NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi itu, Rangga terbangun dengan pikiran yang tidak lagi sama seperti biasanya. Ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya sejak malam sebelumnya, tetapi bukan sepenuhnya rasa bersalah. Di balik kegelisahan itu, tersimpan harapan yang selama bertahun-tahun ia pelihara diam-diam, harapan bahwa Dira mungkin akhirnya melihat dirinya sebagai lelaki yang bisa menggantikan posisi Tara di dalam hidupnya.

Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya berkali-kali, lalu menatap layar ponsel yang masih menampilkan percakapan terakhir dengan Jingga. Nama istrinya itu membuat dadanya terasa sesak, tetapi bukan karena ia tiba-tiba merindukan perempuan yang telah disakitinya. Ia hanya teringat bahwa secara hukum, Jingga masih istrinya, dan selama perempuan itu belum mencabut keinginannya untuk bercerai, kehidupannya akan terus berada dalam ketidakpastian.

Pintu kamarnya diketuk dua kali.

“Rangga, sarapan sudah siap,” terdengar suara Dira dari luar.

Rangga segera berdiri dan membuka pintu. Dira mengenakan pakaian rumah dengan rambut terikat rapi. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Tidak ada tatapan yang tertahan, tidak ada senyum khusus, bahkan tidak ada perubahan sikap yang bisa dijadikan petunjuk bahwa hubungan mereka telah melewati batas.

“Kau tidak tidur nyenyak?” tanya Rangga.

“Sedikit sulit tidur.” Dira menunduk sebentar. “Mungkin karena masih memikirkan Mas Tara.”

Nama kakaknya itu membuat Rangga terdiam. Ia ingin menanyakan apakah Dira juga memikirkan kejadian mereka, tetapi ia tidak sanggup mengatakannya di lorong rumah yang sewaktu-waktu bisa dilewati Bu Farah.

“Nanti kita bicara,” bisiknya.

Dira mengangkat wajah, lalu memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. “Nggak ada yang perlu dibicarakan, anggap saja semalam kita sama-sama sedang tidak baik-baik saja.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dira berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban.

Rangga berdiri terpaku, merasakan harapan yang baru saja tumbuh di dalam dirinya perlahan digantikan oleh kebingungan. Ia ingin percaya bahwa Dira hanya membutuhkan waktu, tetapi ada sesuatu dalam sikap perempuan itu yang membuatnya merasa kejadian semalam mungkin memiliki arti berbeda bagi mereka berdua.

Di meja makan, Bu Farah sedang menuangkan teh ke dalam cangkir. Ia menatap putranya sekilas sebelum mengalihkan perhatian kepada Dira yang sibuk menyiapkan sarapan.

“Rangga, kapan kau akan menemui Jingga?” tanyanya.

Rangga menarik kursi. “Untuk apa, Ma?”

“Bagaimana mungkin kau bertanya begitu? Dia istrimu. Sudah berhari-hari dia tidak pulang, dan orang-orang bisa mulai bertanya kalau masalah rumah tanggamu terus dibiarkan.”

“Dia sendiri yang memilih pergi.”

“Kalau begitu, jemput dia. Seorang suami seharusnya bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya.”

Rangga mengembuskan napas panjang. Ia tidak ingin membicarakan Jingga, terlebih ketika pikirannya masih dipenuhi Dira. Namun, ia juga tidak ingin ibunya curiga terhadap sesuatu yang bahkan belum berani ia akui kepada dirinya sendiri.

“Aku akan mengurusnya nanti,” jawabnya singkat.

Dira meletakkan piring di hadapan Bu Farah, lalu ikut duduk. “Mungkin Jingga memang membutuhkan waktu, Ma. Memaksanya pulang juga tidak akan menyelesaikan apa-apa.”

“Kau selalu membelanya, padahal dia yang meninggalkan rumah ini.” Ujar Bu Farah.

Dira tidak membantah, Ia menunduk dan melanjutkan sarapannya, menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar membiarkan Jingga pergi.

Di hadapan Bu Farah, ia tetap menjadi perempuan yang tampak bijaksana, seseorang yang seolah ingin menjaga ketenangan keluarga. Tidak seorang pun akan menyangka bahwa di balik sikap lembut itu, ia telah mengambil bagian dalam pengkhianatan yang bisa menghancurkan keluarga mereka sendiri.

Menjelang siang, Rangga akhirnya mengirim pesan kepada Dira.

Rangga: [Apa kita bisa bicara berdua nanti malam?]

Pesan itu dibaca beberapa menit kemudian, tetapi tidak segera dibalas. Rangga terus memeriksa ponselnya sampai akhirnya sebuah jawaban muncul.

Dira: [Nggak perlu, mengenai semalam tidak akan mengubah apa pun.]

Rangga membaca kalimat tersebut berulang kali. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya bergerak cepat mengetik balasan.

Rangga: [Bagaimana bisa kau mengatakan tidak akan mengubah apa pun setelah yang terjadi di antara kita?]

Kali ini Dira menjawab lebih cepat.

Dira: [Karena kita sama-sama tahu... itu adalah sebuah kesalahan.]

Rangga meletakkan ponselnya dengan kasar. Ia merasa dipermainkan, tetapi enggan mengakui bahwa dirinya sendiri telah memilih untuk melangkah lebih jauh. Dira memang membuka kesempatan, tetapi tidak pernah menjanjikan cinta. Rangga yang mengubah kesempatan itu menjadi harapan, lalu menganggap kedekatan semalam sebagai bukti bahwa perempuan tersebut akhirnya akan menjadi miliknya.

Di kamarnya, Dira menatap percakapan itu dengan perasaan campur aduk. Ada ketakutan bahwa Rangga akan terus menuntut jawaban, tetapi ada pula kepuasan kecil karena ia masih mampu membuat lelaki itu gelisah hanya dengan beberapa kalimat. Ia tahu sikapnya tidak adil.

Namun, alih-alih mengakhiri semuanya dengan jujur, ia memilih menjaga jarak sambil membiarkan Rangga tetap berharap.

Esoknya Jingga baru menyadari ada berkas penting yang tertinggal di kamar lamanya di rumah Cendana ketika sedang menyiapkan dokumen perceraian di rumah kos. Berkas asli itu dibutuhkan untuk melengkapi administrasi, dan ia tidak ingin proses perpisahannya dengan Rangga kembali tertunda hanya karena kelalaiannya sendiri.

Ia segera mengambil tas dan berangkat menuju rumah keluarga Cendana. Ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa kedatangannya hanya untuk mengambil berkas, tanpa terlibat perdebatan dengan Rangga ataupun keluarganya.

Setibanya di sana, Jingga mendapati pintu utama tidak terkunci. Rumah terlihat sepi, tetapi ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga. Ia mengenali suara Rangga, kemudian suara Dira yang terdengar lembut.

Jingga hendak memanggil mereka, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar Dira berkata. “Kalau ada yang melihat kita, bagaimana?”

1
Cicih Sophiana
si Dira itu maksud apa... aq gak ngerti pikiran dia
Cicih Sophiana
payah nih Jingga buat apa bilang udah merekam mereka... itu sama aja dgn bohong klo bisa di rebut Rangga
Cicih Sophiana
kan ada Tuhan yg melihat... ternyata kalian itu gatal yah 🤭
Cicih Sophiana
dasar laki laki bodoh kamu Rangga ada yg tulus malah di sia siakan...
Cicih Sophiana
semoga aja dokter Samudra jodoh nya Jingga...
Cicih Sophiana
semangat Senja 💪
Cicih Sophiana
jodohkan Senja dan Samudra thor...
Cicih Sophiana
suami nya buang aja ketempat nya yg pantas buat dia senja 🤭😄
Cicih Sophiana
ayo Jingga semangat 💪 bangunlah dari keterpurukan dan bangkitlah untuk melawan orang orang zolim...
Cicih Sophiana
bagus Jingga semangat... libas si Rangga biar dia menyesal nanti..
Cicih Sophiana
nah gitu Jingga... aq suka perempuan yg tegas jgn bisa nya cuma nangis...
Cicih Sophiana
jgn mundur Jingga walau di ancam... Rangga tdk mencerai mu hanya karena nama baik kluarga nya bukan krn mencintai mu
Cicih Sophiana
punya suami lebih perhatian samacuma ipar nya😭😭
Cicih Sophiana
mampir thor... seperti nya seru nih cerita nya
Mundri Astuti
ni nih modelan org egois...dah punya anak, dah punya keluarga masih ngerecokkin rmh tangga ipar ...dpt karma masih ga sadar...masih nyalahin org
Mundri Astuti
nah iya knapa kamu yg berantakan rangga😄
Mundri Astuti
bapaknya Dira arogan juga...anaknya sendiri juga salah lo...dah main belakang sama Rangga disaat Rangga masih terikat dng pernikahan ..
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!