Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: BOCAH YANG TIDAK BERSUARA
...#...
...Hari-hari pertama di rumah kontrakan itu tidak punya nama. Kenzo tidak tahu itu Senin atau Kamis, hanya tahu bahwa kakinya yang dibalut bambu mulai gatal di bawah kain, bahwa koran di jendela menyaring cahaya pagi jadi warna kuning pucat seperti air teh basi, dan bahwa setiap kali ia memejamkan mata ada sepatu bot yang melangkah di atas rumput tanpa menunduk. Ia jarang bicara. Victor juga tidak memaksa, hanya menaruh semangkuk nasi di dekat kasur tiap pagi, dan kalau mangkuk itu masih penuh sore harinya, ia mengambilnya tanpa komentar dan menaruh yang baru....
...Pada hari yang entah keberapa, Victor berdiri di ambang pintu sambil menggosok tengkuknya, kelihatan seperti orang yang sudah berlatih kalimat itu berkali-kali di lorong dan tetap saja keluar kaku....
..."Kenzo... om mau ngomong sesuatu, tapi kamu boleh nggak jawab. Boleh?"...
...Kenzo tidak menjawab, jadi Victor menganggap itu boleh....
..."Orang-orang yang tadi malam itu... mereka tahu ada satu yang belum ketemu. Cepat atau lambat mereka bakal nyari lagi. Jadi mulai besok..." Ia berhenti, menarik napas, dan Kenzo melihat jakunnya naik turun. "Mulai besok om ajarin kamu beberapa hal. Cara jatuh yang nggak sakit. Cara lari. Cara... cara kalau ada yang megang tangan kamu, kamu bisa lepas. Bukan buat jadi jagoan, Nak. Cuma biar kamu bisa pulang kalau suatu hari om nggak..."...
..."Om juga mau ninggalin aku?"...
...Kalimat itu keluar kecil dan datar, dan Victor yang sudah menyiapkan sepuluh jawaban malah tidak punya satu pun. Ia berjongkok perlahan, sendi lututnya berbunyi, sampai matanya sejajar dengan mata anak itu....
..."Nggak. Om nggak ke mana-mana." Ia mengatakannya terlalu cepat, lalu mengulanginya lebih pelan, seperti mengetes apakah kata-kata itu cukup kuat untuk ditanggung. "Om nggak ke mana-mana, Kenzo. Tapi om juga nggak mau bohong kalau dunia ini nggak bisa dipercaya. Jadi om ajarin... ya?"...
... ...
...Pelajaran pertama adalah jatuh. Di halaman belakang yang cuma seluas dua tikar, beralas karung-karung bekas yang ditumpuk Victor, Kenzo disuruh merebahkan diri ke belakang dengan dagu menempel ke dada dan kedua lengan menampar tanah. Ia gagal sebelas kali. Yang kedua belas, kepalanya terbentur dan ia diam saja, matanya basah tapi mulutnya terkunci, dan Victor yang melihat itu justru yang menarik napas tertahan....
..."Sakit, kan? Bilang aja sakit, Nak. Nggak ada yang ngelarang."...
..."...Sakit."...
..."Nah. Itu. Jangan ditelen sendiri."...
...Siang harinya, setelah makan, Victor mengeluarkan buku tulis lusuh dari tasnya, beserta pensil yang ujungnya sudah diserut dengan pisau. Ia menaruhnya di atas tikar tanpa bicara, lalu menunggu. Kenzo menatap buku itu lama. Buku bergaris, sama persis dengan yang ia pakai menggambar rumah....
..."Kamu nggak bisa sekolah," kata Victor akhirnya, suaranya hati-hati, "soalnya namamu ada di daftar orang yang sudah mati. Kalau kamu muncul di absen, orang-orang itu tahu. Tapi om nggak mau kamu bodoh, Kenzo, bodoh itu cara paling gampang buat orang dimanfaatin. Jadi kita sekolah di sini aja. Om guru... yang jelek."...
...Ia memang guru yang jelek. Hitungannya sering salah dan ia mengakuinya tanpa malu, ejaannya berantakan, dan tiap kali Kenzo bertanya sesuatu yang tidak ia tahu, ia mengerutkan dahi lalu bilang "besok om cari tahu", dan besoknya benar-benar ada jawabannya, kadang dari buku yang dibeli bekas, kadang dari orang-orang di terminal yang entah kenapa selalu mau berbagi ilmu dengan lelaki berbekas luka itu. Kenzo menyalin huruf demi huruf. Tulisannya miring, naik turun, dan di halaman ketiga tanpa sadar ia menulis nama "Nadira" lalu mencoretnya begitu keras sampai kertasnya sobek....
...Victor melihatnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya merobek halaman itu dengan hati-hati, melipatnya kecil-kecil, dan memasukkannya ke saku kemeja, di dekat dada....
... ...
...Tiga minggu kemudian, kakinya sudah lepas dari bambu tetapi masih sedikit pincang kalau capek. Victor membawanya pagi-pagi buta ke bangunan pabrik es yang sudah mati di dekat pelabuhan, lewat pintu seng yang digembok dari dalam, melewati ruang-ruang berlantai licin dan dingin yang masih menyimpan bau amis laut. Di sana ada beberapa orang yang kelihatan tidak ingin ditanyai, dan Kenzo yang masih menggenggam ujung jaket Victor langsung merapat ke belakang kaki lelaki itu....
..."Ini Pak Hendrik," kata Victor pada lelaki tua yang duduk di atas peti kayu, rambutnya putih tipis, tangannya penuh bintik. "Teman lama. Dia yang bakal bantu om ajarin kamu... macam-macam. Pak, ini Kenzo."...
..."Kenzo apa?" Pak Hendrik menyipitkan mata....
..."Kenzo aja."...
..."Hmm. Pintar." Lelaki tua itu mengangguk pelan seakan jawaban itu lulus ujian pertama. Lalu pandangannya bergeser ke sudut ruangan, ke arah bayangan di balik tumpukan karung beras, dan Kenzo ikut menoleh. "Dan itu satu lagi yang mesti kamu kenal. Jangan kaget ya. Dia nggak banyak bicara."...
...Awalnya Kenzo kira itu cuma bayangan karung. Lalu bayangan itu bergerak....
...Seorang anak laki-laki. Seumuran, mungkin lebih tua setahun, kurus sampai tulang selangkanya kelihatan di balik kaus yang kebesaran, rambut hitam yang terlalu panjang menutupi separuh matanya. Ia duduk jongkok dengan lutut ditarik ke dada, dan yang membuat tengkuk Kenzo merinding bukan tubuhnya, tapi matanya. Mata yang tidak berkedip, tidak ramah, dan tidak takut, mata orang yang sudah terlalu lama melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat anak seusianya. Di lehernya, di bawah dagu, ada garis bekas luka yang melingkar tidak rata, putih, dan dalam....
..."Namanya Axel," kata Victor lebih lembut. "Arsenio Axel. Dia... Axel nggak bisa bicara, Kenzo. Bukan nggak mau, tapi nggak bisa. Jadi kalau dia nggak jawab, jangan marah ya?"...
...Axel mengangkat dagunya sedikit. Tatapannya menyapu Kenzo dari kepala sampai kaki, berhenti lama di pergelangan kaki yang masih pincang, lalu naik lagi ke wajahnya. Tangan kanannya terangkat. Ia menunjuk Kenzo, lalu menunjuk dadanya sendiri, lalu menggerakkan dua jari di depan matanya, dan Kenzo yang tidak mengerti apa-apa hanya mengerjap....
..."Dia nanya," Pak Hendrik menerjemahkan sambil terkekeh kering, "kamu juga lihat, ya?"...
..."Lihat... apa?"...
...Axel tidak menunggu. Ia berdiri, pelan, dan tanpa suara berjalan mendekat dengan langkah yang ringan sekali, terlalu ringan untuk anak seumurnya, sampai berhenti hanya sejengkal dari Kenzo. Lalu ia menarik kerah kausnya ke samping. Di bahu kirinya, di bawah tulang selangka, ada bekas luka bakar yang melingkar seperti cap, kulitnya mengerut dan mengilap, dan Kenzo tahu betul bau apa yang dulu menempel di kulit itu karena baunya masih ada di hidungnya sampai sekarang....
...Kenzo tidak sadar kapan ia bicara. "...Rumah kamu juga dibakar?"...
...Sunyi. Mata Axel bergetar, hanya sekali, lalu ia mengangguk. Satu anggukan kecil, tegas, tanpa satu pun gerakan lain di wajahnya yang kaku. Setelah itu ia mengulurkan tangannya yang kurus, jari-jarinya kotor, dan menyentuh ujung jari Kenzo, hanya menyentuh, seperti ingin memastikan bahwa orang di depannya benar-benar ada....
..."A... aaa..."...
...Suara itu keluar dari tenggorokan Axel seperti pintu berkarat yang dipaksa terbuka, parau, tersendat, tidak berbentuk kata. Ia mencoba lagi, rahangnya menegang, urat di lehernya muncul di sekitar bekas luka itu, tapi yang keluar hanya desah patah dan batuk kecil yang membuat wajahnya merah. Ia menggeleng keras, marah pada dirinya sendiri, lalu menggerakkan tangannya cepat-cepat, kacau dan terburu-buru, seakan kalau ia tidak mengatakannya sekarang kalimat itu akan lenyap....
..."Pelan, Axel, pelan," kata Pak Hendrik. "Dia bilang... namanya... Axel. Dan dia... dia bilang..." Lelaki tua itu berhenti, dan untuk pertama kalinya senyumnya hilang. "Dia bilang, 'Aku juga nggak ada yang nyari.'"...
...Kenzo menunduk. Entah kenapa tenggorokannya yang tadi kering mendadak sesak....
..."Aku Kenzo," katanya, pelan, terbata. "Aku... aku nggak jago... bicara juga sih sekarang."...
...Mungkin itu lelucon paling payah yang pernah ia buat. Tapi sudut bibir Axel naik, hanya setengah senti, dan buat anak yang tidak pernah tersenyum sejak hari itu, setengah senti itu terasa seperti seseorang membuka satu jendela kecil di ruangan yang pengap....
... ...
...Hari-hari berikutnya berjalan dalam pola yang lambat. Pagi untuk jatuh dan lari, siang untuk huruf dan angka, sore untuk apa saja yang bisa dilakukan dua anak yang tidak punya masa lalu. Axel tidak pernah jauh. Ia duduk di sebelah Kenzo saat belajar, dan walaupun tidak bisa bicara, ia menulis jawaban di tanah dengan jari, cepat dan rapi, jauh lebih rapi dari Kenzo. Hitungannya tidak pernah salah. Kadang ia mengoreksi Victor dengan mengetuk-ngetuk buku sambil menatap lelaki itu penuh arti, dan Victor yang ketahuan salah cuma bisa mengusap tengkuk dan mendengus, "iya, iya, om tahu, om kan guru yang jelek."...
...Ada hal-hal lain yang Kenzo perhatikan tanpa diminta. Axel tidak pernah mau tidur membelakangi pintu. Ia selalu bangun lima menit sebelum Victor memanggil, seolah ada jam kecil yang menyala di kepalanya. Dan suatu malam, ketika Kenzo terbangun karena mimpi yang sama dan menemukan dirinya menangis tanpa suara di kegelapan, ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tangannya. Axel, terjaga di kasur sebelah, tidak berkata apa-apa karena memang tidak bisa, hanya menggenggam tangan itu sampai napas Kenzo kembali teratur, lalu menarik selimut sampai ke dagu anak itu dengan gerakan yang kikuk sekali....
...Pada malam-malam seperti itu, Kenzo mulai mengerti bahwa ada jenis keluarga yang tidak dipilih siapa-siapa. Hanya tersisa....
... ...
...Suatu sore, hampir dua bulan setelah malam itu, Victor menyuruh mereka berdua duduk di lantai dan menyodorkan sesuatu yang ia sembunyikan sejak tadi di balik punggung: sebuah radio tua yang bodinya retak, antenanya diikat selotip....
..."Om mau kalian belajar mendengar," katanya. "Bukan cuma pakai telinga. Dengarkan siapa yang bicara, apa yang nggak mereka bilang, kapan mereka berhenti. Orang bohong itu hampir selalu ketahuan dari jeda."...
...Ia memutar tombolnya. Desis statis, sepotong lagu dangdut, suara penyiar berita yang melaporkan harga beras, lalu desis lagi. Kenzo menatap radio itu dan perutnya mulai mengencang karena ingatan yang tidak diundang. Axel di sampingnya juga membeku. Jari-jarinya mencengkeram lutut sendiri....
..."Om..." Kenzo hampir tak bersuara. "Radio itu... yang waktu itu..."...
..."Bukan yang itu," sahut Victor cepat, terlalu cepat, dan ia menyesalinya detik itu juga. "Maksud om, ini cuma... cuma buat latihan. Dengar dulu."...
...Tapi Kenzo sudah melihat apa yang ingin Victor sembunyikan. Tangan lelaki itu bergetar waktu memegang radio, dan matanya tidak lagi menatap anak-anak itu, melainkan sudut ruangan, tempat telepon genggamnya tergeletak dengan layar mati. Sudah dua bulan Kenzo menyimpan satu pertanyaan di mulutnya, menunggu waktu yang pas, dan waktu yang pas itu tidak pernah datang, jadi malam ini ia memutuskan untuk tidak menunggu lagi....
..."Om."...
..."Hm?"...
..."Siapa... Tuan?"...
...Radio itu jatuh dari tangan Victor dan menghantam lantai dengan bunyi nyaring. Tidak ada yang bergerak. Axel menoleh pelan ke arah Kenzo dengan mata yang melebar, lalu ke Victor, lalu kembali ke Kenzo, seolah menimbang siapa di antara keduanya yang lebih berbahaya....
..."Kamu... denger?"...
..."Waktu itu. Pagi-pagi. Om bilang, 'Baik, Tuanku.'" Suara Kenzo gemetar tapi ia tidak menunduk. "Terus om bilang satu nama. Aku denger, Om. Aku nggak pura-pura tidur."...
...Victor menatapnya lama sekali. Wajahnya yang biasa keras kelihatan retak dari dalam, dan untuk sesaat Kenzo melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di sana: ketakutan. Bukan takut pada orang lain. Takut pada pertanyaan berikutnya....
..."Kenzo, om..."...
...Pintu depan diketuk....
...Tiga kali, pelan, berjeda, ketukan yang bukan milik tetangga, bukan milik pedagang keliling. Victor langsung berdiri, tangannya otomatis menyelinap ke balik punggung, ke tempat yang selama ini Kenzo kira hanya berisi ikat pinggang. Axel menarik Kenzo ke belakang tubuhnya dengan kekuatan yang tak masuk akal untuk anak sekurus itu. Ketukan itu terdengar lagi....
...Tiga kali. Pelan. Sabar....
..."Victor." Suara dari balik pintu itu tenang, dalam, dan Kenzo yang sudah mendengarnya sekali dari celah radio, sekali dari balik pintu kamar, merasakan seluruh darah di tubuh kecilnya turun ke tumit. "Aku tahu kau di dalam. Buka pintunya. Aku datang sendiri... dan aku bawa sesuatu untuk anak itu."...
...Victor tidak bergerak. Napasnya tersangkut di dada, dan di antara suara jantungnya sendiri Kenzo mendengar lelaki itu menggumamkan satu kata, hampir tanpa suara, kata yang lebih mirip doa dari seseorang yang tahu doanya tidak akan didengar....
..."...Tuan."...
...Dan di sudut ruangan, di lantai, layar telepon genggam yang tadi mati itu menyala sendiri, menampilkan satu pesan baru dari nomor yang sama, hanya lima kata:...
...*Sudah di depan. Jangan lari.*...
... ...
...*Bersambung ke Bab 4*...