Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Gendis tiba di klinik tempat praktek Dr.Alex. Sengaja dia memilih untuk melihat hasil test nya disana, daripada harus datang langsung kerumah sakit. Langkah kakinya terasa begitu berat saat menyusuri koridor rumah sakit. Setiap kali sol sepatunya menyentuh lantai marmer yang dingin, ada rasa lelah luar biasa yang seolah menggerogoti hingga ke sumsum tulangnya.
Di depan pintu ruang praktik spesialis penyakit dalam, ia berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang sebelum memutar gagang pintu.
"Gendis... akhirnya kamu datang juga," panggil seorang pria berjas putih yang langsung berdiri dari kursi kerjanya.
Dr. Alex, sahabat karib mendiang Galang sekaligus dokter yang memantau kesehatan Gendis sejak beberapa bulan terakhir yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri, menatap wanita itu dengan raut wajah yang teramat cemas. Ia tidak membuang waktu untuk menyuruh Gendis duduk.
"Hasil tes laboratorium dan sampel darahmu beberapa hari yang lalu sudah keluar," ujar Alex pelan. Tangannya meresapi lembaran kertas di dalam amplop cokelat besar di atas mejanya.
Gendis mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba memasang ekspresi setenang mungkin. "Bagaimana hasilnya, Kak? Kenapa kamu sampai meminta ku datang langsung dan tidak mau bicara di telepon?"
Alex menghela napas berat. Sorot matanya memancarkan kepedihan mendalam saat menatap wajah pucat wanita di hadapannya.
"Kondisimu memburuk signifikan, Dis," suara Alex gemetar. "Hasil analisis sumsum tulang dan panel darah menunjukkan kamu mengidap Acute Myeloid Leukemia—kanker darah. Dan dari penyebarannya... ini sudah masuk stadium tiga."
Kalimat itu terucap seperti gumpalan es yang menyiram tubuh Gendis. Ruangan seketika hening. Wanita itu menatap lurus ke arah laki-laki yang masih dia anggap keluarganya sendiri.
"Stadium tiga?" bisik Gendis, suaranya hampir tak terdengar.
"Sistem imun mu anjlok drastis," lanjut Alex seraya menggenggam erat tangan Gendis di atas meja, berusaha memberikan kekuatan moral. "Stres berat, dan beban pikiran yang terkuras habis sejak kepergian Galang, ditambah kamu terus memaksakan diri bekerja tanpa istirahat yang cukup... semua itu mempercepat perburukan sel-sel kanker mu. Tubuhmu sudah memberi sinyal lewat mata dan kelelahan ekstrem itu, Dis. Kamu tidak bisa mengabaikannya lagi! Apalagi lebam-lebam waktu itu."
Gendis menatap amplop cokelat itu. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh. Rasa duka atas kehilangan Galang dan tekanan mental dalam pernikahan rahasianya dengan Arya rupanya telah menggerogoti fisiknya tanpa ampun.
"Berapa banyak waktu yang aku punya jika aku menolak rawat inap?" tanya Gendis datar, membuat Alex terperanjat.
"Jangan gila kamu!" Alex mempererat genggaman tangannya, menatap Gendis dengan mata memerah. "Kamu harus segera masuk ruang perawatan! Kita mulai kemoterapi secepatnya! Galang sudah mempercayakan kamu padaku sebelum dia meninggal, dan aku tidak akan biarkan kamu menyerah begitu saja!"
"Kenapa, aku bisa segera menyusul Galang kan? Mungkin ini cara yang kuasa menyatukan kami, Kak."
"Jangan konyol, kematian itu takdir. Jika masih bisa diusahakan, apa salah nya berikhtiar dulu daripada pasrah dan menyerah begitu saja?"
Sementara itu, tak jauh dari ruang praktek Alex, Arya berdiri di balik kaca gelap dengan dada bergemuruh kencang.
Sejak Gendis melangkah keluar dari rumah utama tadi sore dengan wajah pucat dan terburu-buru, ada dorongan aneh di dalam diri Arya yang memaksanya untuk membuntutinya secara diam-diam. Arya mengira Gendis hendak menemui klien penting atau mungkin berbelanja. Namun, ketika mobil taksi yang ditumpangi Gendis berhenti di area klinik, rasa penasaran Arya kian memuncak.
Arya bahkan nekat membuntuti langkah Gendis dari jarak aman, menyusuri koridor hingga berhenti di depan pintu ruang praktik spesialis yang agak tertutup rapat. Dari celah kaca pintu yang sedikit terbuka, pandangan Arya terkunci pada pemandangan di dalam sana.
Rasa panas yang membakar seketika menyengat dadanya.
Dari posisinya, Arya bisa melihat jelas bagaimana seorang dokter pria bertubuh tegap merengkuh kedua tangan Gendis di atas meja dengan begitu erat. Ia melihat raut wajah Gendis yang begitu rapuh, raut wajah yang tak pernah wanita itu tunjukkan di hadapannya, dan bagaimana dokter muda itu menatap Gendis dengan pendar mata yang sangat protektif.
Siapa pria itu?
Kenapa dia berani memegang tangan istriku seperti itu?
Benak Arya berputar liar. Asumsi-asumsi liar berdatangan menghantam kepalanya. Pria yang angkuh itu membayangkan hal paling murahan yang bisa dilakukan istrinya di dalam sana, apakah dokter ini adalah selingkuhan Gendis? Atau mungkin pria baru yang mencoba memanfaatkan kerapuhan Gendis setelah kematian suami pertamanya demi mendapatkan harta atau perhatian?
Rasa cemburu yang liar dan tak beralasan meledak di dalam dada Arya. Sebagai suami, meski hanya di atas kertas kontrak, harga dirinya merasa terinjak-injak melihat wanita yang berstatus istrinya disentuh oleh pria lain dengan begitu intim. Arya sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan di dalam sana, atau menyadari amplop medis berlogo laboratorium darah yang tergeletak di atas meja, apalagi kenyataan pahit bahwa wanita yang tengah dicemburui nya sedang divonis batas usia.
Tanpa sanggup menahan emosi lebih lama, Arya berbalik arah dengan langkah lebar dan menghentak, menuju kembali ke mobilnya. Rahangnya mengeras rapat.
Satu jam kemudian, Gendis tiba di rumah. Tubuhnya sudah terasa lemah. Hasil tes lab dan bayangan kemoterapi yang disampaikan Alex terus menari-nari di ingatan.
Saat ia baru saja melintasi area ruang keluarga, sebuah suara dingin menghantam pendengarannya.
"Dari mana kamu?"
Gendis menghentikan langkah, memutar tubuhnya perlahan. Arya berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di tepi meja dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap Gendis dengan kilat amarah yang sangat tajam.
"Aku ada urusan di luar," sahut Gendis singkat, berusaha mengatur napasnya yang terasa kian sesak.
"Urusan di luar?" Arya tertawa hambar, sebuah tawa sinis yang melecehkan. Ia melangkah mendekati Gendis dengan intimidasi yang nyata. "Urusan dengan dokter muda itu, maksudmu? Pria yang dengan sukarela memegang tanganmu dengan begitu dekatnya di dalam ruangan, tanpa ada siapapun?"
Gendis tertegun sejenak. Matanya berkedip pelan. "Kamu... mengikutiku?"
"Kenapa? Kamu kaget karena aksi manismu ketahuan?" cecar Arya dengan nada suara yang meninggi, tak mampu lagi menahan prasangka buruknya. "Siapa pria itu, Gendis? Teman dekatmu? Atau pria baru yang sedang mencoba menggantikan posisi almarhum suamimu? Baru enam bulan suamimu meninggal dan kita baru menikah belum lama ini, tapi kamu sudah berani bermesraan dengan pria lain di luar sana!"
Pernyataan beracun itu meluncur mulus dari mulut Arya, merobek sisa kekuatan yang dimiliki Gendis malam ini.
Gendis menatap Arya. Pria yang berdiri di hadapannya ini memang suami resminya, pria yang kemarin memaki-makinya sebagai janda pencari harta, pria yang tadi pagi membela kekasihnya, dan sekarang... pria yang menuduhnya main belakang tanpa tahu sedikit pun bahaya kematian yang sedang mengintipnya.
Bukannya marah atau berteriak membela diri, Gendis justru mengukir sebuah senyuman amat tipis. Senyuman hampa yang dipenuhi rasa ironi paling dalam.
"Terserah apa pun yang ingin kamu pikirkan, Arya," ujar Gendis dengan suara yang begitu tenang, begitu datar, hingga membuat Arya justru merasa merinding. "Kamu bebas menilai ku seperti apa. Lagipula, bukankah di matamu aku ini memang wanita murahan yang tidak punya harga diri?"
"Gendis! Jangan memotong pembicaraan dan berakting seolah kamu korbannya!" bentak Arya, melangkah satu pijakan lebih dekat. "Aku bertanya siapa pria itu!"
"Dia orang yang peduli padaku, puas? Sudah lah... Dalam kontrak, kita dilarang mencampuri urusan pribadi orang lain. Di luar sana, orang-orang masih menganggap aku seorang janda, Arya. Bukan istrimu. Begitu juga sebalik nya, diluar sana... Kau kekasih nya Gea, wanita manja yang hanya mau dengan harta mu saja. Kau itu terlalu naif," balas Gendis dingin.
Gendis enggan menjelaskan apa pun. Ia tidak sudi membagikan fakta bahwa dirinya sedang mengidap kanker darah stadium lanjut kepada pria yang selama ini hanya menganggapnya sebagai beban dan sampah. Rasa bangga dan sisa harga dirinya menolak untuk meminta kasihan dari Arya Bratadikara.
Gendis berbalik, melangkah menaiki anak tangga tanpa memedulikan panggilan keras Arya yang menggema di dalam rumah mewah yang dingin itu.
Di dalam kamar, setelah mengunci pintu rapat-rapat, Gendis merosot duduk di balik pintu. Ia memeluk kedua lututnya seraya menyandarkan kepala. Darah segar perlahan menetes dari hidungnya, efek dari penurunan trombosit yang drastis. Gendis menyapu noda merah itu dengan ujung jarinya, lalu memejamkan mata erat-erat di tengah kegelapan malam.
Sementara di bawah, Arya berdiri mematung dengan napas memburu. Rasa cemburu yang membakar dadanya perlahan berubah menjadi perasaan asing yang mengganjal, sebuah kekosongan yang membingungkan melihat betapa hampa nya tatapan mata Gendis saat menatapnya tadi.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku marah dia bersama laki-laki lain?"
.
.