Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
Di mansion keluarga Wei, suasana juga sedang memanas.
Video skandal Tom telah menyebar luas dan membuat nama keluarga Wei ikut menjadi bahan pembicaraan. Mike Wei yang selama ini sangat menjaga citra keluarganya tidak mampu menahan amarah.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Tom.
"Dasar tidak tahu malu! Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?!" bentak Mike Wei.
Tom memegangi pipinya yang memerah, menatap papanya dengan wajah kesal.
"Papa, aku bisa menjelaskan—"
"Menjelaskan apa? Wajahmu terlihat jelas di dalam video itu!" potong Mike dengan suara penuh kemarahan.
"Seluruh orang sekarang sedang membicarakan keluarga Wei karena ulahmu!"
Di sisi lain, Vivian hanya berdiri di tangga sambil memakan apel, menyaksikan keributan itu dengan tatapan tenang.
Sementara itu, June dan Vivi duduk di sofa. Suasana di mansion keluarga Wei terasa semakin tegang.
"Tom, kenapa kau tidak berhati-hati saat berada di luar? Papamu memiliki banyak saingan. Mereka pasti akan mencari kesempatan untuk menjatuhkan papamu," kata June.
"Sekarang saham perusahaan anjlok dan banyak investor sedang mengamuk. Kau adalah manajer, tetapi kau sama sekali tidak menjaga sikapmu!" bentak Mike.
"Papa."
Suara Vivian terdengar dari tangga. Dia menuruni anak tangga dengan tenang.
"Dalam situasi seperti ini, hanya ada satu cara untuk meredakan kemarahan para investor," ujar Vivian.
"Cara apa?" tanya Mike.
"Menurunkan jabatan Kakak dari manajer menjadi karyawan biasa."
"Vivian, kau sengaja, bukan?!" bentak Tom.
"Diam!"
Mike menatap Tom dengan wajah dingin.
"Apa yang dikatakan adikmu ada benarnya. Karena kau seorang manajer, tindakanmu membuat para investor semakin kecewa. Satu-satunya cara adalah mencopotmu dari jabatan manajer dan membuatmu memulai dari bawah."
"Pa, aku sudah menjadi manajer. Kalau aku tiba-tiba menjadi karyawan biasa, aku akan ditertawakan!" protes Tom.
"Kakak, menurutmu mana yang lebih penting, saham perusahaan atau harga dirimu?" tanya Vivian dengan sengaja menyindir.
"Kau... bisa diam atau tidak? Kau tidak berhak ikut campur!" ketus Tom.
Whush!
Mike mengambil ikat pinggangnya lalu mengayunkannya ke kaki Tom.
"Aah!"
Tom menjerit kesakitan dan segera mundur beberapa langkah.
"Vivian tidak salah. Kau yang tidak tahu diri. Demi masa depan perusahaan, aku harus mengambil keputusan seperti yang dikatakan Vivian," ujar Mike tegas.
"Tom, dengarkan saja kata papamu. Setelah situasinya membaik, kita bisa membicarakannya lagi," bujuk June.
Mike kembali memeriksa ponselnya.
"Video ini sudah tersebar luas dan jutaan orang telah melihatnya. Kenapa sampai sekarang masih belum dihapus?" gumamnya kesal.
"Pa, dihapus atau tidak sekarang sudah tidak berguna," ujar Vivian.
Mike menatapnya.
"Kalau Papa ingin membuat para investor kembali percaya kepada keluarga Wei, Kakak harus melakukan satu hal."
"Melakukan apa?" tanya Mike.
Vivi yang sejak tadi diam langsung menatap Vivian dengan curiga.
"Vivian, jangan bilang kau ingin menyuruh Kakak pergi ke luar negeri? Walaupun Kakak sering memarahimu, kau tidak bisa menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam!"
"Vivi, kau selalu saja berprasangka buruk kepadaku. Perusahaan Papa sedang dalam bahaya dan bahkan terancam bangkrut. Kalau kita kehilangan semuanya, jangankan tempat tinggal, untuk makan saja kita pasti akan kesulitan," ujar Vivian dengan sengaja.
"Vivian, coba katakan apa pendapatmu!" ucap Mike.
"Kakak harus mengadakan konferensi pers dan mengakui semua kesalahannya. Selain itu, Kakak juga harus mengatakan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Tegaskan bahwa keluarga tidak mengetahui apa yang Kakak lakukan, sehingga masalah ini tidak memengaruhi saham perusahaan. Dengan begitu, para investor tidak akan terus menyalahkan Papa," jawab Vivian.
Mike terdiam sejenak sambil memikirkan perkataan Vivian.
"Vivian, kau hanya ingin aku dipermalukan di depan seluruh negeri!" ujar Tom dengan geram.
"Kakak, kau sendiri yang melakukan kesalahan. Apakah semua orang harus ikut terseret karena ulahmu?" Vivian menatap Tom dengan tenang.
"Bukankah kau adalah anak kebanggaan keluarga Wei? Kenapa sekarang kau hanya bisa menimbulkan masalah dan tidak mampu menyelesaikannya sendiri? Kalau tidak berani bertanggung jawab, bagaimana kau bisa menjadi pewaris keluarga Wei?" sindir Vivian.
"Lebih baik kau diam!" bentak Tom.
Mike yang kembali tersulut emosi langsung mengambil ikat pinggangnya dan mengayunkannya ke kaki Tom.
Whush!
"Papa!" jerit Tom kesakitan.
"Sudah salah masih tidak mau bertanggung jawab! Bahkan adikmu saja masih tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah!" bentak Mike.
"Aku tidak mau tahu. Besok kau harus mengadakan konferensi pers dan mengakui kesalahanmu. Beritahu media bahwa kejadian ini adalah masalah pribadimu dan tidak ada hubungannya dengan keluarga Wei ataupun perusahaan!"
Mike menatap Tom dengan tegas.
"Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan."
"Iya, aku tahu!" jawab Tom. Dia hanya bisa pasrah menerima keputusan papanya.
Sementara itu, Vivian menggigit sebuah apel lalu melangkah keluar dari mansion.
"Vivian, sudah hampir makan siang. Kau mau pergi ke mana?" tanya June.
"Mama, aku ada janji dengan Kakak Jeff!" jawab Vivian.
Setelah itu, Vivian pun pergi meninggalkan mansion.
"Tom Wei, membuatmu turun jabatan, bukan hanya menyebabkan semua orang tidak percaya padamu. Tapi juga ke depannya papamu itu tidak akan menyerahkan seluruh hartanya padamu," batinnya.
***
Di sebuah villa mewah yang terletak di kawasan perumahan elit, Delvin Yang sedang berada di dalam ruangan bersama asistennya, Jo.
Delvin duduk santai sambil membaca beberapa berkas di tangannya. Sementara itu, Jo berdiri di dekat dinding, memperhatikan sebuah lukisan yang tergantung di sana.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang berjalan menuju villa tersebut.
Vivian datang sambil membawa beberapa makanan yang baru dibelinya.
"Aku membelikan makanan kesukaan Kakak Jeff. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia pasti terkejut saat melihatku. Aku akan memberinya kejutan," gumam Vivian dengan senyum kecil.
Vivian kemudian mempercepat langkahnya menuju pintu villa.
Setibanya di depan pintu, Vivian melihat seorang pria duduk di sofa dengan posisi membelakanginya.
Tanpa berpikir panjang, Vivian langsung berlari menghampirinya.
"Kakak Jeff, aku datang!" seru Vivian dengan penuh semangat.
Vivian langsung memeluk pria itu dari belakang.
Aksi tiba-tiba tersebut membuat Delvin terdiam seketika.
"Aku ingin memberimu kejutan, makanya aku datang diam-diam," ujar Vivian sambil tersenyum. Dia masih belum menyadari bahwa pria yang dipeluknya bukanlah orang yang dia cari.
Jo yang berdiri tidak jauh dari sana langsung memandang ke arah Delvin dengan mata terbelalak.
"Gawat!" batin Jo.
Delvin menoleh tepat di saat Vivian ikut menoleh.
Cup!
Bibir mereka tanpa sengaja saling menempel.
Keduanya membeku.
Vivian membelalakkan mata, sementara Delvin hanya menatapnya tanpa berkedip.
"Ciuman pertama bos hilang begitu saja,' gumam Jo.
"Pria ini kenapa terasa tidak asing? Dan... bibirnya begitu lembut? batin Vivian.
Tanpa sadar, Vivian masih belum melepaskan ciuman itu.