NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Langkah kaki tergesa-gesa bergema dari lorong pintu masuk. Fiora berlari masuk dengan senapan mengacung, diikuti Leo yang bersembunyi di balik punggungnya. Namun, langkah gadis itu terhenti seketika saat menyaksikan pemandangan di tengah ruangan.

Marcus terbaring kaku tak bernyawa, sementara Hayden berlutut di tengah pecahan kaca dan genangan cairan 'Genesis' yang mulai mengering di atas lantai semen.

"Hayden..." panggil Fiora bergetar, menurunkan senjatanya perlahan.

Hayden tidak menjawab. Tangannya yang bergetar hebat memegangi pecahan kaca tipis, membiarkan ujungnya yang tajam menggores telapak tangannya sendiri tanpa memedulikan rasa sakit. Matanya menatap kosong ke lantai, napasnya memburu penuh ketidakberdayaan.

"Vaksinnya... sudah hancur, Fiora," bisik Hayden, suaranya parau dan tercekik oleh rasa putus asa yang mendalam. "Semuanya selesai. Harapan kita... habis."

Fiora melangkah mendekat, perlahan berlutut di samping Hayden. Tangannya dengan lembut menggenggam pergelangan tangan Hayden, memintanya melepaskan pecahan kaca yang membahayakan itu.

"Dengar, Hayden. Lihat aku," ujar Fiora dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan keteguhan.

Hayden berpaling, menatap mata amber Fiora yang berkaca-kaca.

"Vaksin di dalam botol itu memang sudah hancur," lanjut Fiora seraya menatap Hayden lurus-lurus, lalu melirik pelan ke arah Leo yang berdiri ketakutan tidak jauh dari mereka. "Tapi racikan aslinya... kuncinya... tidak pernah ada di dalam botol kaca itu sejak awal."

Fiora menarik napas panjang, meremas jemari Hayden yang dingin.

"Catatan Ayah jelas, Hayden. Formulasi 'Genesis' dibentuk berdasarkan antibodi di dalam darah Leo. Selama Leo ada bersama kita dan data ekstraksi milik Ayah aman, kita masih bisa mereplikasi vaksin itu dari awal di laboratorium Oase."

Kata-kata Fiora perlahan menembus kabut keputusasaan di kepala Hayden. Pria itu menatap Fiora, lalu beralih menatap Leo—bocah kecil yang kini memandangnya dengan mata bulat polos, seolah menyadari betapa penting dirinya bagi orang-orang di sekitarnya.

Perlahan, jemari Hayden melepaskan pecahan kaca yang tergenggam. Kehancuran botol terakhir itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan baru yang sebenarnya.

Fiora membimbing Leo mendekat, lalu dengan penuh kehangatan meraih jemari Hayden yang terlepas dari keputusasaan. Hayden menatap bocah itu lama, merasakan hembusan napas hangat dan detak jantung kehidupan yang nyata—bukan sekadar cairan dingin di dalam tabung kaca.

Ia mengusap darah di tangannya, perlahan bangkit berdiri. Ruangan yang sebelumnya terasa mencekam oleh kematian Marcus kini perlahan menghening. Pemancar militer di atas kepala mereka masih berdiri tegap, siap memancarkan sinyal ke seluruh penjuru yang tersisa.

"Kita tinggalkan tempat ini," bisik Hayden, suaranya kini kembali tenang dan sarat akan tekad baru.

Ia memungut senapannya, membalikkan badan tanpa memandang lagi jasad Marcus maupun genangan 'Genesis' yang telah mengering di lantai. Kematian dan kehancuran yang tertinggal di belakang tak lagi memiliki kuasa atas mereka.

Fiora merangkul bahu Leo, menuntun langkah kecil anak itu berjalan berdampingan dengan Hayden menembus kabut pagi yang perlahan menipis. Di luar kompleks pemancar, *Armored Rover* masih bersiap menunggu mereka.

Matahari fajar mulai terbit di balik ufuk pegunungan, menyinari jalanan panjang yang membentang menuju Oase. Mereka melangkah pergi, membawa kunci harapan yang sesungguhnya menuju masa depan yang baru.

Deru mesin *Armored Rover* bergema halus, membelah keheningan lereng bukit saat Fiora menginjak pedal gas. Hayden duduk di kursi penumpang depan, menatap lurus ke jalanan tanah yang berdebu. Di kaca spion tengah, ia bisa melihat Leo yang terlelap di kursi belakang, memeluk erat boneka beruangnya tanpa tahu bahwa seluruh masa depan manusia kini bertumpu di pundak kecilnya.

"Ke mana arah kita sekarang, Hayden?" tanya Fiora pelan, jemarinya mencengkeram erat lingkar kemudi. "Fasilitas Oase jaraknya ratusan kilometer dari sini, dan kita butuh laboratorium kelas empat untuk memproses antibodi Leo."

Hayden membuka peta navigasi militer yang terpasang di dasbor. Matanya menyapu titik-titik koordinat wilayah utara yang sebagian besar sudah ditandai sebagai zona merah terinfeksi.

"Kita tidak bisa mengambil rute utama," sahut Hayden tenang. "Aegis Corporation pasti melacak sinyal pemancar terakhir Marcus. Begitu mereka tahu Marcus tewas dan pasukannya habis, mereka akan menyebar armada pemburu ke seluruh sektor ini."

Ia menunjuk sebuah titik kecil yang tersembunyi di perbatasan lembah, jauh dari pemukiman warga maupun markas militer.

"Di sana ada pos pengungsian tua milik regu penyelamat. Tempatnya terisolasi dan punya pasokan bahan bakar cadangan. Kita isi penuh tangki di sana sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke Oase."

Fiora melirik peta tersebut lalu mengangguk setuju. Ia memutar kemudi, mengarahkan mobil baja itu menelusuri jalan setapak memotong hutan pinus, menjauh dari kompleks pemancar yang kini tenggelam dalam ingatan masa lalu.

Matahari makin tinggi menyinari perjalanan mereka. Meski bahaya dari Aegis dan ancaman kawanan zombie masih membayangi di depan sana, kali ini mereka bergerak bukan lagi untuk mengejar bayangan cangkang kosong—melainkan untuk melindungi satu-satunya harapan nyata yang masih bernapas.

Perjalanan menelusuri rute hutan pinus berjalan tenang hingga *Armored Rover* mendadak memelan. Di depan mereka, akses menuju pos pengungsian tua terhalang oleh barikade batang kayu besar dan kawat berduri yang ditata rapi. Ini bukan barikade militer, melainkan buatan tangan manusia yang masih hidup.

"Hayden, ada orang di depan," bisik Fiora seraya menghentikan mobil dan mematikan lampu utama.

Belum sempat Hayden menyambar senapannya, tiga figur bermunculan dari balik rimbunnya semak belukar. Mereka mengarahkan senjata rakitan dan tombak besi ke arah *Armored Rover*.

Seorang wanita bertubuh tegap dengan jaket kulit lusuh dan bekas luka tembak di pipinya melangkah maju memimpin rombongan. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang memegang pemindai radiasi portabel, serta seorang pemuda sibuk menggenggam radio panggil yang bersekrup kasar.

"Turun dari kendaraan dengan tangan di atas!" teriak wanita berjaket kulit itu tegas, suaranya menggema di antara pepohonan. "Kami tidak cari masalah, tapi kami tidak terima orang asing yang membawa wabah ke area kami!"

Hayden menatap Fiora dan mengisyaratkan agar tetap tenang. Ia perlahan membuka pintu mobil, melangkah keluar sambil mengangkat kedua tangannya terbuka—menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyerang.

"Kami hanya menumpang lewat dan butuh bahan bakar," ujar Hayden tenang namun berwibawa. "Kami tidak terinfeksi."

Pria berkacamata maju beberapa langkah, mengarahkan alat pemindai ke arah Hayden. Alat itu berbunyi bip teratur dengan lampu hijau menyala. "Bersih, Sarah. Dia tidak membawa jejak patogen."

Wanita bernama Sarah itu perlahan menurunkan moncong senjatanya, meski matanya tetap menatap Hayden dan Fiora yang mulai keluar menuntun Leo dengan penuh kewaspadaan.

"Aku Sarah, pemimpin penyintas Sektor Tujuh," ucap wanita itu, nada bicaranya sedikit melunak saat melihat keberadaan Leo. "Dan ini Dr. Evan serta Tom. Sudah bertahun-tahun kami tidak melihat kendaraan militer melintas di rute mati ini. Siapa kalian sebenarnya?"

Hayden menatap ketiga orang asing di hadapannya. Di tengah dunia yang hancur, pertemuan dengan kelompok penyintas yang terorganisasi seperti ini bisa menjadi ancaman baru—atau justru sekutu yang mereka butuhkan untuk mencapai Oase.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!