Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transaksi di Pasar Gelap dan Bayangan Pengintai
Ruangan di dalam Pasar Gelap Jiwa itu berat dengan aroma dupa kayu cendana yang bercampur dengan bau tajam ramuan herbal mentah. Dinding batu bata hitamnya lembap, dan hanya diterangi oleh temaram cahaya lampu minyak yang menggantung di sudut-sudut ruangan dengan rantai besi berkarat. Di sekeliling ruangan, beberapa sosok bertudung hitam duduk di atas bangku kayu rendah, masing-masing sibuk dengan urusan transaksi mereka sendiri tanpa sedikit pun peduli pada kehadiran orang lain.
Kakek tua bungkuk yang membukakan pintu tadi—yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Kakek Gui—berjalan pincang menuju sebuah meja kayu mahoni tua di bagian tengah ruangan. Ia mendudukkan diri di balik meja, lalu menatap Gu Yan-Zhi dengan sepasang mata keruh yang menyembunyikan ketajaman luar biasa.
"Nah, anak muda. Letakkan barang yang ingin kau jual di atas meja ini. Jangan coba-coba mempermainkanku dengan barang tiruan murahan, atau penjaga di luar tidak akan segan-segan melemparmu keluar kota dalam keadaan cacat," ujar Kakek Gui dengan nada serak yang mengancam.
Gu Yan-Zhi tetap tenang. Ia melangkah maju tanpa ragu, lalu merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan tiga botol porselen kecil berisi pil pemulihan tingkat menengah serta sebuah belati perak berukir milik pengawas Klan Bai yang sempat dirampasnya di perbatasan. Ia menempatkan benda-benda itu di atas permukaan meja kayu yang usang.
Kakek Gui mengangkat alisnya sebelah. Ia mengambil salah satu botol porselen, membuka penutupnya, dan mencium aroma yang menguap keluar. Seketika itu juga, kerutan di wajah tua tersebut mengendur, digantikan oleh kilatan ketertarikan yang mendalam di matanya.
"Hmm... Pil Pemulihan Darah kualitas murni. Meskipun hanya tingkat menengah, proses pemurniannya sangat bersih tanpa meninggalkan residu racun pil yang berbahaya. Ini hasil racikan alkemis berpengalaman," gumam Kakek Gui sambil mengangguk-angguk kecil. Ia kemudian melirik belati perak di sebelah botol tersebut dan mengenali lambang ukiran di gagangnya. "Dan ini... lambang dari senjata pengawas Klan Bai di Kota Awan Berkabut. Sepertinya kau baru saja merampas harta benda dari orang yang salah, atau justru... orang-orang itu sudah tiada di tanganmu?"
"Asal barang ini bersih dan sah secara aturan pasar gelap, kurasa asal-usulnya bukanlah urusan utama yang harus kaupertanyakan, Kakek Gui," jawab Gu Yan-Zhi tenang, suaranya datar namun mengandung wibawa yang membuat kakek tua itu tersenyum tipis penuh arti.
"Ha-ha-ha! Menarik! Aku suka ketenangan mental anak muda sepertimu," tawa Kakek Gui pelan, tidak merasa tersinggung sama sekali. Di pasar gelap, privasi dan kematian adalah komoditas harian. "Baiklah, untuk tiga botol pil ini dan belati perak berukir itu, aku akan menghargainya dengan seratus keping batu spiritual kelas rendah, ditambah sebuah peta jalur rahasia melintasi Pegunungan Angin Utara."
Gu Chen, yang berdiri di belakang Gu Yan-Zhi bersama Gu Ruoxi, sedikit menahan napas mendengar penawaran tersebut. Seratus keping batu spiritual adalah jumlah yang sangat besar bagi orang biasa—cukup untuk bertahan hidup di kota perdagangan selama berbulan-bulan.
Namun, Gu Yan-Zhi menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap tajam ke arah Kakek Gui. "Seratus keping batu spiritual terlalu sedikit untuk kualitas pil murni tanpa residu racun seperti itu. Tambahkan satu botol Pil Pembersih Meridian tingkat lanjut, dan kita sepakat."
Kakek Gui tertegun sejenak. Ia menatap Gu Yan-Zhi lebih lekat lagi, seolah-olah baru menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah remaja biasa yang bisa dibohongi dengan mudah. Setelah berpikir sejenak, kakek tua itu menghela napas pasrah sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, anak muda. Kau menang. Ambil ini." Kakek Gui membuka laci meja bawahnya, mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna giok putih serta sekantong kain berisi batu spiritual, lalu menyerahkannya bersama sebuah gulungan peta kulit domba tua ke atas meja. "Pil Pembersih Meridian itu sangat langka. Gunakan dengan bijak untuk menerobos batas kultivasimu."
Gu Yan-Zhi menerima barang-barang tersebut, memeriksa isinya sekilas, lalu menyimpannya ke dalam jubahnya dengan gerakan cepat. "Terima kasih, Kakek Gui. Transaksi yang menyenangkan."
Keluar dari Pasar Gelap Jiwa, suasana sore hari di Kota Angin Lembayung mulai berganti dengan temaram lampu lentera kertas yang dinyalakan di sepanjang pinggir jalan. Udara berembus lebih dingin, membawa aroma makanan panggang dan suara riuh rendah para pengunjung kedai malam.
Mereka bertiga berjalan berdampingan menyusuri jalanan batu menuju sebuah penginapan sederhana namun bersih di distrik barat laut kota tersebut—Penginapan Burung Badai. Gu Yan-Zhi sengaja memilih tempat yang tidak terlalu mencolok agar keberadaan mereka tidak mudah dilacak oleh mata-mata dari klan besar ataupun pihak-pihak yang mungkin memantau gerak-gerik mereka sejak masuk gerbang kota.
Setibanya di kamar penginapan berukuran sedang yang memiliki jendela menghadap ke arah jalan raya, Gu Chen segera menutup pintu dan memasang segel penghalang suara sederhana di sekitar ruangan. Gu Ruoxi duduk di tepi tempat tidur, merapikan barang bawaan mereka dengan napas lega.
"Kita aman untuk malam ini, Kakak," ucap Gu Ruoxi pelan, menatap Gu Yan-Zhi yang sedang membentangkan peta kulit domba pemberian Kakek Gui di atas meja kayu.
Gu Yan-Zhi tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, mengamati garis-garis jalur pegunungan yang terukir di atas peta tersebut dengan teliti. Di atas bahunya, Hu Yijie tiba-tiba membuka kedua matanya lebar-lebar. Telinga runcing anak singa itu berkedut tajam, dan bulu di tengkuknya sedikit berdiri. Suara telepati Hu Yijie mendadak bergema di kepala Gu Yan-Zhi dengan nada penuh peringatan.
Tuan... ada sesuatu yang tidak beres. Di luar jendela di seberang jalan, ada tiga orang kultivator dengan fluktuasi energi tersembunyi yang sedang mengawasi kamar ini sejak tadi.
Mendengar peringatan itu, kilatan cahaya tajam melintas di mata Gu Yan-Zhi. Ia tidak menunjukkan kepanikan, melainkan melirik sekilas ke arah tirai jendela yang tertutup rapat.
"Rupanya tikus-tikus dari Klan Bai atau utusan faksi lain bergerak lebih cepat dari perkiraan," gumam Gu Yan-Zhi dingin di dalam hati. Ia tahu betul bahwa dunia kultivasi slow burn yang ia jalani tidak akan pernah membiarkannya menikmati ketenangan terlalu lama sebelum badai berikutnya datang menerjang.
"Gu Chen, Ruoxi, tetaplah di dekat meja," bisik Gu Yan-Zhi tenang, tangannya perlahan merapat pada belati kecil di pinggangnya, bersiap menyambut tamu tak diundang yang malam itu datang mengetuk pintu kamar mereka.