Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Pacar?
"Mau ditaruh di mana muka Mama kalau ketemu mereka, Rahsya?! Masa kamu ganteng begini... ternyata gay sih?"
Miranti menatap putranya dengan tatapan ragu yang sangat menyakitkan.
Rahsya baru saja hendak membuka mulut untuk memprotes, namun suaranya langsung terpotong oleh kemunculan Marsel yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur sambil membawa segelas air putih.
"Mungkin saja, Mah. Lihat saja, sampai detik ini dia belum pernah membawa pacar ke rumah. Bisa jadi anak kita ini memang... suka sesama jenis," timpal Marsel dengan nada mengompori yang membuat telinga Rahsya mendadak panas.
"Sembarangan! Papa sama Mama kok ngomongnya begitu? Mau mendoakan anaknya jadi gay beneran? Rahsya enggak begitu ya! Rahsya masih normal!" teriak Rahsya, wajahnya memerah padam menahan malu sekaligus kesal.
"Lah, terus kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang nyangkut? Fix, berarti kamu memang tidak normal. Percuma, Rahsya... percuma punya tampang ganteng kalau kamunya—" Marsel sengaja menggantung kalimatnya dengan gaya meledek.
"STOP! Sudah, enggak usah sok tahu, Pa! Jangan katai Rahsya begitu lagi!" potong Rahsya telak.
Emosinya yang sudah terkuras habis oleh rentetan gangguan hantu sepanjang hari kini meledak di depan orang tuanya. "Dan siapa bilang tidak ada yang mau sama Rahsya? Ada kok! Lihat saja besok, dia bakal datang ke sini. Calon mantu idaman kalian!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Rahsya melengos pergi menaiki anak tangga dengan langkah kaki yang kasar. Ia benar-benar dongkol. Sudah dihantam kesialan bertubi-tubi sejak di desa, sekarang di Jakarta malah dituduh sebagai kaum "pecinta pedang".
'Najis tujuh turunan!' batinnya geram sambil membanting pintu kamar. Kini, ia hanya bisa berharap Amel bisa bertingkah normal besok pagi.
Jika tidak, tamatlah riwayat harga dirinya di tangan Marsel dan Miranti.
****
Matahari pagi menyinari Mansion Adipta dengan sangat megah, memantulkan kemilau pada pilar-pilar beton yang berdiri kokoh. Di dalam taksi daring yang melaju pelan membelah pekarangan, Amel duduk dengan punggung tegak, sementara jemari tangannya bertaut erat. Bibirnya berkomat-kamit merapalkan segala doa yang ia hafal—mulai dari doa keselamatan, doa tidur, hingga doa makan pun ikut terucap demi menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Ia melirik pantulan dirinya di jendela kaca. Pagi ini, Amel tampak sangat berbeda. Balutan gaun berwarna soft pink yang dipadukan dengan riasan natural membuat wajahnya terlihat segar dan anggun, meskipun batinnya tetaplah seorang gadis ceria yang sulit untuk berdiam diri.
"Pak, kira-kira penampilan saya sudah maksimal belum?" tanya Amel, mencari pengakuan dari sopir taksi melalui kaca spion tengah.
"Cantik banget, Neng. Mau pergi ke kondangan, ya?" puji Pak Sopir tulus.
Amel tersenyum simpul, rona merah tipis mendadak muncul di pipinya. "Bukan, Pak. Cuma mau main berkunjung ke rumah teman."
Ia kembali merapikan lipatan gaunnya, berusaha keras mengatur napas agar terlihat lebih dewasa, meskipun ia sadar wajah baby face-nya sering kali menipu usia aslinya yang baru saja lulus SMA.
"Menurut Bapak, saya kelihatan dewasa enggak?"
Pak Sopir terdiam sejenak, mengamati wajah polos itu dari spion. "Emm... jujur ya, Neng? Kayaknya umur Neng enggak jauh berbeda sama anak saya yang masih SMP. Masih sekolah, ya?"
Bibir Amel langsung mengerucut kesal. Kepercayaan dirinya seketika menciut. "Saya sudah lulus SMA, Pak," sahutnya pelan sambil memalingkan wajah ke jendela, memandangi gerbang mansion yang mulai terlihat menjulang tinggi—setinggi ekspektasi tubuhnya yang ingin tinggi, namun mustahil terjadi.
Sesampainya di depan gerbang utama, setelah melewati pemeriksaan satpam yang ketat, Amel turun dari taksi dengan langkah kaki ragu. Di ambang pintu utama yang terbuka lebar, Rahsya sudah berdiri menanti kedatangannya. Dokter muda itu tampak sangat berwibawa dengan pakaian rapi dan kedua tangan yang terbenam di saku celana.
Rahsya terpaku sejenak. Tatapannya menyapu penampilan Amel dari ujung kepala hingga kaki. 'Lumayan... cantik,' batinnya spontan.
Namun, detik berikutnya ia menggelengkan kepala cepat-cepat, seolah-olah sedang menabok batinnya sendiri. 'Cantik apaan? Masih kalah jauh sama cewek-cewek kemarin!'
"Kak!" seru Amel, membuyarkan lamunan Rahsya.
"Sst! Cepat masuk," bisik Rahsya ketus saat Amel berjalan mendekat. "Ingat, jaga sikap kamu. Kamu harus bersikap seanggun mungkin di depan orang tua saya."
"Siap, Kak!"
Amel memberi hormat tegap layaknya seorang prajurit, lalu dengan santai ia berjalan cepat hendak masuk menyelonong begitu saja ke dalam rumah.
"Eh, eh! Berhenti!" Rahsya menyambar lengan Amel, menahan gerakan ceroboh gadis itu.
"Jangan jalan begitu. Saya bilang harus anggun, bukannya jalan grasak-grusuk kayak mau memanggil bidan buat lahiran sapi! Sini, gandeng tangan saya."
Amel menurut pasrah, ia segera mengalungkan tangannya pada lengan kokoh Rahsya. "Lihat baik-baik. Se-ang-gun mungkin. Ikuti ritme langkah saya," perintah Rahsya sambil mulai melangkah maju.
"Ya enggak bisa, Kak! Kakak itu tingginya kayak gapura batas kabupaten, tinggi banget! Langkah kakinya lebar pula. Lah aku?" Amel menunduk menatap kakinya sendiri yang mungil. "Pendek begini mana bisa mengimbangi langkah jalan Kakak!"
Rahsya mendengus frustrasi, menyadari perbedaan tinggi badan mereka yang memang cukup kontras. "Ck, ribet banget sih! Ya sudah, nih, saya pelankan jalannya sampai kayak bekicot biar kamu puas!"
Dengan langkah kaki yang sangat lambat dan canggung, keduanya mulai memasuki lobi mansion, bersiap menghadapi "sidang meja makan" dari Miranti dan Marsel.
"Ingat sekali lagi, Amel. Kamu turuti apa saja kata saya di dalam. Jangan aneh-aneh. Saya bilang A, kamu harus setuju. Saya bilang B, kamu harus ikut. Paham?!" bisik Rahsya dengan nada suara mengancam tepat di telinga Amel sebelum mereka melangkah masuk ke ruang tamu.
Amel hanya bisa mengangguk patuh, nyalinya mendadak menciut. Bayangan tagihan biaya perbaikan mobil Tesla Rahsya yang penyok kemarin sore menari-nari di ruang kepalanya seperti hantu telaga. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menjadi pengikut setia skenario sang dokter.
Setibanya mereka di ruang tamu yang megah, aroma pengharum ruangan mahal langsung menyambut penciuman.
Amel dengan gerakan kaku yang dipaksakan agar terlihat sopan, segera menyalami takzim tangan Marsel dan Miranti.
Miranti langsung sumringah bahagia. "Jadi ini calon mantu Mama? Cantik banget, imut lagi!" seru Miranti dengan mata berbinar-binar, seolah-olah baru saja menemukan sebuah boneka porselen langka.
Namun, reaksi yang berbeda justru datang dari Marsel. Pria itu mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap Amel dengan sebuah tatapan mata yang sulit diartikan. Ekspresi wajahnya datar, persis seperti kucing yang ditinggal kawin—lesu dan tidak bersemangat, padahal biasanya dialah yang paling vokal menuntut kehadiran seorang cucu.
"Iya Mah, Pah. Kenalkan ini Kamelia. Pacar Rahsya," ucap Rahsya mantap penuh percaya diri, meskipun telapak tangannya di dalam saku celana jins mulai mengeluarkan keringat dingin.
DEG!
Jantung Amel serasa melompat keluar ke tenggorokan. Predikat kata "pacar" itu menghantam kesadarannya telak-telak. Secara refleks, seluruh pertahanan "sikap anggun" yang ia bangun susah payah sejak di dalam taksi runtuh seketika tanpa bekas.
Amel yang tadinya duduk merapat sopan, tiba-tiba saja membuka kedua pahanya lebar-lebar dan mendongakkan kepala dengan bola mata yang melotot sempurna ke arah wajah Rahsya. Di dalam hatinya, Amel ingin berteriak kencang,
"APA-APAAN INI?!"