Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN SEORANG IBU
Pintu rumah kayu itu terbuka sebelum Laras sempat mengetuk.
Ibunya berdiri di ambang pintu, mengenakan kebaya rumah berwarna cokelat tua dan kerudung yang dirapikan lebih teliti dari biasanya, seolah menyambut tamu yang tak boleh dikecewakan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
"Masuk, Nak."
Laras melangkah melewatinya tanpa bicara. Di belakangnya, mobil Mira terparkir di ujung gang, mesinnya mati, dua petugas bersembunyi di balik rimbun pohon jambu. Hendarto sudah memberi pesan terakhir: *Kalau ada yang aneh, injak lantai tiga kali.*
Rumah itu sunyi. Dari kamar tidur terdengar dengkur halus Kenzo yang sedang tidur siang, ditemani Vania yang duduk di lantai di samping kasur dengan buku cerita di pangkuan. Dari jendela dapur, Laras melihat Reza belum kembali dari rumah sakit.
Ibunya menuntunnya ke dapur kecil di belakang. Meja makan kayu jati yang sudah mengilap oleh puluhan tahun pemakaian. Dua cangkir teh sudah terhidang, uapnya masih mengepul. Sumi duduk lebih dulu, lalu menunjuk kursi di seberangnya.
"Duduk."
Laras duduk. Tangannya meremas ujung jaket di pangkuannya.
"Ibu mulai dari mana ya..." Sumi menarik napas panjang. Jemari keriputnya menyentuh bibir cangkir tanpa mengangkatnya. "Bapakmu. Kamu masih ingat bagaimana Bapakmu meninggal?"
"Kecelakaan, Bu. Sebelas tahun lalu. Mobil yang dia kemudikan masuk jurang di jalur Puncak."
"Kamu tahu mobil siapa yang dia kemudikan?"
Laras mengerutkan dahi. "Mobil majikannya. Pak Anggoro kan sopir pribadi..."
Ia berhenti.
Kata-kata itu menggantung, dan sesuatu di dalam benaknya bergeser, pelan, seperti pintu tua yang selama ini macet di engselnya.
"Majikan Bapak..." bisiknya. "Siapa nama majikan Bapak, Bu?"
Mata Sumi berkaca-kaca. Ia menatap Laras dengan tatapan seseorang yang sudah menunggu pertanyaan ini seumur hidupnya.
"Pak Hendra Wijaya."
Dunia menjadi sangat sunyi.
Bunyi jam dinding, desir angin di kebun jambu, bahkan napasnya sendiri, semuanya terdengar jauh, seperti dari balik kaca. Laras merasakan darahnya menarik diri dari jari-jarinya.
"Bapak..." katanya, suaranya tipis. "Bapak sopir Pak Hendra? Orang tua Reza?"
Sumi mengangguk. Satu tetes air mata jatuh ke permukaan meja dan menyebar.
"Sebelas tahun lalu, Bapakmu mengantar Pak Hendra dan Bu Sari ke Puncak untuk acara keluarga. Malam itu, mobil mereka masuk jurang. Kecelakaan, kata polisi. Rem blong, kata laporan. Semua orang percaya."
"Tapi Ibu nggak percaya."
"Bapakmu mekanik sebelum jadi sopir," kata Sumi pelan. "Dia merawat mobil itu dengan tangannya sendiri. Dua hari sebelum berangkat, dia memeriksa rem dan semua bagian lain. Dia bilang pada Ibu, semuanya sempurna."
Laras menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ibu bilang itu ke polisi. Mereka tutup kasusnya dalam seminggu." Sumi memejamkan mata. "Dua minggu kemudian, ada seorang pria datang ke rumah kita. Berjas, sopan, membawa amplop tebal. Dia bilang namanya Rudi Hartanto, sahabat almarhum Pak Hendra, ingin memberi santunan untuk keluarga sopir yang setia."
"Dan Ibu terima?"
"Ibu menolak." Suara Sumi mengeras untuk pertama kalinya. "Tapi dia tidak pergi. Dia duduk di ruang tamu kita dan mengatakan sesuatu yang membuat Ibu takut sampai sekarang. Katanya, Bapakmu tahu terlalu banyak. Dan orang yang tahu terlalu banyak, kadang meninggalkan keluarga yang tahu juga."
Dingin menjalar dari tengkuk Laras ke seluruh punggungnya.
"Dia mengancam kita?"
"Tidak dengan kata-kata kasar. Dia tersenyum seperti orang yang sedang menawarkan bantuan. Dia bilang, kalau Ibu tutup mulut dan membiarkan hidup berjalan, kita akan aman. Dan sebagai tanda persahabatan..." Sumi tertawa getir, tawa yang pecah di tengah. "Dia punya seorang pegawai muda yang baik hati, jujur, pekerja keras, yang sedang mencari istri."
Napas Laras berhenti.
"Dimas," bisiknya.
"Setahun kemudian, kamu dikenalkan padanya oleh seorang kenalan di tempat kerjamu. Kamu ingat?"
Laras mengingatnya. Seorang teman kantor yang bersikeras mempertemukannya dengan "pria baik" dari divisi lain. Makan siang yang canggung. Dimas yang gugup, yang tersenyum malu, yang membawakan sekotak cokelat murah dengan ujung pita kusut. Betapa tulusnya semua itu terasa waktu itu.
"Semuanya diatur," katanya, nyaris tanpa suara. "Pertemuan kami. Cintanya. Semuanya."
"Ibu tidak tahu pasti." Sumi menggeleng pelan, air mata kini mengalir tanpa ditahan. "Ibu tidak pernah tahu apakah Dimas ikut sandiwara itu sejak awal, atau dia hanya pion yang tidak sadar. Yang Ibu tahu, Rudi menaruh orangnya di sisimu untuk mengawasi, supaya kalau suatu hari Bapakmu meninggalkan sesuatu, Rudi akan tahu."
"Dan Ibu diam. Sepuluh tahun."
"Ibu takut, Laras." Suara Sumi pecah. "Ibu takut kehilangan kamu. Kamu satu-satunya yang Ibu punya. Setiap kali ingin bicara, Ibu membayangkan wajahmu di pemakaman, dan Ibu menelan lagi semuanya."
Keheningan menggantung di dapur kecil itu. Laras menatap ibunya, perempuan yang membesarkannya dengan tangan kasar penuh bekas luka dapur, yang selalu pulang membawa sisa nasi dari rumah majikan, yang mengajarinya bahwa kejujuran adalah satu-satunya harta yang tak bisa dirampas.
Dan perempuan itu sudah berbohong padanya selama sepuluh tahun.
Ada marah di dadanya, panas dan tajam. Ada kecewa, pahit dan dalam. Tapi di atas semua itu, ada sesuatu yang lebih sulit ia lawan: ia melihat betapa tuanya ibunya hari ini. Betapa kurusnya bahu itu menanggung rahasia sebesar itu sendirian.
"Bu Tuti," katanya akhirnya. Suaranya serak. "Dia sahabat Ibu."
"Sahabat Ibu sejak muda." Sumi mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Dia yang pertama kali curiga soal kecelakaan itu. Dia bekerja sebagai sekretaris Pak Hendra, jadi dia tahu banyak hal, tentang rekening, tentang perjanjian, tentang wasiat. Dia yang menyelamatkan salinan wasiat itu sebelum Rudi sempat menghancurkannya."
"Tapi dia meninggal. Jaksa Hendarto sendiri datang ke pemakamannya."
Sumi menatapnya. Sudut bibirnya bergerak, bukan senyum, tapi sesuatu yang mirip dengannya.
"Ibu bilang apa tadi di telepon? Ada yang harus Ibu ceritakan." Ia bangkit perlahan dari kursi, tubuh rentanya bertumpu pada tepi meja. "Sebenarnya, ada seseorang yang lebih pantas bercerita. Seseorang yang sudah menunggumu sebelas tahun."
"Siapa?"
Sumi tidak menjawab. Ia berjalan ke pintu kecil di sudut dapur yang menuju kamar belakang, kamar yang sejak kecil selalu dikunci dengan alasan "tempat menyimpan barang lama". Dari saku kebayanya ia mengeluarkan kunci kecil, lalu memutarnya dengan tangan gemetar.
Laras berdiri, jantungnya berdentum. Di luar jendela, matahari sore menyorot miring, membuat bayang-bayang pohon jambu menari di lantai. Ia teringat instruksi Hendarto, kakinya sempat terangkat untuk menginjak lantai tiga kali.
Tapi ia menahannya.
Pintu terbuka dengan derit panjang.
Kamar di baliknya kecil dan bersih, berbau minyak melati yang sama dengan rumah tua di kota lama. Ada ranjang besi sederhana, lemari kayu, dan sebuah meja dengan lampu belajar. Di tepi ranjang, membelakangi cahaya jendela, duduk seorang perempuan tua berkerudung abu-abu. Tubuhnya kurus, wajahnya cekung, kulitnya pucat seperti orang yang terlalu lama sakit, tapi matanya tajam dan cerdas, mata yang sama dengan foto hitam putih di meja rumah kota lama.
Perempuan itu mengangkat wajah dan tersenyum pelan.
"Selamat datang, Laras," katanya. Suaranya serak tapi hangat, dengan nada yang nyaris terlalu akrab. "Aku sudah menunggumu sebelas tahun."
Laras membeku di ambang pintu. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, hanya menatap perempuan yang seharusnya sudah terkubur dua minggu lalu.
Dan di tangan keriput itu, terletak di pangkuannya seperti benda paling berharga di dunia, ada sebuah map cokelat tebal.