Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Bisikan Sarkas
Suara alunan instrumen kecapi dan suling Sunda yang lembut mengalun merdu di dalam ruangan utama. Tempat itu sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang begitu megah. Rangkaian bunga melati segar dan mawar putih menjuntai indah di sepanjang aisle, sementara gorden-gorden organza melayang pelan ditiup angin pendingin ruangan.
Namun bagi Aira, setiap langkah yang ia tempuh di atas karpet merah menuju meja akad terasa bagai melangkah di atas hamparan bara api yang membakar telapak kakinya.
Genggaman tangannya pada lengan Papi Surya terasa luar biasa kaku. Di sebelahnya, Papi Surya berjalan dengan wajah bangga, dagu terangkat tinggi, memamerkan putri bungsunya yang akhirnya mau berkompromi demi 'kebaikan keluarga'.
Di ujung karpet merah sana, berdiri seorang pria berjas tuxedo hitam. Devan Argawinata.
Aira menatap pria itu dengan pandangan yang masih dinaungi rasa syok. Otaknya rasanya masih mencerna, menolak mempercayai takdir gila yang sedang berlangsung.
Bagaimana bisa? Dari jutaan pria di muka bumi ini, kenapa harus Devan? Kenapa harus mantan pacarnya yang delapan tahun lalu mencampakkannya dengan alasan paling dingin, lalu mendadak muncul kembali sebagai sosok pengusaha sukses yang dijodohkan dengannya?!
Devan berdiri tegak di samping meja akad. Tatapan matanya yang tajam terkunci pada Aira.
Pria itu tampak begitu percaya diri, seolah-olah seluruh alur skenario gila ini memang sudah ada di dalam genggaman tangannya sejak awal.
"Senyum, Aira," bisik Papi Surya lewat sudut bibirnya tanpa menoleh, mencengkeram jemari Aira sedikit lebih kuat. "Semua mata relasi penting Papi lagi tertuju ke kamu. Jangan bikin malu."
Aira membalikkan wajahnya sedikit, membuang napas lewat hidung dengan suara decakan pelan. "Cih."
Begitu sampai di depan meja akad, Papi Surya menyerahkan tangan Aira. Devan mengulurkan tangannya, menyambut jemari Aira yang dingin bagai es.
Touch contact yang singkat itu mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar sampai ke punggung Aira. Buru-buru Aira menarik jemarinya begitu mereka berdua duduk berhadapan dengan penghulu dan para saksi.
Aira duduk dengan posisi menyamping, sedikit membelakangi Devan. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, memasang wajah kaku.
Dari kejauhan ia bisa melihat Sandy yang duduk disamping Maminya mengacungkan jempolnya.
"Mbak Aira, calon suaminya ditatap dong... masa duduknya merengut gitu?" bisik pak penghulu berpeci putih sambil terkekeh pelan, mengira Aira cuma sekadar mual atau tegang biasa.
Aira cuma berdecak pelan lagi. "Ck."
Di sebelahnya, Devan menegakkan posisi duduknya. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aira.
"Kamu berdecak sekali lagi, ronce melati kamu aku tarik," bisik Devan dengan suara super pelan, namun intonasinya begitu dingin dan penuh kejengkelan yang amat sangat halus.
Aira mendelik tajam, memutar kepalanya dan menatap Devan dengan mata melotot. "Coba aja kalau berani! Gue teriak di depan penghulu kalau lu itu mantan penjahat!" balas Aira berbisik sengit.
Devan tidak terpengaruh sedikit pun. Sudut bibirnya justru terangkat, memamerkan senyuman yang sangat menyebalkan. "Silakan teriak. Biar Papi kamu langsung batalin pembukaan blokir kartu kredit kamu detik ini juga. Gimana? Deal?"
Aira menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih. Syarat Papi Surya! Argh, bangsat! Aira mengutuk Devan dalam hati ribuan kali. Pria ini tahu betul di mana letak kelemahannya sekarang.
"Prosesi akad nikah akan kita mulai," suara tegas Pak Penghulu memutus perang dingin di antara mereka.
Prosesi itu berlangsung dengan cepat, namun terasa bagaikan siksaan abadi bagi Aira. Saat Devan mengucapkan ijab kabul dengan suara yang begitu lantang, tegas, dan tanpa henti sedikit pun dalam satu tarikan napas—menyebutkan nama Aira Calista Hermawan binti Surya Hermawan lengkap dengan mas kawin berupa logam mulia dan saham investasi—dada Aira berdenyut nyeri secara mendadak.
Suara itu...
Dulu, suara tegas Devan selalu menjadi tempat paling aman buat Aira. Dulu, Devan pernah berjanji di bawah pohon taman sekolah bahwa ia bakal menjaga Aira selamanya. Tapi kini, suara yang sama justru mengikatnya dalam sebuah sangkar emas yang tak ia inginkan.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!"
Gemuruh kata 'sah' dari para tamu undangan menggema di seluruh ruangan. Mami Maya terlihat mengusap air mata haru di barisan depan, sementara Papi Surya dan Om Bramantyo—ayah Devan—saling berpelukan hangat.
Aira membeku di tempatnya. Sah. Secara hukum dan agama, ia kini resmi menjadi istri dari Devan Argawinata. Mantan pacar yang paling ia benci di muka bumi ini.
"Mbak Aira, silakan cium tangan suaminya, lalu Mas Devan cium dahi istrinya," instruksi Pak Penghulu sambil tersenyum lebar.
Aira menatap tangan Devan yang terulur di depannya. Dengan wajah yang amat sangat terpaksa dan bibir yang merengut maksimal, Aira meraih jemari Devan lalu menempelkan dahinya sebentar di punggung tangan pria itu—tidak sudi menyentuhkan bibirnya secara langsung.
Begitu Aira hendak menarik kepalanya kembali, jemari Devan mendadak menahan dagu Aira. Devan memajukan tubuhnya, menunduk, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan agak lama di dahi Aira.
Satu detik... dua detik...
Sensasi hangat dari bibir Devan di kulit dahinya membuat Aira terpaku. Bau parfum milik Devan memenuhi seluruh indranya. Jantung Aira berdesir liar, Aira buru-buru mendorong dada Devan dengan kedua tangannya begitu Devan melepaskan kecupannya.
"Modus lu ya!" desis Aira dengan wajah memerah padam—campuran antara amarah yang membara dan kepanikan karena jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Itu formalitas di depan kamera, Calista. Nggak usah kegeeran," balas Devan santai sambil merapikan jasnya, melempar tatapan mengejek yang membuat Aira makin ingin mencabik-cabik wajah tampannya itu.
Sesi resepsi privat dimulai tak lama setelahnya. Suasana berubah menjadi pesta makan malam. Musik piano klasik mengalun lembut, sementara para tamu lalu lalang membawa gelas, memberikan selamat kepada kedua keluarga.
Aira dan Devan berdiri di atas pelaminan. Aira telah mengganti gaunnya dengan gaun malam warna champagne yang menjuntai indah, tapi raut wajahnya tetap sama: cemberut, ketus, dan membuang muka tiap kali ada tamu yang naik.
"Aira! Muka kamu itu kenapa sih dari tadi?!" bisik Mami Maya yang mendadak muncul di samping pelaminan, berpura-pura merapikan gaun Aira padahal matanya menatap tajam sang putri. "Senyum! Kamu itu pengantin wanita! Dari tadi Mami perhatikan kamu berdecak terus tiap ada relasi Papi yang kasih selamat!"
"Aira capek, Mami!" protes Aira berbisik tak kalah sengit. "Lagian sepatu Aira sakit! Aira gak mau berdiri di samping cowok ini!"
"Aira!" tegur Mami Maya dengan volume suara yang ditekan penuh ancaman. "Jaga sikap kamu! Devan itu suami kamu sekarang! Jangan bikin Papi kamu murka di depan Om Bram!"
Aira melirik ke arah Papi Surya yang sedang mengobrol dengan beberapa pebisnis di dekat meja makanan. Benar saja, Papi Surya sedang menatap ke arah pelaminan dengan pandangan mata yang sangat tajam—sebuah peringatan bahwa pembekuan rekeningnya bisa saja diperpanjang kalau ia bikin ulah lagi.
Aira menghembuskan napas kasar. "Ck!"
"Tuh kan! Berdecak lagi!" geram Mami Maya sebelum akhirnya tersenyum manis membalas sapaan tamu lain dan berlalu pergi.
Sepeninggal Maya, Devan yang berdiri di sebelah Aira cuma terkekeh pelan. Pria itu memegang gelas minuman beralkohol rendah di tangannya, menyesapnya sedikit dengan gaya yang sangat elegan.
"Mami kamu bener," cetus Devan tanpa menoleh ke arah Aira. "Muka kamu dari tadi lecek banget. Kayak keset dapur belum dicuci sebulan."
Aira memutar tubuhnya, menatap Devan dengan tatapan mau membunuh. "Bisa diam nggak lu?! Nggak ada yang minta pendapat lu ya, Devan!"
"Aku cuma kasihan sama tamu-tamu yang naik ke sini," balas Devan santai, melirik Aira dari sudut matanya. "Mereka niatnya mau kasih selamat, tapi malah disambut sama ekspresi cewek stres yang habis kehilangan dompet."
"Gue emang stres! Dan ini semua gara-gara lu!" sembur Aira, menunjuk dada Devan dengan telunjuknya. "Lu ngapain sih harus setuju sama perjodohan gila ini?! Lu kan kaya! Lu sukses di luar negeri! Lu bisa cari cewek lain yang mau nurut sama lu! Kenapa harus gue?!"
Devan diam sejenak. Pria itu memutar-mutar gelas di tangannya, memperhatikan pendar cairan di dalamnya sebelum kembali menatap Aira.
"Kamu pikir aku punya pilihan?" tanya Devan pelan, suaranya terdengar agak berat.
"Ya punya lah! Lu kan cowok!"
Devan tersenyum kecil. "Kamu terlalu dangkal buat paham urusan bisnis orang tua kita, Aira. Lagian..." Devan memajukan tubuhnya sedikit, menatap wajah Aira yang penuh dengan amarah. "...bukannya kamu sendiri yang milih buat bertahan di sini demi kartu kredit kamu?"
Kata-kata Devan menghantam Aira tepat di dada. Gengsinya serasa terinjak-injak.
"Gue bakal bikin lu menyesal, Devan," desis Aira dengan gigi gemeretak. tangannya mengepal erat di sisi gaunnya. "Gue kasih tahu lu ya. Gue terima pernikahan ini CUMA buat dapet akses uang gue balik. Begitu kita masuk rumah baru, gue bakal bikin hidup lu kayak neraka. Gue bakal belanja gila-gilaan pake uang lu, gue bakal bikin rusuh tiap hari, sampai lu sendiri yang mohon-mohon ke Papi buat nyeraian gue!"
Devan mendengarkan ancaman berapi-api itu dengan sangat tenang. Bukannya takut atau panik, cengiran khasnya yang amat menyebalkan itu justru kembali terukir di wajah tampannya.
"Oh ya?" Devan menaikkan satu alisnya, berpura-pura terkesan. "Ancaman yang menarik. Boleh juga."
"Gue nggak bercanda, Devan!"
"Aku juga nggak bercanda, Calista," bisik Devan, merapatkan jarak di antara mereka sehingga bahu mereka saling bersentuhan. "Silakan belanja sesuka hati kamu. Pakai uang aku, habisin limit kartu kredit aku. Bikin rusuh sepuas kamu di rumah aku."
Aira mengerutkan dahi, bingung melihat reaksi Devan yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya. "Lu... lu gila ya?"
"Nggak," jawab Devan santai, tatapan matanya mengunci mata Aira dengan begitu intens. "Tapi kalau kamu pikir hal-hal sepele kayak gitu sanggup bikin aku minta cerai dan melepas kamu gitu aja..."
Devan menunduk sedikit, menyunggingkan senyuman yang sarat akan dominasi. "...berarti kamu bener-bener belum kenal siapa Devan Argawinata yang sekarang."
Aira tertegun. Ada getaran aneh yang merayapi punggungnya saat mendengar kalimat Devan. Pria di depannya ini bukan lagi Devan remaja yang dulu bisa ia usik atau ia bujuk dengan rengekan manja. Devan yang sekarang adalah pria dewasa yang penuh teka-teki, dingin, dan memiliki kendali penuh atas situasi.
"Aira! Devan! Ayo foto keluarga dulu!" panggil Om Bramantyo dari bawah pelaminan, melambaikan tangan bersama Papi Surya dan Mami Maya.
Devan langsung mengubah ekspresinya dalam hitungan detik—menjadi sosok menantu dan pengantin pria yang sangat sempurna dan ramah. Tanpa meminta izin, Devan melingkarkan tangannya di pinggang Aira, menarik tubuh Aira rapat ke sisinya.
"Lepasin nggak!" bisik Aira panik, mencoba memberontak secara halus dari dekapan Devan.
"Diam atau aku cium kamu di depan Papi kamu sekarang juga," ancam Devan lewat bisikan halus di telinga Aira, tapi wajahnya tetap tersenyum manis ke arah kamera fotografer di depan.
Aira membeku seketika. Sumpah demi apa pun, Devan beneran makin gila!
Dengan terpaksa, Aira membiarkan tangan Devan bertengger di pinggangnya. Kamera berkali-kali menyambar wajah mereka. Di dalam foto-foto pernikahan itu, Devan tampak tersenyum menawan memeluk pinggang istrinya, sementara Aira berdiri kaku dengan senyuman paling terpaksa sepanjang sejarah kehidupannya.
Awas lu ya, Devan, batin Aira membara sambil menatap lurus ke kamera. Pernikahan ini baru hari pertama. Lihat aja apa yang bakal gue lakukan begitu kita cuma berdua di rumah nanti!
semangat thorr💪💪😍