Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Aku jadi penasaran tas ini isinya apa?" Nismara mengambil tas yang diklaim sebagai milik anaknya itu. "Apa kamu sudah pernah membuka tas ini, Syarifah?"
Syarifah diam saja, hanya lehernya dia bawa untuk lebih menunduk.
"Hmmmm, tanpa kamu jawab kami tahu kamu sudah buka tas ini!" Miranti menajamkan pandangan ke arah Syarifah.
"Sa- saya cu- cuma bu- buka se- sekali, cuma lihat atasnya, terus tutup lagi. Dan saya nggak tahu isinya apa aja, dan nggak ambil apa-apa. Sumpah, Tan!" meski tergagap, namun entah mengapa suara Syarifah menjadi lebih keras dari sebelumnya.
Benda yang terbuat dari bahan kulit mahal itu dibongkar dengan segera. Dan Nismara membelalak ketika melihat isinya. Satu gepok uang dolar Amerika.
" Miranti lihat ini apaaaaa?" ucap Nismara dengan bibir bergetaran sambil menarik sejumput kain dari dalam tas.
Matanya kian melotot ketika akhirnya melihat bentuk utuh dari barang yang disangkanya kain. Ternyata itu semacam lingerie seksi dengan ukuran sangat kecil dan kurang bahan di mana-mana. Nismara bisa membayangkan saat baju haram ini melekat di tubuh seorang wanita, bisa dipastikan sangat menggoda. Jantung Nismara seakan lepas saat menemukan ada dua baju haram yang tak kalah hotnya dari yang pertama dia tarik.
"Ba- bagaimana ini ada di dalam tas Sherin?" Nismara mendadak seperti orang linglung.
"Berarti gosip itu betul." ceplos Syarifah.
"Gosip apa?" Nismara dan Miranti lagi-lagi bersamaan mengeluarkan suara.
"Eh, nggak - nggak." wajah Syarifah pias seketika, dua tangannya spontan menutup mulutnya sendiri.
"Gosip apa, Syarifah! Katakan!" Nismara berseru.
Syarifah mengkerut di kursinya. Dia begitu menyesal telah keceplosan.
" Syarifah katakan saja." kata Miranti lembut. Mencoba membujuk sambil berusaha menetralkan ketegangan.
"I- ituuuuu." Dada Syarifah terlihat naik turun menahan sesuatu. "Fo- foto mo- model de- dewasa."
"Maksud mu?" Miranti menautkan alis tidak mengerti.
"Kak Sherin.... foto modelnya."
"Apa maksudnya sharing jadi foto model p*rno?" Nismara berteriak.
Syarifah mengganggu pelan. "Ta- tapi itu go- gosip yang beredar di sekolah, Tan."
Nismara seketika lemas. Tubuhnya meluruh ke sandaran kursi. "Astaga, Mir. Apalagi yang disembunyikan Sherin dari kita."
"Sabar, Nis. Itu kan baru gosip, belum tentu kebenarannya seperti itu."
"Tapi buat apa baju-baju begini? Astagaaaa......" Nismara menyugar rambutnya secara kasar.
Sedang Syarifah mengambil minumnya dengan cepat, dan langsung menenggak habis.
Kemudian tiga orang di ruangan itu saling terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Tan- Tante, apa boleh saya pergi sekarang?" Syarifah memandang ke arah Nismara.
"Ya, Syarifah. Terima kasih ya." Nismara menegakkan duduknya.
"Kalau gitu permisi, Tan." Gadis itu keluar tanpa bersalaman. Langkahnya begitu lebar seakan-akan tidak sabar untuk menghilang dari rumah mewah Nismara.
Nismara menghela nafas. "Kejutan apalagi yang menanti kita, Mir? Aku jadi bertambah yakin sama si peduli kamu itu. Eh, coba kita tengok, barangkali sudah mengirim pesan lagi."
Nismara berdiri. Dia berniat ke kamar Sherin, karena telepon genggamnya masih ada di sana. Miranti juga ikut berdiri. Ketika tangan Nismara meraih tas Sherin, Miranti pun melakukan hal yang sama.
"Eh!" pekik mereka bersamaan.
Dan pada detik yang sama pula tangan Miranti dan Nismara melepaskan tas tersebut. Alhasil tas itupun jatuh ke lantai dan menumpahkan semua isinya. Miranti segera menunduk untuk memunguti baju-baju dan uang yang berserakan.
"Nis, lihat ini!" Miranti mengangkat tangannya.
Ada dua kartu seperti kartu ATM, tapi itu bukan kartu ATM. Yang satu bertuliskan Mahkota dan yang lainnya....
"Majafas?!" Nismara berseru. "Apa itu sebenarnya Majafas?"
Nismara masih belum mengerti tentang arti kata Majafas. Si peduli kamu pun tidak merespon ketika Nismara menanyakannya via email. Nismara terus mencoba mencari info sampai malam hingga kepalanya nyut-nyutan, tapi teka-teki satu kata itu belum juga ditemukan.
****
Pagi-pagi sekali Nismara sudah keluar rumah. Dia sengaja membawa mobil sendiri agar lebih leluasa. Lagi pula Pak Dion sopir pribadinya juga belum kembali hingga kini.
Saat buang hajat dini hari tadi, tiba-tiba terlintas di benak Nismara untuk pergi ke sekolah sharing dan menemui Joana secara samar-samar saja, sebab disadarinya Dia tidak pernah ambil peduli pada setiap teman Sherin yang pernah datang ke rumahnya. Namun Nismara yakin jika nanti bisa bertanya pada satpam atau siapa saja di sana.
"Semoga pihak sekolah mengizinkan aku menemui Joana. "Bisik Nismara terus menginjak gas mobilnya. Sama sekali tak ingin keduluan oleh bel masuk sekolah, karena pasti akan sangat susah untuk mencari alasan jika Joana sudah mulai kelasnya.
Nismara sampai di sekolah Sherin 15 menit kemudian. Dia langsung mencari parkir di luar area sekolah. Agak jauh memang dan Nismara harus rela berjalan kaki untuk masuk ke gerbang sekolah. Namun itu lebih efektif daripada dia memaksa masuk ke area sekolah yang sekarang penuh sesak dengan mobil yang mengular dan berjalan pelan.
Nismara tersenyum kepada satpam yang sedang berjaga di lobby gedung sekolah.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa satpam ramah.
"Pagi, Pak. Saya mau ketemu Joana." jawab Nismara sama ramahnya.
"Maaf, Bu. Nama lengkapnya Joana siapa dan kelas berapa ya, Bu? Ada tiga nama Joana disini." kata satpam lagi. Nismara tersenyum sejenak untuk berpikir, padahal di otaknya kosong tidak ada bayangan apa-apa mengenai Joana.
"Mommy nya Sherin ya?" tiba-tiba ada suara dari belakang satpam.
"Eh, iyaaa." Nismara menjawab cepat. Tak lupa dia tersenyum lagi, meski Nismara tidak mengenali Siapa perempuan dengan kerudung rapi warna biru yang menyapanya. Tapi dia tetap menerima uluran tangan dari perempuan itu dan mereka pun bersalaman.
"Silahkan Mommy, kita ke ruang tamu." perempuan itu berkata dan berjalan mendahului Nismara. Mau tidak mau Nismara mengikuti. Ternyata dia membawa Nismara ke arah sebelah lobby, di situ ada sebuah ruang kecil dengan sofa yang nyaman bersih dan wangi. Dengan keramahannya dia mempersilahkan Nismara duduk.
"Ada yang bisa dibantu, Mom? Oh iya saya Indira kebetulan wali kelasnya Sherin.....emmm almarhumah Sherin."
"Iya, Miss Indira, Saya mau ketemu Joana. Ada sesuatu yang penting yang perlu saya sampaikan sama sahabat Sherin." jawab Nismara. Kata sahabat dia ucapkan dengan nada gamang, karena sesungguhnya dia tidak yakin.
"Oh, iya, Sherin memang saya lihat kemana-mana sering dengan Jojo."
Napas kelegaan menguar begitu saja dari Nismara ketika mendengar jawaban wali kelas anaknya tersebut.
"Mohon tunggu sebentar ya, Mom." Miss Indira itu berdiri dan menuju pintu. "Wah, kebetulan sekali itu Jojo. Jojo, Jo! Kesini sebentar!"
Tak berapa lama muncul gadis cantik di ambang pintu. "Ada apa, Miss?" Suara Joana terdengar. Nadanya jutek sama sekali tidak sopan.
"Jo, ini ada Mommy nya Sherin mau ketemu kamu." Miss Indira menoleh ke arah Nismara duduk.
Joana pun langsung mengikuti pandangan Miss Indira ke dalam ruang tamu.
"Hallo, Joana." Sapa Nismara perusahaan akrab, begitu pandangan mereka bertemu.
"Ada apa?" Jawab Joana ketus.
"Heh, Jojo, tidak boleh begitu, tidak sopan." bisik Miss Indira seraya meraih lengan Joana. Dan memaksa Joana duduk di sebelah Nismara. " Silahkan, Mom, Saya tinggal dulu. Tapi mohon maaf tidak bisa terlalu lama dengan Jojo, karena mungkin sekitar 15 menit lagi, bel masuk akan berbunyi."
Nismara mengangguk. "Terima kasih, Miss."