Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan pembantu baru : 30
Ketika hari beranjak sore, Helyara baru keluar dari rumah sakit. Dia sudah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan — dari rontgen dada, perekaman aktivitas jantung, hingga pemeriksaan bagian tubuh luar, telah selesai dijalaninya.
Helyara tertahan lama di ruangan dokter jantung. Obat antidepresan yang masuk ke tubuhnya selama bertahun-tahun, mengganggu kinerja jantung, beresiko membahayakan nyawa.
Dokter meresepkan obat antiaritmia untuk menstabilkan detak jantung kembali normal.
Dan juga memberikan bekal pertolongan pertama apabila Helyara mengalami pacu jantung melalui salinan kertas.
Pada pukul tiga sore, Helya merasa aneh sekaligus familiar ketika membaca plakat akrilik di bangunan besar, kokoh tingkat tiga, berhalaman cukup luas — Haujan Law Office.
‘Seperti nama belakang Abi Sakta Haujan,’ batinnya mencoba mencocokkan sambil membuka pintu mobil.
Abi Sakta berjalan di depan, lalu berhenti menunggu Helyara menyamai langkahnya.
Selain membawa tas, Helya menjinjing plastik tipis, hasil rontgen paru-parunya.
“Ini kantor tempatku mengais rezeki sebagai karyawan. Disini gak ada lift, gapapa kan kalau kamu naik sampai lantai tiga?” Ia menahan pintu kaca, mempersilahkan Helyara masuk.
“Gapapa, tapi ya gak bisa cepat-cepat naiknya,” jujurnya menahan malu, tidak berani memandang.
Diperhatikan bagian lobi yang lenggang, nyaman, dengan plafon tinggi, kaca jendela besar kalau dari luar tidak tembus ke dalam, sehingga privasi tetap terjaga.
Pada meja panjang ada seorang pria dan wanita berpakaian semi formal. Mereka menyapa ramah.
Helya balas mengangguk singkat, lalu mengikuti langkah panjang pria yang bila diimbangi tiga ayunan kaki pendeknya baru setara.
“Kamu duluan!” dia tidak mau diperhatikan saat naik tangga.
Sakta tidak mempermasalahkan, menapaki tangga, memperlambat langkah. Diam-diam diliriknya wanita menunduk, sebelah tangan berpegangan pada railing, sesekali berhenti guna mengatur napas.
“Ya Tuhan, baru segini saja sudah seperti berlari berkilo-kilo meter jauhnya,” gerutu Helya, napasnya memberat.
Dia mendongak, dan bersyukur mendapati sang pengacara tidak memperhatikan, sibuk dengan ponselnya.
Helya naik lagi sambil mengatur napas, menyeka keringat di pelipis. Rasanya ingin sekali membuka blazer, tapi urung. Dia malu.
‘Akhirnya sampai juga,’ batinnya bersyukur sudah berdiri di lantai tiga setelah menapaki anak tangga penuh perjuangan, berpeluh keringat.
Sakta membuka pintu ruang kerja luas, warna putih kombinasi butter yellow memberi kesan segar dan lenggang.
Helya berhenti, wajahnya menunjukkan ekspresi heran sekaligus penasaran.
“Selamat datang di Haujan Law Office, Ibu. Yudis menyapa, kedua wanita disebelahnya ikut berdiri.
“Sore pak, Yudistra.” Helya mengikis jarak, melirik menelisik penampilan wanita lebih tua, sekilas mirip bi Mirma.
Kemudian gadis muda lebih pendek darinya, dan sama-sama memiliki tubuh tambun.
Penampilan mereka rapi, memakai celana kulot, kaos longgar, flat shoes, potongan rambut sama-sama mirip Dora. Poni di atas alis.
“Beliau nyonya Helyara, majikan kalian yang asli,” Yudis mengode agar kedua wanita baru di jemput dari stasiun kereta, menyapa.
Wanita lebih tua cepat-cepat mendekat, terlebih dulu mengelap tangan di celana yang dikenakan baru menyapa. “Saya Isa, Nyonya. Biasa dipanggil bi Isa, adiknya mba Mirma.”
Wajah Helyara sedikit menunduk, memperhatikan tangan kanan terulur, dia sambut, menggenggam singkat, dan melepaskannya. “Saya Helyara Utomo.”
Bi Isa tersenyum lebar, menarik tangan gadis yang berdiri sedikit ke belakang. “Ini putri saya, namanya Sinta. Baru saja lulus SMU.”
Sinta pun mengajak bersalaman, barisan gigi putihnya tampak kala tersenyum sumringah. “Sinta, Nyonya.”
Helya mengangguk, menyambut, kemudian melepaskan jabat tangan.
Dia bingung. Bi Mirma tidak ada mengatakan jika adiknya membawa anak.
Yudis menjelaskan seraya menyuruh mereka duduk di sofa tamu. “Bi Mirma yang mengusulkan Sinta ke kakak iparnya, Ganira. Dia merasa kalau ada lebih satu orang berada di pihak nyonya Helyara, bisa membantu maksimal.”
“Saya bisa dipercaya kok, Nyonya. Walaupun gendut, tapi lari saya kencang, terus pinter sembunyi, tipu menipu juga jago. Saya yakin Nyonya gak bakalan nyesel menerimaku bekerja,” Sinta mempromosikan diri.
Plak!
“Buk, sakit!” Diusapnya bekas pukulan terasa panas dipaha.
“Diem! Yang ada nyonya Helyara takut mau mempekerjakan kamu. Belum apa-apa kok ya buka kedok kelakuan ajaib itu!” Dipelototinya putri sulung.
Helyara tertarik dengan gadis apa adanya, bisa dibilang banyak bicara, tapi tidak berpura-pura, terasa tulus. “Umur kamu berapa?”
Sinta meringis sebelum menjawab. “Jalan sembilan belas tahun, Nyonya.”
“Apa bi Mirma sudah cerita tentang saya, dan keadaan dirumah?” Helya menelisik kedua calon pembantunya.
Bi Isa mengangguk semangat. “Sudah, Nya. Sebelum berangkat, kami menginap semalam di rumahnya.”
“Terus apa Bibi dan Sinta bisa dipercaya? Gak akan tergiur jika sewaktu-waktu diimingi imbalan besar oleh mereka?” suara Helya terdengar tegas, tatapan mata tajam.
‘Sesekali, aku harus mengetes kesetiaan mereka berdua,’ ia bertekad, belajar dari pengalaman menyakitkan.
“Kalau uang halal mungkin saya masih pikir-pikir. Tapi namanya curang, ya pasti gak halal kan? Blas gak minat, Nya,” Sinta menjawab lebih dulu.
Bi Isa menimpali. “Saya merantau ke kota, niatnya kerja halal untuk biaya sekolah, makan sehari-hari dua adiknya Sinta, Nyonya. Apapun yang terjadi nanti, Bibi gak minat.”
Ia sedikit puas mendengar jawaban, tetapi tidak langsung percaya. Rasanya sulit mempercayai orang setelah banyaknya fakta mencengangkan baru saja terungkap.
“Pak Yudistra, terus ini gimana?” Helya menoleh ke pria sedang menyusun menyusun lembaran kertas.
“Bi Isa, dan Sinta, akan menandatangani kontrak kerja. Jika mereka terlibat persekongkolan dengan Alandi, dan mengkhianati kepercayaan nyonya Helyara, maka hukum yang akan berbicara. Silahkan dibaca poin-poin penting ini!” Lembaran kertas dibagi ke tiga orang yang akan menandatangani perjanjian berkekuatan hukum.
“Ngeri juga ya Buk, hukumannya. Maksimal 6 tahun penjara. Keluar dari sana sudah tua aku,” celetuk Sinta, dari banyaknya poin dia tertarik dengan sanksi hukuman.
“Makanya, kamu harus hati-hati. Diinget baik-baik, majikan kita cuma nyonya Helyara, lainnya gak usah diurus!” ibunya memperingati.
“Semoga gajinya besar, biar bisa buat beli mulutnya tetangga yang suka menghina aku gendut, pendek, item,” celetuknya asal.
“Eh, gak boleh bales, Buk! Nanti ada yang tersinggung, malah kita langsung dipecat sebelum sempat kerja.” Mata Sinta melotot, sudah hafal kebiasaan ibunya yang selalu membahas berat badan.
Bi Isa melirik sungkan calon majikannya, badan putrinya tidak jauh berbeda dari Helyara.
“Maaf, Nyonya. Sinta mulutnya sudah dol, makanya saya ragu kalau ninggalin dia dikampung, takut cari perkara terus sama tetangga. Jadinya tak bawa sekalian,” ungkapnya malu-malu.
Helya mengangguk, masih belum terbiasa berinteraksi dengan orang baru, dua sekaligus.
Surat perjanjian pun ditandatangani kedua belah pihak. Barulah Helyara menyebutkan nominal gaji yang membuat Sinta mengepalkan tangan sambil berteriak kesenangan.
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba