"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak Rahasia
"Pak Bian, saya sudah berbicara dengan Dokter spesialis mata di rumah sakit ini. Jika memang Pak Bian dan keluarga berkenan, hari ini juga Dokternya akan memeriksa lebih detail lagi. Tadi sebelum dibawa ke ruang rawat inap, Dokter sudah sempat memeriksa sekilas. Hanya saja ada beberapa hal yang harus ditanyakan langsung pada pasien." ucap Dokter itu memberitahukan apa yang disampaikan oleh rekannya.
"Sebenarnya saya ingin pemeriksaan ini dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan istri, Dok. Saya hanya tidak ingin dia kecewa jika kenyataannya nanti pahit," ucap Bian sambil meringis pelan.
Bian dan Dokter pun terdiam setelah pembicaraan itu. Bian khawatir kalau hanya akan memberikan harapan palsu pada Aluna. Melihat Aluna kecewa karena ternyata matanya tidak bisa melihat, Bian merasa tidak tega. Apalagi Aluna pasti merasa kesal karena Bian melakukan pemeriksaan ini tanpa sepengetahuan dia. Akhirnya Bian menganggukkan kepalanya. Dia ingin mengetahui semuanya secara jelas. Jika memang bisa disembuhkan, Bian sebisa mungkin akan melakukan demi kesembuhan Aluna.
"Nanti kita rundingkan dengan Dokter matanya, Pak Bian. Siapa tahu ada cara biar pemeriksaan tidak diketahui atau dicurigai oleh pasien," ucap Dokter itu memberikan solusi.
"Baik, Dok. Bilang saja nanti pemeriksaan menyeluruh, takutnya ada infeksi atau apa begitu. Saya hanya ingin menjaga mental istri," ucap Bian sambil menghela nafasnya pelan.
"Baik, Pak." jawab Dokter yang kemudian pergi dari hadapan Bian.
"Semoga saja bisa disembuhkan. Aku harap Aluna bisa melihat lagi dan kembali melukis tanpa kesusahan," gumam Bian sambil menatap kepergian Dokter itu.
Bian pun segera pergi dari sana mencari kopi di kantin. Rasanya dia pusing dengan kejadian hari ini. Dia membutuhkan sesuatu yang membuatnya lebih rileks. Papa Kio yang baru sampai rumah sakit pun langsung merangkul bahu Bian. Keduanya memilih pergi bersama untuk membahas kejadian ini. Walaupun terlihat sekali jika penampilan keduanya sangat lusuh. Apalagi Papa Kio dan Bian tadi habis dari kebun belum membersihkan diri sama sekali.
"Aluna aman?" tanya Papa Kio pada anaknya itu.
"Aman, Pa. Ditemani sama Mama dan anak-anak. Sekarang Reyhan dan Lova sudah memanggil Aluna dengan panggilan Ibu," ucap Bian sambil tersenyum.
"Oh ya? Kemajuan yang sangat besar," ucap Papa Kio bangga dengan anak dan menantunya. Mereka tidak memaksa anak-anak untuk menerima pernikahan orangtuanya. Mereka lebih memilih melakukan pendekatan dan pembuktian bahwa keduanya tulus menyayangi anak-anak.
"Sebentar lagi Papa punya cucu baru juga dong? Senangnya," selorohnya lagi membuat Bian terkekeh pelan.
"Nanti aja, Pa. Bian mau fokus sama kesehatan Aluna, terutama matanya. Niatnya Bian akan mencoba menyembuhkan mata Aluna, Pa." ucap Bian dengan yakin.
"Bagus lah. Jangan seperti keluarganya yang katanya punya duit, tapi buat periksa anaknya saja tidak mampu." ucap Papa Kio menyindir besannya itu walaupun mereka tidak ada di sana.
Papa Kio sudah mencari tahu lebih banyak tentang keluarga Aluna. Informasinya sungguh di luar pemikirannya sebagai orangtua. Dia yang sering bertindak keras pada anaknya saja, masih tak habis pikir dengan orangtua Aluna. Bisa-bisanya tak mengakui Aluna sebagai keturunannya. Mereka malu dengan Aluna yang buta. Tak lupa dengan banyak rahasia keluarga itu yang tidak Aluna tahu. Jika Aluna membutuhkan bantuannya suatu saat nanti, dia akan langsung membelanya paling depan.
"Papa pasti tahu ban..."
"Tentu saja. Bahkan Aluna saja tidak tahu tentang ini, tapi Papa sudah mengetahuinya. Aluna tuh sebenarnya kaya lho, dia punya banyak warisan dari Ibu kandungnya. Tapi selama ini dia tidak pernah menikmatinya. Nanti kita beritahukan pada Aluna. Jika dia ingin mengambil haknya, bantu." ucap Papa Kio dengan yakin.
"Dimana warisan itu emangnya, Pa? Siapa yang menyimpan atau mengelolanya? Berarti itu Salsa dan Ibunya apakah..." tanya Bian dengan raut wajah penasarannya.
Ya, Ibu Maya itu istri barunya dan Salsa anak tirinya. Yang anak kandung itu Aluna. Yang mengelola warisan itu ya Pak Riko tapi Aluna sama sekali tidak tahu mengenai warisan tersebut,
Jahat sekali. Merebut harta anak piatu. Kena karma berat kayanya mereka nanti,
Pasti...
***
Setelah diperiksa oleh Dokter, Aluna kembali memejamkan matanya. Punggungnya sedikit nyeri jadi Aluna memilih untuk tidur sebentar. Ada Mama Mia yang akan mengawasi Reyhan dan Elova bersama dengan Bibi Tari. Keduanya diminta untuk tidak naik ke atas ranjang agar tidak menyenggol punggung Aluna. Reyhan berbaring di atas karpet dengan Elova menyuapinya buah mangga.
"Abang, kenapa lalang Lopa buat nguping? Padahal Lopa mau dengal lho bicalanya Doktel sama Papa. Siapa tahu Lopa dapat infolmasi penting. Lopa mau jual itu infolmasi sama INTEL," ucap Elova dengan raut wajah seriusnya.
"Apa hubungannya INTEL dengan informasi pembicaraan Papa dan Dokter? INTEL nggak minat sama informasi begituan," ucap Reyhan yang rasanya ingin menjitak kepala Elova.
"Ya ada, siapa tahu kan butuh. Olang juga usaha buat jual. Bikin olang ndak semangat buat kelja aja Abang ini," omel Elova sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Terserah kamu, Lova. Abang pusing dengar ocehanmu itu. Mending main game," ucap Reyhan memilih mengambil ponselnya dan bermain game daripada menanggapi ocehan Elova.
Elova kesal dengan Reyhan yang tak bisa diajak untuk ngobrol. Reyhan memang pendiam, berbeda dengan Elova yang cerewet sehingga membutuhkan suasana ramai. Kemarin dia mengajak Aluna untuk berbincang seru, tapi faktanya perempuan itu tetap meladeninya. Tidak seperti Reyhan yang malah memilih mengabaikan ocehannya. Padahal Elova hanya ingin didengar sekaligus diajak berbicara saja. Mama Mila pun merentangkan kedua tangannya saat melihat Elova terlihat badmood.
"Cucu Oma kenapa sih ini? Kok ngambek begini? Perasaan tadi baik-baik saja," tanya Mama Mila sambil membawa Elova masuk dalam pangkuannya.
"Abang itu lho, Lova ngomong kok malah ditinggal main game. Halusnya kaya Ibu. Kalau Lova ngomong, dengalkan atau tanggapi gitu. Kan jadi selu bisa gosip baleng," gerutu Elova sambil melihat ke arah Aluna yang tertidur di atas ranjang.
"Telinga Ibu nanti cepat rusak kalau dengar ocehanmu terus itu, Lova." sindir Reyhan membuat tangan Elova bergerak mengambil apel di depannya. Namun oleh Mama Mila ditahan agar buah itu tidak melayang mengenai badan dari Reyhan.
"Jangan ya, cucu Oma yang paling cantik. Nanti Abang terluka," ucap Mama Mila sambil mengelus rambut Elova.
Melihat Elova marah padanya, Reyhan segera menghentikan bermain ponsel. Dia mendekati Elova kemudian memeluknya dari samping. "Kita harus akur buat jaga Ibu, Papa, Oma, dan Opa. Maafin Abang ya,"
Abang leyhan manisnya kalau ngomong ihhhh...
Lova jadi malu,
Idihhh...
Akur-akur cucunya Oma. Kebahagiaan kalian ada di depan mata,