Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Srek.
Bara menyingkirkan tangan Dimas dari pundaknya dengan gerakan yang sangat sopan dan teratur.
Bara kemudian perlahan berdiri dari kursinya hingga tinggi badannya yang menjulang menutupi cahaya dari jendela.
Dimas harus sedikit mendongak untuk menatap wajah murid yang tubuhnya lebih besar darinya itu.
"Sebentar lagi anak ini pasti marah besar dan memukul wajahku di depan seluruh teman sekelasnya."
"Dengan begitu aku punya alasan kuat untuk melaporkan kekerasan fisik ini dan membatalkan keikutsertaannya."
Dimas membatin kegirangan menunggu tinju keras mendarat di rahangnya.
Namun yang terjadi selanjutnya justru membuat darah di tubuh Dimas terasa membeku seketika.
Bara merapikan kerah bajunya dan tersenyum sangat tenang, sebuah senyuman yang persis seperti milik Husen.
"Terima kasih atas simpati yang sangat tidak diperlukan itu, Pak Dimas."
Suara Bara menggema berat namun intonasinya tertata sangat rapi dan elegan tanpa ada nada kemarahan sama sekali.
"Tapi Bapak salah besar jika menganggap kondisi ekonomi menentukan garis akhir nasib kami."
Mata Dimas sedikit melebar karena respons ini sama sekali tidak ada dalam skenario provokasinya.
"Kemiskinan bukanlah takdir mutlak yang diturunkan dari langit untuk kami terima begitu saja."
"Itu hanyalah kegagalan sistemik dari orang-orang dewasa bodoh yang tidak tahu cara mengelola sumber daya kota ini dengan benar."
Bara mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tepat ke dalam bola mata Dimas yang mulai terlihat panik.
"Dan saya ke provinsi minggu depan bukan untuk bersaing memamerkan harta atau jabatan orang tua."
"Saya ke sana untuk membuktikan bahwa di atas panggung argumen, otak yang terasah jauh lebih berharga daripada dompet yang tebal."
Skakmat.
Sebuah kalimat balasan yang begitu tajam, terstruktur, dan sangat mematikan mental tanpa menggunakan kekerasan fisik apa pun.
Seluruh murid kelas XI-7 menahan napas mereka karena terpesona melihat perubahan drastis dari ketua preman mereka.
Dimas langsung terdiam membisu seperti orang bodoh di depan murid yang baru saja dia hina itu.
Otaknya tidak mampu memproses kenyataan bahwa seorang anak jalanan bisa merangkai kata seindah mahasiswa hukum.
"K-kamu... kamu jangan terlalu sombong dulu dengan kata-katamu."
Dimas mencoba menjawab dengan terbata-bata karena rasa percaya dirinya baru saja dihancurkan dalam satu menit.
"Bapak hanya mengingatkan realita dunia nyata kepadamu agar mentalmu tidak hancur saat kalah nanti."
Bara tertawa pelan dan kembali duduk di kursinya dengan gaya santai yang sangat mendominasi keadaan.
"Mental saya sudah jauh lebih kuat dari baja sejak masuk ke kelas ini, Pak Dimas."
"Bapak lebih baik kembali ke meja depan dan mulai mengajar sejarah daripada mengkhawatirkan masa depan saya yang cerah."
Beberapa murid kelas XI-7 mulai tertawa kecil menertawakan wajah pucat pasi dari guru baru tersebut.
Dimas menelan ludah dengan susah payah dan berbalik berjalan setengah berlari kembali ke meja guru di depan.
Rasa malunya sangat luar biasa besar karena gagal memprovokasi dan malah dipermalukan telak oleh argumen murid.
Di luar jendela koridor, Husen berdiri menyender di dinding mendengarkan seluruh pertunjukan itu dengan senyum bangga.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem]
[Laporan Radar Sabotase Pasif]
[Target Dimas Anggara mengalami guncangan psikologis berat]
[Status Keyakinan Musuh menurun drastis menjadi 20%]
[Murid Bara berhasil mematahkan serangan mental menggunakan teknik Debat Terstruktur]
Husen mengangguk puas membaca laporan keberhasilan dari sistemnya pagi ini.
"Latihan sampai malam kemarin benar-benar membuahkan hasil yang jauh melebihi ekspektasiku."
"Bara sudah sepenuhnya mampu menguasai iblis di dalam dirinya dan mengubahnya menjadi pelindung yang tak tertembus."
Krieet.
Husen tiba-tiba mendorong pintu kelas dan melangkah masuk mengejutkan Dimas yang sedang mengatur napas di depan.
"Permisi Pak Dimas, maaf mengganggu jam pelajaran Anda sebentar pagi ini."
"Silakan Pak Husen, ada keperluan apa Bapak masuk ke kelas saya?"
Dimas memaksakan senyum ramahnya lagi meskipun wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
Husen menatap Dimas dengan senyuman misterius yang membuat bulu kuduk mata-mata itu berdiri.
"Saya hanya ingin mengingatkan anak-anak perwakilan lomba untuk berkumpul di ruang kepala sekolah usai jam pertama ini."
Husen mengalihkan pandangannya menatap Bara, Nisa, dan Rico secara bergantian.
"Kita harus segera mengurus surat jalan dan akomodasi karena besok pagi kita akan berangkat ke ibukota provinsi."
Bara langsung mengangkat tangannya memberikan hormat ala militer yang mengundang tawa teman-temannya.
"Siap laksanakan, Komandan Husen!"
"Kami udah nggak sabar mau meratakan sekolah-sekolah elite di sana besok pagi."
Nisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah konyol Bara namun sudut bibirnya tetap mengukir senyuman.
"Jangan bikin malu sekolah kita dengan tingkah anehmu nanti di sana, Bara."
"Fokus saja merangkai kata-katamu dengan benar seperti yang baru saja kamu pamerkan ke guru kita tadi."
Dimas yang mendengar percakapan itu merasa posisinya sebagai guru semakin tidak dihargai sama sekali di kelas ini.
"Orang-orang ini benar-benar gila, mereka memperlakukanku seperti pajangan mati di depan kelas."
Dimas membatin dengan penuh rasa dendam dan merogoh ponsel di saku celananya secara diam-diam.
Dia harus segera mengirimkan pesan darurat kepada Pak Surya bahwa target murid di sini tidak bisa dihancurkan secara mental.
Namun, sebelum jarinya sempat mengetik layar, sebuah suara notifikasi berbunyi dari ponsel Husen yang ada di depan.
Kring kring.
Husen mengambil ponselnya dan membaca pesan singkat dari Pak Haris yang baru saja masuk.
"Anak-anak, Pak Haris mengabarkan bahwa tiket kereta kita untuk besok sudah dibeli dan siap digunakan."
Husen menatap ke arah luar jendela kelas menuju langit pagi yang sangat cerah tanpa awan.
"Persiapkan mental dan fisik kalian malam ini sebaik mungkin di rumah."
"Panggung pembuktian terbesar kita telah memanggil, dan kita tidak akan pernah mundur satu langkah pun."