Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Serumah
Mendengar suara serak Tia yang bergetar di ujung telepon, jari Samsudin yang sedang memegang pena kustom Norman Corp mendadak membeku. Di sekelilingnya, belasan pengacara berstelan mahal menahan napas, menantikan tanda tangan sang ahli waris utama di atas berkas pengalihan saham bernilai triliunan rupiah.
"Mbak Tia?" bisik Sam, dadanya mendadak berdesir cemas. "Kenapa, Mbak? Suaranya kok seperti habis menangis? Ada masalah apa?!"
Di ruang kubikelnya yang sudah kosong, Tia buru-buru menyapu air mata di pipinya memakai ujung lengan baju. Pikiran paniknya berputar 180 derajat. 'Gila kamu, Tia!' jerit batinnya seketika. 'Kalau sampai pawang buaya ini tahu kamu di-PHK, dia pasti mikir kamu tidak bakal sanggup bayar cicilan lima ratus ribu per bulan! Bisa-bisa dia minta putus kontrak dan kabur sekarang juga! Terus gimana sama status pernikahan pameran di depan Tante Lies?!'
Keharusan menjaga gengsi dan komitmen kontrak sewaan memaksa Tia memutar otak secepat kilat.
"E-eh... tidak kok, Mas Sam!" sahut Tia secepat mungkin, mengubah nadanya menjadi sedikit melengking agar terdengar ceria, meski tenggorokannya terasa gatal. "Aku cuma... terharu! Iya, terharu banget habis baca laporan keuangan kantor yang hasilnya bagus! Mataku sampai keluar air mata bahagia!"
Sam menaikkan sebelah alisnya, mengisyaratkan para pengacara untuk menunggu sebentar. "Beneran terharu? Bukan gara-gara... kejadian di kamar mandi tadi pagi kan?"
Wajah Tia seketika membara panas mendengarnya. "Bukan, Samsudin! Lupakan soal mandi! Pokoknya... nanti sore kamu jadi pindahan ke rumah kontrakanku kan? Kan kita sudah resmi suami-istri pameran, jadi harus tinggal satu atap biar Tante Mirna tidak curiga."
"O-oh... iya, Mbak. Nanti sore aku meluncur ke kontrakan bawa tas," sahut Sam yang mendadak ikut-ikutan canggung mengingat insiden "ular piton" dan "bencana pagi".
"Oke, aku tunggu! Daaah!" Tia langsung mematikan sambungan telepon sebelum tangisnya pecah kembali.
Ia memeluk kardus bekas berisi barang-barang kantornya dengan erat. Hari ini ia resmi menjadi pengangguran, berutang pinjol lima juta, dan tidak punya TV maupun kulkas. Namun demi martabatnya, Tia bertekad, mulai sore ini, ia akan bergerilya melamar pekerjaan baru ke ratusan perusahaan secara diam-diam tanpa boleh diketahui oleh Samsudin sang suami kredit.
...***...
Pukul lima sore, tempat kontrakan tipe 21 milik Tia tampak begitu sepi. Tia duduk di sofa kayu, jemarinya tak henti-hentinya menari di atas layar ponsel, mengirimkan riwayat hidup (CV) ke belasan situs lowongan kerja dengan napas terengah-engah.
Suara langkah kaki tegap terdengar di teras depan. Tia secepat kilat menyembunyikan ponselnya ke dalam saku gaun, lalu berdiri merapikan bajunya.
Pintu dibuka. Samsudin berdiri di sana.
Pria tegap itu mengenakan kaus oblong tebal berwarna abu-abu yang membentuk otot dadanya dengan sangat jelas, celana jins pudar, dan membopong sebuah tas ransel hitam lusuh yang tampak menggelembung. Sebagai miliarder tersembunyi yang baru saja menandatangani surat kepemilikan puluhan gedung pencakar langit tadi siang, penampilan Sam tetap 100% konsisten seperti rakyat jelata berpenghasilan UMR.
Namun, begitu mata mereka berdua saling bertatapan, ingatan visual tentang adegan "ular piton menegang" dan "insiden shower tanpa busana" tadi pagi mendadak meledak serentak di dalam otak masing-masing.
Atmosfer di ruang tamu sempit itu mendadak kaku bagaikan adonan semen basah yang mengering.
"S-selamat sore, Mbak Tia..." sapa Sam dengan suara cicitan canggung yang sangat tidak cocok dengan postur tubuh binaragawannya. Matanya melirik ke mana saja, ke tembok, ke kipas angin, ke langit-langit, asal tidak menatap langsung ke arah wajah atau tubuh Tia.
"Sore, Mas Sam..." balas Tia tak kalah canggung, meremas jemarinya sendiri. "M-masuklah. Bawa barangmu ke kamar."
"I-iya, Mbak."
Sam melangkah masuk, namun karena kepalanya terlalu sibuk dibayangi rasa malu dan canggung luar biasa, konsentrasi pawang buaya itu buyar total. Kakinya menyandung pinggiran karpet lipat di lantai.
Gubrak!
Sam tersandung heboh, tubuh tegapnya melayang jatuh dan dadanya menghantam pinggiran meja kayu dengan keras. Tas ranselnya terlempar ke sudut ruangan.
"Astaga, Mas Sam!" kaget Tia, refleks melangkah mendekat. "Kamu tidak apa-apa?!"
"T-tidak apa-apa, Mbak! Ini... ini cuma latihan refleks jatuh bebas dari kandang buaya!" seru Sam panik, secepat kilat melompat berdiri kembali sambil mengusap dadanya yang kesakitan. Wajah tampannya merah padam seperti cabai rawit matang.
Tia yang otaknya sedang overload memikirkan nasib PHK-nya hanya bisa mengangguk-angguk polos tanpa sadar betapa konyolnya alibi sang suami sewaan. "Oh... gitu ya. Baguslah kalau cuma latihan."
Sam bernapas lega, menyambar ranselnya kembali lalu berjalan mengangkang kaku menuju kamar tidur utama.
Di dalam kamar yang hanya berisi satu kasur busa di lantai, Sam meletakkan tasnya. Ia mengelus dadanya yang berdebar kencang. 'Gila, Samsudin!' batin Sam merutuki dirinya sendiri. 'Masa cuma gara-gara ingat bodi Mbak Tia tadi pagi kau sampai tersandung karpet?! Kau ini calon CEO, bukan remaja bau kencur yang baru puber!'
Sam mencoba menenangkan diri. Ia berjalan keluar kamar menuju dapur sempit untuk mengambil air minum.
"Mbak Tia mau dibuatkan teh hangat?" tawar Sam berusaha bersikap manis dan bertingkah seperti suami yang berguna.
"Boleh, Mas Sam. Terima kasih ya," sahut Tia yang sedang termenung menatap layar ponselnya di sofa, sibuk memperbarui profil akun pencari kerjanya.
Sam membuka lemari gantung dapur untuk mengambil cangkir. Namun, saking salah tingkahnya dan gemetaran memikirkan berada di satu rumah dengan Tia, tangan kekar Sam yang biasa memegang rantai buaya muara empat ratus kilogram itu malah tak sengaja menyenggol botol kecap manis di atas rak.
Prak! Botol kecap meluncur jatuh.
Dengan refleks luar biasa ala penakluk reptil, Sam menyambar botol kecap itu di udara sebelum menyentuh ubin. Tapi malang tak dapat ditolak, sikutnya malah menghantam mangkok kaca di sebelahnya!
PRANG!
Mangkok kaca itu jatuh meluncur dan pecah berkeping-keping di atas lantai dapur.
"Mas Sam?! Apa yang pecah?!" teriak Tia kaget, langsung bangkit dari sofa dan berlari ke dapur.
Tia mendapati Sam sedang berdiri mematung di tengah dapur. Tangan kanannya memegang botol kecap dengan posisi aneh, kaki kirinya terangkat satu bagaikan bangau, dan wajahnya memucat menatap pecahan kaca di lantai.
"A-aduuuh! Maaf banget, Mbak Tia!" jerit Sam panik luar biasa, suaranya melengking tinggi. "Ini tadi... tadi ada cicak melompat dari plafon! Jadi aku refleks melakukan manuver penyelamatan kecap!"
Tia menepuk jidatnya pelan, membuang napas panjang. "Astaga, Mas Sam... Kamu ini pawang buaya muara raksasa, masa sama cicak dapur saja sampai bikin mangkok pecah?"
"C-cicaknya jenis pemangsa agresif, Mbak!" alibi Sam asal jeplak, rona merah di pipinya makin tebal menahan malu tingkat dewa.
Namun, Tia yang kepalanya sudah penuh dengan stres beban PHK dan tagihan utang sama sekali tidak berniat memperpanjang masalah. Ia mengibaskan tangannya lemas. "Ya sudah, biar aku bersihkan. Kamu duduk saja di luar, Mas Sam. Nanti tanganmu terluka."
Melihat Tia yang tidak marah dan malah membersihkan pecahan kaca dengan raut wajah yang tampak teramat lelah dan lesu, hati Sam mendadak tersentil. Rasa canggung dan salah tingkahnya perlahan luntur, berganti dengan rasa khawatir yang mendalam.
Sam memperhatikan cara Tia berjalan dan helaan napasnya yang begitu berat sejak tadi sore. Sebagai pria yang kini memiliki kepekaan tajam dan naluri pelindung, Sam tahu ada sesuatu yang tidak beres pada istrinya itu. Ada beban besar yang sedang disembunyikan Tia di balik senyum paksaannya.
Sam tersenyum tipis, meremas jemarinya. Ia memutuskan untuk tidak membongkar rahasianya sekarang, tetapi di dalam hatinya, sang miliarder rahasia bertekad, apapun masalah yang sedang menghimpit wanita staf admin ini, ia siap menjadi benteng perlindungan paling kokoh, baik sebagai pawang buaya sewaan, maupun sebagai suami yang sebenarnya.
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran