Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sore harinya, kamar utama kediaman Dirgantara berubah menjadi markas operasi kecantikan. Tiga orang stylist profesional sibuk mengelilingi Karin.
Gaun haute couture berwarna emerald green yang dipilihkan oleh Arlan sendiri kini melilit tubuh Karin, menonjolkan lekuk tubuhnya yang selama ini tertutupi oleh gaun-gaun longgar berwarna mencolok. Rambutnya ditata dalam gaya updo yang elegan, dengan beberapa helai membingkai wajahnya.
Karin menatap cermin besar di hadapannya. Ya ampun, ini aku? Aku kelihatan kayak artis Korea yang baru lulus kuliah! batinnya terkagum-kagum.
Pintu kamar terbuka. Arlan melangkah masuk, mengenakan setelan tuxedo hitam yang membuatnya terlihat seperti dewa Yunani yang turun ke bumi. Namun, saat matanya mendarat pada Karin, langkah pria itu terhenti.
Arlan terdiam cukup lama. Tatapannya menyapu sosok istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan untuk sesaat, Karin melihat kilatan sesuatu yang sangat hangat di mata gelap pria itu.
"Kau terlihat..." Arlan memulai, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.
"Berbeda gimana, Kak?" potong Karin cepat, langsung merusak suasana dramatis itu. "Apa aku kelihatan kayak alien hijau? Tenang aja, Kak, kalau ada yang nyerang, aku bisa sembunyi di balik daun!"
Kehangatan di mata Arlan langsung lenyap, digantikan oleh helaan napas panjang. "Kau terlihat cantik, Karin. Dan tolong, ingat aturan mainmu malam ini. Jangan bicara soal alien, daun, atau hal konyol lainnya."
"Siap, Komandan! Aku akan jadi istri yang anggun dan membosankan!" janji Karin, memberi hormat yang sedikit terlalu bersemangat hingga membuat salah satu *stylist* terkekeh.
***
Acara amal keluarga besar Dirgantara diadakan di ballroom terbesar di hotel bintang lima milik grup mereka. Saat Arlan dan Karin melangkah masuk, ratusan pasang mata langsung menoleh. Bisik-bisik halus langsung terdengar di telinga Karin yang tajam.
"Itu istrinya yang idiot?"
"Kasihan sekali Arlan, dipaksa menikahi wanita gila."
"Dengar-dengar dia pernah menyiram tanaman pakai air panas."
Karin tersenyum tipis, mengabaikan mereka semua. Tiba-tiba, tangan besar dan hangat menggenggam tangannya. Arlan merangkul pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat. "Pegang tanganku. Jangan lepas," bisik Arlan pelan, hanya untuk didengar oleh Karin.
Jantung Karin berdegup sedikit lebih cepat. Gawat. Sentuhan fisik CEO dingin ini efeknya terlalu kuat. Fokus, Karin! Misi utama adalah bertahan hidup, bukan jatuh cinta pada bos sendiri!
"Tangan Kak Arlan dingin banget," bisik Karin balik, "Nanti kalau kedinginan, aku masukin ke ketiakku aja ya?"
Arlan mengeraskan rahangnya, tapi Karin bisa melihat telinga pria itu sedikit memerah. Gotcha.
Di tengah ruangan, duduk di atas sofa beludru merah, adalah Eyang Dirgantara. Pria berusia delapan puluh tahun itu memegang tongkat kayu berukir naga, tatapannya setajam elang yang mengincar mangsa. Aura mengintimidasi yang dipancarkannya bahkan membuat Arlan, sang CEO tak tersentuh, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
"Arlan. Cucuku," sapa Eyang, suaranya berat dan berwibawa. Matanya yang tajam kemudian beralih ke Karin. "Dan ini... istri kecilmu. Karin, bukan?"
"Iya, Eyang!" jawab Karin riang, melupakan sejenak instruksi Arlan untuk membungkuk sopan. Ia malah melangkah maju dan menatap Eyang dengan mata berbinar. "Eyang hebat banget! Tongkatnya keren, ada naganya! Nanti kalau naganya hidup, aku mau minta dia bakar jagung ya, Eyang!"
Beberapa paman dan bibi di sekitar Eyang langsung menutup mulut, menahan tawa atau ngeri. Arlan memejamkan matanya sejenak, bersiap untuk kemarahan kakeknya.
Namun, Eyang tidak marah. Pria tua itu justru menatap Karin lekat-lekat, lalu tertawa kecil. "Kau memang unik, Nak Karin. Arlan, kakek dengar kau pusing menghadapi istrimu ini. Tapi malam ini, kakek ingin mengujinya."
Eyang mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Karin. "Karin, kakek punya satu pertanyaan. Jika Arlan harus memilih antara menyelamatkan perusahaan Dirgantara yang bernilai seratus triliun rupiah, atau menyelamatkan seekor kucing jalanan yang terlindas mobil di depannya, mana yang harus dia pilih?"
Ruangan menjadi hening. Ini adalah jebakan klasik kaum konglomerat. Jika Karin menjawab perusahaan, ia akan dianggap serakah dan tidak punya hati nurani, sifat yang dibenci Eyang.
Jika ia menjawab kucing, ia akan dianggap bodoh karena tidak paham nilai bisnis, dan Eyang akan menyuruh Arlan menceraikannya. Tokoh asli Karin di novel menjawab perusahaan karena ingin terlihat pintar, dan Eyang langsung memarahinya karena dianggap tidak punya empati.
Karin memutar otaknya. Oke, ini ujian moral tingkat dewa. Harus dijawab dengan logika idiot yang tidak bisa dibantah!
"Ya selamatkan kucingnya dulu, Eyang!" jawab Karin tanpa ragu, suaranya lantang memenuhi ballroom.
Para bibi langsung berbisik ngeri. Gila, wanita ini benar-benar bodoh! Seratus triliun ditinggalkan demi kucing!
lanjut kn thor💪