Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Fitnah ibu mertuaku
Malam itu, setelah Arman membentakku dengan kalimat, "kembalikan uang Ibu,jangan bikin malu keluarga!" aku tidak menjawab.
Aku hanya diam.
Bukan karena aku mengakui,tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah kulakukan.
Raffi tertidur di pangkuanku dengan wajah masih basah karena menangis. Nisa duduk di sampingku, memeluk lututnya, matanya bengkak. Anak sekecil itu sudah harus menyaksikan pertengkaran setiap hari.
Arman berdiri di depan kami bertiga dengan tatapan marah. Di belakangnya, Ibu Ratna berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya puas karna dia sudah menang lagi.
"Alya! Apa kamu tidak mendengar? Ibu sedang bertanya ke kamu!" bentak Arman lagi.
Aku mengangkat wajahku perlahan. Air mataku sudah kering,yang tersisa hanya perih.
"Mas, aku tidak mengambil uang itu," kataku dengan suara pelan tapi jelas. "Demi Allah, demi Nisa dan Raffi, aku tidak mengambil uang Ibu seratus ribu itu."
"Bohong!" sahut Ibu Ratna cepat. "Jelas-jelas di rumah ini cuma ada kamu! Siapa lagi kalau bukan kamu? Masa Ibu mencuri uang Ibu sendiri?"
"Bu, saya dari tadi di rumah, saya tidak keluar. Saya menyuapi Raffi, saya menemani Nisa menggambar. Saya tidak menyentuh dompet Ibu."
"Alah, banyak alasan! Kamu itu licik, Alya! Mulutmu manis tapi hatimu busuk!"
Aku menatap Arman lagi. Berharap ia melihat mataku. Mata seorang istri yang tidak pernah berbohong padanya.
"Mas, periksa saja tasku,priksa lemariku. Kalau ada uang seratus ribu itu, ambil. Aku tidak pernah mengambilnya."
Arman terdiam. Rahangnya mengeras, kemudian melirik ibunya.
Ibu Ratna langsung memegangi dadanya lagi. Drama yang sama.
"Lihat, Man sampai sekarang dia masih membantah.Mama sudah tua begini masih difitnah maling uang mama sendiri.Ya Allah, apa salah Mama ke kamu Alya tega-teganya kamu begini."
Dan seperti biasa, Arman luluh.
"Sudahlah Alya ,kamu jangan melawan dan tidak usah membantah .Kembalikan saja uangnya. Akui saja dan jika memang sudah dipakai anggap kamu meminjamnya dan nesok kamu ganti. Jangan bikin Ibu sakit."
Aku tertawa. Tawa yang pahit,tawa yang membuat Nisa menatapku bingung.
"Mengembalikan sesuatu yang tidak pernah kuambil, Mas? Jadi aku harus mengaku maling agar Ibu senang?"
"Jaga mulutmu, Alya!" Arman menunjukku. "Ibu itu orang tuaku! Kamu tidak boleh bicara seperti itu!"
Malam itu berakhir tanpa penyelesaian. Arman tidur di kamar ibunya. Aku tidur di kamar sempitku bersama dua anakku yang memelukku erat. Di luar, aku mendengar Ibu Ratna menelepon saudaranya.
"Halo, iya, menantuku maling uangku seratus ribu... iya... memang tidak tahu diri."
Fitnah itu seketika menyebar.
Keesokan paginya, aku bangun jam empat lagi. Seperti robot,setelah sholat subuh aku langsung menanak nasi, memanaskan Sementara Raffi dan Nisa masih tertidur pulas.
Jam lima, Ibu Ratna keluar. Ia tidak lagi membahas uang yang hilang. Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Ia malah duduk di ruang tamu sambil mengoleskan lotion dengan santai.
"Alya, buatkan Ibu teh manis. Yang manis ya, jangan teh pahit seperti hidupmu."
Aku tidak menjawab,namun aku tetap membuatkan teh itu dengan tangan yang gemetar.
Siang harinya, saat aku sedang menjemur baju, aku mendengar suara Ibu Ratna tertawa di telepon.
"Iya Bu Haji, nanti sore arisannya jadi kan? Oh iya, uangnya sudah siap kok. Yang seratus ribu kemarin sudah aku siapkan di tas. Iya, yang di tas hitam."
Darahku berdesir.
Tas hitam, Tas arisan, Uang seratus ribu yang katanya hilang itu ada di tas hitamnya. Tas yang ia bawa kemarin sore saat pergi arisan.
Jadi uang itu tidak hilang. Uang itu dipakai olehnya sendiri.
Aku masuk ke dalam dengan napas memburu.
"Bu," kataku pelan.
" Jadi uang Ibu yang seratus ribu itu ternyata ada di tas hitam Ibu ya Bu? Yang untuk arisan?"
Wajah Ibu Ratna langsung berubah. Dari santai menjadi kaget, lalu menjadi marah.
"Apa kamu bilang? Kamu menguping pembicaraan Ibu? Kamu mengintip tas Ibu? Dasar tidak sopan!"
"Bu, saya tidak mengintip. Saya dengar Ibu bicara di telepon. Jadi uangnya tidak hilang Bu?"
Ibu Ratna berdiri dan matanya melotot.
"Berani kamu menuduh Ibu berbohong! Hah? Kamu mau bilang Ibu pikun? Ibu pembohong?"
"Bu, saya tidak menuduh. Saya cuma..."
"Cuma apa? Cuma mau mempermalukan Ibu?"
Saat itu Arman pulang lebih cepat. Ia baru masuk gerbang dan mendengar ibunya berteriak.
"Ada apa lagi?"
Ibu Ratna langsung lari ke arah Arman dengan air mata yang sudah siap.
"Arman, lihat istrimu! Dia menuduh Mama berbohong! Dia bilang Mama mengarang cerita soal uang hilang! Padahal uang Mama memang hilang! Sekarang dia balik menuduh Mama!"
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kudengar.
"Mas, bukan begitu. Tadi Ibu bilang di telepon uangnya ada di tas hitam untuk arisan. Jadi uangnya tidak hilang, Mas."
Arman menatapku, lalu menatap ibunya.
"Bu, coba Ibu cek lagi tas hitam Ibu. Siapa tahu memang ada di situ," kata Arman, kali ini sedikit ragu.
Ibu Ratna langsung menangis lebih kencang. Ia masuk ke kamarnya, membanting pintu, lalu keluar lagi dengan tas hitamnya. Ia membuka tas itu dengan kasar di depan kami.
Dan benar saja, ada uang seratus ribu terlipat di dalamnya.
Suasana hening.
Aku menatap uang itu. Nisa yang ada di belakangku menarik bajuku.
Arman terdiam,matanya melihat uang itu.
Aku menunggu,menunggu ia berkata, "Oh, ternyata uang Ibu ada di sini. Maaf ya, Alya, kamu sudah dituduh."
Tapi yang keluar dari mulut Ibu Ratna justru,
"Ya Allah, lihat! Uang ini memang ada di sini! Tapi ini uang lain! Uang yang hilang kemarin itu beda! Ini uang arisan! Uang yang kemarin hilang itu sudah diambil Alya! Jangan mau dibohongi, Man! Istrimu ini pintar memutarbalikkan fakta!"
Aku membeku.
Bagaimana bisa seseorang berbohong setenang itu?
"Mas..." suaraku bergetar. "Mas lihat sendiri kan, Mas? Uangnya ada di situ..."
Arman menghela napas panjang. Ia terlihat lelah dan dia tidak mau ribut lagi.
"Sudah, sudah," katanya. "Mungkin Ibu lupa. Anggap saja sudah selesai tdak usah dibesar-besarkan."
"Tidak bisa begitu, Man!" potong Ibu Ratna. "Dia sudah menuduh Mama pembohong! Dia harus minta maaf sama Mama!"
Lagi-lagi aku yang harus minta maaf.
Aku menatap Arman dengan mata yang sudah penuh air mata.
"Mas, aku harus minta maaf karena menemukan uang Ibu atau Aku harus minta maaf karena aku tidak mencuri?"
"Alya, tolonglah," kata Arman dengan suara pelan tapi menusuk. "Jangan bikin Ibu menangis lagi. Kamu tahu Ibu sensitif. Minta maaf saja, biar masalahnya selesai."
Masalahnya selesai? Masalah apa yang selesai? Harga diriku yang diinjak-injak di depan tetangga? Fitnah maling yang sudah disebar ke semua orang?
Nisa tiba-tiba maju ke depan. Dengan suara kecilnya yang bergetar, ia berkata,
"Ayah... kemarin Nenek taruh uangnya di tas hitam... Nisa lihat... Nenek masukin uangnya sendiri..."
Semua terdiam.
Ibu Ratna langsung menatap Nisa dengan tatapan tajam.
"Nisa! Anak kecil jangan belajar bohong! Kamu diajarin Mama kamu ya untuk bohong!"
Nisa langsung menangis dan bersembunyi di belakangku.
"Mas, dengar, Mas. Nisa lihat sendiri," kataku sambil memeluk Nisa.
Arman menatap Nisa, lalu menatap ibunya. Wajahnya bingung,untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku melihat keraguan di matanya.
Tapi keraguan itu hanya bertahan dua detik.
"Bu, sudah Bu, jangan marahi Nisa. Nisa masih kecil, mungkin nisa salah lihat." ucap Arman akhirnya.
Ia memilih lagi, Ia memilih ibunya lagi.
"Sudah, Alya, bawa anak-anak masuk. Jangan ajari anak belajar bohong."
Malam itu, aku memeluk Nisa dan Raffi di kamar,bisa masih terisak karna tuduhan yang dilontarkan neneknya.
"Mama, kenapa Ayah tidak percaya sama Nisa? Nisa tidak bohong, Ma..."
Aku mencium kening Nisa dengan air mata yang mengalir deras.
"Iya sayang, Mama tahu Nisa tidak bohong. Mama percaya sama Nisa,Nisa anak pintar Nisa anak baik tidak mungkin nisa bohong.
"Terus kenapa Ayah tidak percaya sama kita, Ma?"
Pertanyaan itu tidak bisa kujawab.
Di luar kamar, aku mendengar Ibu Ratna tertawa sambil menelepon lagi.
"Halo, iya, sudah selesai.Iya, memang menantu saya itu tukang fitnah..."
Fitnah itu tidak pernah selesai. Uang seratus ribu itu memang sudah ditemukan, tapi di kampung ini, di komplek ini, aku sudah dicap dia sebagai menantu maling.
Dan suamiku, laki-laki yang katanya anak berbakti itu, membiarkan semuanya terjadi. Karena baginya, membelaku berarti menjadi anak durhaka.
Dan di atas sajadah malam itu, setelah Nisa dan Raffi tertidur, aku berdoa untuk pertama kalinya bukan untuk kebahagiaan rumah tanggaku.
Aku berdoa agar Allah memberiku keyakinan untuk pergi dari rumah ini.
Bersambung