Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diremehkan
Lapangan tembak barak militer yang biasanya dipenuhi suara instruksi para pelatih kini ramai oleh para tentara yang penasaran ingin menyaksikan pertandingan antara Gubernur Zea dan Letnan Satu Soraya.
Kabar bahwa putri Mayor Jenderal Agus itu menantang gubernur termuda tersebut sudah menyebar dengan cepat, membuat beberapa tentara bahkan rela menghentikan aktivitas mereka demi melihat jalannya pertandingan.
Meski itu melanggar aturan. Bagaimana bisa seorang tentara menantang gubernur. Tapi Soraya tentu tidak takut karena merasa punya backingan yaitu sang ayah.
Di salah satu jalur tembak, Zea dan Soraya berdiri berdampingan sambil saling memandang.
Di hadapan mereka telah tersedia perlengkapan keselamatan, senapan latihan yang digunakan sesuai prosedur lapangan, serta papan target yang terpasang cukup jauh dari posisi mereka.
Seorang petugas memberikan arahan mengenai aturan pertandingan dan memastikan seluruh perlengkapan keselamatan terpasang dengan benar.
Zea dan Soraya kemudian mengenakan pelindung telinga, kacamata pelindung, serta rompi antipeluru sebelum menempati posisi masing-masing.
Zea terlihat santai, sesekali membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. Sementara itu, Soraya berdiri dengan penuh percaya diri, seolah-olah kemenangan sudah berada di tangannya bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Sagara berdiri tidak jauh dari garis aman bersama Intan. Tatapannya terus mengikuti gerak-gerik Zea, sementara Intan tampak jauh lebih antusias daripada orang yang sebenarnya sedang bertanding.
Soraya yang berdiri di sebelah Zea kemudian menoleh dengan senyum tipis. “Bu Gubernur, Anda tahu cara menggunakan senapan, bukan?”
Zea menatapnya sebentar. “Kalau melihat orang menggunakannya, pernah.”
Senyum Soraya semakin lebar. “Maksud Anda, Anda belum pernah berlatih menembak?”
“Kurang lebih begitu.”
“Begitu, ya?” Soraya mengangguk pelan, tetapi nada suaranya terdengar meremehkan. “Saya kira seseorang yang berani menerima tantangan seperti ini setidaknya sudah memiliki pengalaman.”
Zea sama sekali tidak tersinggung. Ia malah mengangkat bahu dengan santai. “Kalau harus punya pengalaman dulu baru boleh mencoba sesuatu, berarti orang yang baru belajar tidak akan pernah punya pengalaman, dong?”
Beberapa tentara yang mendengar jawaban itu langsung saling melirik. Ada yang tersenyum kecil, sementara yang lain buru-buru memasang wajah serius ketika Soraya menoleh ke arah mereka.
Soraya memilih tidak menanggapi perkataan Zea lebih jauh. Ia mengarahkan pandangannya ke papan target di kejauhan, lalu kembali menatap sang gubernur dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, saya mulai lebih dulu untuk memberikan Anda contoh.”
“Silakan,” jawab Zea santai. “Saya menonton saja dulu.”
Petugas lapangan memastikan posisi keduanya aman dan memberikan aba-aba bahwa Soraya boleh memulai gilirannya.
Soraya segera mengambil posisi sesuai instruksi, memusatkan perhatian pada target, lalu mengangkat senapan dengan gerakan mantap.
Suasana lapangan perlahan menjadi hening. Para tentara yang tadi berbisik-bisik kini memperhatikan Soraya dengan serius karena mereka sudah mengenal kemampuan perempuan itu.
Soraya memang dikenal berbakat dalam latihan menembak. Sebagai seorang letnan satu, ia memiliki pengalaman latihan yang jauh lebih banyak daripada Zea, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang menganggapnya sebagai pihak yang akan unggul dalam pertandingan tersebut.
Setelah memastikan posisinya benar dan menunggu aba-aba petugas, Soraya membidik target. Sesaat kemudian, suara tembakan memecah udara.
Dor!
Peluru mengenai papan target tapi tidak terlalu di tengah. Para tentara langsung bertepuk tangan, sementara Soraya menurunkan senapannya dengan ekspresi puas.
“Bagus sekali, Letnan!” seru salah seorang tentara.
“Sudah kuduga! Kemampuan Letnan Soraya memang tidak perlu diragukan lagi,” sahut yang lain.
Soraya tersenyum kecil sambil melirik Zea. Ia berusaha menunjukkan sikap rendah hati, tetapi sorot matanya seolah mengatakan bahwa pertandingan ini tidak akan sulit baginya.
Petugas kemudian memeriksa hasil tembakan dan mengumumkan nilainya. Beberapa tentara mulai menghitung skor dengan antusias, membandingkan posisi tembakan Soraya dengan lingkaran pada papan target.
“Nilainya tinggi sekali! 9 lho! ” seru seorang tentara setelah melihat hasilnya.
“Kalau begini, kemungkinan besar Letnan Soraya yang menang.”
“Ya iyalah. Menembak memang keahliannya, sedangkan Bu Gubernur tadi bilang hanya pernah melihat orang menembak.”
Intan yang mendengar komentar tersebut langsung melipat kedua tangannya di depan dada. “Hei, jangan meremehkan orang dulu. Kalian belum melihat Zea mencoba.”
Salah seorang tentara menoleh kepadanya. “Mbak Intan, kami bukan meremehkan, kok. Kami hanya melihat kenyataan bahwa Letnan Soraya memang sudah berpengalaman.”
“Ya sudah, lihat saja nanti,” balas Intan, meskipun dalam hati ia sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.
Di sisi lain, Sagara masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ia tidak ikut berkomentar, tetapi tatapannya sesekali beralih kepada Zea yang kini bersiap mengambil giliran.
Soraya melangkah mundur dari posisi tembak dengan senyum percaya diri. “Silakan, Bu Gubernur. Sekarang giliran Anda.”
Zea mengangguk, kemudian mendekati posisi yang telah ditentukan. Ia mendengarkan arahan petugas dengan saksama, memastikan perlengkapan keselamatannya tetap terpasang, lalu mengambil posisi sesuai instruksi.
Para tentara kembali memperhatikan dengan rasa penasaran. Sebagian sudah memperkirakan bahwa hasil tembakan Zea tidak akan sebaik Soraya, bahkan ada yang diam-diam merasa pertandingan itu akan segera berakhir.
“Kasihan juga kalau Bu Gubernur kalah telak,” bisik seorang tentara.
“Setidaknya beliau sudah berani mencoba.”
Soraya mendengar bisikan itu dan menyembunyikan senyum puasnya. Ia berdiri di samping petugas, menunggu dengan penuh keyakinan bahwa sebentar lagi semua orang akan menyaksikan perbedaan kemampuan mereka.
Ketika Zea menyelesaikan persiapannya dan mengikuti aba-aba petugas, suasana lapangan kembali hening. Zea mengarahkan perhatiannya pada papan target, lalu melakukan tembakan sesuai prosedur yang baru saja dijelaskan kepadanya.
Dor!
Suara tembakan menggema di lapangan. Semua orang serentak mengalihkan pandangan ke arah papan target, menunggu hasilnya dengan napas tertahan.
Petugas memeriksa sasaran, kemudian mengangkat kepalanya dengan ekspresi terkejut. “Tembakan Bu Gubernur tepat mengenai target! 10 Poin!”
“Apa?” seru beberapa tentara hampir bersamaan.
Mereka segera mendekat ke batas pengamatan yang diizinkan untuk melihat hasilnya dengan lebih jelas.
Tembakan Zea ternyata mengenai sasaran dengan sangat baik, membuat orang-orang yang sebelumnya meragukannya mendadak kehilangan kata-kata.
Intan melompat kecil sambil bertepuk tangan. “Wah! Zea, kamu benar-benar kena!”
Zea menurunkan senapannya setelah petugas menyatakan gilirannya selesai. Ia menoleh kepada Intan dengan wajah biasa saja, seolah-olah tidak baru saja membuat sekelompok tentara terkejut.
“Memangnya kenapa? Aku kan cuma mengikuti arahan tadi.”
“Cuma mengikuti arahan?” Intan menatapnya tak percaya. “Kamu tahu nggak, tadi mereka semua sudah yakin kamu bakal kalah!”
Zea melirik para tentara yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda. “Oh, begitu? Berarti mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan, dong.”
Beberapa tentara langsung terbatuk-batuk kecil, berusaha menyembunyikan rasa malu karena perkataan Zea memang benar adanya.
Soraya sendiri berdiri terpaku. Senyum percaya diri yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang ketika ia menyaksikan hasil tembakan Zea.
Ia kembali memandang papan target, seolah berharap ada kesalahan dalam pemeriksaan. Namun, petugas tidak mengubah pengumumannya dan tetap mencatat hasil tembakan Zea sesuai ketentuan.
Soraya mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia datang dengan keyakinan bahwa Zea tidak akan mampu menandingi kemampuannya, tetapi tembakan pertama gubernur itu justru berhasil membuat semua orang terkejut.
“Kita ulangi, pasti cuman keberuntungan saja!”
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏