Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Normal dan Nomor Ponsel Arga
"Vi, dengerin gue baik-baik," Rara mendadak berdiri dari kursinya begitu mendengar derap langkah kaki mendekat dari koridor luar.
Dia membungkuk, menatapku dengan sorot mata yang sangat serius. "Sebentar lagi Arga masuk. Gue mohon sama lo, tolong bersikap normal. Jangan senyum-senyum kesenangan kayak orang menang lotre!"
Aku yang sedang memeluk bantal langsung menegang. "Normal gimana maksud kamu, Ra?"
"Ya layaknya orang yang baru ketemu. Tarik napas, kendalikan ekspresi muka lo. Jangan sampai dia curiga kalau lo emang sengaja mengincar dia ke kampus ini. Pokoknya, jutek dikit gak apa-apa, yang penting jangan kelihatan kegirangan!" bisik Rara cepat.
Aku menelan ludah, lalu mengangguk patuh. Aku membuang bantal ke samping, merapikan dudukku di atas ranjang, dan mencoba memasang wajah senetral mungkin, meski jantung di dalam dadaku sudah bergemuruh tidak keruan.
Tok! Tok!
Pintu ruang kesehatan terbuka. Sosok tinggi Arga Wijaya melangkah masuk. Namun, dia tidak sendiri. Di belakangnya, Danu mengekor dengan wajah yang dipenuhi guratan cemas. Keduanya masih mengenakan jersei basket yang tampak sedikit basah oleh keringat.
"Via! Astaga, lo gak apa-apa?" Danu langsung melesat maju ke samping ranjangku, mendahului Arga.
"Sori banget ya, tadi tim kami benar-benar lagi panas di lapangan. Gue shock banget pas tahu bola nyasar dari Arga malah kena kepala lo."
Aku memaksakan diri tersenyum tipis, melirik Rara sekilas sebelum menjawab Danu dengan nada seadanya. "Gak apa-apa kok, Danu. Cuma agak pusing sedikit aja tadi. Sekarang udah mendingan."
"Syukurlah." Danu menghembuskan napas lega, lalu menoleh ke belakang, memberikan ruang untuk temannya.
"Ini, kapten tim gue, Arga. Dia mau ngomong."
Arga melangkah maju satu langkah. Aroma keringat maskulin dan sisa ketegangan pertandingan masih menguar dari tubuhnya. Pria itu menatapku lurus, tatapan matanya yang tajam itu terasa begitu dingin, sangat kontras dengan tatapan penuh kehangatan yang selalu kuterima di dalam mimpi. Tidak ada senyuman sama sekali di wajah tampannya, hanya ada raut penuh tanggung jawab yang ketara.
"Gue minta maaf atas kejadian tadi," ujar Arga dengan suara baritonnya yang berat dan tenang.
"Gue tadi salah oper dan gak sengaja bikin lu pingsan. Tadi gue udah nanya ke Danu, katanya Rara ini sepupunya, dan lu... sahabatnya Rara."
Mendengar suara itu secara langsung dari jarak dekat, ingin rasanya aku melompat, memeluknya erat-erat, dan berbisik bahwa aku sama sekali tidak keberatan dihantam bola ratusan kali, asalkan bisa berada di dekatnya. Namun, peringatan Rara mendadak berdengung di telingaku. Bersikap normal, Via!
Aku menarik napas dalam, menahan gejolak di dadaku, lalu menjawab seperlunya dengan nada datar. "Iya, gak apa-apa. Namanya juga kecelakaan di lapangan, gak ada yang tahu."
Arga mengangguk pelan sekali, tangannya bertumpu di pinggang. "Gue tetap merasa bersalah. Kalau setelah ini lu ngerasa ada yang serius sama kepala lu, atau ada gejala mual akibat benturan tadi, lu bisa katakan ke gue. Gue bakal tanggung jawab penuh untuk semua biaya pengobatan lu ke rumah sakit."
Mendengar tawaran itu, sebuah kilatan ide brilian mendadak melintas di benakku. Ini dia kesempatannya.
"Kalau gitu..." aku menjeda kalimatku, berpura-pura memegangi pelipis dengan wajah agak meringis, seolah rasa pening itu kembali menyerang.
"Gimana cara aku ngabarin kamu kalau tiba-tiba kepalaku pusing lagi nanti. Aku kan gak punya kontak kamu."
Arga terdiam sejenak. Dia menatapku dengan mata menyipit, seperti sedang menilai apakah aku sedang mencari kesempatan atau benar-benar kesakitan. Keheningan di dalam ruangan itu sempat membuatku menahan napas.
"Biar lewat gue aja nanti, Ga," sela Danu mencoba memberi solusi.
"Gak usah, Dan. Ini tanggung jawab gue," potong Arga cepat.
Dia menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar agak berat, sebelum akhirnya merogoh kantong jerseinya dan mengeluarkan ponsel. "Sebutin nomor lu. Biar gue missed call."
Aku hampir saja memekik kegirangan, namun buru-buru kugigit bibir dalamku untuk menahannya. Dengan suara yang diusahakan tetap tenang, aku menyebutkan digit demi digit nomor ponselku. Detik berikutnya, ponsel di dalam tas kainku bergetar.
"Itu nomor gue," kata Arga sambil memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya, wajahnya masih sedingin es.
"Kalau ada keluhan soal kepala lu, langsung kabari. Gue harus balik ke ruang ganti dulu bareng Danu."
"Oke, makasih," jawabku singkat.
"Gue balik dulu ya, Vi, Ra. Cepat sembuh!" pamit Danu sambil melambaikan tangan, lalu berjalan keluar menyusul Arga yang sudah lebih dulu berbalik tanpa mengucapkan kata perpisahan lagi.
Begitu pintu ruang kesehatan tertutup rapat dan derap langkah mereka menjauh, aku langsung merogoh tas, mengambil ponsel, dan menatap nomor baru yang tertera di layar dengan mata berbinar. Topeng normalku langsung runtuh seketika.
"Rara!!! Aku dapat nomornya!" seru ku histeris dengan volume tertahan, menggoyang-goyangkan ponsel di depan wajah Rara.
Rara hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkahku. "Iya, selamat ya, Via. Tapi inget satu hal... lo lihat sendiri kan tadi. Dia dingin banget. Gak ada ramah-ramahnya sama sekali. Lo yakin masih mau lanjut ngedeketin cowok modelan begitu?"
Aku menatap nomor Arga di layar ponselku, lalu tersenyum penuh tekad. "Justru itu tantangannya, Ra. Es kalau diseduh air apa pun, pasti bakal cair kalau terus menerus disiram."
Setelah memastikan kondisiku sudah jauh lebih baik, aku dan Rara memutuskan untuk segera meninggalkan ruang kesehatan.
Kami berjalan beriringan menuju area parkir luar yang sore itu mulai tampak lengang. Namun, langkah kami mendadak terhenti saat melihat sebuah mobil Honda Jazz putih yang terparkir di dekat gerbang keluar. Danu berdiri di samping pintu kemudi, melambaikan tangannya begitu melihat kami.
"Hei! Sini!" panggil Danu dengan suara agak keras.
Aku mengernyitkan dahi, menoleh ke arah Rara dengan ragu. "Ra, si Danu ngapain masih di sini. Bukannya tadi dia mau ke ruang ganti?"
"Mana gue tahu. Samperin aja dulu, yuk," ajak Rara sambil menarik lenganku.
Begitu kami mendekat, Danu langsung membukakan pintu mobil untuk kami. "Gimana kepala kamu, Vi. Masih pusing banget? Kebetulan gue udah selesai beres-beres, jadi gue tungguin kalian di sini. Yuk, gue antar kalian pulang sekalian."
"Eh... gak usah, Dan. Merepotkan banget," jawabku refleks, merasa agak canggung karena merasa tidak enak pada Danu.
"Lagian kita bisa naik angkutan umum atau ojek online kok."
"Halah, gak usah sok menolak gitu deh, Via," potong Rara cepat sambil menyikut pinggangku.
Dia kemudian menoleh ke Danu dengan cengiran lebar. "Kebetulan banget, Nu. Ongkos hemat, dapet tumpangan adem lagi. Yuk, Vi, masuk!"
Rara langsung mendorong tubuhku masuk ke kursi penumpang bagian belakang, lalu dia ikut menyusul duduk di sampingku. Aku hanya bisa menghembuskan napas pasrah, menuruti paksaan sahabatku itu. Lagipula, pulang bertiga rasanya tidak akan memicu salah paham apa pun. Danu tersenyum tipis melihat tingkah kami dari kaca spion tengah, lalu mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Karena rute rumah Rara searah namun jaraknya sedikit lebih dekat dari kampus dibandingkan rumah kosku, Rara menjadi orang pertama yang harus turun. Mobil Danu berhenti tepat di depan gerbang perumahan Rara.
Sebelum membuka pintu untuk turun, Rara mendadak memajukan tubuhnya ke arah kursi kemudi, menepuk bahu sepupunya itu dengan pelan.
"Danu, nih anak satu kan baru aja pingsan gara-gara hantaman bola di kampus lo," ujar Rara dengan nada mengancam yang dibuat-buat, sambil menunjuk ke arahku.
"Awas ya, jaga dia baik-baik sampai depan rumah kosnya. Jangan sampai dia pingsan lagi di jalan atau lo ajak keluyuran!"
Danu tertawa lepas, menggeleng-gelengkan kepala. "Iya, Rara. Bawel banget sih lo. Gue pastikan Via sampai kosnya dengan selamat dan utuh tanpa lecet sedikit pun."
"Bagus. Via, gue duluan ya. Kalau kepala lo makin sakit, langsung hubungi si 'tanggung jawab' itu aja ya!" bisik Rara padaku dengan kedipan mata penuh arti, merujuk pada Arga.
"Iya, Ra. Makasih ya," jawabku sambil melambaikan tangan saat Rara akhirnya turun dari mobil.
Pintu mobil tertutup, dan kini tersisa aku dan Danu di dalam kabin yang mendadak terasa lebih sunyi. Mobil kembali melaju, membelah kemacetan sore yang mulai merayap.
Danu mulai membuka obrolan dengan nada suara yang sangat ramah, memecah kecanggungan diantara kami.
"Via, kalau AC-nya terlalu dingin bilang ya. Nanti gue kecilin biar kepala lu gak makin pening," kata Danu sambil melirikku sekilas dari kaca spion.
"Eh, gak apa-apa kok, Danu. Ini udah pas," jawabku dengan senyum sopan.
"Maaf ya soal tadi. Kampus gue emang kalau lagi sparring internal tensinya suka tinggi banget. Si Arga kalau udah bawa bola juga suka lepas kendali operannya," cerita Danu, mencoba mencairkan suasana.
"Lu sendiri kuliah di jurusan apa, Via? Rara sering cerita tentang lu, tapi dia jarang mention soal urusan kampus lu."
"Aku ambil jurusan Akuntansi, Danu. Ya... gitulah, tiap hari pusingnya sama angka, ditambah hari ini pusing kena bola basket," candaku sedikit, mulai merasa santai karena pembawaan Danu yang memang sangat bersahabat.
Danu terkekeh mendengar respons dariku. "Wah, ngeri juga ya. Untung gue ambil Manajemen, gak se-pusing Akuntansi kayaknya. Tapi serius, kalau nanti malam lu ngerasa mual atau pusingnya makin parah, jangan sungkan buat chat Arga. Dia emang kelihatan dingin dan kaku banget orangnya, tapi aslinya dia bertanggung jawab kok."
"Iya, Danu. Tadi dia juga udah bilang begitu," jawabku. menyembunyikan rasa senang karena nama Arga kembali disebut.
Sepanjang sisa perjalanan, Danu terus mengajakku mengobrol dengan topik-topik ringan, mulai dari cerita tentang dosen-dosen killer di kampusnya, hingga makanan favoritnya di sekitar area kampus. Sikapnya yang hangat membuat perjalanan yang macet ini terasa jauh lebih cepat.
Hingga akhirnya, mobil putih Danu berhenti dengan mulus tepat di depan pagar rumah kosku.
"Nah, sudah sampai dengan selamat tanpa lecet, sesuai amanah dari Rara," ujar Danu sambil memutar tubuhnya menghadap ke belakang, tersenyum ramah padaku.
Aku membuka pintu mobil, lalu berbalik menatapnya. "Makasih banyak ya, Danu. Maaf banget udah merepotkan kamu begini."
"Sama-sama, Via. Gak merepotkan sama sekali kok," jawab Danu tulus.
Pria itu kemudian menunjuk jidatku dengan jarinya dari kejauhan. "Saran gue, setelah ini langsung bersihin badan, makan yang banyak, terus istirahat yang cukup ya. Jangan main ponsel dulu biar saraf kepalanya gak tegang."
"Siap, Dokter Danu. Aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan!" seru ku riang.
Danu mengangguk dan memberikan lambaian tangan pendek, sebelum akhirnya melajukan kembali mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah kosku.
Aku berbalik memasuki rumah dengan perasaan yang campur aduk. Lelah fisik karena pingsan hari ini terbayar tuntas oleh sebaris nomor baru di ponselku. Target utama sudah di tangan, dan kini saatnya memikirkan langkah selanjutnya untuk mencairkan gunung es bernama Arga Wijaya.
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
AUTHOR'S NOTE
Yay, Chapter 10 is done! 🤩
Terima kasih banyak buat kamu yang selalu luangkan waktu untuk membaca cerita ini. Kehadiran kalian di setiap bab itu berharga banget buat aku.
Gimana menurut kalian aksi nekat Via sejauh ini? Berhasil dapat nomor Arga berkat bantuan bola basket, nih! Hehe...
Yuk, tetap semangat buat lanjut ke bab berikutnya, karena tantangan sesungguhnya baru akan dimulai.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya! ✨
Jangan lupa untuk vote, follow dan save cerita ini ya, agar tidak tertinggal update chapter berikutnya! 🤗