NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Siang itu, atmosfer di dalam mansion The Iron Crown terasa jauh lebih menekan dari biasanya. Langit di luar mendung, seolah merefleksikan awan gelap yang terus menggantung di atas kepala Amanda sejak ia dipaksa menjejakkan kaki di istana sang iblis ini.

Amanda berdiri di dekat jendela raksasa ruang perpustakaan berlantai dua, menatap kosong ke arah taman labirin yang dijaga ketat oleh belasan pria bersenjata. Ia mengenakan gaun sutra sederhana berwarna emerald yang entah bagaimana sudah disiapkan di lemari kamarnya pagi ini—ukurannya pas secara mengerikan.

Suara ketukan tajam hak sepatu stiletto yang beradu dengan lantai marmer memecah keheningan. Bukan hanya satu, melainkan dua pasang langkah kaki yang terdengar begitu arogan dan menuntut.

Pintu ganda mahoni perpustakaan didorong terbuka dengan kasar.

Udara di dalam ruangan seketika berubah dingin. Aroma parfum floral mahal yang sangat menyengat—terlalu manis dan memabukkan—menginvasi penciuman Amanda, menutupi wangi buku tua dan kayu oak.

Dua orang wanita melangkah masuk bagai penguasa. Di depan, berdiri seorang wanita paruh baya dengan postur angkuh yang begitu familier—postur yang sama persis dengan Aldebaran. Ia mengenakan setelan blazer hitam haute couture, dihiasi kalung mutiara asli yang melingkar elegan di lehernya. Sorot matanya sedingin es di kutub utara. Dia adalah Nyonya Besar Hendrick, sang matriark klan mafia yang ditakuti.

Dan tepat di belakangnya, mengekor seorang wanita muda berambut pirang platina yang ditata bergelombang sempurna. Gaun merah ketatnya membalut tubuh bak jam pasir, bibirnya dipoles lipstik senada yang menyeringai sinis. Anastasya. Mantan kekasih Aldebaran yang belum pernah bisa menerima kata penolakan.

"Jadi... ini tikus jalanan yang membuat putraku mengabaikan panggilanku semalam?" Suara Nyonya Besar memecah keheningan. Nadanya pelan, namun bergetar oleh otoritas dan penghinaan yang begitu kental.

Anastasya melipat tangannya di dada, memindai penampilan Amanda dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "Astaga, Ibu. Aku tidak menyangka selera Aldebaran bisa anjlok separah ini. Dia terlihat seperti pelayan rendahan. Apa Al kehabisan wanita penghibur di kelab sampai harus memungut yang seperti ini?"

Amanda mematung sejenak. Jika ini adalah Amanda lima tahun yang lalu—gadis naif yang menangis saat diusir ibunya sendiri—ia mungkin akan menunduk dan gemetar ketakutan. Namun, wanita yang berdiri di sini sekarang adalah seorang ibu yang telah dirobek dan dihancurkan oleh dunia berulang kali. Sisa-sisa kesabarannya telah lama menguap.

Amanda membalikkan badan sepenuhnya, menegakkan bahunya, dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia tidak sedikit pun terlihat terintimidasi.

"Jika kalian datang ke mari hanya untuk mengomentari penampilanku, silakan cari cermin dan mengobrol dengan bayangan kalian sendiri," balas Amanda tenang, suaranya tajam seperti beling yang digoreskan ke kaca. "Aku tidak punya waktu meladeni drama sosialita."

Wajah Anastasya seketika memerah padam. "Berani sekali kau, Jalang! Kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa?!"

Anastasya melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya terangkat ke udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi pucat Amanda. Namun, sebelum telapak tangan bertahtakan cincin berlian itu menyentuh kulitnya, Amanda bergerak lebih cepat.

Grep!

Amanda menangkap pergelangan tangan Anastasya di udara, mencengkeramnya dengan kekuatan penuh yang didorong oleh amarah dan adrenalin.

"Singkirkan tangan kotormu dariku," desis Amanda pelan, menatap lurus ke dalam mata Anastasya yang kini membelalak kaget. Cengkeraman Amanda semakin mengerat, membuat wanita bergaun merah itu meringis kesakitan. "Jangan berani-berani menyentuhku. Kalau kau begitu menginginkan Aldebaran, silakan seret dia dari hadapanku! Bawa pria arogan dan gila itu pergi jauh-jauh! Kau pikir aku sudi disekap di tempat terkutuk ini?!"

Amanda menghempaskan tangan Anastasya dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung mundur hingga hampir menabrak rak buku.

Nyonya Besar menatap kejadian itu dengan dada bergemuruh. Rahangnya mengeras. "Lancang sekali kau!" bentak sang matriark, melangkah maju untuk berhadapan langsung dengan Amanda. Otoritas murni menguar dari tubuhnya. "Kau hanyalah parasit. Wanita murahan yang mencoba memeras putraku! Penjaga! Seret wanita ini keluar dan potong—"

"Bunda...?"

Sebuah suara kecil, rapuh, dan serak khas anak yang baru bangun tidur tiba-tiba mengalun dari ambang pintu yang terbuka.

Perkataan Nyonya Besar terputus di udara. Suasana mematikan di ruangan itu seketika membeku.

Amanda menoleh dengan cepat. Jantungnya mencelos. Di ambang pintu, berdirilah Lily. Gadis kecil itu mengenakan gaun tidur sutranya, memeluk erat boneka kelinci berbulu kusam di dadanya, dan menggosok salah satu matanya yang masih mengantuk. Di belakangnya, Flop—sang pembunuh bayaran bermata dingin—tampak berjaga dengan jarak aman, menunduk hormat ke arah Lily seolah gadis kecil itu adalah dewi.

"Lily, Sayang, jangan ke mari. Kembali ke kamarmu," ucap Amanda panik, melangkah maju berniat menyembunyikan putrinya dari pandangan dua penyihir di depannya.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Nyonya Besar perlahan memutar tubuhnya. Matanya yang tadinya menyala oleh amarah kini perlahan melebar, melebar, hingga nyaris keluar dari sarangnya. Jantung sang matriark tua itu seolah berhenti berdetak selama satu sekon yang terasa seperti keabadian.

Napas Nyonya Besar tercekat. Tubuhnya yang selalu berdiri angkuh kini menegang kaku layaknya patung marmer.

Anastasya yang baru saja memulihkan keseimbangannya ikut menoleh, dan kerutan bingung bercampur ngeri mulai tergambar di wajah cantiknya. "Anak siapa itu...?" bisiknya ngeri.

Nyonya Besar tidak menjawab. Kakinya, yang biasanya melangkah dengan kepastian yang mematikan, kini perlahan melangkah maju, bergetar di dalam sepatu mahalnya. Tas Hermès Birkin di tangannya merosot dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan, sama sekali tidak dipedulikan oleh pemiliknya.

Tatapan Nyonya Besar terkunci pada wajah Lily.

Gadis kecil itu memiliki rambut pirang kecokelatan yang lembut, menuruni ibunya. Namun... saat Lily menurunkan tangannya dari wajah dan menatap polos ke arah wanita paruh baya itu, dunia Nyonya Besar benar-benar runtuh.

Mata itu.

Mata kelam yang tajam, dalam, sepekat malam tanpa bintang. Mata yang memancarkan dominasi alami, kecerdasan absolut, dan bentuk rahang tegas yang mulai terlihat pada wajah mungilnya. Itu bukan sembarang mata. Itu adalah mahakarya genetika. Itu adalah mata mendiang suaminya. Mata putranya, Aldebaran. Mata keturunan murni penguasa The Iron Crown.

"T-tidak mungkin..." Suara Nyonya Besar keluar berupa bisikan parau yang bergetar hebat. Air mata, sesuatu yang tidak pernah ia keluarkan selama puluhan tahun menjadi istri dan ibu dari ketua mafia, tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Tangannya yang dipenuhi kerutan halus terulur ke depan, gemetar parah. "Mata itu..."

"Jangan sentuh dia!" Amanda menerjang maju, langsung berjongkok dan menarik Lily ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajah putrinya di ceruk lehernya dengan protektif. Mata Amanda menatap Nyonya Besar layaknya induk singa yang siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh anaknya.

"I-ibu?" Anastasya tergagap, menatap Nyonya Besar yang kini menutupi mulutnya sendiri dengan tangan gemetar. "Ibu, ada apa? Kenapa anak rendahan itu—"

"TUTUP MULUTMU, ANASTASYA!"

Teriakan Nyonya Besar menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, menggetarkan kaca jendela, membuat Anastasya terlonjak kaget dengan wajah sepucat mayat. Belum pernah sekalipun Nyonya Besar membentaknya seperti itu.

Nyonya Besar menatap Amanda dan Lily yang berada di pelukannya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari lima menit yang lalu. Tidak ada lagi kebencian. Tidak ada lagi tatapan merendahkan. Yang ada hanyalah keterkejutan, kekaguman yang gila, dan... penerimaan atas sebuah takdir yang tak terbantahkan.

"Itu cucuku," bisik Nyonya Besar, air mata akhirnya menetes jatuh melewati kerutan di pipinya, menghancurkan topeng dingin yang selalu ia kenakan. "Darah daging Aldebaran. Pewaris The Iron Crown. Dia... kau menyembunyikan cucuku."

Sebelum Amanda bisa membalas, suara langkah kaki berat dan berirama terdengar menggema dari lorong, mendekat dengan cepat ke arah perpustakaan. Aura gelap dan mematikan merayap masuk ke dalam ruangan bahkan sebelum sosoknya muncul.

Aldebaran Hendrick berdiri di ambang pintu, kemeja hitamnya sedikit kusut, rahangnya mengeras dengan urat leher yang menonjol. Matanya yang merah menyala menyapu seluruh ruangan, berhenti pada Nyonya Besar yang menangis, Anastasya yang ketakutan, dan akhirnya menetap pada Amanda yang memeluk Lily erat-erat di lantai.

"Sepertinya," suara bariton Aldebaran mengalun rendah, mematikan, dan penuh ancaman saat ia melangkah masuk, membelah jarak menuju keluarganya. "Aku sudah pernah memperingatkan penjaga untuk tidak membiarkan siapa pun, siapa pun, mengganggu ketenangan Ratu dan Putriku. Benar begitu, Ibu?"

Aldebaran berhenti tepat di depan Amanda, memunggungi ibu dan mantan kekasihnya, menjadi perisai hidup yang tak tertembus untuk melindungi dua wanita yang kini menjadi kelemahan sekaligus kekuatan terbesarnya.

Pion-pion telah bergerak di atas papan catur. Dan sang Iblis, kini telah secara resmi mendeklarasikan perangnya kepada dunia.

1
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!