Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — KEMBALI KE ATAS
BAB 7 — KEMBALI KE ATAS
Setelah beberapa lama, masa demi masa mereka lalui di bawah bumi.
Tak kurang dari enam masa telah berlalu.
Para Penjaga tidak pernah lagi keluar dari dalam perut bumi.
Mereka hanya menunggu sampai keadaan bumi atas kembali membaik.
Hingga suatu hari, seekor burung biru tiba-tiba terbang masuk ke dalam lorong.
Para Penjaga yang melihatnya langsung terkejut.
Burung itu terbang melewati lorong-lorong Agharta, lalu hinggap di sebuah batu.
Di paruhnya terdapat setangkai daun.
Namun daun itu berbeda.
Bukan berwarna kebiruan seperti tumbuhan yang selama ini mereka kenal di bawah bumi.
Daun itu berwarna hijau.
Feng Yao yang melihatnya perlahan mendekat.
Ia menatap daun tersebut dengan heran.
“Hijau...?”
Sudah begitu lama ia tidak melihat warna seperti itu.
Ia mengulurkan tangannya.
Burung biru itu tidak melarikan diri.
Feng Yao mengambil daun tersebut dari paruhnya.
Untuk pertama kalinya setelah enam masa, sesuatu dari dunia luar telah sampai kepada mereka.
Feng Yao menatap ke arah lorong yang gelap.
“Mungkinkah... bumi atas sudah berubah?”
Feng Yao berlari menuju ruangan ayahnya, Master Yao.
“Ayah...”
Master Yao menoleh.
Ia menghela napas pelan.
Sepertinya putrinya tidak banyak berubah, meski waktu telah berlalu begitu lama.
“Ayah, lihat ini!”
Feng Yao menunjukkan daun yang dibawanya.
“Daun.”
Master Yao memperhatikan daun itu dengan saksama.
Warnanya hijau.
Bukan kebiruan seperti tumbuhan yang selama ini mereka kenal di bawah bumi.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Ada seekor burung biru yang membawanya masuk ke lorong.”
Mata Master Yao sedikit membesar.
Ia kembali menatap daun tersebut.
“Hijau...”
Feng Yao mengangguk antusias.
“Berarti bumi atas sudah berubah, Ayah.”
Master Yao terdiam sejenak.
“Naik ke atas?”
Master Yao menggeleng pelan.
“Tidak, Nak. Ayah dan para Penjaga akan tetap tinggal di perut bumi.”
Feng Yao mengernyit penasaran.
“Ayah, kenapa kita tidak bisa ke atas seperti dulu?”
“Karena itu bukan wilayah kita lagi, Utara.”
Master Yao menatap putrinya.
“Zaman sudah berganti.”
Feng Yao terdiam.
“Ayah mendapatkan kabar... akan ada makhluk baru yang tinggal di atas bumi.”
“Makhluk baru?”
“Manusia baru.”
Feng Yao mengerjap.
“Manusia fana?”
“Ya.” Master Yao mengangguk.
“Yang umurnya bisa jauh lebih pendek dari kita.”
Feng Yao kembali menatap daun hijau di tangannya.
“Jadi ada makhluk baru?”
Rasa antusias Feng Yao mulai berontak.
“Kalau begitu aku mau lihat!”
Feng Yao langsung bergegas berlari meninggalkan ruangan ayahnya.
Master Yao hanya bisa menatap kepergian putrinya.
“Aihhh... anak ini makin hari makin tidak berubah.”
Beifeng Yao, putri penjaga Agharta.
Meski usianya sudah melewati beberapa masa, tingkahnya masih seperti remaja yang selalu penasaran dengan hal-hal baru.
Saat hendak keluar dari jurang Gunung Agarth, langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh penjaga gerbang.
“Nona Utara, Anda tidak boleh keluar.”
Feng Yao menatapnya.
“Aku hanya ingin melihat dunia atas.”
“Maaf, Nona. Ini perintah Master Yao.”
Feng Yao menghela napas.
Kemudian
BUKK!
Penjaga gerbang langsung terkapar dan pingsan.
Feng Yao menepuk tangannya pelan.
“Maaf ya.”
Ia kemudian berjalan santai melewati penjaga yang tergeletak.
“Aku cuma mau lihat sebentar.”
Feng Yao terbang menuju permukaan bumi.
Begitu keluar dari lorong, ia melihat dunia yang benar-benar berbeda.
Bumi masih terlihat segar dan diselimuti kabut tipis.
Feng Yao melayang di udara, lalu melihat ke sekeliling.
“Wah...”
Ia tampak kagum.
“Bumi berubah wajah.”
Ia menatap tanah di bawahnya.
“Tanahnya hitam.”
Kemudian ia mendongak ke langit.
“Dulu jingga.”
“Ini bumiku dulu, kah?”
Feng Yao melihat ke sekeliling.
“Sudah berapa lama...”
Dulu tanahnya berwarna ungu, sekarang berubah menjadi hitam.
Langit yang dulu jingga, kini berubah menjadi biru muda.
Ia kembali terbang.
Semakin lama, wajahnya semakin takjub.
“Ini daun-daunnya juga... semuanya jadi warna hijau.”
Ia menyentuh salah satu daun yang tertiup angin.
“Bukan biru lagi.”
Feng Yao kemudian mendarat di sebuah bukit.
Di sana tumbuh beberapa bunga kecil.
Ia memandanginya dengan heran.
“Kok bunganya kecil begini?”Ia memetik salah satunya. “Dulu lebar dan besar.”
Feng Yao melanjutkan perjalanan menuju hutan.
Ia mencari sebuah danau yang dulu sering ia kunjungi bersama Zhuin.
Namun setelah menyusuri hutan cukup lama, danau itu tidak ditemukan.
Feng Yao berhenti.
“Hahh...”Ia melihat ke sekeliling.“Ke mana perginya?”