kardus monitor komersial berukuran besar berserakan menutupi lantai epoxy. Di sebelah kanan lorong gudang ini, terdapat pintu ganda kaca tebal yang menghubungkan langsung ke area showroom utama dan ruang demonstrasi audio.

Steve merapatkan tubuhnya di dinding beton di samping Luna. Pria kekar itu menggenggam pipa besi bengkoknya dengan kedua tangan, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menciptakan desah nyaring yang bisa memancing pendengaran peka para terinfeksi.

"Nancy, kami sudah di posisi pintu gudang lantai dua." bisik Steve seraya menekan tombol panggil radio hitam di rompinya.

Desis halus terdengar sejenak dari speaker kecil radio sebelum suara Nancy menyahut lembut.

"Aku melihat kalian di kamera sembilan." jawab Nancy dengan bisikan bergetar.

"Posisi zombie di koridor utama masih sama?" tanya Luna, mengarahkan pandangannya lurus ke pintu kaca showroom.

"Masih. Empat belas ekor menumpuk di depan pintu besi ruang serverku. Sebagian mulai menggaruk-garuk selot pintu." beber Nancy sambil menatap layar CCTV komputernya.

"Baik. Nyalakan sistem audio di ruang demo sekarang." instruksi Luna tanpa ragu.

"Mengerti. Pemicu suara aktif dalam tiga... dua... satu..." kata Nancy di balik transmiter.

BZZZZT—DUUMM!

Suara dentuman bass dari sistem pengeras suara berdaya tinggi mendadak meledak dari dalam ruang demo audio lorong timur. Suara itu begitu nyaring dan bergetar hebat, memantul di antara dinding kaca dan atap alumunium gedung elektronik. Musik instrumen dengan irama drum yang cepat memekakkan telinga, memecah keheningan lantai dua secara brutal dalam hitungan detik.

Hantaman gelombang suara itu begitu kuat hingga lantai epoxy tempat Luna dan Steve berjongkok terasa bergetar halus.

Di balik pintu besi ruang server, gerombolan empat belas zombie yang tadinya menempel kaku di koridor utama mendadak tersentak serentak. Kepala-kepala mereka yang dipenuhi kerak jamur Cordyceps berputar liar mencari sumber getaran hebat tersebut. Bagi makhluk terinfeksi yang sangat peka terhadap frekuensi suara kencang, dentuman bass tersebut bagaikan magnet raksasa yang menyedot kesadaran liar mereka.

GGRRRRAAAAHHH!

Erangan serak beruntun membahana di koridor utama. Belasan zombie itu berbalik arah, menyeret kaki-kaki kaku mereka dan berlari membabi buta menuju lorong timur, tempat ruang demo audio berada.

Melalui layar CCTV di ruang server, Nancy menahan napas menyaksikan gelombang terinfeksi itu bergerak menjauhi pintunya.

"Berhasil! Mereka semua bergerak menuju ruang demo!" seru Nancy gembira lewat transmiter radio.

Namun, di lorong penyimpanan barang, Luna yang mengintip dari celah pintu menyikapi situasi dengan kewaspadaan ganda. Ia melihat sebagian besar zombie memang meluncur deras menyeberangi area showroom menuju speaker utama. Namun, dua ekor zombie jenis infeksi sedang bertubuh tinggi besar dan satu zombie pelari berseragam toko tampak melambat di persimpangan lorong.

Zombie pelari itu berhenti tepat di ambang batas antara showroom dan koridor menuju ruang server. Kerak jamur di lehernya bergerak-gerak kaku, seolah ia merasakan ada keberadaan lain di dekat lorong gudang.

"Ada tiga ekor yang tertahan di persimpangan. Kalau mereka tidak disingkirkan, jalur menuju ruang server tetap terkunci." kata Luna dingin.

Steve melirik ke arah tiga zombie yang ragu-ragu di persimpangan itu, lalu menatap pipa besi tebal di tangannya. Senyum tipis yang penuh keberanian muncul di sudut bibir pria kekar itu.

"Biar aku yang tarik perhatian mereka sekalian. Kamu langsung amankan pintu ruang server." kata Steve menawarkan diri.

"Steve, jangan memancing terlalu banyak ke arahmu." peringat Luna tajam.

"Tenang saja, aku tahu cara mengendalikan kerumunan." balas Steve mantap seraya menepuk dada bidangnya.

Tanpa menunggu balasan Luna, Steve mendorong pintu servis teknisi hingga terbuka lebar. Pria kekar itu melangkah keluar ke area lorong penyimpanan barang dengan langkah lebar dan percaya diri.

BAM! BAM! BAM!

Steve menghantamkan pipa besi tebalnya ke rak besi pajangan kardus monitor dengan sekuat tenaga. Suara benturan logam beradu besi itu membahana nyaring di lorong gudang, menciptakan suara pengalih kedua yang berjarak sangat dekat dengan ketiga zombie tertinggal tersebut.

"Hei, Muka Jamur! Lihat ke sini!" teriak Steve dengan suara dalam dan berwibawa yang menggelegar.

Ketiga zombie di persimpangan itu seketika menoleh serentak. Mata mereka yang keruh dan dipenuhi serat jamur mengunci sosok Steve yang berdiri tegap di tengah lorong gudang. Zombie pelari melengkingkan jeritan serak, langsung meluncur deras menerjang Steve dengan kecepatan tinggi.

"Maju kamu!" seru Steve seraya mengambil tumpuan kaki yang kokoh.

SRET! BRAM!

Steve mengayunkan pipa besinya mendatar dengan tenaga brutal. Ujung pipa besi tebal itu menghantam telak leher zombie pelari tersebut tepat di tengah udara. Benturan keras itu mematahkan leher sang zombie seketika, melemparkan tubuhnya hingga tersungkur keras menghantam tumpukan kardus di pinggir lorong.

Dua zombie bertubuh tinggi besar di belakangnya ikut menderap maju, menggeram gusar sambil mengulurkan tangan-tangan mereka yang berkuku hitam.

Steve tidak mundur sedikit pun. Ia memanfaatkan ruang gerak lorong gudang yang luas, memutar tubuhnya dan mengayunkan pipa besi dari bawah ke atas.

BUK!

Hantaman pipa besi Steve menghancurkan rahang zombie kedua, membuatnya terhuyung mundur kehilangan keseimbangan. Steve memanfaatkan momentum itu untuk mendorong rak besi kardus di sampingnya hingga rubuh menimpa zombie ketiga, mengurung makhluk itu di bawah tumpukan besi dan kardus berat.

"Luna, sekarang! Jalur ke ruang server bersih!" teriak Steve seraya menahan rak besi dengan kakinya.

Pada saat yang sama ketika Steve menarik perhatian ketiga zombie tersebut, Luna bergerak bagaikan bayangan tanpa suara. Sambil memegang busur recurve dengan posisi siap tembak, wanita itu berlari cepat melintasi persimpangan showroom yang kini sudah kosong dari gerombolan utama.

Langkah kaki Luna di atas lantai keramik tidak menimbulkan getaran suara sama sekali. Ia menyusuri dinding koridor utama, matanya memindai sekeliling dengan presisi taktis tinggi. Di depan mata Luna, daun pintu besi tebal ruang server berdiri kokoh di ujung lorong.

Luna tiba di depan pintu besi, lalu menghantamkan telapak tangannya dua kali ke permukaan logam pintu.

"Nancy, ini Luna! Buka pintunya sekarang!" seru Luna tegas namun tertahan.

Di dalam ruang server, Nancy yang menyaksikan pergerakan cepat Luna di monitor langsung melompat dari kursinya. Jemarinya yang bergetar menekan tombol eksekusi pembuka kunci biometrik di terminal utama.

KLAK... BZZZZT!

Engsel baja berat di sekeliling pintu besi bergeser terbuka. Daun pintu tebal itu terdorong keluar sedikit, memancarkan pendaran sinar hijau dari dalam ruangan.

Pintu terbuka lebar, memperlihatkan sosok Nancy yang berdiri kaku dengan kacamata tebal dan wajah pucat pasi berderet air mata kelegaan.

"Kamu... kamu benar-benar datang..." bisik Nancy dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Tidak ada waktu untuk reuni. Kita harus mundur ke tangga servis sekarang sebelum musik di ruang demo mati!" cut Luna cepat, menarik lengan sweter Nancy keluar dari ambang pintu.

Steve berlari mendekat dari arah lorong gudang, mengusap peluh di dahinya sambil tersenyum lebar melihat Nancy sudah berhasil keluar dengan selamat.

"Kerja bagus, Taruna." puji Steve seraya mengacungkan jempol kekarnya pada Luna.

"Bawa peralatan pentingmu, Nancy. Kita bergerak mundur!" perintah Luna seraya memutar tubuhnya, memimpin barisan penyelamatan mereka kembali menuju tangga darurat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!