Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Tinta yang Benar
Pagi berikutnya, Jian Chen berdiri di depan meja Tetua Yan di ruang Aula Hukum dengan gulungan daftar peserta di tangannya. Ruangan itu kecil, bersih, dan terlalu sepi. Di dindingnya tergantung satu lukisan kaligrafi bertuliskan satu kata: Adil.
Tetua Yan membaca formulir pendaftaran yang diletakkan di mejanya dengan wajah tanpa ekspresi. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepala.
"Formulir ini sah," katanya. "Tinta, kertas, dan format semuanya sesuai. Satu-satunya yang tidak ada adalah stempel pendaftar."
"Tetua, aku tidak pernah menulis formulir itu."
"Aku percaya." Tetua Yan menaruh formulir itu di meja. "Tetapi aturan turnamen berkata bahwa pendaftaran yang diterima aula dianggap sah sampai ditarik secara resmi. Dan penarikan secara resmi hanya boleh dilakukan oleh peserta itu sendiri."
"Kalau aku menarik namaku?"
"Maka kau dicatat sebagai peserta yang mundur setelah pendaftaran. Itu berarti kau tidak boleh mendaftar lagi selama tiga tahun, dan namamu tercatat sebagai murid yang gentar." Tetua Yan menyilangkan jemari. "Aku tidak mengatakan itu adil. Aku hanya mengatakan itu aturannya."
Jian Chen menatap lukisan di dinding. Adil. Ia hampir tertawa.
"Dan kalau aku tetap ikut?"
"Maka kau bertarung seperti peserta lain." Tetua Yan menatapnya tajam. "Seratus delapan peserta dibagi dalam sembilan lingkaran penyisihan. Dalam setiap lingkaran, dua belas orang bertarung bebas. Siapa yang keluar dari lingkaran, jatuh dan tidak bangkit dalam sepuluh hitungan, atau menyerah, gugur. Dua orang terakhir lolos dari tiap lingkaran. Dari delapan belas orang, enam belas terbaik masuk perempat final, dua sisanya gugur lewat undian. Lalu semifinal, lalu final."
"Senjata?"
"Senjata asli diizinkan. Qi tidak dibatasi. Membunuh dilarang, tetapi aku tidak akan berbohong: setiap tahun ada yang mati." Tetua Yan mengetuk meja dua kali. "Delapan terbaik masuk sekte dalam sebagai murid resmi. Itu kesempatan yang jarang untuk murid luar. Dan juga risiko yang besar. Murid yang kalah di penyisihan biasanya kembali ke luar dengan reputasi rusak."
"Aku mengerti."
"Pikirkan baik-baik. Kau punya sampai akhir pekan."
"Tetua," kata Jian Chen sebelum ia keluar. "Siapa yang menerima formulir itu di aula?"
"Seorang pembantu. Ia tidak ingat wajah pendaftarnya. Kata dia, formulir itu diselipkan di bawah pintu semalam sebelum hari terakhir pendaftaran." Tetua Yan menyipitkan mata. "Aku sudah memintanya diselidiki. Aku akan mengabarimu kalau ada hasil."
Jian Chen membungkuk dan keluar. Di ujung koridor, Zhao Feng bersandar di tiang dengan lengan terlipat. Ia menunggu sampai Jian Chen mendekat.
"Tulisan di formulir itu," katanya pelan. "Aku sudah membandingkannya."
"Dan?"
"Cocok dengan tulisan Hu Min. Persegi, datar, dan rapi." Zhao Feng berjalan di samping Jian Chen. "Orang yang menghilang tiga bulan lalu menyelipkan formulir ke bawah pintu aula dua hari lalu. Itu berarti ia masih hidup, atau seseorang menulis dengan tangannya."
"Mereka ingin aku ikut turnamen."
"Itu kesimpulanku juga." Zhao Feng menatap lurus. "Ada dua kemungkinan. Pertama, mereka ingin kau bertarung di depan banyak mata, supaya semua orang melihat sampai di mana kemampuanmu. Kedua, mereka ingin kau mati di salah satu pertandingan."
"Kenapa tidak keduanya?"
"Mungkin keduanya." Zhao Feng menghela napas. "Aku bisa membuatmu mundur dengan alasan lain. Aku bisa bicara dengan Tetua Yan."
"Itu tidak akan menolong. Kalau aku mundur, mereka tahu aku takut."
"Lalu?"
"Aku ikut," kata Jian Chen. "Tapi aku tidak akan bertarung seperti yang mereka harapkan."
Zhao Feng berhenti. "Apa maksudmu?"
"Aku butuh daftar lawan sebelum undian. Dan aku butuh seseorang yang bisa memastikan lingkaranku tidak diisi orang-orang yang dipilih untuk menyakitiku."
"Aku bisa mendapatkannya."
"Satu hal lagi. Apakah Shen Yu ikut?"
"Dia mendaftar dua hari sebelum kau," jawab Zhao Feng. "Atas nama sendiri."
Jian Chen mengangguk. Tentu saja Shen Yu ikut. Ia tidak tahu kenapa pertanyaan itu terasa penting, atau kenapa jawabannya membuat dadanya sedikit tidak nyaman.
Siang itu, bengkel Dao dipenuhi orang lagi. Dao duduk di atas landasan, Lin Xue di atas peti, Qiu Bo dan Tan Fu di lantai, Ye Ran memeluk lampionnya. Jian Chen berdiri di tengah dan menjelaskan semuanya dengan nada singkat: formulir, stempel kosong, tulisan Hu Min, pilihan yang ia ambil.
"Jadi kau ikut," kata Dao. "Padahal kau tahu itu jebakan."
"Ya."
"Kau gila."
"Mungkin." Jian Chen menyilangkan lengan. "Tapi kalau aku menolak, jebakan itu tetap ada. Aku tidak mau menghabiskan setahun menoleh ke belakang."
"Kau punya rencana?" tanya Lin Xue.
"Tiga bulan. Latihan, pengamatan lawan, dan persiapan. Dao, aku butuh sesuatu untuk melatih ketahanan lengan kiri."
"Ketahanan lengan kiri?" Dao mengangkat alis. "Kau mau jadi kidal?"
"Aku mau bisa memakai keduanya."
"Aneh, tapi kuterima." Dao menggaruk dagu. "Aku akan membuat satu pedang pendek untuk tangan kiri. Yang ringan, tapi seimbang."
"Terima kasih."
"Aku akan menyiapkan ramuan pemulih," kata Lin Xue. "Dan jadwal makan. Kau akan makan daging empat kali seminggu mulai sekarang."
"Itu mahal."
"Kau masih punya sisa sepuluh poin dari Tetua Yan, dan aku punya cadangan dari pondok pengobatan." Lin Xue menatapnya tajam. "Aku tidak mau mendengar bantahan."
"Aku tidak membantah."
"Bagus."
"Aku mau bantu juga," kata Qiu Bo. "Apa yang bisa kulakukan?"
"Kau bisa menghitung," kata Jian Chen sambil tersenyum. "Selalu menghitung."
"Itu keahlianku." Qiu Bo membusungkan dada.
Ye Ran menarik ujung baju Jian Chen. "Kakak. Apakah ada orang jahat di turnamen?"
Jian Chen berlutut, menatapnya. "Mungkin ada."
"Apakah Kakak akan terluka?"
"Mungkin sedikit."
"Aku akan berdoa."
"Terima kasih," kata Jian Chen. Ia menepuk kepala Ye Ran dengan lembut. "Kau doakan saja supaya aku tidak terlalu banyak terluka."
Menjelang malam, ketika semua orang sudah pulang, Lin Xue menahan langkahnya di ambang pintu bengkel. "Jian Chen."
"Ya?"
"Kau tidak takut?"
"Takut," jawab Jian Chen jujur. "Tapi lebih takut kalau aku tidak tahu siapa yang menulis namaku."
"Itu jawaban yang bodoh dan benar sekaligus." Lin Xue mengangguk. "Pulanglah. Tidur."
Ia pergi, meninggalkan Jian Chen sendirian di depan bengkel dengan pedang pemberian Dao di tangan. Bilah perak kebiruan itu memantulkan cahaya bulan yang pucat. Ia menimbangnya, memutarnya, lalu menurunkannya perlahan.
Tiga bulan. Seratus delapan peserta. Satu pendaftar yang menulis dengan tangan orang hilang. Dan satu sahabat yang mendaftar atas nama sendiri dua hari sebelum dirinya.