NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Sorak Kemerdekaan dan Rahasia Keringat

Pagi hari tanggal 17 Agustus disambut dengan kebahagiaan yang luar biasa di Desa Sukmawarna. Suara gelak tawa warga memecah udara segar kampung, diiringi lagu-lagu perjuangan yang menggelegar dari pengeras suara Balai Desa. Lapangan desa sudah dipenuhi bendera plastik merah putih yang digantung bersilang, tempat berbagai lomba tradisional digelar.

Di bawah naungan pohon asam tepi lapangan, Arkan bersandar rileks sambil memperhatikan Nayla yang sibuk mencatat nama-nama peserta lomba anak-anak menggunakan pulpen kayu ukir pemberiannya kemarin. Ada rasa hangat yang mengalir pelan di dada Arkan setiap kali melihat jemari lentik gadis itu meremas erat pulpen tersebut.

Nayla tidak pernah tahu rahasia di balik pulpen itu.

Arkan menyunggingkan senyuman tipis, teringat kejadian seminggu yang lalu. Sejak ayahnya membekukan seluruh fasilitas dan kartu ATM miliknya, Arkan benar-benar tidak memegang uang sepeser pun. Namun, keinginan untuk memberikan sesuatu yang berharga dan menghargai perjuangan gelar sarjana Nayla membuat gengsi Arkan luntur.

Arkan secara khusus meminta pekerjaan tambahan kepada Pak Barkah di sawah—mulai dari memindahkan batu kali hingga mencangkul sisa jerami. Selama empat hari berturut-turut, jemari Arkan yang biasanya memegang kemudi mobil mewah kini memar dan kapalan. Upah uang tunai lembaran sepuluh ribuan dari tetes keringat pertamanya seumur hidup itulah yang ia serahkan pada teman Karang Taruna untuk memesankan pulpen kayu ukir dari pengrajin kabupaten. Bagi Arkan yang dulu biasa membeli barang bermerek jutaan rupiah, pulpen seharga puluhan ribu ini justru terasa sejuta kali lebih bernilai.

"Woy, Mas Arkan! Malah melamun di situ!"

Tepukan mendarat di bahu Arkan, membuyarkan lamunannya. Reno muncul dengan kaus oblong bertuliskan Karang Taruna bersama Bagas, adik Nayla. Dua remaja SMA yang selalu menempel bagai amplop dan perangko itu tampak cengengesan.

"Mas Arkan, darurat nih! Pokoknya Mas Arkan harus mau gantiin posisi tim RT kita!" seru Reno panik tapi wujudnya bersemangat.

Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Gantikan apa?"

"Lomba tarik tambang lawan RT sebelah, Mas!" timpal Bagas heboh, mengacungkan ibu jarinya. "Si Mas Dimas sama bapak-bapak Karang Taruna kekurangan satu orang tegap. Kalo Mas Arkan yang masuk, badan tinggi tegap begini, dijamin RT kita menang mutlak! Mbah Harjo sama Ibu aja udah nungguin di pinggir lapangan mau nonton!"

Arkan langsung menggeleng tegas. "Gak mau. Konyol."

"Yah... Mas Arkan gengsian amat!" cerocos Reno sambil menarik-narik kemeja Arkan. "Lihat tuh, Mbak Nayla aja yang pegang bendera wasitnya! Masa Mas Arkan gak mau tebar pesona di depan Mbak Nayla?"

Bagas ikut menyenggol lengan Arkan sambil berbisik jahil, "Iya Mas, Mbak Nayla paling suka cowok yang kelihatan laki banget pas lomba. Kalau Mas Arkan menang, ntar tak bantu dapet restu dari Bapak!"

Arkan mendengus geli, tapi lirikan matanya sempat menangkap Nayla di seberang lapangan yang sedang tersenyum menatapnya. Terpancing oleh provokasi dua remaja tengil itu dan rasa gengsinya sendiri, Arkan akhirnya menghela napas pasrah. "Ya udah, awas kalian kalau sampai kita kalah."

"Asek! Si Tuan Muda Jakarta turun gunung!" sorak Reno dan Bagas kompak sambil melakukan high-five heboh.

Kemeriahan lomba tarik tambang pecah seketika. Di garis depan, Arkan berdiri tegap memegang tambang ijuk yang tebal, disusul oleh Dimas di belakangnya. Meski keduanya adalah saingan cinta, di arena lomba ini mereka terpaksa bekerja sama demi kehormatan RT mereka.

"Satu... dua... TIGA! TARIK!" teriak Nayla sambil mengibaskan bendera merah putih.

Sorak-sorai warga membahana. Bude Lastri sampai memukul-mukul panci bekas untuk memberi semangat, sementara Mbah Harjo tertawa terbahak-bahak dari atas bangku bambu.

"Tarik, Le! Tarik Arkan! Kalahkan RT sebelah!" teriak Bude Lastri heboh.

Arkan mengerahkan seluruh tenaga otot lengannya yang kekar, kakinya mencengkeram tanah dengan kokoh. Ujung matanya sempat menangkap Nayla yang melompat-lompat kecil sambil berteriak memberi semangat untuk tim mereka. Melihat binar mata gadis itu, motivasi Arkan mendadak naik seratus persen.

Dengan satu hentakan kuat dan aba-aba kompak dari Dimas, tim Arkan berhasil menarik tambang melewati garis batas!

"MENANG!" teriak Bagas dan Reno histeris, langsung menubruk Arkan dan memeluknya heboh.

Arkan yang biasanya dingin dan tidak suka disentuh sembarangan, kali ini tak bisa menahan tawa renyahnya. Di tengah riuhnya lapangan, pandangan Arkan bertubrukan lurus dengan Nayla. Gadis itu tersenyum sangat lebar dan bertepuk tangan bangga untuknya, membuat dada Arkan berdebar jauh lebih kencang dibanding saat menarik tambang tadi.

***

Sore berganti malam dengan cepat. Acara puncak Panggung Seni Kemerdekaan Desa Sukmawarna berlangsung meriah di aula luar balai desa. Lampu-lampu hias gantung memancarkan cahaya kuning hangat, menaungi warga yang duduk rapi menikmati pertunjukan tari tradisional dari anak-anak desa.

Di sudut belakang aula yang agak remang, Arkan berdiri tegap mengenakan kemeja katun hitam yang rapi. Tatapan matanya terkunci pada sosok Nayla yang baru saja selesai bertugas sebagai pembawa acara. Gadis itu tampak begitu anggun dan cantik luar biasa malam ini dengan balutan kebaya modern berwarna marun dan kain batik yang indah.

Reno yang kebetulan lewat membawa dus minuman kemasan menyenggol pelan pinggang Arkan. "Mas Arkan... Mbak Nayla udah selesai tuh tuh. Jangan cuma dipandangi kayak patung. Keburu disamber orang nanti."

Arkan menatap Reno datar, tapi tangannya bergerak merapikan kerah kemejanya. "Kamu pergi sana, jangan mengganggu."

"Siap, Bos! Kalo sukses, jajanin es kelapa ya!" tawa Reno nakal lalu ngacir kabur bergabung dengan Bagas di dekat panggung.

Arkan menghembuskan napas panjang untuk menata detak jantungnya yang berpacu liar. Ia lalu melangkah pelan mendekati Nayla yang sedang berdiri sendirian di dekat jalan setapak samping aula, memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.

"Acaranya bagus," suara bariton Arkan memecah keheningan malam, membuat Nayla tersentak kaget dan menoleh.

Nayla tersenyum manis begitu mendapati Arkan berdiri di sampingnya. "Arkan... Kaget aku. Makasih ya... oh iya, selamat ya tadi siang tim tarik tambangnya menang! Hebat banget."

"Itu cuma karena ada yang teriakin semangat dari pinggir lapangan," sahut Arkan santai, membuat pipi Nayla seketika merona merah di bawah cahaya lampu temaram.

Arkan menatap sepasang mata bulat milik Nayla dalam-dalam. Wajahnya berubah menjadi sangat serius, menghilangkan semua sisa tengil atau canda gurau sebelumnya.

"Nayla," panggil Arkan pelan tapi berbobot sangat dalam. "Ikut saya sebentar .Ada hal paling penting yang harus saya katakan... malam ini juga."

Nayla memegangi dadanya yang mendadak berdesir heboh. Ia bisa merasakan keseriusan dari sorot mata Arkan. Tanpa ragu, Nayla menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Arkan... mari."

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!