Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Tidak bisa mengelak
Lorong kantor di lantai divisinya sore itu kebetulan sedang sepi, namun udara di sana terasa sangat tipis dan mencekam. Ketegangan menggantung tebal di udara, seolah ada bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Fajar dan Kirana berdiri berhadapan. Wajah keduanya sama-sama kaku.
Dan tepat di tengah-tengah mereka, berdiri Bayu.
Pria yang biasanya santai dan hobi bercanda itu kini melipat kedua lengannya di dada. Matanya menyipit tajam, menatap Fajar dan Kirana secara bergantian dengan tatapan intimidasi ala detektif kawakan yang baru saja menemukan bukti utama pembunuhan.
“Gue tanya sekali lagi…” kata Bayu pelan, namun suaranya menggema di lorong yang sunyi itu. “Lo berdua… sebenarnya ada hubungan apa?”
Fajar langsung gelagapan. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustrasi, menyisir rambut gelapnya yang ditata acak. Ia buru-buru melonggarkan dasi bergaris merah yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya, merasa jas setelan hitam yang ia kenakan mendadak membuat suhu tubuhnya naik drastis akibat panik.
“Gak ada apa-apa, Bay! Sumpah, kita cuma—”
“BOHONG,” potong Bayu cepat dan telak, tidak membiarkan Fajar menyelesaikan kalimatnya.
Kirana mencoba mempertahankan ketenangannya. Ia menarik napas pelan, merapikan posturnya, dan memasang topeng direkturnya yang dingin. “Bayu, saya rasa Anda sudah salah paham. Kami hanya rekan kerja profesional. Tidak lebih.”
Bayu tidak mundur satu sentimeter pun. Ia justru menatap mereka berdua bergantian, lalu perlahan menyunggingkan senyum tipis yang sangat menyebalkan.
“Kalau memang murni rekan kerja…” Bayu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “…kenapa vibes kalian berdua sekarang persis kayak pasangan backstreet yang baru aja ketahuan sama orang tua?”
Mendengar analogi mematikan itu, Fajar dan Kirana bungkam seketika.
Fajar: “…” Kirana: “…”
Keduanya kehabisan kata-kata. Namun, Bayu belum selesai. Ia mulai menghitung dengan jarinya, membeberkan rentetan bukti yang sudah ia kumpulkan sejak lama.
“Pertama,” Bayu menekuk jari telunjuknya. “Ibu Direktur kita yang terhormat ini mendadak berubah drastis. Dari yang biasanya sedingin es kutub, jadi sering banget senyum-senyum sendiri kalau lagi ngecek divisi kita.”
Bayu menekuk jari tengahnya. “Kedua, lo, Fajar. Lo jadi sering banget dipanggil ke ruangan direktur tanpa alasan yang jelas. Dan kalau keluar dari sana, durasinya selalu lebih lama dari sekadar ngantar dokumen.”
Bayu menekuk jari manisnya. “Ketiga… tatapan kalian berdua kalau lagi gak sengaja papasan.” Ia menunjuk lurus ke mata Fajar, lalu ke mata Kirana. “…itu sama sekali bukan tatapan dari atasan ke bawahan. Itu tatapan orang yang lagi jatuh cinta.”
Fajar semakin berkeringat dingin. Kakinya terasa seperti agar-agar. “Bay… itu… itu lo salah lihat aja kali. Lo kurang tidur makanya halu.”
Bayu mendengus pelan, lalu menambahkan amunisi terakhirnya.
“Dan yang terakhir…” Bayu menyeringai penuh kemenangan. “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, kalian berdua pegangan tangan di kantor kemarin. Waktu mungut dokumen yang jatuh.”
Fajar langsung panik dan berteriak tanpa sadar, “ITU GAK SENGAJA, BAY!”
Kirana memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas melihat kebodohan kekasihnya. Pria itu baru saja masuk ke dalam jebakan Bayu dengan sangat mulus.
“…Fajar,” panggil Kirana dengan nada rendah.
Fajar langsung terdiam. Mulutnya terkatup rapat begitu menyadari ia baru saja mengonfirmasi kejadian tersebut.
Hening kembali mengambil alih lorong itu. Bayu melipat tangannya lagi, mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi menunggu. “Jadi? Masih mau ngelak?”
Fajar menoleh menatap Kirana. Kirana menatap balik ke arah Fajar. Lewat sorot mata itu, mereka berdua sama-sama menyadari satu hal yang pasti: tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Bayu sudah memegang semua kartunya.
Fajar akhirnya menghela napas panjang, meruntuhkan seluruh pertahanannya. Kepalanya tertunduk pasrah.
“Yaudah…” gumam Fajar lemas. Ia kembali menatap wajah Bayu dengan ekspresi pria yang sudah siap digiring ke tiang gantungan. “Iya. Lo bener. Gue… gue sama dia.”
Sunyi.
Hanya ada suara detak jam dinding di ujung lorong. Bayu membeku di tempatnya. Matanya membelalak sempurna, tak berkedip selama beberapa detik. Otaknya seolah baru saja mengalami korsleting ringan memproses konfirmasi langsung tersebut.
“…HAH?!” seru Bayu, suaranya pecah saking terkejutnya.
Fajar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Gue kan udah bilang, mending lo gak usah nanya…”
Bayu langsung menunjuk ke arah Kirana dengan jari gemetar. “JAR! ITU DIREKTUR, JAR! IBU DIREKTUR KITA!”
“IYA GUE TAHU!” balas Fajar frustrasi.
Bayu mulai berjalan mondar-mandir di koridor dengan napas memburu. Ia memegang kepalanya sendiri, tampak seperti orang yang baru saja melihat alien. “Ini… ini… ini gila. Ini beneran gila.”
Ia tiba-tiba berhenti mondar-mandir, menoleh, dan menatap Fajar lekat-lekat. “Lo beneran gila, Jar.”
Fajar hanya bisa mengangguk lemah. “Iya, gue tahu.”
Bayu kemudian memberanikan diri menoleh ke arah Kirana, menelan ludah dengan susah payah. “Dan… Ibu Direktur…”
Kirana menatap Bayu dengan sangat tenang, lalu menjawab dengan lugas. “Iya, Bayu. Semua yang Anda simpulkan itu benar.”
Bayu terdiam mematung. “…”
Detik berikutnya, Bayu menjambak rambutnya sendiri. “OKE, GUE YANG GILA SEKARANG! GUE YANG GILA!”
Setelah beberapa saat menetralkan diri dan menarik napas panjang, Bayu akhirnya berhenti histeris. Ia bersandar di dinding, menatap Fajar dengan raut wajah yang lebih serius.
“Jujur ya, Jar…” buka Bayu perlahan.
“Iya, silakan maki gue,” pasrah Fajar.
“Gue kaget.”
“Iya, wajar.”
“Gue shock parah.”
“Iya, gue tahu…”
“Tapi…” Bayu menggantungkan kalimatnya.
Fajar mendongak, menatap sahabatnya itu dengan cemas.
Secara mengejutkan, wajah Bayu berubah seratus delapan puluh derajat. Sebuah senyum super lebar yang nyaris mencapai telinga terukir di wajahnya. Mata Bayu berbinar penuh kekaguman.
“GILA! INI KEREN BANGET, JAR!” seru Bayu antusias, tangannya menepuk pundak Fajar kencang-kencang.
Fajar melongo. “…hah?”
Bayu langsung nyengir memamerkan deretan giginya. “Bro! Lo sadar gak sih? Lo pacaran sama direktur utama! Karyawan biasa macam lo bisa naklukin bos besar! Sumpah, lo legend di kantor ini!”
Fajar buru-buru membekap mulut Bayu sambil celingukan ke sekitar. “Ssst! Tolong banget suaranya dikontrol, jangan kenceng-kenceng, mulut lo toa banget!”
Bayu melepaskan tangan Fajar dan tertawa pelan. Ia mendekat, menepuk dada Fajar. “Tenang aja, Jar. Rahasia ini aman di tangan gue. Gue gak bakal bocorin ke siapa-siapa, apalagi ke HRD.”
Fajar menatapnya penuh harap. “Serius lo, Bay?”
Bayu mengangguk mantap. “Serius. Seratus persen rahasia aman.” Bayu kemudian tersenyum licik. “Tapi…”
Fajar menghela napas pasrah. “Tapi apa lagi, Ya Tuhan…”
“Gue harus, wajib, kudu, jadi orang pertama yang tahu semua update soal kalian berdua. Kalau ada drama, kencan, atau apa pun, lo harus laporan ke gue. Deal?”
Fajar memutar bola matanya malas, namun akhirnya mengangguk. “…yaudah, deal.”
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar dari ujung lorong, memecah kelegaan di antara mereka bertiga.
Tuk… tuk… tuk…
Sinta muncul dari balik tikungan koridor. Wanita itu memeluk sebuah clipboard di dadanya. Ekspresinya, seperti biasa, luar biasa tenang dan tak terbaca. Ia menghentikan langkahnya tepat di dekat mereka bertiga.
“Jadi, akhirnya mengaku juga kalian berdua,” ucap Sinta dengan nada datar namun menusuk.
Fajar: “…” Bayu: “…”
Fajar menoleh perlahan ke arah sekretaris tersebut, wajahnya kembali pucat. “M-Mbak Sinta…?”
Sinta merapikan letak kacamatanya, menatap Fajar dan Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Saya sudah tahu sejak lama. Kalian berdua benar-benar payah dalam menyembunyikan sesuatu.”
Bayu langsung melompat girang dan menunjuk Sinta. “NAH! BENER KAN KATA GUE! BUKAN CUMA GUE YANG NGERASA!”
Kirana hanya menghela napas kecil, memijat pelipisnya. “…sama sekali tidak mengejutkan kalau kamu sudah tahu, Sinta.”
Sekarang, konstelasi rahasia itu berubah. Ada tiga orang yang mengetahui status mereka di gedung ini.
Fajar melihat ke sekeliling lorong, menatap Bayu dan Sinta secara bergantian. “Ini… kalau dipikir-pikir, situasi kita malah makin bahaya gak, sih?”
Bayu langsung menjawab cepat tanpa ragu, “Banget. Ibaratnya lo lagi jalan di atas tali tanpa jaring pengaman, Jar.”
Sinta tersenyum sangat tipis. “Bahaya memang. Tapi di sisi lain… beban kalian juga menjadi lebih ringan, bukan?”
Kirana menoleh, menatap mata Fajar dengan kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada pria itu. “…kita tidak perlu lagi berpura-pura menjadi atasan dan bawahan yang kaku di depan mereka berdua.”
Fajar tertegun sejenak, meresapi kata-kata itu. Ketakutan yang sejak tadi mengerogotinya perlahan menguap, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa. Ia tersenyum kecil. “Iya juga, ya…”
Dan untuk pertama kalinya, tanpa rasa takut, tanpa ragu, dan di hadapan orang lain…
Fajar perlahan menggeser tangannya, meraih jemari Kirana, dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Kehangatan langsung mengalir di antara telapak tangan mereka.
Melihat adegan itu secara langsung, Bayu langsung melotot dan berteriak pelan sambil menutupi wajahnya pura-pura silau. “WOI! TOLONG KONDISIKAN! INI MASIH AREA KANTOR! JANGAN BIKIN GUE IRI!”
Sinta hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka, lalu kembali menatap layar clipboard-nya.
Kirana tidak melepaskan genggaman tangan Fajar. Ia justru membalasnya dengan usapan halus di punggung tangan pria itu.
“Tidak apa-apa,” kata Kirana pelan.
Fajar menatapnya, mencari keraguan di sana. “Yakin, Bu Direktur?”
Kirana mengangguk mantap. Matanya memancarkan kedamaian. “Selama kita berdua tahu batasannya, tahu di mana dan kapan harus profesional… maka tidak akan ada masalah.” Kirana tersenyum kecil, membuat jantung Fajar kembali berdetak dua kali lebih cepat. “…semuanya akan baik-baik saja.”
Hari-hari berikutnya di kantor terasa berjalan normal. Bagi karyawan lain, rotasi pekerjaan, omelan bos, dan tenggat waktu laporan tetap menjadi menu utama. Tidak ada yang berubah dari luar.
Tapi bagi sebagian orang, dunia di dalam kantor ini telah berubah sepenuhnya.
Di sela-sela jam istirahat pantry, Bayu sering berbisik sambil menyenggol lengan Fajar. “Sumpah, gue masih gak nyangka lo bisa survive jadi pacarnya bos.”
Fajar hanya tertawa kecil sambil mengaduk kopinya. “Sama, Bay. Jangankan lo, gue sendiri juga kadang ngerasa ini semua masih kayak mimpi.”
Dari kejauhan, Kirana berdiri di ambang pintu ruangannya. Ia menatap ke arah Fajar dan Bayu yang sedang mengobrol. Jika dulu ia akan buru-buru membuang muka saat mata mereka tanpa sengaja bertemu, kali ini berbeda.
Saat pandangan Fajar bersibobrok dengan matanya, Kirana tidak menghindar. Wanita itu justru tersenyum manis, senyum rahasia yang hanya dimengerti oleh Fajar seorang, sebelum akhirnya berbalik masuk ke ruangannya.
Semuanya terasa begitu sempurna, begitu ringan, hingga sebuah bayangan kelam perlahan muncul tanpa mereka sadari.
Sore itu, Sinta sedang merapikan meja kerjanya ketika layar komputernya berdenting, menandakan sebuah email prioritas masuk. Sang sekretaris membuka email tersebut, membaca deretan kalimat formal dari jajaran direksi pusat.
Sinta, yang wajahnya selalu datar, kali ini sedikit mengernyitkan dahi. Ia langsung bangkit dari kursinya, berjalan cepat, dan membuka pintu ruangan Kirana tanpa mengetuk terlebih dahulu.
“Bu Direktur,” panggil Sinta dengan nada yang sedikit mendesak.
Fajar dan Bayu, yang kebetulan sedang berada di dalam ruangan itu untuk membahas proposal, langsung menoleh heran.
Kirana mendongak dari tumpukan berkasnya. “Ada apa, Sinta? Anda terlihat cemas.”
Sinta menarik napas panjang, menatap Kirana dan Fajar secara bergantian. “Saya baru saja menerima email pemberitahuan. Ada jadwal audit investigasi dari kantor pusat minggu depan.”
Mendengar kata sakti itu, Bayu langsung pucat pasi. Ia memutar kursi rodanya mendekati meja Kirana. “Bentar, bentar! Biasanya, tim audit dari pusat itu turun kalau mereka lagi nyari masalah atau indikasi pelanggaran aturan perusahaan, kan?!”
Sinta mengangguk kaku. “Benar.”
Sinta kemudian menatap lekat-lekat ke arah tautan tangan Fajar dan Kirana yang berada di bawah meja (yang ia tahu pasti sedang terjadi).
“Dan perlu saya ingatkan… kebijakan pusat sangat ketat soal profesionalisme,” lanjut Sinta. “…skandal hubungan asmara di kantor antar level jabatan, bisa menjadi masalah yang sangat, sangat besar. Mereka bisa memecat salah satu, atau bahkan keduanya.”
Fajar menelan ludah, membeku di tempatnya. Kepanikan yang baru saja reda kini kembali meledak. “…waduh.”
Di kursi kebesarannya, Kirana tetap diam. Wajahnya terlihat tenang, tak menyiratkan kepanikan. Namun, di balik ketenangan itu, otaknya bekerja keras menyusun strategi. Genggaman tangannya pada jemari Fajar justru semakin erat, menolak untuk melepaskannya meski badai sedang bergerak mendekat.
Dalam hatinya, Kirana bergumam penuh tekad.
“Ini… adalah ujian pertama kita.”