“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lo Gak Bakal Bisa Beli Gw!!
"Ini yang lo mau, kan?" Celin melempar jam tangan itu tepat ke dada Reja. Jam itu jatuh ke aspal dengan suara denting yang menyakitkan.
*****
"Ambil balik barang lo. Dan ambil balik semua ancaman sampah lo."
Reja terdiam, menatap jam tangan yang tergeletak di tanah.
"Lo mau hancurin tempat ini?" suara Celin merendah, sangat tenang namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Silakan. Hancurin. Tapi ingat satu hal, Reja. Kalau lo berani sentuh satu inci pun dari tempat ini, gue bakal langsung telepon bokap lo. Gue bakal kasih tahu dia kalau anaknya lagi main jadi preman pasar di sini."
"Lo berani ngancem gue pake nama Papa?!" Reja mencengkeram bahu Celin, menekannya kuat.
"Gue nggak ngancem. Gue ngasih tahu kenyataan," Celin menatap balik mata Reja tanpa berkedip sedikit pun. "Lo mungkin bisa beli gue, tapi lo nggak bisa beli mulut gue untuk tetap diam. Lo mau liat seberapa jauh gue bisa nekat? Coba aja."
Reja melihat kilat kegilaan yang sama seperti di kamar semalam. Ia teringat perban yang merembes merah di tangan Celin.
Ia sadar, Celin benar-benar tidak memiliki beban untuk kehilangan apa pun, sementara Reja memiliki segalanya untuk dipertaruhkan jika ayahnya tahu ia berbuat onar.
Deo yang merasa suasana menjadi canggung mencoba memprovokasi lagi. "Halah, Reja! Jangan dengerin dia! Dia cuma gertak sambal!"
Reja melepaskan cengkeramannya dari bahu Celin. Ia menatap Rian, lalu menatap pintu cafe tempat Kirei bersembunyi, dan terakhir kembali ke Celin. Ego dan rasa penasarannya berperang hebat.
"Bubar semuanya!" perintah Reja tiba-tiba kepada teman-temannya.
"Lho, Rej? Kok gitu?!" protes Deo.
"Gue bilang bubar ya bubar!" bentak Reja.
Tanpa memungut jam tangannya yang tergeletak di aspal, Reja memakai helmnya kembali. Sebelum menyalakan mesin, ia mendekatkan motornya ke arah Celin.
"Malam ini lo selamat," bisik Reja di balik kaca helm hitamnya. "Tapi jangan pikir urusan kita selesai. Di rumah nanti... lo bakal dapat pelajaran yang lebih hebat dari sekadar tamparan."
Motor Reja melesat pergi, diikuti oleh rombongannya yang tampak kecewa karena tidak ada aksi perusakan malam itu. Teman-teman Reja sempat memberikan tatapan benci sebelum akhirnya menyusul Reja.
Setelah jalanan kembali sepi, Celin terduduk di teras cafe. Kakinya lemas. Rian segera menghampirinya, sementara Kirei berlari keluar dan langsung memeluk Celin sambil menangis.
"Celin... maafin gue. Gara-gara gue lo jadi begini," isak Kirei.
Celin hanya menggeleng, tangannya yang gemetar mengusap punggung Kirei. "Gue nggak apa-apa, Rei. Yang penting cafe Ibu aman."
Rian memungut jam tangan mewah yang tergeletak di aspal tadi. Kaca jam itu sedikit retak. Ia memberikannya pada Celin dengan tatapan penuh simpati.
"Reja bener-bener udah keterlaluan, Celin. Gue minta maaf atas nama dia."
Celin mengambil jam itu, menatap retakannya yang persis seperti hatinya saat ini. "Makasih, Rian. Lo mending pergi sekarang sebelum ada yang liat lo di sini." Rian mengangguk dan segera pergi dengan motornya.
Celin berdiri, menatap Kirei yang masih ketakutan. Ia tahu, setelah ini ia harus kembali ke mansion Bagaskara. Ia harus menghadapi monster yang sedang menunggunya dengan amarah yang lebih besar.
Namun, di tengah semua kehancuran itu, Celin menyadari satu hal—ia baru saja menunjukkan pada Reja bahwa budak yang dia beli... punya taring yang bisa melukainya.
Suasana di dalam basecamp sebuah rumah tua di pinggir kota yang mereka sewa sebagai tempat pelarian terasa sangat tegang.
Asap rokok mengepul tipis, sementara Reja duduk bersandar di kursi tua dengan rahang yang masih mengeras.
"Maksud lo apa sih, Rej?!" Deo menggebrek meja kayu di hadapan mereka. "Udah jauh-jauh kita ke sana, bawa anak-anak, eh malah disuruh bubar. Lo bikin kita kelihatan kayak pecundang di depan anak beasiswa itu!"
Reja tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah tangannya yang tadi sempat mencengkeram bahu Celin. Rasa dingin dan keberanian di mata gadis itu masih membekas di benaknya.
Kateo, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya angkat bicara. Suaranya lebih tenang dari Deo, tapi penuh selidik. "Gue setuju sama Deo, ini nggak biasa. Tapi yang lebih nggak biasa itu ucapan si Celin tadi." Kateo memiringkan kepalanya, menatap Reja lekat-lekat. "Sejak kapan anak beasiswa kayak dia punya nyali buat bawa-bawa nama Bokap lo? Dan yang lebih aneh lagi... kenapa dia keliatan yakin banget kalau laporan dia bakal didengar sama Om Adrian? Lo tahu sendiri bokap lo itu orang sibuk, nggak mungkin dia ngurusin urusan sepele anak SMA, kecuali kalau..."
"Kecuali kalau apa?!" potong Reja ketus.
"Kecuali kalau dia punya hubungan khusus sama keluarga lo," lanjut Kateo tenang. "Ada yang lo sembunyiin dari kita, Rej?"
Reja merasa dadanya sesak. Rahasia tentang pernikahan itu terasa seperti bom waktu di tenggorokannya. Ia ingin berteriak bahwa gadis itu adalah beban yang dipaksakan Papanya, tapi ia tidak bisa—jika teman-temannya tahu ia menikah dengan gadis beasiswa yang mereka rendahkan, harga dirinya sebagai raja sekolah akan hancur lebur.
"Nggak usah ngaco," Reja mengalihkan pembicaraan dengan cepat, suaranya naik satu oktav. "Gue cuma nggak mau Papa dapat alasan lagi buat sita motor gue. Lo tahu sendiri dia lagi sensitif soal nilai gue."
Reja berdiri, berjalan ke arah jendela yang terbuka.
"Yang seharusnya kita bahas itu si Rian. Pantesan tadi pas gue cari di sekolah dia udah menghilang. Ngapain dia di cafe kumuh itu? Sejak kapan si 'jenius' itu main sama rakyat jelata kayak mereka?"
Deo mengernyit, amarahnya sedikit teralihkan. "Bener juga. Si Rian tadi keliatan panik banget pas kita datang. Apa jangan-jangan dia ada main sama temennya Celin? Siapa tuh namanya... Kirei?"
"Kalau sampe bener Rian pengkhianat dan main di belakang kita, dia bakal tau akibatnya," desis Reja.
Ia merasa dikhianati dari dua sisi—oleh Papanya yang memaksanya menikah, dan oleh sahabatnya yang ternyata punya rahasia sendiri.
"Udah, mending kalian balik," perintah Reja tanpa menoleh. "Gue mau balik ke rumah. Gue ada urusan yang belum kelar sama 'budak' itu."
"Urusan apa?" tanya Kateo curiga.
"Urusan yang bikin dia nyesel pernah buka mulut tadi sore," jawab Reja dingin.
Reja menyambar kunci motornya dan keluar tanpa pamit. Di sepanjang jalan menuju mansion, pikirannya berkecamuk.
Ia benci bagaimana Celin selalu punya cara untuk membuatnya terpojok. Ia benci bagaimana gadis itu tidak pernah terlihat takut padanya.
---
Sesampainya di mansion, Reja memarkir motornya dengan kasar. Ia melangkah masuk, melewati ruang tamu yang sepi, dan langsung menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu pintu kamar terbuka, ia melihat Celin baru saja selesai mengganti perbannya. Reja menutup pintu dengan bantingan keras, menguncinya dari dalam.
"Lo pikir lo menang tadi sore?" Reja berjalan mendekat, bayangannya menutupi tubuh Celin yang duduk di tepi sofa. "Lo berani bawa-bawa nama Papa di depan temen-temen gue?"
Bersambung...