Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 27
Zemima menyandarkan sikunya di tepi meja kaca, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. Rasa muak dan kecewa melebur menjadi gumpalan sesak yang membakar dadanya.
"Keluarkan semua berkas itu dari meja saya, Maya," ujar Zemima dengan suara yang mendadak melunak, rapuh namun ditahan kuat-kuat.
"Dan tolong... batalkan semua jadwal pertemuan internal saya sampai jam istirahat siang nanti. Jangan ada siapa pun yang masuk ke ruangan ini. Termasuk kamu, kecuali ada hal yang sangat mendesak."
Maya menatap sang atasan dengan pandangan prihatin yang mendalam. Ia tahu betul seberapa kuat wanita di hadapannya ini dalam memimpin imperium bisnis raksasa, namun ia juga sadar betapa dalamnya luka yang dihantamkan oleh orang terkasih.
"Baik, Bu Zemima. Saya akan pastikan tidak ada yang mengganggu Anda. Kalau ada apa-apa ibu panggil saya saja!," ucap Maya sangat lembut.
Ia merapikan kembali seluruh lembar laporan ke dalam map, menunduk hormat, lalu melangkah keluar tanpa menimbulkan suara. Maya melieik sekilas ke arah Zemima, dia merasa kasihan sekaligus prihatin dengan nasib atasannya. Dua tahun dia selalu mengabdikan diri untuk suami dan keluarganya. Dia berharap suatu hari nanti akan bisa lebih membahagiakan keluarga Arsyad saat membuka jati dirinya.
Beruntung saat Arsyad di angkat menjadi Manager, Zemima menahan diri untuk mengatakan siapa dirinya. Saat dia mulai meligat perubahan pada kelaurga Arsyad dan tentu saja Arsyad sendiri yang selalu memanjakan kelaurganya. Namun Zemima tetap bertahan karena Arsyad yang terlihat sangat mencintai dia, tapi rupanya semua itu hanyalah topeng yang pada akhirnya terbongkar karena kecerobohan suaminya sendiri saat dia lupa menyembunyikan bukti pembelian peerhiasan. Di tambah dengan dia yang bahkan berani untuk melakukan penggelapan dana perusahaannya.
Klek.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup rapat dan mengunci secara otomatis, keheningan raksasa langsung menyergap ruangan seluas puluhan meter persegi itu.
Keanggunan mutlak yang baru saja Zemima pamerkan seketika runtuh tanpa sisa.
Zemima merosot dari kursi eksekutifnya, terduduk di atas karpet bulu yang tebal tepat di balik meja kerja. Kedua tangannya membekap wajahnya rapat-rapt. Pertahanan dirinya jebol. Bulir-bulir air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah, mengalir deras membasahi jemarinya dan merusak riasan matanya yang sempurna.
Isakan halus yang memilu mengudara di dalam ruangan megah itu. Sisi rapuh sebagai seorang istri dan wanita pada akhirnya tak bisa lagi dia bendung.
"Kenapa, Arsyad... Kenapa harus kamu? Kamu adalah pria yang aku percaya selama ini!" bisik Zemima dengan suara tercekat, napasnya memburu tertahan.
Hatinya hancur berkeping-keping. Bayangan masa lalu mendadak berputar kejam di ingatannya. Lima tahun lalu, saat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis dan meninggalkannya sendirian di dunia ini dengan harta berlimpah namun hampa, Arsyad hadir bagaikan sosok pelindung. Pria itu datang dengan tutur kata manis,janji-janji sederhana, dan sikap hangat yang membuat Zemima merasa memiliki 'keluarga' kembali.
Demi menjaga ego Arsyad sebagai laki-laki, Zemima rela menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemilik tunggal Vans Holding. Ia menyamar sebagai pegawai biasa, hidup bersahaja di rumah sederhana, dan meredam seluruh kemewahan hidupnya hanya agar Arsyad tidak merasa terintimidasi. Ia menerima perlakuan sinis Bu Rahmi, sindiran Siska, dan keangkuhan keluarga mertuanya... semua demi menjaga utuhnya rumah tangga yang ia kira berlandaskan cinta murni.
Namun hari ini, kenyataan menghantamnya tanpa ampun.
"Aku kurang apa sama kamu, Mas...?" tangis Zemima pecah, dadanya naik turun menahan perih yang tak tertahankan.
"Aku serahkan hatiku... aku tutup mataku dari semua kekurangan keluargamu... aku cuma mau keluarga, Arsyad! Aku cuma mau tempat pulang yang jujur! Aku kira kamu rumahku... Tapi nayatanya bukan, karena kamu tak pernah membiarkan hanya aku yang tinggal di sana! Karena kamu malah membawa penumpang lain ke dalam rumah kamu itu!
Ia meremas dadanya sendiri, merasakan denyut nyeri yang teramat sangat. Mengetahui bahwa suami yang selama dua tahun ini tidur di sampingnya tega menghamilinya wanita lain, membocorkan uang perusahaan untuk simpanannya, bahkan membiarkan wanita itu tinggal di rumah ibunya tanpa rasa bersalah... itu bukan sekadar pengkhianatan biasa. Itu adalah pembunuhan karakter atas seluruh ketulusan yang pernah Zemima berikan.
"Tujuh bulanan diiringi tawa keluarga kamu... sementara kamu biarkan anak itu lahir tanpa status hukum..." bisik Zemima, mengusap air matanya secara kasar dengan telapak tangan yang gemetar.
"Apa ini alasan kamu menunda saat aku ingin punya anak? Menundanya sampai proyek besar kamu selesai atau sampai wanita itu melahirkan dan kamu akan membawanya padaku untuk di asuh? Bajingan kalian...."
"Namun aku berterima kasih kepada Tuhan karena aku tak memiliki anak darimu! Anak yang pada akhirnya hanya akan menjadi alasan agar aku tetap tinggal. Terima kasih karena kamu meminta aku menundanya, Arsyad!"
Tangisnya perlahan mereda, berganti dengan helaan napas berat yang panjang. Pandangannya memudar dari kesedihan, berganti menjadi pendar mata yang kian menggelap dan mengeras. Air mata yang membasahi pipinya ia usap hingga bersih.
Zemima bangkit dari lantai. Ia melangkah menuju kamar mandi pribadi di dalam ruang kerjanya, berdiri di depan cermin besar. Dipandangnya pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit sembap dan riasan yang agak samar, namun sorot matanya kini tak lagi memancarkan keraguan.
Ia memutar keran, mencuci wajahnya dengan air dingin hingga rasa hangat bekas air mata itu sirna. Zemima memoles ulang riasannya, merapikan tatanan rambutnya, dan membetulkan kerah blazernya hingga kembali sempurna.
"Cukup, Zemima. Ini air mata terakhir yang kamu jatuhkan untuk pria bajingan itu," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.
Senyum dingin yang angkuh kembali terpatri di bibirnya. Kesedihan atas hilangnya sebuah 'keluarga' kini telah mengkristal menjadi tekad bulat. Jika Arsyad dan keluarganya memilih untuk menjadi iblis dalam kehidupannya, maka Zemima tidak akan ragu untuk menjadi neraka bagi masa depan mereka semua.
DRRRTTTT
DRRRRTTTT
DRRRTTTT
ponsel Zemima berbunyi, Arsyad terus melakukan panggilan telepon dan banyak pesan padanya. Kening Zemima berkerut melihatnya.
"Mau apa, kamu Arsyad?"