Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata yang Jatuh
Waktu berlalu begitu cepat. Langit malam yang sejak tadi dipenuhi cahaya bintang perlahan mulai memudar.
Kegelapan berganti dengan semburat kebiruan, sementara secercah cahaya dari ufuk timur mulai muncul, menandakan pagi telah tiba.
Raya baru saja menyelesaikan salat Subuh, kemudian melanjutkannya dengan salat Duha. Setelah selesai sholat ia lanjutkan dengan berdoa agar kesabarannya di limpah luaskan.
Setelah itu ia bangkit dan mulai melipat mukena serta sajadah yang digunakannya, lalu meletakkannya di atas meja.
Setelah itu ia berbalik namun, pandangannya tiba-tiba terhenti pada sebuah kalender yang terpajang di atas meja.
Raya diam sejenak.
Tatapannya menyusuri angka-angka yang tertera pada kalender tersebut. Perlahan, ia meraihnya dan membalik halaman kalender itu untuk memastikan tanggal yang sedang dilihatnya.
Senyum miring perlahan terukir di sudut bibirnya.
“Lihat saja,” gumam Raya pelan sambil menatap tanggal tersebut. “Apa kamu masih tahu diri, Ra?”
Ia mengembalikan kalender itu ke tempat semula, lalu merapikannya agar kembali tergantung dengan baik.
Tanpa memikirkan hal itu lebih jauh, Raya berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.
.
Sementara di kamar tamu, Rara memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mencengkeram erat selimut hingga buku-bukunya memutih. Napasnya tersengal-sengal, berusaha menyesuaikan diri dengan ritme yang dipaksakan oleh pria di atasnya.
“Sssshhh, Mas Zevanhhh,” desisnya pelan, suaranya parau.
Zevan mencondongkan tubuhnya lebih dekat, bibirnya menempel di telinga Rara.
“Sabar, Ra. Sebentar lagi mau keluar,” bisiknya dengan nada serak yang penuh nafsu.
Tubuh Rara menegang saat guncangan itu menjadi semakin cepat dan intens.
“Ah… sekarang!” erangnya singkat sebelum seluruh tubuhnya terasa lemas seketika. Guncangan itu berhenti, digantikan oleh sensasi cairan hangat yang mengalir di dalam dirinya, sebuah tanda bahwa puncak dari aktivitas mereka telah tercapai.
Napas Rara masih menggebu, dadanya naik turun dengan cepat seiring detak jantungnya yang belum juga stabil. Ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya, bercampur dengan aroma khas hubungan intim yang kini memenuhi ruangan.
Hingga sebuah tangan besar mengusap keningnya dengan lembut, mencoba menenangkan gejolak yang masih tersisa.
“Mas, aku mau mandi dulu,” ucap Rara pelan, suaranya masih bergetar halus.
Tubuh Zevan akhirnya menyingkir dari atas tubuhnya, agar ia segera beranjak dari kasur. Kakinya masih terasa goyah saat ia melangkah menuju kamar mandi.
Dan baru saja tangannya hendak menekan handle pintu.
Suara Zevan terdengar di belakangnya.
“Ra, kita mandi bareng aja,” ucap Zevan dari belakang, suaranya terdengar santai dan penuh harapan.
Rara menoleh. Ia menatap wajah suaminya yang masih terlihat puas, lalu perlahan mengangguk kecil.
Mereka pun sama-sama berjalan menuju kamar mandi.
.
.
Beberapa saat kemudian, sinar matahari kini telah bersinar menerangi sebagian wilayah.
Raya sudah selesai bersiap untuk berangkat bekerja. Ia mengenakan pakaian formal yang selalu ia kenakan saat bekerja.
Sambil menuruni anak tangga, perhatiannya masih tertuju pada ponsel yang berada di tangannya. Sebuah percakapan yang sejak tadi terbuka di layar membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi balasan muncul.
Sebuah video.
Raya segera membukanya. Video berdurasi lima belas detik itu menampilkan wajah Syila yang tampak ceria.
“Mamah! Kapan jenguk Syila?” suara gadis kecil itu terdengar dari ponsel. “Syila kangen banget sama Mamah. Semalam Syila mimpi jalan-jalan sama Mamah.”
Raya terkekeh kecil.
‘Ya ampun, aku serasa punya anak.’
Namun, ketika Raya hendak membalas pesan tersebut, suara derit pintu dari arah belakang membuat langkahnya terhenti.
Ia menurunkan ponselnya dan menoleh.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Zevan dan Rara yang baru saja keluar.
Raya sempat memperhatikan keduanya. Namun pandangannya menangkap bercak merah di leher Zevan.
Raya terdiam sesaat.
Senyum getir perlahan muncul di sudut bibirnya.
‘Pagi-pagi sudah seperti ini. Benar-benar nggak tahu malu.’
“Mbak Raya...” suara Rara terdengar memanggil.
Raya segera mengalihkan pandangan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berkata dengan nada datar,
“Aku nggak masak. Aku ada urusan pekerjaan.”
Zevan yang berdiri di samping Rara langsung mengerutkan kening.
“Sepagi ini?”
Raya menatapnya sekilas.
“Tentu saja, Mas.” Ia membenarkan posisi tas di bahunya. “Aku harus jemput atasanku. Pekerjaanku nggak mudah, nggak seperti kamu yang santai.”
Zevan terdiam sebentar sebelum kembali membuka suara.
“Kita sarapan dulu bersama. Bahkan sejak hari itu, kita nggak pernah makan bersama.”
Raya mengangkat alis. “Lalu siapa yang masak?” tanyanya, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
Suasana mendadak hening.
Raya menatap Zevan tanpa berkedip, menunggu jawabannya. Namun, pria itu justru kembali berkata.
“Tapi, Raya, biasanya kamu yang masak.”
Raya terkekeh pelan. Kali ini, senyumnya terasa sinis.
“Order saja. Beres. Aku makan di luar.”
Ia tidak memberikan kesempatan kepada Zevan untuk kembali membahas masalah tersebut. Raya langsung berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
Tatapannya tetap dingin. Langkahnya pun tegas.
. . .
Setibanya di luar, Raya segera masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu, memasang sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin.
Namun, alih-alih langsung melajukan kendaraan, ia justru terdiam di balik kemudi.
Kedua tangannya mencengkeram erat setir. Jemarinya sampai memutih, sementara kepalanya tertunduk sejenak.
Raya mengembuskan napas panjang yang terdengar bergetar.
“Ya Allah...” lirihnya.
Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke depan melalui kaca mobil.
“Aku harus sampai kapan bertahan di rumah tangga yang membuat dadaku terasa begitu sesak?” Suaranya mulai bergetar. “Apalagi melihat suami dan adik maduku sendiri bermesraan di depan mataku langsung.”
Kalimat terakhir nyaris tidak terdengar.
Bibir Raya bergetar. Ia segera menutup rapat-rapat bibirnya, berusaha agar tak menimbulkan suara. Namun, pertahanannya justru runtuh begitu saja saat setetes air mata jatuh melewati pipinya.
Raya buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.
Namun, bukannya berhenti, air mata lain justru menyusul. Satu demi satu membasahi pipinya hingga pandangannya mulai berpendar.
Ia menundukkan kepala ke arah setir. Bahunya bergerak kecil ketika isak yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos.
Raya menggigit bibir bawahnya, berusaha kembali meredam suara tangis agar tidak terdengar siapa pun di luar mobil.
Tangannya kembali terangkat untuk mengusap pipi, tetapi semakin ia menghapusnya, semakin banyak air mata yang mengalir.
Raya memejamkan mata erat-erat.
“Tenang Raya, pria itu hanya pria punyuka selangkangan, buat apa di tangisin?”
Namun, sebelum sempat menyalakan mesin kembali—
Drrrttt.
Suara getaran ponsel membuat Raya menoleh ke arah tas yang berada di kursi sebelah.
Ia segera mengambilnya.
Nama Pak Kansa terpampang di layar.
Raya terdiam sesaat, lalu ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan suaranya.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Raya menggeser tombol untuk menerima panggilan.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, berusaha membuat suaranya terdengar normal.
“Di mana?”
“Saya sedang dalam perjalanan, Pak.”
“Kamu bisa masak?”
Raya sedikit mengernyit.
“Bisa, Pak.”
“Syila merengek ingin ikut saya ke kantor untuk bertemu denganmu,” ujar Kansa dari seberang. “Jadi, kamu ke rumah saya dan masak makanan untuknya. Saya tidak tahu makanan apa yang disukai anak perempuan.”
Raya terdiam sejenak.
Mendengar nama Syila membuat perasaannya yang sempat kacau menjadi sedikit lebih tenang.
“Baik, Pak. Saya segera ke sana.”
“Saya tunggu.”
Sambungan telepon berakhir.
Raya menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengusap sekali lagi pipinya untuk memastikan tidak ada sisa air mata.
Setelah itu, kedua tangannya kembali menggenggam setir.
Mesin mobil dinyalakan.
Tanpa membuang waktu ia menginjak gas dan melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah menuju kediaman atasannya.