NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Raja Demon Yang Hilang Ingatan

"Harus berapa kali lagi aku menyusun kalimat dan mengatakannya padamu agar otak keras kepalamu itu mau percaya?! Aku bersumpah demi Dewi Bulan aku tidak sedang berhalusinasi atau mengada-ada! Aku melihat wujudnya secara nyata dengan mata kepalaku sendiri! Pria di dalam ladang itu adalah Damian... sang Raja Demon yang dulu sempat kamu kalahkan dalam pertempuran besar!"

Seketika itu juga, suara tawa keras Alan terhenti mati di tenggorokan. Ekspresi geli di wajah tegapnya menguap tanpa bekas dalam sekejap mata. Suasana di sekitar jalan setapak hutan mendadak berubah menjadi sangat dingin, senyap, dan menusuk hingga ke tulang.

Nama itu bukan sekadar deretan huruf biasa bagi Alan. Nama tersebut merupakan lembaran sejarah hitam penuh darah yang pernah ia lalui di masa lalunya yang kelam.

"Jika memang hal yang kamu ucapkan itu adalah sebuah kebenaran... maka aku sendiri yang akan pergi ke dalam untuk memastikannya," ucap Alan dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi teramat rendah, berat, dan dingin.

Tanpa memedulikan keberadaan Ethan yang masih bersungut-sungut penuh kekesalan di belakangnya, Alan mengambil langkah kaki yang lebar. Ia berjalan tegas membelah semak, memasuki area dalam hamparan ladang gandum dan jagung yang pengap.

Cahaya rembulan yang beberapa menit lalu sempat tertutup rapat oleh lapisan awan hitam yang tebal, secara magis mendadak bersinar terang benderang. Sinar itu menyinari seluruh hamparan daun-daun jagung yang tinggi dengan pantulan warna perak yang pucat dan sunyi.

Di sana, tepat di area tengah-tengah tanah ladang yang lembap, sepasang netra ungu Alan akhirnya menangkap objek tersebut. Seorang pria bertubuh tegap sedang terduduk lemas di atas tanah gembur dengan pakaian beludru mewah yang sangat ia kenali.

Itu adalah sepotong pakaian kebesaran yang memiliki struktur desain yang sama persis dengan yang dikenakan oleh sang Raja Demon dalam memori pertempuran tujuh belas tahun yang lalu.

"Tuan... tolong aku..."

Suara yang lolos dari bibir pucat pria itu terdengar teramat lemah, parau, dan bergetar pasrah di udara malam.

Alan seketika membeku di tempatnya memijak tanah. Tubuh tingginya berdiri mematung sekaku karang, menatap lurus tanpa berkedip sedikit pun ke arah raut wajah pria tersebut.

Memori kepalanya secara instan berputar liar, memanggil kembali rekaman kilas balik pertempuran hebat dan berdarah di masa lalunya. Namun, sosok yang kini berada tepat di hadapannya tampak begitu rapuh, tak berdaya, dan kehilangan seluruh keagungan magisnya yang dulu ditakuti.

"Tuan!"

Pria misterius itu kembali memanggil dengan nada meratap yang pilu. Ia melambai-lambai lemah sepasang tangannya yang gemetar di depan wajah Alan yang masih terjebak dalam kondisi terpaku mati.

Alan tersentak hebat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat demi mengusir keterpakuannya dari masa lalu. Ia tertegun luar biasa, dilingkupi oleh badai kebingungan yang besar di dalam kepalanya.

Mengapa sosok Damian yang kejam dan ditakuti di seluruh benua kini justru memanggil dirinya dengan sebutan "Tuan"? Apakah pria berbahaya ini sama sekali tidak mengenali wajahnya sebagai musuh?

Namun, sedetik kemudian Alan tersadar akan satu fakta logis; penampilannya saat ini tentu sudah berubah secara total di mata orang lain. Tujuh belas tahun lalu, ia hanyalah seorang bocah laki-laki kecil yang baru berusia 7 tahun saat pertempuran besar itu terjadi. Kini, ia telah bertransformasi menjadi seorang pria dewasa berusia 24 tahun yang matang dan sudah memiliki keluarga kecil sendiri.

"Maaf... jika boleh tahu, siapa sebenarnya nama Anda?" tanya Alan dengan nada suara yang disusun teramat hati-hati, berusaha menekan seluruh insting kewaspadaan supernaturalnya yang bergejolak.

"Namaku... namaku adalah Damian Dexter. Kamu bisa memanggil namaku saja dengan sebutan Damian," jawab pria itu dengan ritme cepat.

Sepasang manik mata hitam pekatnya yang begitu dalam kini menatap lurus ke arah Alan dengan binar cahaya yang penuh akan harapan besar.

"Lalu... kalau boleh tahu, nama Tuan sendiri siapa?"

Jawaban jujur yang meluncur bebas dari bibir pucat itu menghantam dinding kesadarannya bagai pukulan godam besi yang telak. Pria ini... benar-benar merupakan sosok Damian yang sama dari masa lalunya yang mengerikan.

"Namaku Alan. Dan... kenapa Anda bisa sampai berada di tempat terpencil seperti ini dalam kondisi lemas?" tanya Alan mencoba menggali informasi.

Damian mendadak memegangi kepalanya dengan kedua belah tangannya yang kurus. Keningnya tampak berkerut sangat dalam seolah-olah ia sedang dipaksa menahan hantaman rasa sakit yang luar biasa hebat di dalam tempurung kepalanya.

"Bisakah... bisakah Tuan memanggil namaku saja tanpa perlu menggunakan bahasa formal yang kaku? Jangan bersikap terlalu sopan seperti itu padaku. Sepertinya... Tuan ini usianya jauh lebih tua dariku," ucap Damian dengan ekspresi wajah yang teramat polos dan jujur.

Sebuah pemandangan aneh yang seketika membuat Alan nyaris kehilangan seluruh kosakata di lidahnya.

"Mengenai alasan kenapa aku bisa berada di ladang ini... jujur saja aku sendiri sama sekali tidak mengetahuinya, Tuan. Tepat pada saat aku pertama kali terbangun dan tersadar secara aneh, aku sudah berada di tepian aliran sungai luar sana," cerita Damian lirih.

"Aku mencoba berjalan kaki tanpa arah tujuan dan berakhir terus-menerus berputar-putar tersesat di dalam ladang ini. Bisakah Tuan sudi menolongku? Tolong antarkan aku pergi ke Kota Vespera... aku ingin segera pulang kembali ke kastil milik ayahku."

Damian menatap lurus ke arah Alan dengan sepasang mata hitam pekatnya yang kini memancarkan pandangan memelas yang mendalam. Gesturnya persis layaknya seorang anak kecil yang tengah tersesat di dunia luar dan sangat merindukan kehangatan rumahnya.

Alan tertegun luar biasa menyaksikan fenomena abnormal ini. Ke mana perginya tatapan mata tajam nan kejam yang tujuh belas tahun lalu sanggup membunuh makhluk hidup hanya dengan satu kedipan?

Bagaimana bisa sesosok entitas yang secara historis memiliki usia kronologis lebih dari seratus tahun ini, sekarang justru menganggap jiwanya jauh lebih muda dibandingkan Alan yang baru menginjak usia 24 tahun?

Jiwa pria ini tampaknya mengalami kemunduran ingatan yang sangat drastis akibat efek pembekuan es abadi miliknya dahulu.

"Maaf, Tuan... jadi, apakah Anda bersedia untuk menolongku?" tanya Damian sekali lagi.

Jemari tangannya yang kaku bergerak meremas ujung kain kemeja beludru mewahnya yang kini telah kotor dipenuhi oleh noda tanah hitam ladang.

Alan tidak segera memberikan jawaban verbal atas pertanyaan itu. Ia justru memilih untuk tetap diam membeku. Sementara itu, isi pikiran di kepalanya melayang jauh entah ke mana, mencoba merajut benang merah dari anomali supernatural yang sedang terjadi di depan matanya saat ini.

"Bagaimana, Tuan Alan? Apa Anda benar-benar mau memberikan pertolongan kepada diriku?"

Damian kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya. Nada suaranya kini terdengar sedikit mendesak dan cemas karena melihat Alan hanya berdiri mematung sekaku patung tanpa memberikan respons kepastian apa pun.

Keheningan yang panjang itu mulai memicu rasa takut di dalam diri Damian yang malang.

Sontak, desakan vokal dari pria di hadapannya itu berhasil menarik Alan keluar dari lamunan panjangnya. Pria itu berdeham kecil, mencoba mengusir rasa kikuk dan canggung yang menjalar di sekujur sendi tubuhnya, lalu memaksakan sebuah senyuman kaku yang terkesan canggung di bibirnya.

"Emm... mengenai urusan itu... aku akan mencoba mengusahakan opsi terbaik untukmu," jawab Alan.

Nada suaranya terdengar sarat akan keraguan yang nyata di telinga. Ia mengangkat tangannya, menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal demi menutupi rasa canggung yang mendera jiwanya.

"Atau begini saja untuk solusinya. Bagaimana kalau besok pagi kamu pergi bertolak ke sana bersama dengan sahabatku? Kebetulan sekali, dia memang memiliki rencana untuk pergi menuju ke Kota Vespera besok pagi."

Alan merasa lidahnya menjadi teramat kelu dan kaku saat ia dipaksa untuk menggunakan gaya panggilan santai non-formal kepada sosok penguasa abadi yang seharusnya ia segani dan waspadai setengah mati di dunia supernatural.

Di dalam lubuk benaknya, peperangan batin yang hebat masih terus berkecamuk liar; benarkah pria yang tampak linglung, kotor, dan tak berdaya di hadapannya saat ini adalah sosok Damian sang Raja Demon legendaris yang dulu kekuatannya sanggup menggetarkan seluruh benua?

Ia juga bertanya-tanya, siapa gerangan yang sudah membebaskan sihir es yang membelenggu tubuh Damian. Seingat Alan, hanya dirinyalah dan pamannya yang merupakan keturunan Pegasus murni yang bisa melakukannya dengan bauran energi mereka.

Ia tidak tahu bahwa ada seorang bayi perempuan yang dulu diselamatkannya, yang kini tumbuh dewasa dengan nama White, yang memendam es murni tersebut.

Begitu mendengar tawaran solusi tersebut, gurat ekspresi di wajah Damian seketika berubah secara drastis dalam sekejap. Sepasang manik mata hitam pekatnya yang semula tampak sayu kini mendadak berbinar cerah memancarkan kebahagiaan.

Sebuah senyuman lebar yang tulus terukir indah menghiasi bibirnya yang pucat, membuat wajah tampannya terlihat begitu memukau di bawah sinar rembulan.

"Baiklah kalau begitu, Tuan Alan! Terima kasih banyak, aku benar-benar sangat berterima kasih karena Anda bersedia menolongku yang kesusahan ini,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!