Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah janji
Sementara itu, di sudut lain ibu kota, sebuah mobil sport mewah melaju mulus membelah kemacetan jalanan utama. Di dalam kabin mobil yang harum dan sejuk, Rara duduk di kursi penumpang samping pengemudi. Wajahnya dipenuhi binar kebanggaan saat jemarinya bergelayut manja di lengan kiri Dimas yang sedang fokus memegang kemudi.
"Sayang... kapan kamu mau mengenalkan aku ke orang tuamu?" tanya Rara dengan nada suara yang dibuat sehalus dan semanja mungkin.
Dimas mengarahkan pandangannya tetap lurus ke depan, menjawab dengan raut wajah acuh tak acuh. "Papa sama Mama lagi di luar negeri."
Mendengar jawaban itu, senyum Rara makin mengembang lebar. Matanya berbinar-binar penuh ambisi. Orang tua Dimas lagi di luar negeri? Wah, benar-benar keluarga kaya raya! Pokoknya aku harus bisa menikah dengan Dimas, batin Rara bersorak kegirangan, membayangkan dirinya sebentar lagi menjadi nyonya besar di keluarga konglomerat.
"Nanti, kalau orang tuamu sudah pulang dari luar negeri, ajak aku berkunjung ke rumahmu ya, Sayang?" pinta Rara lagi seraya menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
"Hmm... iya," sahut Dimas singkat, hanya mendehem tanpa menoleh sedikit pun.
Tak lama kemudian, mobil sport miring menuruni jalan melingkar dan terparkir rapi di dalam area basement sebuah gedung apartemen bertingkat.
Keduanya melangkah keluar dari mobil. Rara dengan gaya anggun yang dipaksakan terus menggandeng erat lengan Dimas saat mereka melintasi lorong, masuk ke dalam lift khusus, hingga akhirnya tiba di depan pintu sebuah unit apartemen milik Dimas.
Begitu pintu apartemen terbuka, Rara melangkah masuk dengan decak kagum yang tak mampu ia sembunyikan. Matanya menyapu setiap sudut interior yang tampak modern dan mewah. Di dalam pikirannya, Rara sudah merasa selangkah lebih maju meninggalkan status sosial keluarganya yang biasa-biasa saja.
Baru saja Rara selesai mengagumi interior bernuansa modern di dalam apartemen itu, tubuhnya mendadak terangkat. Dimas menggendongnya ala bridal style, melangkah cepat menuju kamar utama.
Dimas merebahkan Rara di atas ranjang empuk berukuran king size. Rara yang malam itu mengenakan gaun ketat nan seksi, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang body goals, seketika membakar gairah laki-laki di hadapannya.
Namun, tepat saat Dimas hendak merapatkan tubuh dan mendekat, Rara menahan dada Dimas dengan kedua tangannya. Matanya menatap lurus, menuntut kepastian.
"Kamu... beneran bakal nikahin aku kan, Dimas?" tanya Rara memastikan, ingin mengunci janji manis laki-laki kaya itu.
Dimas yang sudah kepalang dikuasai nafsu hanya terkekeh pelan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangguk mantap. "Iya, Sayang. Aku pasti nikahin kamu."
Janji itu sudah cukup membuat Rara melayangkan seluruh pertahanannya. Malam itu, di bawah keremangan lampu kamar apartemen, keperawanan Rara pun melayang, direbut oleh laki-laki yang ia anggap sebagai tiket emas menuju kehidupan kaya raya.
Lain cerita di kediaman Bu Rika. Malam itu, ruang makan yang biasanya ramai tampak diisi oleh Bu Rika, Pak Hendra, Santi, dan Mansur yang baru saja tiba dari luar kota. Karena tidak ada orang yang memasak di rumah, Santi memesan berbagai menu makanan lezat melalui aplikasi daring untuk menyambut kepulangan suaminya.
Suasana makan malam berlangsung cukup hening sebelum Mansur mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja.
"Arya sama Rara ke mana, Bu?" tanya Mansur saat melihat ada dua kursi yang masih kosong.
"Rara sedang di rumah temannya, katanya ada tugas kuliah. Kalau Arya... dia lagi di rumah sakit. Istrinya keguguran," jawab Bu Rika dingin, bahkan tak sudi menyebut nama Maya dari bibirnya.
"Keguguran?" tanya Pak Hendra menghentikan suapan nasinya di udara, menatap sang istri dengan kening berkerut. "Maya hamil, Bu?"
"Jangan sebut nama perempuan biadab itu di rumah ini, Pak!" sergah Bu Rika tajam, matanya mendadak berkilat marah.
"Memangnya kenapa lagi sih, Bu?" tanya Mansur penasaran melihat wajah ibu mertuanya yang mendadak merah padam.
Santi mendesah pelan, memasang raut wajah sesedih mungkin di samping suaminya. "Mas.. aku itu sedih sekali sama keluarga ini. Baru saja ibu senang mau menyambut cucu, tapi Maya malah tidak bisa menjaga diri. Sudah tahu lagi sakit, malah memaksa keluyuran. Akhirnya pingsan di jalan dan membuat bayinya meninggal," tutur Santi dengan nada mengompori.
"Memang wanita pembunuh!" timpal Bu Rika berapi-api. "Ibu ini sudah menanti-nanti kelahiran cucu pertama, tapi malah dibunuh sama dia!"
Pak Hendra hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menghela napas kasar. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Santi dengan raut datar.
"Ya sudah... kalau begitu kamu saja yang memberikan kami cucu," ucap Pak Hendra enteng seraya melanjutkan makan.
Santi seketika melotot, menatap bengong ke arah bapak mertuanya.
Di saat bersamaan, raut wajah Bu Rika dan Mansur mendadak berubah berbinar penuh harap. Bumerang yang dilempar Santi untuk memojokkan Maya kini berbalik menghantam dirinya sendiri.
"Iya! Benar apa yang dibilang Bapak, Santi!" seru Bu Rika, nada suaranya berubah menjadi teramat lemah lembut. "Coba kamu sama Mansur mulai program hamil."
"Iya, Sayang... kita coba dulu aja ya? Kita kan sudah empat tahun menikah, sudah saatnya punya anak," ucap Mansur bersemangat seraya menepuk-nepuk pelan punggung tangan Santi.
Santi terpaku di tempatnya. Ia tak menyangka percakapan ini justru menyudutkan dirinya. Alasan utama Santi selalu menunda memiliki anak bukan hanya karena kesibukan, melainkan karena ia takut kebebasannya terenggut. Selama empat tahun ini, ia bebas pergi ke mana pun yang ia mau tanpa dibebani urusan mengurus bayi.
Namun, menatap binar penuh tuntutan dari semua orang di meja makan, Santi tak punya pilihan lain. Dengan wajah tertunduk, ia mengangguk pelan. "I-iya..."
"Aduh, menantu kesayangan Ibu ini memang paling paham!" puji Bu Rika kegirangan, raut dongkolnya pada Maya seketika menguap digantikan tawa puas.
"Terima kasih ya, Sayang. Nanti kita langsung konsul promil di rumah sakit terbesar di kota ini," janji Mansur mengecup pelan pelipis istrinya.
Sementara itu, Pak Hendra hanya mendengarkan ocehan mereka dengan acuh tak acuh seraya menyantap makan malamnya hingga bersih.