Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Makin Tajam
"Syafiya, maaf membebankan dirimu menjaga Elvano," ucap Valerie lirih begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar, wajahnya tampak begitu pucat dan lelah setelah berdebat dengan mertuanya tadi.
Syafiya yang masih duduk di atas ranjang buru-buru mengusap sisa air matanya, berusaha menyunggingkan senyum tipis.
"Tidak apa-apa, Kak. Elvano juga tidak rewel kok, dia tadi tidur anteng."
Valerie melangkah mendekat untuk mengangkat putranya dari atas tempat tidur. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Hidungnya mengendus udara sekitar dengan kening berkerut.
"Kok bau parfum Mas Zeffan?" tanya Valerie curiga, matanya menatap tajam ke sekeliling kamar Syafiya.
Jantung Syafiya mendadak berdegup kencang, napasnya tertahan.
"O-oh... itu, Kakak tadi jenguk Elvano sebentar," jawab Syafiya terbata-bata, berusaha menutupi kegugupannya setengah mati.
Valerie mendesah pelan, memilih tidak memperpanjang karena pikirannya sudah terlalu kalut.
"Iya sudah kalau begitu."
Saat Valerie mengambil Elvano dan mendekap balita itu ke dalam gendongannya, Syafiya melihat koper kecil di dekat pintu. Rasa bersalah karena menyimpan rahasia busuk dengan suami wanita itu membuat Syafiya nekat membuka suara.
"Kakak mau pergi?" tanya Syafiya hati-hati.
Valerie menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dengan dingin.
"Iya, mau pergi ke tempat orang tuaku."
"Kak, sebaiknya jangan pergi. Kakak harus selesaikan rumah tangga Kakak dulu di sini," bujuk Syafiya tulus, meski suaranya bergetar.
"Bukan urusan kamu, Syafiya," sahut Valerie ketus, menatap tajam adik iparnya.
"Memang bukan urusanku, Kak. Tapi Kak Zeffan kakakku, walaupun kakak angkat. Dia juga memiliki perasaan, Kak... Kasihan Kak Zeffan kalau Kakak begini terus," lanjut Syafiya, berusaha bersandiwara demi meredam amarah Zeffan, meski hatinya sendiri tercabik-cabik.
Mendengar Syafiya justru membela pria yang telah menghancurkan kewarasannya, batas kesabaran Valerie akhirnya benar-benar habis. Emosi yang tertahan sejak pagi membuncah seketika.
"Kamu bela Mas Zeffan?!" seru Valerie dengan suara gemetar penuh kemarahan. "Kamu pikir aku mau pergi kalau dia sendiri nggak ngusir aku secara nggak langsung lewat sikap kasarnya?!"
"Bukannya begitu, Kak... Maksud aku—"
PLAK!
Suara tamparan keras memecah keheningan kamar. Pipi kiri Syafiya mendadak terasa panas, menyengat, dan berdenyut nyeri.
Kepala Syafiya terteleng ke samping akibat hantaman tangan Valerie. Elvano yang ada di gendongan langsung terbangun dan menangis histeris karena terkejut.
"Tahu diri kamu, Syafiya!" desis Valerie dengan napas memburu, air matanya tumpah ruah. "Jangan pernah berani menceramahiku! Kamu itu cuma anak angkat di rumah ini! Kamu nggak tahu apa-apa soal penderitaanku hidup sama suami kamu—maksudku, kakak angkatmu itu!"
Syafiya memegangi pipinya yang memerah, menatap Valerie dengan air mata yang kembali luruh tanpa bisa dicegah.
"Kak Valerie... maafkan aku..." cicit Syafiya lirih, dadanya terasa sesak luar biasa menahan beban ganda: rasa bersalah pada sang kakak ipar dan ketakutan pada Zeffan.
"Simpan permintaan maafmu!" potong Valerie tajam sambil mendekap Elvano yang terus menangis. "Urus saja urusanmu sendiri, dan berhenti bertingkah seolah kamu paling peduli pada Mas Zeffan!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Valerie membalikkan badan, menyeret kopernya keluar dari kamar Syafiya dengan isak tangis yang tertahan, meninggalkan Syafiya yang terduduk lemas di tepi ranjang, meratapi getirnya takdir yang terus menghimpit hidupnya.
Selang dari kepergian Valerie, kini Marlina datang. Wanita paruh baya itu sangat terkejut saat melihat Syafiya duduk di tepi ranjang dengan memegangi wajahnya.
"Syafiya! Kamu kenapa, Nak?" tanya Marlina panik, langsung berlari kecil menghampiri anak angkatnya itu dan merangkul pundaknya.
"M-Mommy..." lirih Syafiya dengan suara gemetar, berusaha menyembunyikan pipi kirinya yang memerah.
Marlina memegang dagu Syafiya, memaksa gadis itu menoleh. Betapa terkejutnya Marlina saat melihat bekas tamparan di pipi mulus Syafiya.
"Astaga, Syafiya! Pipi kamu kenapa merah begini?!" seru Marlina dengan raut wajah kaget dan marah. "Siapa yang
melakukan ini sama kamu?!"
Syafiya menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya makin deras menetes.
"Gak apa-apa, Mom..."
"Jangan bohong sama Mommy! Valerie kan yang menampar kamu?!" cecar Marlina dengan nada memuncak. "Mommy tadi lihat dia keluar rumah sambil menggendong Elvano dan membawa koper! Apa dia yang bikin kamu begini?!"
"Mom, jangan salahkan Kak Valerie... Kak Valerie cuma emosi..." bisik Syafiya memohon, tangannya meremas pakaian Marlina.
"Cuma emosi kamu bilang?!" bentak Marlina, kemarahannya pada menantunya kini makin membara. "Kurang ajar sekali Valerie! Berani-beraninya dia
menampar anak kesayangan Mommy di rumah ini!"
"Mommy, tolong... Syafiya nggak apa-apa kok..." isak Syafiya, dadanya makin sesak karena tahu dialah penyebab di balik hancurnya emosi Valerie.
"Nggak apa-apa bagaimana? Pipimu sampai memar begitu!" Marlina mengelus kepala Syafiya dengan lembut, lalu berdiri dengan wajah mengeras. "Wanita itu benar-benar sudah melampaui batas. Sudah tidak bisa melayani Zeffan dengan baik, sekarang malah kasar sama kamu!"
Marlina berbalik hendak keluar kamar untuk menelpon seseorang, namun Syafiya buru-buru menahan pergelangan tangan ibunya.
"Mommy mau ke mana?" tanya Syafiya panik.
"Mommy mau telepon Zeffan! Biar dia tahu gimana kelakuan istrinya yang kasar itu!" tegas Marlina tanpa ragu.
"Jangan hubungi Kak Zeffan, Mom! Nanti tambah bertengkar mereka!" cegah Syafiya panik, semakin erat menggenggam pergelangan tangan Marlina dengan mata yang memerah akibat berderai air mata.
"Biarkan saja, Syafiya! Mommy tidak suka perilaku yang kasar begitu. Diam di sini, Mommy mau menghubungi Zeffan!" tegas Marlina sambil melepaskan genggaman tangan Syafiya secara perlahan namun pasti.
"Mommy, Syafiya mohon... Kasihan Kak Valerie sama Elvano, Mom. Kak Valerie lagi emosi banget tadi," bisik Syafiya serak, berusaha membujuk Marlina agar tidak makin mempekeruh suasana.
"Kamu ini terlalu baik, Syafiya! Valerie itu sudah kelewatan!" bentak Marlina dengan suara bergetar menahan amarah. "Dia yang tidak bisa melayani suaminya sendiri, kenapa malah kamu yang dijadikan sasaran kemarahannya?! Apa hubungannya masalah rumah tangga mereka sampai dia berani melayangkan tangan ke wajah kamu?!"
Syafiya membeku, lidahnya terasa kelu. Hubungannya ada di aku,
Mom... Aku yang sudah merusak semuanya, batin Syafiya menjerit pilu, menahan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Mommy tidak bisa tinggal diam," lanjut Marlina seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Zeffan harus tahu gimana perangai istrinya kalau sedang di belakang dia. Supaya Zeffan makin sadar siapa wanita yang selama ini dia nikahi!"
"Mom, tolong... Jangan, Mom..." isak Syafiya makin kencang, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Marlina tak memedulikan bujukan Syafiya. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, menatap lurus ke depan dengan raut wajah sangat keras dan penuh kekecewaan pada menantunya.
Hanya butuh beberapa detik sampai panggilan itu terhubung.
"Halo, Zeffan! Kamu di mana sekarang?!" seru Marlina langsung tanpa basa-basi begitu suara Zeffan terdengar di seberang telepon.
"Zeffan masih di jalan mau balik ke kantor, Mom. Ada apa?" sahut suara Zeffan dari balik telepon, terdengar tenang namun berat.
"Kamu pulang sekarang! Istrimu yang tidak tahu diri itu baru saja pergi dari rumah membawa Elvano, dan dia sempat menampar Syafiya sampai pipinya memar!" bentak Marlina tajam.
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰